DAUN

aku bukan penyair sebelum ini
aku juga bukan pemimpi sebelum ini
aku hanya manusia rapuh yang hampir terjatuh
aku hanya daun kering yang hampir lumpuh

kau datang merayu
bukan wajahmu, tapi tingkahmu
memangsa kesepianku
hingga ku terluka dalam layu
lalu luka kau usap, lalu

akupun daun kering yang selamat
jatuhpun tak sampai ku terperanjat
bukan karena apa, tapi kau

kini akupun daun
yang selalu kau alirkan air
selalu tegar,
jika pun aku lusuh
ingat kau buatku luluh

alghorizm 20:30 19-03-2013


SOBAT

Bila kakiku rapuh
Sanggah kau buatku tangguh
Bila wajahku kumuh
Usap kau buatku tak lusuh

Mengajakku terus menari
Mengalahkan irama hidup yang basi
Piawai sekali tingkah kau...
Menyelipkan pesan dalam nadi
Saat nadi hidupku mulai berhenti

Mengapa menangis?
Tanya kau saat lara bengisnya hidup menerkaku
Saat serdadu hitam mengoyak habis semangatku

“Tuhan itu tidaklah mati”
Singkat ucap kau buat air mataku layu
Membawaku meredam pilu

Sobat...
Kau kah sahabat itu?

Nurul Jadid 12 Maret 2013

TENTANG SAJAK

rasa yang telah usang
terus saja mengakar
tak roboh meski lahannya terguncang
terus saja menjalar
memenuhi sepinya ruang

sembari sajak bertebaran
menutupi dinding ruang yang kusam
seakan tak hiraukan
sajak indah ataukah hanya sajak rongsokan

malam menyapa
ku eja kembali sajak usang
terkesima juga hati ini melayang
sajakku ternyata bisa menawan
malaikat mana yang telah mengajariku bersajak?

aku bukanlah penyair kawakan
juga bukan penulis karya keromantisan
tanyaku lagi
malaikat mana yang telah mengajariku bersajak?

sajak usang ku eja lagi
memahami setiap kata yang merantau
ku cari malaikat itu...
ternyata malaikatpun tak ada

entah...
kapan aku mulai bersajak?
dan siapa juga yang mengajariku bersajak?
atau...
siapakah yang memaksaku untuk bersajak?

#mia, 23.10 03-03-2013