TENGAHNYA PETANG

Seperti hitam melangkah gelap
Selesai alam menceritakan siang
Di bilik langit bintang menidurkan awan
Sesekali, jatuh antaranya rintik basah yang disebut hujan

Kemana fikir tak beralur henti
Ku manjakan saja seperti aku masih kecil
Seperti tutur ibuku...
Dalam kata, akulah si manja yang tangis adalah senjata

Terus...
Bebas otak mencari musuh
Jatuh sudah di lembah nostalgia
Sesaat, lalu terjebaklah di masa depan yang muram

Tengahnya petang mata terkulai
Tak sanggup lelah menidurkan angan
Tersipu kata dalam bait-bait tanya
Adakah kelak raga ini tak hanya patung belaka

Tengahnya petang tak selesai
Bisu alam tak jawab hati yang ketakutan
Hanya sesekali saja,...
Angin datang, lalu aku tak merasa kesepian

Masih tengahnya petang
Cemburu kata-kataku
Lalu mereka merayuku
Seketika, Bercumbulah aku dengan kata-kataku


Probolinggo, 01:35 wib, 05-01-2013.

PEREMPUAN KHAYAL

Semusim kemarin pagi menghujam duri
Sekujur tubuh didera terpa bekunya kabut di lembah kasih
Tak ada amukan siang...
Karena terik terkucilkan sombongnya  musim yang bukan kemarau
Berebut sembah alam pancarkan kebesaran Tuhan
Tak lama otak bertengkar,...
Lalu hadirlah perempuan khayal
Menyayikan lagu sahdu, terkepal di tangannya segenggam rindu
Sorak cinta bernada harap kupersembahkan dengan wadah bisu
Singgah, lalu pergilah, melayang
Dewi kahyangan tentulah bukan
Apalagi bidadari berparas menawan, pastilah bukan
Lebih dari sosok khayal dari ribuan sang penghayal
Lebih dari jutaan puisi yang di “nyata”kan
Apalagi hanya lukisan tercantik karya seniman di bumi keromantisan, Bukan...
Perempuan khayal...
Di pundaknya bendera impian kuagungkan
Parasnya bukan kecantikan, hanya ketenangan
Setiap ucap, maka hilanglah, aku hanya raga, dan jiwaku pergi entahlah kemana?
khayal, khayal, lalu khayal
Jika selanjutnya adalah kenyataan, ku ingin diam saja di khayal ini
Bersama perempuan khayal

06:25 wib, 05-01-2013 
(untukkabutku)