JAWA POS RADAR JEMBER EDISI 29 SEPTEMBER 2013

JAWA POS RADAR JEMBER EDISI 29 SEPTEMBER 2013 

TRISULA FIKSI

FIKSI TROTOAR

Kau di trotoar jalan
Menghempas debu di tanah perjuangan, katamu
Kau lambaikan tangan
Asap kotor kota besar sapa senyummu, kataku
Aku meraih dekil perasaan
Menjemput cerita yang belum selesai, katamu
Aku menghampiri tuan di tanah perjuangan
Wanita di trotoar jalan menyambutku, kataku

Di tanganku
Sanding kado berbungkus warna hitam, kataku
Merayu aku di iringi suara bising kendaraan
Apa yang berwarna putih di tanganmu, katamu
Debu di tanah perjuangan serang keromantisan
Bersama angin yang mengarah tubuhku, kataku dan katamu

Di trotoar jalan
Sandarkan kau di sisiku bersama anganmu, katamu
Kado menghilang di telan indah
Kau bersama di tanah perjuangan adalah kadoku, katamu

Kataku...
Ini hanya fiksi wahai tuan


FIKSI SUDUT PANTAI

Di sudut pantai
Ombak melamunkan ketenangan
Karang menghayal tuk bisa terbang
Pasir ingin melawan ombak yang garang
Pun aku, bersamamu menyaksikan mereka

Tanganku berlumur pasir
Masih erat di punggungmu
Sesekali, kau ajak awan memandangiku
Aku tersenyum...
Ombak cemburu
Ia terjang jari kakimu yang lama mengering
Kau teriak...
Aku pasrah menerima tubuhmu
Di dadaku, lalu kau tersenyum malu

Sudah senja langit tenang
Ombak masih belum selesai menghajar pantai
Karang masih belum selesai menahan ombak liar
Pasir masih belum selesai membuat dendam
Pun aku, belum selesai menghayal keindahan
Tentangmu, karena ini fiksi



FIKSI PELAMINAN

Janur kuning melengkung di gerbang kerajaan
Di paling ujung jalan “selamat datang para undangan”
Mata-mata telanjang melototi kebahagiaan
Di teras paling depan
Singgasana sang pangeran gagah menyambut sang putri kahyangan
Padahal bukan jamannya kerajaan

Sehari setelahnya...
Baju-baju putih penuhi kerajaan
Di teras paling depan
Bersorban kemulyaan sesosok orang sedang dalam kekhusuk’an
Melantunkan dzikir ketuhanaan di tengah terik siang

Dan aku...
Titik kecil yang berjalan pasrah dengan adat
Salami tangan-tangan yang tubuhnya di bungkus kain putih
Hingga, air mata tak sanggup ku elakan lagi
Aku menang di sayembara pelaminan

Sehari setelahnya...
Sang putri menangis di sudut kamar
Lalu, aku bilang
“jangan takut permaisuriku, ini hanya fiksi”



Trisula Fiksi, 27-09-2013, 8:43 wib, Bondowoso

HIMNE KETUHANAN

Sajadah menghadap ke arah kiblat
Di atasnya hanya tasbih
Tak ada jejak sujud yang membuatnya lusuh
Hanya ada debu-debu putih
Menari di atasnya, sambil tertawa

Di ruang suci
Dzikir-dzikir ketuhanan membela kemenangan
Bukan kebenaran...
Huruf suci kini sudah bisa dibeli
Dengan susuap nasi atau bahkan sesuap nasi yang basi

Mimbar keagungan
Siapa yang lihay dia yang menjadi panutan
Dalih-dalih berserakan di wajahnya
Sedangkan ia, berdzikirpun tidak
Kemudian berteriak, akulah yang bersorban
Sungguh menawan...
Permainan yang menguntungkan

Himne ketuhanan...
Kini hanya kepentingan
Belenggu kerakusan
Himne ketuhanan...
Kini hanya tabir memenangkan kekuasaan

Bondowoso 28-09-2013, 13:57 wib



TRISULA FIKSI

FIKSI TROTOAR

Kau di trotoar jalan
Menghempas debu di tanah perjuangan, katamu
Kau lambaikan tangan
Asap kotor kota besar sapa senyummu, kataku
Aku meraih dekil perasaan
Menjemput cerita yang belum selesai, katamu
Aku menghampiri tuan di tanah perjuangan
Wanita di trotoar jalan menyambutku, kataku

Di tanganku
Sanding kado berbungkus warna hitam, kataku
Merayu aku di iringi suara bising kendaraan
Apa yang berwarna putih di tanganmu, katamu
Debu di tanah perjuangan serang keromantisan
Bersama angin yang mengarah tubuhku, kataku dan katamu

Di trotoar jalan
Sandarkan kau di sisiku bersama anganmu, katamu
Kado menghilang di telan indah
Kau bersama di tanah perjuangan adalah kadoku, katamu

Kataku...
Ini hanya fiksi wahai tuan


FIKSI SUDUT PANTAI

Di sudut pantai
Ombak melamunkan ketenangan
Karang menghayal tuk bisa terbang
Pasir ingin melawan ombak yang garang
Pun aku, bersamamu menyaksikan mereka

Tanganku berlumur pasir
Masih erat di punggungmu
Sesekali, kau ajak awan memandangiku
Aku tersenyum...
Ombak cemburu
Ia terjang jari kakimu yang lama mengering
Kau teriak...
Aku pasrah menerima tubuhmu
Di dadaku, lalu kau tersenyum malu

Sudah senja langit tenang
Ombak masih belum selesai menghajar pantai
Karang masih belum selesai menahan ombak liar
Pasir masih belum selesai membuat dendam
Pun aku, belum selesai menghayal keindahan
Tentangmu, karena ini fiksi


FIKSI PELAMINAN

Janur kuning melengkung di gerbang kerajaan
Di paling ujung jalan “selamat datang para undangan”
Mata-mata telanjang melototi kebahagiaan
Di teras paling depan
Singgasana sang pangeran gagah menyambut sang putri kahyangan
Padahal bukan jamannya kerajaan

Sehari setelahnya...
Baju-baju putih penuhi kerajaan
Di teras paling depan
Bersorban kemulyaan sesosok orang sedang dalam kekhusuk’an
Melantunkan dzikir ketuhanaan di tengah terik siang

Dan aku...
Titik kecil yang berjalan pasrah dengan adat
Salami tangan-tangan yang tubuhnya di bungkus kain putih
Hingga, air mata tak sanggup ku elakan lagi
Aku menang di sayembara pelaminan

Sehari setelahnya...
Sang putri menangis di sudut kamar
Lalu, aku bilang
“jangan takut permaisuriku, ini hanya fiksi”



Trisula Fiksi, 27-09-2013, 8:43 wib, Bondowoso

PASUKAN PUTIH DONGKER

###  Di kelas, ruang penuh dengan wajah imut mereka, kopyah hitam kaum pria, kerudung putih kaum wanita, putih baju mereka, dongker seragam bawahan mereka. Mereka sedang mengukir di atas batu, karena katanya belajar waktu kecil itu akan mudah membatu di kepala.   ###

###   Mereka senang, lihat layar besar di depan ruang yang jarang di pakai. Mereka asing dengan peradaban ini. Wajah mereka liar, tatap kebodohan di garis-garis tawa mereka. Dan aku, aku hanya diam, air mata masa laluku hadir lagi, karena di ruang ini aku merasakan hal yang sama dengan mereka. Bedanya, mereka sekarang sudah bisa melihat peradaban baru itu.   ###

###  Masa Putih dongker, masa itu aku disini, di pedalaman desa yang kumuh akan pengetahuan. Hanya ada layang-layang yang menjadi permainan, bukan alat canggih di perkotaan. Dan hanya ada angan-angan yang menjadi kebiasaan, bukan praktek ilmu pengetahuan di perkotaan.   ###

###   Masa putih dongker, aku datang di masa ini, mereka terselamatkan adalah harapanku. Coretan di dinding ruang tak akan ku hapus, coretan itu adalah sayapku untuk terbang bersama mereka. Terbang, kemudian akan ku taklukkan kerajaan kebodohan yang kuasai kerajaan desaku.   ###

###  Dan, inilah aku, seorang jendral kesombongan yang percaya bahwa aku bisa membesarkan Pasukan Perang Putih Dongker. Ya, Pasukan Putih Dongker, Pasukan yang ku proyeksikan membantai masa laluku dan tak akan terulang untuk mereka.   ###


26-09-2013, jam 11:57 wib, Laboratorium Bahasa, MTs. Bustanul Ulum, Bondowoso.

AKU MENGERTI

Malakut-malakut sepi
bumi tanah tunduk berapi
langit malam jelma sunyi
aku lari..
kemudian antara keduanya aku bersemedi
aku terbakar api
aku hanya diam meski rasanya perih
dalam gubuk, aku mengerti

malakut-malakut sepi
sampaikan pada angin yang berduri
ku utus ia merayap bumi
melayang ke langit malam yang sunyi
akan ku nanti...
kemudian nafas-nafas takdir berdiri
ia hempas angin berduri
dalam gubuk, aku mengerti

malakut-malakut sepi
harga diri tak lagi berarti
dalam gubuk, aku mengeti

Bondowoso 26-09-2013, 23:09 wib (*Gubukku
Akan ku coba - mengerti

INI TENTANG

Ini tentang penantang
namanya kerap mengisi ruang
ruang persegi panjang
biasanya penuh dengan manusia yang sedang kebingungan

Ini tentang kunang-kunang
bersenjatakan cahaya masa depan
cahaya yang tak akan pernah padam
biasanya mereka bergerombolan menantang malam

Ini tentang kembang
layunya selalu buat orang kehilangan
tapi indahnya tak akan usang
biasanya mereka tumbuh di pekarangan yang menakutkan

Ini tentang mati kebanggaan
matinya direnggut dengan cara perang
tapi ada juga yang sumbangkan wacana kearifan
biasanya mereka mati di peluk garuda kebesaran

Ini tentang pejuang
namanya selalu diam
bersimpuh di catatan anak sekolahan
biasanya mereka ada yang hilang di telan kepentingan

Ini tentang sejarah yang mulai terlupakan

Bondowoso 24-09-2013 20:20 wib


MASIH JELAS

Masih jelas...
Garis bibirmu tergores di ingatanku
Tatap matamu yang tajam terus merayuku
Goda kesepianku

Masih jelas...
Tingkah anggunmu mengajakku terbang saat itu
Sikap wanitamu yang lucu terus kuasai anganku
Ramaikan kesendirianku

Masih jelas...
Kabut-kabut memelukmu yang sayu
Kau kedinginan, aku tak sempat memelukmu
Sesalku tentang saat itu

Masih jelas...
Aku korban keindahanmu

Masih jelas...
Aku yang terperangkap “waktu” dan “saat”
Dimana “saat” itu teralalu indah untukku
Dimana “waktu” itu terlalu cepat untuk berlalu

Masih jelas...
Aku yang “bodoh” dan” tak tahu malu”
“Bodoh”, ku biarkan hati ini mengagumimu
“tak tahu malu” anggap tingkahmu jika kau juga begitu

Masih jelas...
Aku merindukan senyummu
Masih jelas...
Aku merindukan tatap matamu
Masih jelas...
Aku merindukan tingkah anggunmu
Masih jelas...
Aku merindukan sikap lucumu
Masih jelas...
Aku merindukan “saat” itu
Masih jelas...
Aku merindukan “waktu” itu
Masih jelas...
Aku ingin kau juga begitu


Paiton, Untuk Kabut, 23-09-2013, 14:07 wib

AHMAD TAUFIQ BIN ABDUL MUGHNI

A)ku adalah satu titik di bentangan jagat
H)idupku adalah pencarian yang tak kunjung usai
M)encari kebahagiaan atau eudaimonia dalam ilmu kefilsafatan
A)ku adalah kebenaran...
D)an aku masih tersesat dalam kebenaran itu

T)entang semua teka-teki
A)kupun seakan musnah ketika semuanya tak tertaklukkan
U)ntuk apa hidup?
F)atamorgana tak kunjung usai
I)tupun masih terus berkelanjutan
Q)uantum kehidupan yang sangat membingungkan

B)enar...
I)ndah...
N)ama yang selalu ku harapkan

A)ku masih dendam
B)ertengkar dengan alam yang sembunyikan jawaban
D)engan jutaan teks yang memenjarakan keindahan dan kebenaran
U)ntuk apa hidup?
L)alui puluhan tahun tanpa indah dan benar

M)encari dan mencari
U)ntuk cerita hidup yang lebih berarti
G)enggam semangat yang akan membuatku melayang
H)idup memang misteri
N)amun...
I)ndah dan benar adalah nilai hidup yang menjadi harga mati

MINGGU 22-09-2013 14.00 WIB, D11, Pondok Pesantren Nurul Jadid


BULETIN SIDOGIRI EDISI 84

BULETIN SIDOGIRI EDISI 84

SOBAT

Bila kakiku rapuh
Sanggah kau buatku tangguh
Bila wajahku kumuh
Usap kau buatku tak lusuh

Mengajakku terus menari
Mengalahkan irama hidup yang basi
Piawai sekali tingkah kau...
Menyelipkan pesan dalam nadi
Saat nadi hidupku mulai berhenti

Mengapa menangis?
Tanya kau saat lara bengisnya hidup menerkaku
Saat serdadu hitam mengoyak habis semangatku

“Tuhan itu tidaklah mati”
Singkat ucap kau buat air mataku layu
Membawaku meredam pilu

Sobat...
Kau kah sahabat itu?

Nurul Jadid 12 Maret 2013


MANUSIA "KOMA"

Masih dalam keangkuhan jiwa
Bersemayam keabadian suatu yang tak ada
Dalam dan semakin dalam
Hingga seluruhnya tak dapat membaca
Menjadi suatu yang selalu biasa

Tak ada angan
Tak ada gerak
Yang merubah suatu menjadi ada
Dan inilah keadaan manusia yang sedang koma
Keadaan tanpa dan tanpa

Hanya dan hanya 
Angin yang berjalan dengan arus
Tak ada yang ada untuk melawan
Karena ia sedang koma
ia..... sedang koma

Lantai II STTNJ 29-04-2012

RENUNGAN DOTNET DI WARNET

dotnet, familiar sekali kau di warnet
manusia-manusia ini sibuk dengan net-working masing-masing
mencari dotnet yang bisa pecahkan kompetisi hidup yang sengit

dotnet, sesekali dot memanggil teman yang lain
com, co.id, org, sch,....
dotnet semakin ramai
warnet pun enggan untuk di lelang
meski dotnet dan kawan-kawan hampir murahan

dotnet, dotnet...
kau masih jalang
kau jual kenikmatan

dotnet, dotnet
manusia-manusia ini korban bencana alam
bencana yang semakin hari semakin buat mereka menghilang
ya, menghilang.....
seret mereka ke dalam peradaban yang immaterial

dotnet, dotnet
aku juga korban
dari kemunafikan yang terus menjalar di duniamu
itupun bencana alam, wahai dotnet.

wahai dotnet, kau bukan Tuhan...
tolong ceritakan pada mereka semua...

Jum'at, 20 September 2013, 08.00 wib.
Warnet DuniaDotNet, Bondowoso

LALU

Aku memesan minuman surga
Ingin ku suguhkan untukmu, lalu
Aku merangkai pecahan mutiara
Ingin ku lilitkan di tangan kananmu, lalu
Aku melukis kau layaknya monalisa
Ingin ku bingkai indah di kamarmu, lalu
Aku ciptakan sebuah lagu cinta
Ingin ku nyanyiakan setiap kau duka, lalu

Lalu...
Semuanya berlalu
Aku tak mampu untuk itu, lalu
Aku dengan caraku, lalu
Aku caraku ungkap cinta, lalu
Aku hanya bertengkar dengan huruf-huruf, lalu
Aku kubur mereka di tanah-tanah kedamaian, lalu
Aku tak akan menyesal mencintaimu, lalu
Kau abadi untukku

Dan masih belum ber-LALU



Paiton, 17 September 2013

SAJAK ABCD

(A)

Awan masih bergelantungan
Angin juga masih bergegas dengan kesibukan
Aku bergurau dengan kebisingan
Anggap kenyataan ini sebuah keindahan

Aksara terus ku tata dalam tulisan
Akan ku eja kembali ketika mulai usang
Akan ku abadikan dan tak akan ada sesal
Aku dan kau yang akan "kekal" dalam kata

Ada awal
Ada kau yang selalu menawan
Ada akhir
Ada kau yang akan selalu ku panggil, Sayang,...

(B)

Bersajak lagi
Buat kesempatan ini tak sia-sia
Betapa tidak? cinta telah menjadikanku seniman cinta

Bermain-main dengan rasa
Berharap kompetisi kehidupan, kita yang juara
Berharap juga, mimpi berujung nyata
Benar-benar luar biasa

Berbagi rasa
Biar kita sama-sama merasakan indahnya
Berbagi rasa
Biarkan alam menjadi saksinya, Sayang,...

(C)

Cerita kembali terurai mesra
Canda keromantisan kembali tertuang
Campakkan semuanya
Ceritanya hanya tentang aku dan kau

Cerdik sekali kau
Cegah sedihku kau ganti tawa
Cakap sekali kau
Ceritakan perasaan dengan sangat menawan

Cemburu semuanya
Cerita cintaku kau buat mereka ternganga
Cinta ini, sungguh luar biasa, sayang,...

(D)

Dekap kau lebih mesra
Derai air mata yang membatu mencair sudah
Dengan mudahnya kau sulap semuanya
Deru kesedihan menghilang begitu saja

Damai berkibar sudah
Dengan bendera putih yang selalu di dada
Dering lagu menyeruak sudah
Dendangkan kebahagian dalam jiwa

Dunia kini adalah saksinya
Dambaan kisah para pecinta aku adalah pemiliknya
Dengan semua kisah, tentangmu wahai Sayang,...


Paiton, 14-September-2013


KEMUDIAN AKU BERFIKIR

Kemudian aku berfikir
Akankah nasionalisme itu bisa diajarkan
Jika yang tuapun tidak tahu
Kemana darah pahlawan mengalir?

Kemudian aku berfikir
Akankah nisan perjuangan bisa kuhiasi bunga mawar
Jika yang mencatat sejarah tidak tahu
Dimana coretan pahlawan dimuseumkan?

Kemudian aku berfikir
Akankah "JASMERAH" Soekarno berkibar
Jika yang berkepentingan berulah
Bagaimana sejarah bangsa ini akan benar?

Kemudian aku berfikir
Pentingkah sejarah?
Jika tahu tentangnyapun aku belum bisa menghargainya

Kemudian aku lahir dan merdeka
Sia-sia

23:03 WIB 11 September 2013
Alghorizm
Untuk Ordik 2013


KABUT MASIH BERKABUT

keindahan ini bertabirkan kabut
sudah jutaan serdadu angin
ku utus tuk melenyapkannya
malah mereka mati di telan keindahannya

sudah ku utus juga matahari
pecahkan pekatnya kabut
malah ia ikut sirna melambaikan sepercik cahaya saja

tak hanya itu,...
pelangi keindahan ku utus dari samudera
harap kabut ikut keindahan warna
malah pelangi khianati tugas dari tuannya

wahai kabut yang masih berkabut
selama alam masih berestetika
dan kata masih bisa menjelma
cukuplah cinta akan selalu ku rasa

bersama alam dan kata yang siap setia
aku masih punya teman untuk menceritakannya
tentang kabut,...
tentang ia yang masih berkabut

10 September 2013 06:30 wib
untuk yang masih menginspirasikanku


AKU DAN IDEALISME YANG MULAI RUNTUH

memar kebodohan masih tampak jelas di kepalaku
peperangan ideologi masih berkecamuk di otakku
saat itu eudamonia masih menari-nari di relung hatiku
ketika itu juga, jari kusamku tak hentinya bebaskan pekatnya etika
semuanya cengkram jiwa keabadianku,..
aku yang satu dan aku yang merajai duniaku
aku sombong saat itu
sombong dengan idealisme yang jajah ke-akuanku
layaknya filsuf, aku adalah aku dengan ajaranku sendiri
betapa sombongnya aku saat itu,....
kini, semuanya runtuh
ternyata duniaku tak butuh ajaranku
kenyataan, jauh lebih berbeda dengan hanya renungan

*kenyataan masyarakat yang membingungkan
*Thomas Hobbes Theory is bulshit

9 September 2013


AKU DAN SUNYI

aku masih setia dengan sunyi ini
merangkai kata untuk mata-mata liar
hanya untuk menyingkirkan tabir-tabir kebodohan
sembari juga menimang-nimang api semangat yang terus menjalar
entah, esok atau lusa atau bahkan pada waktu yang lebih lama
otak ini mulai nakal, dan hilanglah semuanya
saat itulah, karya akan berkata
"inilah api yang sempat membakar idealismemu tuanku"
saat itu juga, aku hanya akan tersenyum malu
melihat api-api padam sisakan debu hitam
ya, debu hitam, mata-mata liar akan selalu melihatnya
entah, akan mencibir atau menyanjung
aku pasrah saja,...
bukankah dunia memang selalu berbeda
iya kan sunyiku?

8 September 2013



OMBAK KECIL

kemarin
pasir putih di pulau merah masih menggelitik kaki nakalku
ombak samudera hindia juga masih menerka kekerdilanku
angin-angin liar juga masih memelukku dengan mesranya

saat itu
catatan persahabatan melayang tinggi di atas awan
kabarkan kepada indahnya alam jika kita sedang mencatat cerita kawan
yang akan usang, tapi maknanya tak akan hilang

saat itu
cerita-cerita masa kelam ku ceritakan
acara keakraban katanya, sungguh mengesankan
perlahan senyuman menyambutku di atas kenangan
seperti senja saja, keindahannya berlalu begitu saja

Aku
seperti ombak,..
pantai adalah kehidupanku
angin adalah takdirku
aku mengalir mengikuti hentakan angin
hingga, aku kembali terbuang ke tengah samudera,...

dan ceritaku kemarin
adalah pasir pantai, akan hilang atau tidak
aku pasrah dengan angin yang akan menerka jutaan cerita selanjutnya


Alghorizm, 04 September 2013


JAWA POS RADAR BROMO EDISI 1 SEPTEMBER 2013

JAWA POS RADAR BROMO EDISI 1 SEPTEMBER 2013

SENYUMAN DI PANGKUAN KABUT

Pagi itu,...
Saat kabut berebut aku yang lumpuh
saat dingin menginginkanku yang lusuh
saat alam menyalamiku yang buat aku luluh
saat intipan matahari buat kesedihanku runtuh
Di saat itulah,....
Senyummu mengerang kedinginan
Lalu ku rebahkan di pangkuan kabut
Aku hanya memperhatikan senyuman itu
Harap ia tersadar dan lihat aku
Walau kenyataannya ku tak ingin hanya di lihat
Ku ingin ia terbangun dari pangkuan kabut
Lalu,...
Senyuman rebahkan dirinya di pangkuanku
Merasakan, jika aku ingin miliki senyuman itu
Selamanya,..
Tak seperti kabut
Yang milikinya sementara saja

Penanjakan Bromo 25-08 05:12 wib

Hanya Manusia Biasa
teriak aku dalam beton kesunyian
bebaskan egosentris yang penjara jiwaku
ingin selamanya ku biarkan ia terbang menjauh
agar sandiwara kemunafikan ini musnah
tapi, dekonstruksi derrida masih berlaku dalam hidupku
karena aku manusia...
tak seperti ideologi yang stagnan
tak seperti pula batara guru dalam epos mahabrata yang selalu benar
ya, aku hanya manusia biasa,...

mengertilah wahai duniaku

22-Juni-2013

DAUN
aku bukan penyair sebelum ini
aku juga bukan pemimpi sebelum ini
aku hanya manusia rapuh yang hampir terjatuh
aku hanya daun kering yang hampir lumpuh
kau datang merayu
bukan wajahmu, tapi tingkahmu
memangsa kesepianku
hingga ku terluka dalam layu
lalu luka kau usap, lalu
akupun daun kering yang selamat
jatuhpun tak sampai ku terperanjat
bukan karena apa, tapi kau
kini akupun daun
yang selalu kau alirkan air
selalu tegar,
jika pun aku lusuh
ingat kau buatku luluh

alghorizm 20:30 19-03-2013

TENTANG SAJAK

rasa yang telah usang
terus saja mengakar
tak roboh meski lahannya terguncang
terus saja menjalar
memenuhi sepinya ruang
sembari sajak bertebaran
menutupi dinding ruang yang kusam
seakan tak hiraukan
sajak indah ataukah hanya sajak rongsokan
malam menyapa
ku eja kembali sajak usang
terkesima juga hati ini melayang
sajakku ternyata bisa menawan
malaikat mana yang telah mengajariku bersajak?
aku bukanlah penyair kawakan
juga bukan penulis karya keromantisan
tanyaku lagi
malaikat mana yang telah mengajariku bersajak?
sajak usang ku eja lagi
memahami setiap kata yang merantau
ku cari malaikat itu...
ternyata malaikatpun tak ada
entah...
kapan aku mulai bersajak?
dan siapa juga yang mengajariku bersajak?
atau...
siapakah yang memaksaku untuk bersajak?

#mia, 23.10 03-03-2013

Gila

Gilakau
Gilagilaan
Ku buat gilakau
Tak gila-gila
Andai gilaku gilakau gilakita
Tak gila-gilaku
Gilakau gila-gilaan
Tak gila-gila
Kapan?Gilakau?
Gilakau gilaku
Menjadi gilakita
Harap gila-gilaan

Gila, hampir gilaku

DI SAMPING PATUNG GARUDA

Patung garuda tegak berdiri
Sembunyikan pecahan sejarah
Di bawahnya ilustrasi kehidupan masa lalu
Perjuangan penegak sayap garuda

Angin berhembus perlahan
Pecahkan alam pikirku yang nakal
Pikirku yang berani bongkar masa lampau

Bising sekali suara motor
Ingatkanku tentang saat ini yang kasar
Masa kini tentang kemerdekaan yang mulai usang

Di samping patung garuda
Aku menyalakan beban moral
Di samping patung garuda
Aku hentakkan jiwa kebangsaan
Di samping patung garuda
Aku alirkan darah kemerdekaan di tanganku
Di samping patung garuda
Aku berjanji Indah alam indonesia ku lestarikan
Di samping patung garuda
Aku mencintaimu indonesiaku


Minggu 01-09-2013 00:46 wib, alun-alun probolinggo