OCTOBER RAIN

I'm lose
Dead on the rain
No angel anymore
She was fly in to the sky
Nothing wind
That can bring me fly
I'm here
Just feel my lonely
Stand up on a stone
Beautiful memory which have killed me
I'm dead
October is raining

31-10-2013

Just for Kabut

INISIAL A

Dia beradu dengan ilalang liar
Di tangannya secarik kertas terkepal
Entah, apalah coretannya
Kemudian aku terpaku
Tatapnya mengarah ke arahku
Di kejauhan sepuluh meter
Akhhh, kau tersenyum
Matilah kegagahanku
Lalu, Akupun terkubur dalam rindu
Tak mendengar kecuali suaramu
Tak melihat kecuali ragamu
Tak merasakan kecuali aromamu
Aku mati karena inisial A

31-10-2013

Move on edition

DITABIRI JALAN

Kau di dalam singgasana
Depannya adalah jalan menuju kota
Aku dengan kakiku yang gerah
Ke ujung selatan
Karena kabar kau yang tak kunjung usai
Sedikit berita...
Kau sedang di singgasana
Aku berharap di jalan raya kabar terjawabkan
Lalu...
Ditabiri jalan
Catat indah bias kepuasan
Kau berdiri
Lalu cinta berujung indah
Jika kau curiga
Maka mungkin inilah cinta
Karena akal mulai tak memahaminya


Tanjung, 50 m arah selatan, 29-10-2013

JAKA KEMBALI

Singsingkan lengan baju
Kerah tegak berdiri
Lindungi kepala yang lama merunduk

Kepalkan tangan
Angkat tinggi lebihi kepala
Tetapkan tatapan untuk keindahanan

Di seberang waktu
Dunia masih luas
Bidik keistimewaan di ruang sana

Jaka kembali
Kisah usang telah terpendam
Saatnya menantang impian

Jaka kembali
Terlalu lama di trotoar peristirahatan
Jalan masih panjang

Jaka kembali
Bersiaplah debu-debu berantakan
Di penghujung jalan aku berdiri dan mati

Jaka kembali
Pertanyaan teka-teki misteri
Pasti terpecahkan

Jaka kembali
Samudera kini hanya bersenjatakan ombak
Jakapun tak takut, karena aku Jaka Samudera

P. 26-10-2013

KEMBALINYA MIMPI

Petuah yang lugu
Dari mulut sang penebar ilmu
Pelan...
Seperti jatuhnya daun di tidurnya angin malam
Mengalir
Seperti air di kanal pepohonan sungai

Belum tengah malam
Tatapan hikmah terus bercucuran
Damaikan kegersangan mimpi yang lama menjadi benalu rasa
Tenang...
Ku sambut keindahan
Kembalinya mimpi di bait-bait kesucian

Terbanglah...
Pandanglah dari ketinggian awan
Saksikan sayap-sayap mimpiku
Akan ku susul kau diatas sana...
Wahai sang penebar petuah malam

Probolinggo, 25-10-2013

Untuk guruku Imron Amrullah

TERINGAT LAGI

Mimpi berujung mimpi
Tak berujung nyata
Bahkan kadang menjadi luka
Perih, kau air menyentuhnya

Setiap malam
Selalu kucoba hapus tentangmu
Tentang kenang yang kadang aku menyesal
Kenapa harus mengagumimu

Detik tak henti berjalan
Selalu pecahan kisah ini di angan
Terbangkan aku dengan keindahan
Teringat lagi dan lagi

Kau..
Tak mampu ku coba tuli
Suara cinta ini terlalu nyaring
Tak mampu ku coba bisu
Suara cinta ini terlalu buatku rindu

Teringat lagi
Dan teringat lagi


Probolinggo, 22-10-2013, 21:03.

MATI KARYA

Sepertiga malam
Cicak berhenti bergurau
Tinggal gerombolan nyamuk
Mencari mangsa di rimba petang

Tak ada yang memukau
Malam seakan tak biasanya
Seperti kemarin ku bisa menulis tentangnya
Mati karya

Tak paham
Ku coba bertanya
Gugusan bintang yang sedang menatapku
Enggan mereka jawab untukku

Kemana hati ini
Kemana karya yang biasanya menari-nari
Kenapa ia pergi?
Kenapa ia mati?

Mati karya
Malam menangisiku
Aku juga mati bersama karyaku
Hilang sudah inspirasi itu

Kemana?
Di bulan yang sempurna itu
Atau tidak di sepertiga malam ini
Mati mungkin saja

Kembalilah
Hiduplah karya
Aku sepi tanpamu
Jangan Mati seperti ini


Probolinggo, 19-10-2013

???

Jurang
Menganga
Depanku
Bingung
Melompat
Atau
Diam
Kemana
Belakang
Pengecut
Kedepan
Mati

Lantas!
Diam?
Beku?
Benarkah?
Membingungkan

???

15 Oktober 2013

TOPENG KEPENTINGAN II

Di lembaran buram
Ku catat tentangmu lagi
Tentang kamu yang berhati kuli
Kau selipkan keinginan di pucuk kebaikan
Entah kau sadar atau pura-pura tak sadar

Sempat ku melayang 
Sayap-sayapmu membawaku terbang
Aku tak berhati curiga
Hingga di paling atasnya langit
Lalu kau buka topeng kepalsuaan

Di tengah padang pasir aku kehausan
Kau lambaikan tangan 
Lalu oase kau tunjukkan
Tak sempat ku minum 
Malah kau bunuh aku dari belakang

Aku tertawa
Tingkahmu sungguh menjijikkan
Seperti menjilat ludah sendiri yang kau buang
Kenapa aku baru sadar
Bodohnya aku rela kau permainkan

Dasar...
Topeng kepentingan
Hargamu bukan ukuran nominal
Juga bukan sebuah kehormatan
Kau sampah di bentangan bunga-bunga keindahan

Bondowoso, 14-10-2013
Untuk kamu bajingan bertopeng kebajikan

TOPENG KEPENTINGAN

Wajah memang bertopeng
Saat ditantang lawan raut berubah garang
Kadang juga pura-pura menawan

Lirik mata juga kadang nakal
Perintah kanan
Ke kiri justru dianggap benar

Masih mata yang alirkan air mata
Seperti kran saja
Saat dibutuhkan bisa dibuka

Bingung, selalu dahi yang mengerang
Padahal bisikan hati tak demikian
Benar-benar kebohongan

Tertawa seakan tak ada orang
Suaranya menggelegar hingga dalam gua
Padahal air matanya malu tuk keluar

Juga lidah yang katanya tak bertulang
Telinganya tangkap putih
Malah hitam yang terucapakan

Wajah mana lagi yang akan ku anggap benar
Jika topeng selalu melekat kekal
Ikuti garis keriput milik sang tuan

Wajah mana lagi
Jika semuanya kepentingan
Tak adakah yang benar-benar BENAR.

BONDOWOSO, 12-10-2013.
Untuk kamu budak kepentingan.
Refleksi diri sendiri juga, Belajar Benar.

BAIT-BAIT TERMINAL BONDOWOSO

Kursi tunggu sambut datangku
Masih sangat pagi
Satu bus hendak ke surabaya
Masih lelap di parkir paling timur

Ingin kubangunkan untuk Bidadari Kecilku
Yang maksudnya ingin ke tanah rantau
Mencari bekal hakikat hidup
Juga mau menidurkan kebodohan

Tunggu tetaplah tunggu
Bus masih tak berawak
Ku putuskan tuk merenung saja
Melirik gerak-gerik alam yang pasti ada keganjilan

Lalu satu persatu ku terawang
Bingung dimana titik pertama
Titik mana yang akan kujadikan awal
Lalu, ku pasrahkan mataku ke arah selatan

Ditemani asap rokok
Petugas kebersihan menikmati tarian khasnya
Berdansa dengan sapu lidi
Kekasih yang setiap pagi setia menemani

Pasukan berseragam warna telur asin
Sibuk di ruang elit dalam kaca
Dari kejauhan aku melihat mereka ceria
Entah, senyumnya buat aku ingin muntah saja

Sudah lama
Kuperhatikan tingkah alam terminal
Pak kondektor dan pak sopir belum bergegas juga
Aku mulai bosan dengan warta cerita ini

Akhirnya
Pasukan warna telur asin angkat bicara
"Bus jurusan Surabaya waktunya diberangkatkan"
Katanya lantang

Aku haturkan Bidadari kecilku
Menikmati ruang kehormatan di perjalanan kemuliaan
Ia raih tanganku
Bersalaman lalu ucapkan salam

Tak lama kemudian
Wanita tua dengan tongkat kayu menghampiriku
Tangannya menjulur tepat di bawah wajah
"Minta uang buat makan nak" lirih kata-katanya

Lalu harga nominal kupasrahkan
Tak puas aku pecahkan kode alam terminal
Ku ajak ia berpidato tentang kehidupan
"Aku tak punya keturunan nak," semakin lirih

Aku hanya diam
Pidato kehidupan kuwadahi dengan senyuman
Lalu tibalah perpisahan
"Semoga kita sama-sama diberi keselamatan nek."

Selesai, tapi belum ada kesimpulan

Bondowoso, 11-10-2013, 7:49 WIB

MENCARI KABUT

Karang berduri
Satu titik melukaiku
Di Segara menatap senja
Darah simbol jejak di delta terakhir
Tak sempat dihempas ombak
Peluh kesedihan bercucuran
Bersama air mata kenangan
Angin amuk raga yang lelah sendirian
Hingga petang
Kemudian bosan, dan
Berlari ke puncak mencari kabut
Luka karena karang tak terasakan
Di tengah jalan...
Dihapus kunang-kunang di tengah hutan
Bunga mawar sedang lelap
Lembayung kecil tiarap dalam pekat
Akar-akar sapa kaki sang pengharap
Perlahan...
Setelah petang
Mentari tersenyum diantara ranting-ranting
Juga ditengah kerumunan daun-daun
Terbit sudah pembuka tirai pelangi
Juga tirai yang sembunyikan kabut dalam petang
Di perjalanan dari senja hingga pagi
Hanya kabut yang aku cari
Obat gersangnya hati selama ini
Juga mimpi yang masih belum berujung mati


Bondowoso, 09-10-2013, tentang “kabut”.

SINGGASANA MIMPI

Kicau burung membahana
Di ikuti bangunnya sang mentari pagi
Angin tenang membelah kehangatan
Sambut tubuh yang masih berantakan

Kunang-kunang menghilang
lampu-lampu pijar tanpa terang
Hanya hati,..
Terus bersinar menerangi mimpi

Perlahan membingungkan
harap keajaiban datang
Meski mimpi hampir mirip rekaan
Patah arang harap tak sampai

Selama nadi masih bergetar
Dan jantung masih berdetak normal
Mimpi denganmu tak akan hilang
Karena ini sebuah kehormatan

Dan selama senyummu jelas di singgasana mimpi
Catatan tak akan pernah selesai
Memenuhi kertas hidupku yang buram
Dan pada saatnya catatan mimpi akan terkenang

Di atas awan catatan kusampaikan
Bawalah mata indahnya memandang
Katakan tanpa berlebihan
Aku pemimpi yang berharap cinta terbalaskan

07-10-2013, 6:30 WIB
Kode sajak : KABUT



MELAWAN SIANG DAN RAMAI

Di pojok kampus
Deru mahasiswa memecah ketenangan
bait puisi yang selalu ku lantunkan hilang
ditelan kebisingan
diterka sombongnya keramaian

kemudian aku bukan budak siang
yang pasrah diterka panas
aku adalah serpihan jiwa tuhan
aku berdiri bukanlah hal yang mustahil
akan ku lawan

bait satu dua kini selesai
kesombongan siang dan ramai
setengah sudah ku taklukkan
bersama jemari kecil yang sibuk meminang kata
bersama otakku yang liar memangsa sang suka

lalu, aku sombongkan diri
perlawan perang ku iakan
musuhnya siang dan keramaian
kemudian,...
aku menang,...

05-10-2013 Jam 12:12 WIB
Sajak Tantangan dari Bang Erlangga

KATA BELUM TERTAWA

goresan penaku berkata
kata-katanya mesra, tanpa tawa
senyum saja

kertasku pasrah dibanjiri cerita
cerita-ceritanya berwarna, tanpa hitam
biasa saja

setiap saat mereka bercanda
di tengah ramai
atau bahkan di kerumunan sepi

selalu ditutup dengan senyum
tanpa tawa
karena semua biasa saja

sudah jutaan tarian kata
beradu panggung di atas kertasku
meliuk makna dalam cerita
tapi tetap, semuanya biasa saja

entah...
kapan ku dapatkan cerita
mata ini sudah kehabisan air mata
dan kata-kata,....
belum bisa tertawa juga


Probolinggo, 05-10-2013, 12:45 WIB


JIKA

jika kau terusik karenaku
maka bakarlah masa itu
jangan sampai ada sisa
agar aku tak bisa lagi mengingatnya

jika ulahku buatmu pilu
maka buanglah puisi itu
jangan sampai kau baca
agar kau tak bisa lagi memikirkannya

jika kata kau anggap rayu
maka teramat bodohlah aku
buang waktu demi nafsu
sungguh tak ada gunanya bagiku

jika ingin kau tahu
maka karena bayangmu
sajak-sajak ini bertebar rindu
dengan waktu yang akupun tak tahu

jika kemudian kau ingin aku lenyap
maka maafkanlah aku
jangan sampai kau coba
agar aku tak tersiksa karenanya


Probolinggo, 05-10-2013 22:00 WIB

PESAN SENJA

Senja berbisik lagi
Katanya dia sedang memikirkanku
Ku katakan saja bohong...

Bualan ini hanya duri
Senja anggap aku manusia tuli
Ku katakan saja aku tak sudi...

Senja...
Jangan sampai kau ganggu lagi
Telinga ini bukan kuli
Kau bayar, lalu kau pergi
Kau beri janji...
kemudian kau harap aku berhenti

Tidak...
Puisi ini masih belum mati
Di senja menuju gelap
Dia masih wanita inspirasi

Senja...
Pesanmu aku mengerti
Kau suruh aku berhenti
Tapi parasmu, paksa aku untuk berpuisi lagi

Bondowoso, 03-10-2013, 17:16

Sajak sore untuk wanita borneo yang sedang online

BOSAN

Desas-desus deru menghujam
Pilu bak palu pelan menghajar
Di genangan kebosanan, bosan
Cakapku mati dengan terang
Di liang kubur, dan bosan
Lalu dupa-dupa menyala
Ruang kebosananpun pecah sebentar
Tak lama...
Kemudian...
Aku terbakar... Bosan


Bondowoso, Bustanul Ulum, 02-10-2013 

SKETSA

Di lentik jemari # pensil
Goresan # pertama # rambutmu #
Ia # mengintip dari hitam # kerudung #
Rapi # tergores di atas kertas putih #
Sketsa # kode rindu telah datang # bersama petang
Kemudian # asa berkedok kata #
Jemariku beku # hati semu # karena sketsa
Tak selesaiku bentuk # wajahmu
Kau balasku dengan kerikil di kepalaku
Apa aku tak malu? sketsa belum selesai

Bondowoso, 01-10-2013

SI ASAP MUNGIL

Pagi sekali..
Aku hanya bersama asap mungil
Ia menari-nari di udara
Kemudian ia peluk kesendirianku
Pagi sekali..
Kemesraan ini terulang lagi
Belaian demi belaian
Ia manjakan sekujur tubuhku
Sesekali..
Ia masuk melantunkan puisi di jantungku
Dengan diksi-diksi kenikmatan
Pagi sekali..
Kau asap mungil yang membuka tabir imaji
Memaksaku tu membalas puisi
Tentanng kesetiaanmu
Tentang artimu yang selalu membuat damai hati
Pagi sekali..
Kau ubah irama hidup yang basi menjadi lebih terhiasi
Pagi sekali..
Kau asap mungil mengajakku menari-nari di tengah kumalnya hati
Pagi sekali..
Kemudian sepenggal puisi menjadi saksi
Kau asap kecil yang selalu setia menemani
Dalam duka dan sukanya hidup ini

Probolinggo, 01-10-2013, 7:43 WIB

KEARIFAN CERITA

Cari dan ceritakan
Cerita tentang cara keanggunan
Anggun dan cerita tak akan membosankan
Akan catatan yang akan terselip canda kearifan
Menjadi tutur yang kelak berbuah keabadian

Sebarkan...
Dan kau mati dengan batu nisan kemulyaan
Dengan bunga-bunga doa dari seorang berhati putih
Atau bahkan dari pembunuh yang nyawa di anggapnya tak berarti

Probolinggo, 01-10-2013