ADA LUKA DI METROPOLITAN


“Jak, bangun.....! katanya mau ke surabaya, ayo bangun, udah jam lima ni,” Bentak andika ketika membangunkan Jaka yang sedang tidur pulas di kamarnya. Jaka dan Andika tinggal di satu rumah kontrakan, mereka berteman sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA). Hingga setelah lulus mereka memutuskan untuk bersama lagi dengan masuk ke perguruan tinggi yang sama, yaitu di salah satu perguruan tinggi swasta di Kabupaten Probolinggo.  Jaka dan Andika sama-sama suka menulis dan sama-sama bermimpi menjadi penulis hebat, persamaan lainnya adalah sama-sama tipikal pria yang mengangumi wanita secara diam-diam, tak pernah mengungkapkan perasaan mereka pada wanita yang mereka kagumi, hanya selesai di tulisan-tulisan mereka saja.


Hari itu merupakan hari yang cukup istimewa bagi mereka, karena mereka berencana untuk pergi ke Surabaya – kota metropolitan di Jawa Timur – untuk mengejar impian mereka masing-masing. Andika ingin mengikuti seminar kebudayaan yang nara sumbernya merupakan salah satu budayawan terkemuka, sedangkan Jaka ingin bertemu dengan wanita impiannya yang hingga saat itu masih terus menjadi inspirasi dari semua tulisan-tulisannya, dan ini merupakan keberanian pertama dari Jaka untuk mengungkapkan perasaannya kepada seorang wanita.

“Ayo Jak,.... “, andika menarik tangan kanan Jaka yang masih tidur.

bentar dika, lima menit lagi,” dengan wajah kusut Jaka mencoba menawar jatah waktu tidurnya pada Andika.

“bangun Jak, Rifa udah nunggu tu di Surabaya....”.

Jaka langsung berdiri mendengar kata Rifa dari celotehannya Andika. Rifa, dialah wanita yang menjadi tujuan Jaka ke surabaya waktu itu. Setelah itu Jaka langsung bergegas mempersiapkan diri untuk segera berangkat ke Surabaya.

Matahari sudah mulai mengintip, di depan rumah kontrakan mereka sudah banyak orang-orang yang sibuk dengan aktifitas masing-masing.

“semua sudah siap Dik.... ayo berangkat,” cetus Jaka seraya mebuka pintu rumah kontrakan mereka. “semangat banget sih, tadi aja sulit di bangunin, kenapa sekarang langsung banting setir? Aneh,..” pungkas Andika yang kemudian langsung mengikuti langkah Jaka menuju jalan raya, jalan yang tepat ada di depan rumah kontrakan mereka.

Sejurus kemudian, mereka berangkat ke Surabaya menggunakan bus jurusan Banyuwangi-Surabaya. Sekitar tiga setengah jam mereka sampai di Terminal Bungurasih, Surabaya. Sesampainya disana mereka memutuskan untuk langsung menuju rumah kontrakan temannya, namanya Dewa, dan bermalam disana. Dewa merupakan teman akrab Andika dan Jaka ketika masih SMA.

***

Pagi yang istimewa, mereka menikmati pagi kota Surabaya dengan nungkrong di warung lesehan yang terletak di sebelah selatan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel. Disuguhkan dua cangkir kopi, satu cangkir susu dan sebungkus rokok, tawa demi tawa pecah dari ketiga manusia yang sedang bernostalgia dengan masa lalu.

Dua jam berlalu, matahari sudah terlihat jelas di ufuk timur, mereka memutuskan untuk kembali. Kemudian, Andika dan Jaka berangkat menuju impiannya masing-masing.

“aku berangkat ya Wa.....” pamit Jaka kepada Dewa.

“ok, nanti lo udah mau balek SMS ya....” pesan Dewa.

“ ok,” singkat Jaka.

Kemudian Jaka dan Andika langsung berangkat, mereka berpisah di depan rumah kontrakan. Jaka ke arah timur untuk menuju Universitas Airlangga –salah satu kampus negeri di Surabaya— sedangkan Andika ke arah barat menuju tempat seminar kebudayaan diselenggarakan.

***

Bus kota melesat cepat, Jaka duduk di bangku paling belakang, sesekali pengamen jalanan berdiri di pentas tanpa latar, tepat di tengah para penumpang. Jaka hanya diam, tak ada kata terucap dari bibirnya, hanya lamunannya yang berjalan kemana-mana, menyiapkan kata-kata untuk bertemu dengan Rifa.

Dua jam kemudian, Jaka tiba di pintu gerbang Universitas Airlangga. Diraihlah handphone dari saku celananya, dia mengirim pesan kepada Rifa, “Kamu ada dimana Fa?.” Ketik Jaka dalam SMS-nya. Tak lama setelah itu Rifa membalas SMS dari Jaka, “Aku di perpustakaan kampus Jak, kenapa?.” balas Rifa. Tak berpikir panjang Jaka langsung bergegas menuju perpustakaan Universitas Airlangga, Jaka ingin mengejutkan Rifa dengan kedatangannya, karena sebelumnya Jaka memang tidak mengabari Rifa jika ingin menemuinya disana.

Suasana kampus masih sangat ramai, di setiap sudut kampus mahasiswa-mahasiswa sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing, ada yang mendiskusikan tugas, ada yang sekedar membaca, juga ada yang sedang menikmati kopi saja. Jaka berjalan seorang diri menyusuri ruas jalan setapak, tatap matanya yang asing tak bisa dihilangkan, Jaka terus saja berjalan hingga sampai ke depan perpustakaan.

Dengan cat warna hijau, perpustakaan megah menjulang, di depannya Jaka duduk di sebuah kursi besi berwarna hitam. Niat Jaka, menunggu Rifa keluar dari perpustakaan.

“Jaka....”, Suara lirih bernada tanya terdengar dari belakang Jaka. “Rifa..”, ucap Jaka setelah ia lihat sosok yang berdiri di belakangnya. Berkerudung putih, T-Shirt putih lengan panjang, tiga buku bacaan sedang dipegang, dialah Rifa yang sedang ditunggu oleh Jaka. Senyum membahana di awal pertemuan, Rifa terkejut bukan main ketika yang dia sapa benar-benar Jaka, teman laki-laki SMA-nya yang paling dekat dengannya.

“Kamu kok ada disini Jak....?”, tanya Rifa diiringi senyum manis dari bibirnya.”ya, mau ketemu kamu lah Fa, kangen.... “, jawab Jaka sambil mengedipkan mata kirinya. “ih, baru dua bulan gag ketemu, udah tambah lebay ni anak,”, ucap Rifa sambil mengernyitkan dahi.

Sudah hampir satu jam mereka bertukar kata di depan perpustakaan, matahari juga hampir menyembunyikan bayangan benda lurus yang tegak di setiap penjuru kampus Universitas Airlangga. Mereka memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan di sebuah warung lesehan dekat trotoar jalan, tempatnya muda-mudi mengisi waktu luang. Tak begitu jauh dari kampus Universitas Airlangga, cukup berjalan kaki selama lima belas menit.

***

Mereka di warung lesehan, dengan meja kecil berukuran 70 cm x 50 cm mereka duduk berhadap-hadapan, cerita demi cerita terus tertuang indah.  Hingga akhirnya Jaka memberanikan diri untuk mengatakan tujuannya menemui Rifa. Saat itu juga, detak jantung semakin cepat, peluh tipis perlahan keluar dari sekujur tubuh Jaka.

“Rifa...”, ucap Jaka lirih.

“Ya, Jak..”.

“Kamu tahu gag?, kenapa aku kesini?”, tanya Jaka dengan nada dan wajah serius.

gimana sih Jak, kan kamu sendiri yang bilang, kalo kamu kesini karena kangen ama aku,”, Jawab Rifa seadanya.

Gag Fa, aku kesini ada tujuan lain, aku kesini karena ada hal penting yang harus aku bilang sama kamu,”. Jelas Jaka.

“mau bilang apa Jak, kok ampek nyusul aku kesini, penting banget ya?”

Sedikit menghirup udara pinggir jalan, kemudian Jaka menanggapi pertanyaan Rifa, ”Ini penting banget Fa, tapi kamu harus janji dulu, setelah aku bilang sama kamu, kamu gag boleh berubah sama aku,”. “ok... mau ngomong apa sih sebenarnya, kok serius banget Jak”, jawab Rifa dengan raut wajah penasaran.

“Aku cinta sama kamu Fa,”. Ucap Jaka dengan wajah merunduk.

Seketika tak ada suara di antara mereka, hanya deru laju kendaraan bermain-main di telinga, Rifa diam, dia hanya melihat Jaka yang sedang merunduk. Larut dalam kekosongan dan kebingungan. 

Tak ingin merusak persahabatan akhirnya Rifa bicara. “Jak, maaf, aku hanya menganggap kamu sebagai sahabat, tidak lebih. Aku memang cinta sama kamu, tapi cintanya seorang sahabat. Maaf ya Jak.”, ucap Rifa sembari memegang tangan Jaka yang tergeletak di atas meja.

***

Senja kini tiba, menyambut perubahan dari terangnya siang ke petangnya malam. Seperti Jaka, dari senang hingga harus melupakan pedihnya kenangan, di kota metropolitan, Surabaya.

Ujung perjalanan adalah kesedihan, wanita yang sudah kekal dalam tulisan, kini berbuah perih di bilik hati. Jaka kini mengerti, cinta tak selamanya harus berujung indah, ada saatnya cinta harus rela berdiri sendiri tanpa ada yang menemani.

Bus kota kembali melesat cepat, kali ini Jaka di bangku paling depan, renungnya bukan lagi tentang cara merangkai kata untuk mengungkapkan perasaan, tapi tentang bagaimana caranya melupakan. Seperti biasa, di dalam bus kota hadir pengamen jalanan, di pentas tanpa latar persis seperti suasana awal, menemani perjalanan Jaka menuju rumah kontrakan Dewa.

Setelah sampai di rumah kontrakannya Dewa, Andika dan Jaka memutuskan untuk langsung kembali ke Probolinggo. Meninggalakan kota metropolitan, juga meninggalkan jejak luka yang sulit untuk dilupakan. Dan akhirnya, perjalanan menjemput impian selesai, walau tak semuanya sesuai harapan.

27-11-2013