SAMBUTLAH HUJAN, AKU MATI BERSAMANYA

Adalah kamu saat ini yang mewadahi hujan jiwaku.
Dengan emas berlapis mutiara samudra di kedalaman Antartika.
Air hujan jiwa terkulai tak berdaya tanpa nyawa.
Pasrah karena kamu bertabur kilau bak mata pedang yang menancap karang.

Mati...
Tanpa kain kafan, tanpa batu nisan, juga tanpa dupa-dupa pemujaan.
Ini matilah jiwaku dalam lebel kehormatan.
Tak akan menjadi kunang-kunang kuku-kuku, pun tak akan melayang-layang arwah, kata mitos beredar di kuping kanan.
Matiku di pelupuk mata bidadari kahyangan, matiku di sari bunga sang perawan.

Sambutlah rintik air jiwa kepasrahan.
Tanpa perantara ku jatuh menantang pekat awan, kecepatan setara hujaman sinar.
Lalu sampailah kau tak basah, tapi percikan, kau berdiri lalu dinginlah sudah.
Tenang...
Tenang...

Irama hujan bukan sebuah keniskalaan.
Deru kebisingannya hanya liku, luka adalah bekas perjalanan di trotoar.
Sampailah lalu sambutlah air jiwa hujan di tanah para pertapa.
Penjara dengan wadah emasmu, tuang ke kolam lumpur jika kau pun mau.
Sambutlah Hujan, aku mati disana wahai sayang...


30-11-2013

ADA LUKA DI METROPOLITAN


“Jak, bangun.....! katanya mau ke surabaya, ayo bangun, udah jam lima ni,” Bentak andika ketika membangunkan Jaka yang sedang tidur pulas di kamarnya. Jaka dan Andika tinggal di satu rumah kontrakan, mereka berteman sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Hingga setelah lulus mereka memutuskan untuk bersama lagi dengan masuk ke perguruan tinggi yang sama, yaitu di salah satu perguruan tinggi swasta di Kabupaten Probolinggo.  Jaka dan Andika sama-sama suka menulis dan sama-sama bermimpi menjadi penulis hebat, persamaan lainnya adalah sama-sama tipikal pria yang mengangumi wanita secara diam-diam, tak pernah mengungkapkan perasaan mereka pada wanita yang mereka kagumi, hanya selesai di tulisan-tulisan mereka saja.

INISIAL A (II)

Senyum jatuhlah sudah
Tak untukku tapi senanglah
Di awal senja bahagialah
Inisial A beradu dengan tingkah
Mataku berayun hatiku kaku dalam lamun

Tak sampai menghilang
Jejaknya ajak otakku termenung
Lukis anggunnya dalam kata
Hingga akhirnya aku tertawa
Karena Inisial A tak tahu ada sang pecinta

Selanjutnya... Akh...
Tak sempat malawan
Aku kalah lagi dalam perang
Tatapnya bak tombak bermata pedang
Aku kalah...


Probolinggo, 25-11-2013

EMPAT PENYAKIT PERGAULAN

Mendung pagi
Lantun petuah menggema pasti
Dari bilik, telinga memata-matai
Memahami tutur kyai* dari rumah ilahi

Satu tema obatnya hati
Tentang penyakit pergaulan hingga mati
Bergegas pena ku raih
Lalu sepenggal puisi mengalir dalam sunyi

Ku teguk segelas teh
Lalu inilah kata sang kyai
Empat penyakit pergaulan sehari-hari
Semuanya empat bait setelah bait ini

Catat pertama, ghibah
Dalam jelasnya makna
Mendiskusikan jeleknya manusia
Terpenjaralah kita di jeruji kata

Lalu kita memohon puji belaka
Kadang Tuhan adalah korban
Ibadah sebagai tumbal agar kita menawan
Sederhananya, inilah riya' wahai kawan

Dan berpangku tangan
Penyakit kepasrahan tanpa mengingatkan
Masuk jurang, ya masuklah
Padahal Tuhan mengajarkan usaha perlawanan

Akhir penyakit tertular hitam
Kertas putih adalah awal
Kadang tercoreng sudahlah berantakan
Sukur terhapus, tapi itu jarang

Akhir bait ku teguk lagi secangkir teh
Ku perhatikan santri sibuk menyambut terang
Dan harapan...
Tuhan berikan kemulyaan

*Kyai Najiburrahman Wahid

Probolinggo, 25-11-2013

KUKABUTKU

Kukabut-ribut
Ribut-kabutku-rasuk
Dalam-hati-remuk
Kabutku-merebut
Mengamuk-bilik-hati
Kukabutku
Terhunus-sakit-berlumur
Darah-bercucur
Kukabut
Kabutku-tenanglah
Kukabutku
Mengertilah-sejenak
Kabut kabut kabut


Probolinggo, 23-11-2013

(KABUT GARIS MIRING ANGKA)

KABUT /1

Jatuh basahlah akar
Ranting mati hiduplah
Bunga tanah pucat berubah mekar

Merpati turun dari kediaman
Teduhkan diri di lubang ular
Sayapnya tak patah tapi tak mampu terbang

Tersenyum lalu ketakutan
Hujan memangsa hutan
Malah kabut memangsanya dengan hilang

KABUT /2

Seribu pandang
Terjebak mata di bualan alam
Sisi depan ternyata harapan

Terlalu tebal kabut melayang diam
Gontai kaki malah injak duri wewangian
Sudahlah, berdarah

Tak sempat jinakkan duri
Kabut lari terbawa angin
Ternyata di baliknya hanya kulihat pertanyaan

KABUT /3

Siulan nakal terhembuskan
Dari bibir yang lelah tak patah asa
Menggoda kabut di lembah rawa

Lirik matapun sama
Seonggah jiwa pusat ilusi kata
Tentang musim semi yang berlalu dengan cinta

Perlahan hanya coba
Sirnamu menjauh saja
Ternyata, itupun tak bisa

Probolinggo, Alghorizm, 19-11-2013, 12:44 WIB.

Untuk KABUT

TAMAN HIDUP

Akar menjalar
Di atas kepala diam
Kadang bentur lamun
Catatan berhenti sejenak
Bibir ini hanya tersenyum
Alam ucapkan selamat datang dengan keindahan

Pohon tumbang
Loncat kaki nakal
Lumut menghijau
Jebak mata lalu terkapar

Suara burung mencibir
Ia gelengkan kepala lalu kabur
Ku sangka karena peluh tubuh yang lusuh
Hanya sangkaku
Lalu...

Dan lalu
Inilah taman hidup
Kabut turun di danau dewi rengganis
Sentuh tubuhku yang lupa tentang kelelahan

Mereka sejuk
Mendekap lalu ku tinggalkan jejak
Dan ku bawa pulang sebuah sajak


Danau Taman Hidup, 17-11-2013

PANCAMUKA

Robak-rabik jiwa siang
Robat-rabit muka di depan mangsa
Berubah topeng lalu bergerilya

Pancamuka
Segi-segi aku berbeda
Ombang-ambing di medan yang tak sama

Pancamuka
Aku budak kapan merdeka
Bebas tanpa topeng belaka


Alghorizm, 15:24 wib 16-11-2013

BERPERANG SABARKU

Kepalaku hampir pecah
Aku mengangkat mayat-mayat kemalasan
Bergeletak di sepertiga malam

Bau peluh tubuh mereka
Sesekali hujam amarahku
Seperti rusa bermain di depan singa

Kadang..
Mata-mata mayat melotot
Menantang sabarku yang lama terlelap

Sepertiga malam
Berperang sabarku
Tak kunjung usai hingga matahari terulang

Kalahku atau menangku
Jika memang bendera keikhlasan kutegakkan
Dan sabar mengantarkanku dalam kebenaran

Jikalau kalah
Tertawalah setan-setan di bulu kuduk
Mereka berpesta menyambut kalahku


Kantor WIL-D, PPNJ, 16-11-2013, 05:25 WIB.

MUSIM HUJAN PERTAMA

Musim hujan pertama
Aku merasa ia air dari arah barat sana
Awan hitam itu saksi
Ia ceritakan semuanya padaku

Tetes pertama di tanganku
Tak dingin aku kedinginan
Diam sekujur tubuhku menangis
Ia ku sangka kabutku yang hilang

Ku tulis hujan di kesendirian
Terhenti seketika
Mataku hitam kemudian terluka
Hujanlah sudah

Tak sempat beradu senang
Sedih pukul senangku
Cerita roman yang ku samakan dengan hujan
Tak sempat selesai

Kisah mulai reda
Tapi hujan masih yang pertama
Tanah gersang belum berubah lumpur
Pun kisahnya, masih belum bisa terkubur

Musim hujan pertama
Esok ia akan buatku merana
Kedinginan
Tanpa sehelai selimut cinta


Lantai 2, STTNJ, 13-11-2013 21:45 WIB

ADA KODOK

Semak belukar
Bebatuan kecil bentuk persahabatan
Saling mengokohkan
Di atasnya air terjun dalam kebebasan
Jatuh menghantam
Mencoba runtuhkan bebatuan diantara semak belukar
Lebih luasnya
Pohon-pohon berbaris menyaksikan
Kemudian...
Ada kodok berulah nakal
Meloncat lalu diam
Meloncat lalu diam
Meloncat lalu diam
Diam lama diatas bebatuan
Batu-batu merasa aman
Sejenak ia paham
Kodok diam bukan tanpa alasan

Probolinggo, Kamar D11, PPNJ, 11-11-2013

KODOK (KOnco Dewe... OK)

TASRIF CINTA

Cinta dia pria
Cinta dia pria berdua
Cinta dia pria banyak

Cinta dia wanita
Cinta dia wanita berdua
Cinta dia wanita banyak

Cinta kamu pria
Cinta kamu pria berdua
Cinta kamu pria banyak

Cinta kamu wanita
Cinta kamu wanita berdua
Cinta kamu wanita banyak

Cintaku
Cinta kita

Tasrif cinta berakhir
Cintaku cinta kita

Titik akhir perjalanan tasrif
Maka semua sudah ada rumus akhirnya

Begitupun cinta kita
Akan tertasrif
Hingga cintaku cinta kita

Probolinggo, 08-11-2013, 5:51 WIB.

Saat tasrif cintaku belum selesai

ZAMAN AZALI

Azali hingga A A A
Zamannya azali
Semuanya tertentu
Azali hingga A A A
Azali zaman
Keindahan ditentukan
Azali hingga A A A
Jodoh sudahlah ada

07-11-2013

untuk inisial A

KABUT REDUP

Kabut memang tak bercahaya
Hanya menyejukkan saja
Sudah lama
Andai kata, redup adalah pilih
Maka kabut bukanlah cahaya
Teramat jelas
Reduppun, kabut masih terasa
Pelan...
Ia turun kembali dari ketenangan
Menuju lembah penantian
Yang hingga saat ini tanpa penerang
Juga tanpa keramaian
Kabut redup
Lembah masih merasakan
Karena daun-daun belum runtuh diterka angin malam
Reranting juga tak lapuk musim kemarau
Redup, bukan berarti kabut menghilang
Tapi redup adalah penantian yang panjang


Paiton, 06-11-2013, 22:55 wib.

RINDANG DAUN

RINdang
Kau berdiri dengan merah muda
Seperti di bawah pohon rindang
Aku merasakan teduhnya

DAun
Tingkahmu jatuh perlahan
Lembut menghampiri kegersangan
Aku menyaksikan keagungan

RINdang DAun
Tuhan pencipta cinta
Aku berharap mataku kau ingat rindu
Seperti senyummu yang jarah ingatku

RINdang DAun
Di permulaan pagi
Kau usik kesesatan cintaku
Harap, kau tunjuk arahku selanjutnya

RINdang DAun
Sebentar saja
Aku rebahkan letih perjalananku
Tunggu sampai kau siap merinduku

RINdang DAun
Selanjutnya adalah arah
Aku pasrah kau bawaku kemana saja
Kanan Kiri itu hal yang sudah biasa untukku


Probolinggo. 02-11-2013, 10:24 wib.

D N A

Mereka sebuah kebutuhan
Media renung yang kembalikan karya
Seperti mata api
Mereka nyalakan lenteraku yang lama padam
Bukan itu saja
Bahtera yang karam
Kini mencuat ke permukaan
Bendera keangkuhan menjulang di tengah badai
Dan aku adalah nahkodanya
Siap kendalikan, melawan arus yang tak kunjung tenang

Itu semua karena D N A
Inisial kekuatan yang gagahkan jiwa

01-11-2013

untuk mereka D N A

1, 2 DAN 3

1/
aku berayun dibawa gravitasi
tak bisa melayang
hanya pasrah sebagai manusia tanah
setia menginjak meski terpaksa
malu ku gantungkan
pura-pura tak tahu kebenaran
modus
2/
aku menatap langit menghitam
pelangi hanya warna harapan
karena musim hujan belum datang
pun matahari
belum mekar karena awan terlalu tebal
lalu ilusi menghakimi
mungkinkah aku mampu ubah semua
3/
hempas debu ke bawah jurang
angin geram berdalih benar
aku berdiri menahan
diatas jurang batu hitam
hanya dengan batu ini
aku melawan angin
jatuh itu mungkin
tak mungkinlah jurang berhenti menganga


Probolinggo, 01-11-2013 6:43 wib