MENCARI KABUT

Karang berduri
Satu titik melukaiku
Di Segara menatap senja
Darah simbol jejak di delta terakhir
Tak sempat dihempas ombak
Peluh kesedihan bercucuran
Bersama air mata kenangan
Angin amuk raga yang lelah sendirian
Hingga petang
Kemudian bosan, dan
Berlari ke puncak mencari kabut
Luka karena karang tak terasakan
Di tengah jalan...
Dihapus kunang-kunang di tengah hutan
Bunga mawar sedang lelap
Lembayung kecil tiarap dalam pekat
Akar-akar sapa kaki sang pengharap
Perlahan...
Setelah petang
Mentari tersenyum diantara ranting-ranting
Juga ditengah kerumunan daun-daun
Terbit sudah pembuka tirai pelangi
Juga tirai yang sembunyikan kabut dalam petang
Di perjalanan dari senja hingga pagi
Hanya kabut yang aku cari
Obat gersangnya hati selama ini
Juga mimpi yang masih belum berujung mati


Bondowoso, 09-10-2013, tentang “kabut”.