JAKA, BROMO, MADAKARIPURA DAN CINTA


Pagi itu, perlahan kabut tipis turun di Tengger Bromo, bulan masih belum ucapkan sampai jumpa, bintang masih intip kebersamaan Jaka dengan sepuluh sahabatnya, dingin juga masih memeluk tubuh mereka yang lusuh. Satu hari sudah, mereka dibelai mesra keindahan Gunung Bromo.
Jam 03.30 WIB, bersama sahabat-sahabatnya, Jaka bersiap diri untuk menyambut matahari di Penanjakan Bromo. Jaka belum pernah kesana, hanya salah satu sahabatnya mengatakan bahwa disanalah surga keindahan dunia akan bisa dirasakan.
Senyum persahabatan lumpuhkan dinginnya Tengger Bromo pagi itu. Jaka berangkat ditemani kabut-kabut tipis, sembari hamparan padang pasir menyapa kakinya yang mulai mengerang kelelahan.
Kawah bromo masih belum terlihat jelas ketika Jaka berada di sampingnya, masih terlalu gelap.
Setelah lalui hamparan padang pasir, tanjakan tinggi menyambut kedatangan Jaka dan sahabat-sahabatnya. Jaka istirahat sejenak, sembari siapkan keberanian untuk menaklukkan tanjakan tinggi menuju Penanjakan Bromo.
Disini, sesekali Jaka pandangi salah satu sahabatnya, namanya Rifa. Entah, wanita yang satu itu terlalu memikat perhatiannya sejak ia injakkan kaki di Tengger Bromo.
Wajahnya yang sayu, sikapnya yang lucu, berhasil menyelinap dan masuk menguasai hati Jaka saat itu. Dan Jakapun tak menyia-nyiakan perasaan itu. Dengan bahasa tubuhnya, dia katakan pada Rifa jika dia jatuh cinta.
Perjalanan masih belum selesai, tanjakan tinggi perlahan tertaklukkan. Dan akhirnya, pada jam 04.49 WIB Jaka dan sahabat-sahabatnya sampai di Penanjakan bromo.
Saat itu ratusan orang telah bersiap menyambut matahari, termasuk Jaka dan sahabat-sahabatnya. Terucap sebuah kebanggaan dari salah satu sahabatnya, “selamat datang di Penanjakan Bromo, selamat datang di surga keindahan dunia.” ucap dengan lantang salah satu sahabat Jaka yang bernama Bima.
Jaka bingung saat itu, Jaka tak mendapatkan tempat untuk melihat matahari yang saat itu menjadi rebutan ratusan orang. Akhirnya, di tengah kerumunan Jaka menemukan kursi panjang untuk menambah tinggi sudut pandangnya, saat itu matahari hanya menampakkan cahaya kuningnya, ia masih malu dan bersembunyi di balik bentangan gunung sebelah timur Penanjakan Bromo.
Beberapa saat kemudian, “Jaka, aku ingin berdiri disana juga” kalimat manja terucap dari Rifa, Jaka hanya tesipu malu tanpa kata, sembari ia ulurkan tangan, mengajak Rifa naik di sampingnya.
Kemudian, Jaka mengambil kamera di saku celananya, Jaka ingin mengabadikan ceritanya bersama wanita yang telah membuatnya jatuh cinta, walau saat itu Rifa masih belum tahu tentang perasaan Jaka terhadapnya.
Pada jam 05.12 WIB, cerita indah diabadikan. Di saksikan bentangan alam raya, diintip malunya matahari, diselimuti kabut tipis yang rangkul Jaka dan Rifa. Semuanya begitu indah, Jaka terlelap dalam keromantisan. Hingga mataharipun menampakkan keindahannya, sembari  melihat Jaka bersenda ria dengan cinta barunya.
*****
Setelah menikmati keindahan pagi di Gunung Bromo, Jaka dan sahabat-sahabatnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Madakaripura. Dan disanalah cerita cinta berlanjut, Bagaikan hilir air terjun Madakaripura, terus mengalir mengikuti arus, hingga Jaka pun tak tahu seperti apakah akhirnya, berhenti di samudera atau akan berhenti di tepian sungai menjadi sesuatu yang sia-sia. Ceritanya ini juga bagaikan patung Gajah Mada di tepian sungai Madakaripura, tetap kokoh meski sesekali hilir air Madakaripura menerjangnya, hingga Jaka pun juga tak tahu, seperti apakah besarnya cobaan yang dapat menghentikan cintanya.
Saat itu senja masih lama, matahari masih betah memperhatikan Jaka dan sahabat-sahabatnya. Kurang lebih jam 02.00 wib, mereka bergegas menuju air terjun Madakaripura. Di temani kebahagian dan perasaan cinta, letih  yang sudah mengekang terdampar jauh dibawa hembusan angin. Ya, kebahagiaan bersama sahabat-sahabat dan perasaan cinta untuk satu sahabat yang bersemi di  tanah Bromo.
Bentangan bukit menyambut kehadiran Jaka di pintu gerbang Madakaripura, patung Gajah Mada juga menyapanya, seakan ia berpesan, “hidup ini cerita, dan Akulah sebagian dari cerita besar di Madakaripura.”. Jaka terpana dengan keindahan alam Madakaripura. Tapi, Jaka juga heran, kenapa keindahannya tak dapat menyaingi indahnya perasaan cinta saat itu.
Senyum dan tawa menghiasi wajah mereka. Sesekali, Jaka memperhatikan Rifa, menikmati keceriaannya, perhatikan tingkah manjanya. Sungguh, wanita yang satu ini telah membuatnya terkesima.
Kemudian, perjalanan dimulai. Di sambut dengan bebatuan, Jaka lincah menyusuri setiap alur perjalanan. Kadang Jaka di depan layaknya pemimpin, kadang juga Jaka di belakang, memperhatikan setiap langkah sahabat-sahabatnya menyusuri sungai Madakaripura. Tapi, Jaka tak bisa membohongi diri, sepanjang perjalanan yang berjarak kurang lebih 1 km itu Jaka sering memperhatikan wanita berkerudung biru tua dan berbaju biru motif kotak-kotak. Ya, dia adalah Rifa.
Air terjun Madakaripura sudah hampir terlihat, tiba-tiba, “akhhhhh” jerit Rifa. Jaka perhatikan, sandal berwarna merah terlepas dari kaki indahnya. Jaka mencoba untuk mengejawantahkan perasaannya, dia mengambilkan sandalnya, seolah Jakalah sang pahlawan untuknya. Jaka tertawa saat itu, bukan karena dia yang lucu, tapi karena cara Jaka yang bodoh untuk mencintainya. Sungguh, Jaka yakin saat itu alam juga menertawakannya.
Air terjun Madakaripura sudah di depan mata. Setelah menaklukkan bebatuan di hilir sungai Madakaripura, Jaka dan sahabat-sahabatnya harus menaklukkan tebing untuk bisa berada di bawah air terjun Madakaripura.
Jakapun kembali bertindak layaknya pelindung bagi Rifa, Jaka menemani Rifa ketika menaklukkan Tebing. .
Akhirnya, inilah ciptaan Tuhan, keindahan air terjun Madakaripura memanjakan mata Jaka. Pecahan-pecahan air yang melayang dari ketinggian 200 meter terus membasahi sekujur tubuhnya, membasahi kegersangan jiwa, tersadar bahwa alam ini sunggguh luar biasa indahnya. Tapi masih tetap seperti semula, Jaka bingung, kenapa keindahannya tak dapat menyaingi indahnya perasaan cintnya pada wanita yang saat itu ada di sampingnya. Ini sungguh indah, Jaka dianugerahi dua keindahan saat itu, bersama cintanya di keindahan air terjun Madakaripura.
*****
Kini, semuanya telah berlalu, sisakan cerita dan sisakan cinta. Mereka kembali dengan aktifitasnya masing-masing, mereka juga kembali ke tanah rantau mereka masing-masing.

Dan Jakalah penemu keindahan cinta, Jaka membawanya dari tanah Bromo ke dunia Jaka yang biasanya. Ya, dunia Jaka yang biasanya, seorang mahasiswa yang sedang menikmati tanah rantau, seorang yang sedang mencari titik kebahagiaan dan mungkin Jakalah seorang yang sedang kebingungan, bagaimana caranya mengungkapkan bahwa Jaka benar-benar mencintai wanita di keabadian cerita Bromo dan Madakaripura.