ATAR DAN KISAH ROMAN SATU HARI


(Sebuah cerpen jadul yang sempat menghilang)
nb: lucunya aksaraku yang jadul :)

Pagi itu sangatlah indah, kicauan burung menghiasi di setiap sudut desa kecil tempat aku pertama kalinya melihat dunia ini, sebuah desa yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian kota, Jambesari, desa kecil yang terletak 5 Km di sebelah utara Kota Bondowoso.


Jam 04.35 WIB, sejenak kupandangi jam dinding yang selama 10 tahun telah setia menjadi penghias ruang kamarku, perlahan kutegakkan tubuhku yang baru datang dari samudera mimpi, lalu kulangkahkan kaki ini menuju sebuah sumur tua di belakang rumahku, sesegera mungkin kusegarkan tubuhku serta kusucikan batinku dengan aliran air wudhu.

Jam 06.00 WIB, jam dindingku seakan memberi tahuku, semangatku menggebu-gebu untuk segera berangkat ke Pondok Pesantren tempat aku mengais ilmu sejak aku duduk di bangku taman kanak-kanak (TK) hingga sekarang aku duduk di kelas III MTs/SMP. Tak tahu kenapa, semenjak kejadian kemarin ketika Khotimatus Sa’adah, adek kelasku  yang telah berbulan bulan menghiasi sudut-sudut ruang rindu dalam hati ini menabrakku hingga ia terjatuh, lalu ia pergi begitu saja tanpa segarispun tanda di wajahnya! Apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya saat itu.
Lima belas menit kemudian, aku tiba di pesantren yang sangat sederhana sekali, di setiap sudut pesantren kulihat beberapa santri yang masih sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, ada yang membersihkan masjid, menyapu halaman, ada juga yang sudah sibuk dengan beberapa pakaian mereka dalam sebuah ember di depan kamar mandi umum. Pun ada juga yang sedang membersihkan rumput rumput liar di sekeliling kediaman pengasuh Pondok Pesantren. Lima menit kujelajahi pemandangan ini, kemudian hatiku tersentak ketika seorang santri putri melangkah anggun dari pintu ruang tamu, pandangannya seketika melayang ke arah tempat aku berdiri semenjak baru aku datang. Segaris senyumpun terlukis indah pada wajah imutnya. Dialah Khotimatus Sa’adah yang selama ini selalu menghiasi alam rinduku.

Senyum itu terus mengembara dalam rimba pikiranku pada pagi itu. Sejenak ku berpikir apakah usahaku yang berbulan-bulan untuk meluluhkan hatinya akan berhasil. Aku tersadar ketika suara bel berdering kencang menguasai setiap sudut ruang pesantrenku, tak terasa sudah satu jam setengah aku terlelap dalam alam pikiranku di pojok pesantren tempat aku sering menyendiri.

Serentak teman-teman sekelasku membaca nadhom (syair) ilmu tauhid karangannya Syeh Muhammad Marzuki yang berjudul Aqidatul Awwam. Hingga akhirnya, Ibu Indah seorang guru kesenian masuk kelasku “Assalamualaikum” Sapa Ibu Indah, “Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh” serentak teman teman kelasku menjawab salam dari Ibu Indah, proses pembelajaranpun berjalan dengan efektif meski pikiranku masih tetap mengembara dengan segaris senyum yang hampir tak sedetikpun menjauh dari alam khayalku.

“katanya kamu punya hubungan dengan Khotim ea?” tanya ibu indah, seketika sekujur tubuhku seperti berhenti berfungsi. Batinkupun bertanya tanya apa yang sebenarnya telah terjadi .”benar Atar?” ibu indah memecah Keheningan kelasku, dengan tanpa menunggu jawaabku Ibu Indah melanjutkan perkataannya, “gag apa apa, dia kan cantik, tapi jangan abaikan belajarnya ea!!”. Akupun kaget bukan kepalang, guru yang selama ini terkenal dengan kedisiplinan serta ketegasannya malah mendukungku dengan tiba-tiba.

Jam istirahatpun tiba, seketika ku langkahkan kakiku menuju halaman sekolah, tiba tiba Hana salah seorang sahabat terbaikku berlari lari menghampiriku, dengan tergesa gesa ia berkata “Atar, kamu disuruh ke belakang sekolah ama Khotim”. “Ada apa?” aku penasaran apa maksud dari semua ini .”udahlah......pokoknya ini penting buat hidupmu” ia menarik tanganku hingga akhirnya tanpaklah Khotimatus Sa’adah dengan segaris senyum di wajahnya yang semakin membuatku penasaran, apa yang sebenarnya telah terjadi.

Aliran sungai di belakang sekolahkupun terus melantunkan nada nada indah dalam keheningan hatiku. Lima menit berlalu tanpa ada sepatah katapun dari bibir manisnya. Hingga akhirnya  “apakah Kakak sayang ama aku?”, jantungku seakan berhenti berdetak, tak tahu apa yang harus ku katakan mendengar dia berkata,”jawab dong kak”, aku malah tambah bingug apa yang sebenarnya terjadi, seakan aku berada dalam alam mimpi.

“Aku tak tahu adek!”, kuhentikan kata kataku dengan nafas panjang, “yang aku tahu, aku selalu tidak tenang ketika bertemu dengan adek apalagi ketika mata ini berhenti dalam tatapan adek. Terkadang kakak juga berfikir kenapa senyuman yang adek berikan selalu terang dalm pikiran kakak, seakan ia tak rela jika kakak menjauh darinya, makanya kakak bilang kakak gag tahu”, lanjutku. “kak, sebenarnya adek mulai sayang sama kakak jauh sebelum kakak mendekatiku, Cuma adek pingin tahu seberapa seriuskah kakak mencintai adek. Sekarang coba kakak beri kejelasan, kakak bener bener sayang apa gag ama adek?”. Tanpa pikir panjang “ia dek! Kakak sayang sama adek”, Kata kata yang telah merubah keadaan saat itu. Seketika dia memeluk erat tubuhku, aku bingung apa yang harus kulakukan saat dia memelukku.

Lima menit berlalu, dia tetap memeluk erat tubuhku. “kak, nanti sore adek mau pulang ke Jember, ada kepentingan keluarga. Kakak baik baik ia disini” bisik dia di telingaku, “emang pulangnya berapa hari dek?” tanyaku, “mungkin tiga hari kak, kan cuma acara kecil” jawabnya.

Jam 13.17 WIB, tak terasa sudah 3 jam 15 menit aku berduaan dengannya menikmati indahnya samudera cinta yang tenang tanpa satupun ombak penggoyah, ceritapun terus mengalir indah dari bibir manisnya tentang apa yang sebenarnya telah terjadi selama aku mendekatinya. Pelukannya terus semakin erat di tubuhku seakan ia tak ingin sedetikpun aku jauh darinya, perlahan ku angkat tubuhnya yang sudah lama terebahkan di atas dadaku. Lalu kucium keningnya . “aku sayang kamu dek”, kataku.

Jam 13.30 WIB. “adek balik ke pondok ya Kak, mau siap-siap, sebentar lagi bapak jemput” dia minta ijin padaku, “”ya udah, jangan lama lama ya pulangnya! Kakak akan selalu merindukan Adek” jawabku. Dengan tanpa sepatah kata pun ia pergi meninggalkanku hanya segaris senyum yang mengiringi langkahnya. Akupun langsung kembali ke kelas untuk mengambil tasku, dan sesegera mungkin aku kembali ke rumah dengan perasaan bahagia, “akhirnya aku bisa mendapatkan cintaku” gumanku.

Waktupun terus berjalan tak mengenal kompromi, ia berjalan tanpa sedetikpun menoleh ke belakang. Hari hari kujalani dengan sebuah penantian. satu hari, dua hari, tiga hari waktu seakan berjalan melambat menghiasi rasa rinduku. Hari ke lima, kakaknya datang ke pondok pesantren dimana aku sekolah dan memberikan titipan dari Khotimatus Sa’adah buatku. Seribu pertanyaan seketika memenuhi pikiranku.

Di pojok kamar masih ditemani detakan jarum jam dindingku. Jantungku berdetak kencang tak menentu, perlahan kubuka sebuah bingkisan indah pemberian Khotimatus Sa’adah. Aku bahagia ketika sebuah jam tangan hitam terbungkus rapi di dalamnya. Kuangkat jam tanganya, lalu secarik kertas putih kulihat di dasar bingkisan, sebuah pesan dari orang yang telah berhari hari kutunggu kedataangannya. Lalu perlahan kubuka...

--------------
UNTUK KAKAKKU YANG SANGAT KU SAYANGI

Ketika kutulis surat ini hatiku menangis, tak sanggup menghadapi kenyataan ini kak. aku sayang kakak , tapi aku tak bisa kembali lagi ke pondok tuk selamanya. Karena aku sudah di jodohkan ayahku dan aku tak bisa menolaknya, karena ini masalah keluargaku. Adek harap kakak mengerti dan tak membenciku. Maaf adek udah nyakitin kakak, adek doakan semoga kakak bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dari adek.
o.ea.... jam tangannya di simpen ea kak! Jangan pernah kakak menoleh ke belakang atau melangkah ke belakang, tapi lihatlah dan melangkahlah ke depan kakak, seperti jarum jam yang selalu semangat menghadapi hari hari barunya.

Wanita dalam sejarahmu
---------------

Seketika aliran air mata mengalir dari kedua mataku, sebuah penantian panjang yang akhirnya aku harus terluka.
 
2010