CUKUP

Cukup mata terkulai rindu
Cukup bait ejawantahkan rasa

Cukup di terik sang waktu
Cukup kala ini saja bidadariku

Cukup...
Tak berharap lebih dari yang lalu
Cukup...
Untuk rindu yang bebani duniaku

Cukup, bidadariku


30-01-2014

JALAN SURGA

Menepi lamunku, di jalan putih berhias letih, ku anggap berselancar tapi enggan; entah apakah jalan.
Merangkai kisah berdalih pengabdian, luntur kebebasan lalu ku lukis monalisa di ujung jalan.
Hanya jalan; itupun patut kusebut surga harapan.


29-01-2014

AKULAH PEMIMPIN

Sedari mega merah terlihat di ufuk timur
Bersama terbukanya pintu langit di pembukaan malam
Setelah senja pergi bersama sang waktu siang
Kemudian gerombolan hujan meruntuhkan tenang

Kala itu...

Akulah Pemimpin
Seorang raja bersarung hitam
Seorang pangeran berjubah kelam
Juga seorang presiden berkopyah kusam

Tak henti suara mengusik
Bisik-bisik ke tidak mampuan mengaung perih
Hingga malam hampir pudar
Suasana hati tetap terkafani kain hitam

Akulah Pemimpin
Masih terperanjat skenario Tuhan
KejutanNya sungguh sebuah keagungan
Tak sampai hati merasa kesalahan
Kukatakan saja ini adalah sebuah kesempatan

Ya..
Kesempatan

Akulah Pemimpin


Probolinggo. Selasa 02:30 wib, 28-01-2014

KAU YANG HILANG

Kau ambil kegagahanku, lalu kau pergi bersama gerombolan kabut di kala senja, waktu itu.
Lari kuingin merebut, tak usai lalu kau menghilang, di tengah hutan yang tak menghadirkan pohon-pohon rindang.
Air matapun runtuh berhamburan, bersama peluh-peluh kata yang juga runtuh bersama pecahan-pecahan doa malam.

Selesai?

Tidak, kunang-kunang masih penerang jalan, semak berduri rindu masih sebagai penyemangat juang.
Hingga suatu zaman, dimana kabut tak membelaiku dengan kesejukan, hingga saat itu pencarian ini tak akan selesai.

Pasrah?

Ya, pasrahku di ujung petualangan, kau kutemukan atau kau menghilang, dua kemungkinan yang akan kupertaruhkan, karena ini adalah kehidupan.


27-01-2014

INI TENTANG MALAM INI

Tak cukupkah sunyi?
Tenangkan badainya hati
Tak cukupkah indah?
Ajak otak mengembara mimpi

Di sunyi masih ada hujan tak bersuara...
Di indah masih ada desir angin menyapa...

Tak cukupkah?

Di atas atap awan bermesra malam...
Di atasnya lagi bintng berjalan pelan...

Ini tentang malam ini

Tak ukupkah jiwa merintih sakit
Hantaman kebodohan melilit bengis...
Tak cukupkah jiwa menangis perih
Selendang kemalasan melingkar keniskalaan...

Tak cukupkah?

Mata dimanja lalu terlelap
Juga mata hati yang kemudian ikut terlelap...
Otak dimanja lalu tersesat
Juga otak yang selanjutnya mati tanpa meninggalkan jejak...

Tak cukupkah malam ini?

Buatlah cukup
Sebelum raga berubah mayat
Sebelum jiwa terbenam saat

Buatlah cukup
Kebodohan tak ubahnya penghias yang akan karat...
Kemalasan tak ubahnya belati yang akan membuat kita mati lebih cepat...

Tak cukupkah malam ini?
Buatlah cukup

WIL D, 02:30 wib, 24-01-2014

MUHAMMAD

1/ MUHAMMAD 

Mata tak sempat memandang
Juga telinga tak sempat mendengar sabda

Di ujung zaman...
Aku lahir di bumi Tuhan
Tanpa sepercik keimanan
Lalu sukurku...
Alam mengenalkanku pada insan penebar rindu

Tangan tak sempat memegang
Juga kaki tak sempat melangkah bersama

Di ujung zaman...
Aku terkesima kisah agung
Tentang pecinta Tuhan yang penuh mutiara teladan
Tanpa sepercik kebohongan
Lalu harapku...
Aku bersamanya di surga sang maha satu

21-01-2014

2/ MUHAMMAD

Di catatan usang para penulis
Ku saksikan semangat jihadnya

Berkobar api penegak ajaran Tuhan
Dalam kisah dialah keabadian
Mengajarkan keikhlasan
Juga cahaya dalam gelapnya ruang zaman
Kala itu, hingga kini, dan selamanya

Di kisah klise para pencerita
Ku dengarkan indah tingkahnya

Cara bersabda ketuhanan
Dalam cerita dialah keagungan
Mengajarkan keindahan
Juga cinta dalam berkuasanya nista zaman
Kala itu, hingga kini, dan selamanya

21-01-2014


3/ MUHAMMAD

Shalawat berdendang suka
Bersama lantunan alam semesta

Merindu insan-insan penanti keagungan
Karena kini bumi mulai tak tentram
Di ujung mimpi dalam keributan
Namanya santun menyapa alam
kemudian...
Doa-doa terpanjatkan

Shalawat bertebar ruah
Bersama keheningan dan keramaian

Menunggu para pecinta keagungan
Karena kini zaman mulai tak tenang
Di harapan durjananya kehidupan
Namanya gagah mengajak menang
kemudian...
Doa-doa berujung kerinduan

24-01-2013

MALAM INI KAMU

; Malam ini pantai /
Aku ke laut kemudian mata terpejam
Di bawah gugusan bintang tak bernama
Darah mengalir rindu kemudian luka di ujung nadi
Sudahlah, rindu berceceran di pantai
Kemudian ombak membawanya pergi

; Malam ini danau /
Aku berdiri searah barat
Kunang-kunang sergap angan
Lalu membawanya ke arah yang sama
Tentang arah barat yang selalu bisikkan cinta
Juga cerita yang mirip danau tanpa surga

; Malam ini air terjun /
Aku jatuh mengikuti pasrah
Mati ke pusara
Jika hidup, maka akulah pemilik cinta
Mengalir saja demi jernihnya 
Karena air terjun pastilah ada ujungnya, begitupun kita

; Malam ini puncak gunung /
Aku melayang di samudra awan
Dekap hanya angan
Karena dingin bukan paksaan
Pun cinta
Karena puncak bahagia adalah menikmatinya

; Malam ini hutan /
Aku tersesat di hutan kemudian terdiam
Sengaja tak mencari jalan
Yakinku, Tuhan rencanakan kebahagian
Tentang kesesatan, juga tentang cinta
Atau kesesatan cinta, seperti yang kuceritakan

; Malam ini kamu /
Dari pantai hingga danau
Dari hutan hingga puncak gunung
Air terjun, pun jika ada andai lagi untuk malam ini
Adalah kamu...
Segalaku menjelajahi bentangan khayal di gaduhnya lamun

01:14 WIB, 21-01-2014, KABUT

REFLEKSI IBU KOTA UNTUK INDONESIA

1/MONAS

Aku berdiri bersua ria
Monomen nasional menyanyikan cerita
Di kala senja waktu itu
Angin gugur menerpa sekujur raga
Menambah sakralnya jumpa
Antara aku dan sang saksi sejarah bangsa

Ku saksikan...
Ia tegak mencakar langit senja
Pun mahkotanya...
Menjulangkan kesombongan ke arah semua mata
Seakan tersirat makna
Tapi entahlah, aku tak sempat menuai sejarah di dalamnya

Ia bisu, andai ia tidak
Kan kuajak ia ke warung lesehan di sampingnya
Akan kutanyakan benarnya cerita
Tentang bangsa ini yang mulai kehilangan makna
Juga tentang sejarah bangsa ini yang mulai berkepentingan saja
Ha ha ha...
Sungguh hanya andai...

Kemudian aku duduk bersimpuh lara
Kusematkan pesan pada monas yang sedang diam
Dalam hati...
Ku anggap saja ia bisa memakai telepati
Lalu pesanku...
wahai monas, bantulah aku
Sadarkan bangsa ini dengan makna indonesia
Tunjukkan dengan isarat kemegahanmu
Seperti tegaknya kamu, semoga bangsa ini tegak sepertimu
Seperti menawannya mahkotamu, semoga bangsa ini menawan sepertimu
Seperti kekokohanmu, semoga persatuan bangsa ini kokoh sepertimu
Wahai monas....
Seperti kejujuran bentukmu, semoga para pencatat sejarah bangsa ini jujur sepertimu
Wahai monas, hanya itu pesanku
Kemudian aku diam hingga petang, lalu pulang.

­­2/JAKARTA TUA

Em,..
Stasiun bercorak belanda, itu masih awal
Lalu langkahku kulanjutkan
Sungguh jakarta tua...
Belanda masih hidup di tengah-tengah kota
Bedanya, merah putih berkibar di atas bangunan tua

Sudah...
Belanda sudah lari terbirit-birit
Sudah tak ada lagi kompeni di ruas-ruas kota
Tak akan kau saksikan lagi bualan kerja paksa
Juga tak akan kau saksikan lagi 10 november dalam cerita
Apalagi bandung lautan api, karena ini jakarta

Akh...
Bangunan tua jakarta tua
Malah kau ingatkanku tentang gugurnya dewa-dewa bangsa
Kenapa tak robohkan saja
Toh,.. disana bukan lagi tempat bernostalgia sejarah bangsa
Muda-mudinya justru pemuja belanda

Benarkah,...?
Kau lihat saja
Makna indonesia habis dimakan rayap eropa
Tak ada lagi keanggunan wanita indonesia, mudinya
Mudanya, entahlah...
Mungkin sudah waktunya indonesia berubah lagi menjadi belanda

Tapi,...
Ini kan indonesia
Ya,..
Namanya saja, maknanya?
Sudah mati di pusara tanpa nisan cinta

3/KAMPUNG MELAYU

Hanya ini yang tersisa
Pinggiran dalam kekumuhan
Hilir sungai yang kerap menjadi senjata menawan
Kala sang aktor politisi menginginkan kekuasaan
“akan saya selesaikan masalah sungai” katanya.
Hahahaha... pentas politik pantas ditertawakan

Siang sebelum senja
Hari yang kelima aku di ibu kota
Kampung melayu ajarkan pucuk nasionalisme yang mulai layu
Ya...
Hanya disana yang tersisa di jakarta
Budaya, tanpa hantu kebarat-baratan
Tradisi, tanpa tawanan sang penebar euforia kesesatan

Kampung melayu
Masih terdengar gotong royong dalam cerita
Juga bhinneka tunggal ika dalam pelajaran kewarganegaraan
Juga masih kudengar jeritan “aku indonesia
Setelahnya,...
Disana aku baru berkata
Ini indonesia...



19-01-2014

CANGKUL

Malam ini, di tengah petang aku bertasbih gerak, bersama peluh-peluhku yang mengalir deras.
Di serambi surau, kala semua ahlul ibad  pulang dari tanah pertapaan, kala istana spiritual beristirahat dari keistiqomahan, kala ini.

Malam berbaring pulas di kesunyian, hanya aku sibuk mengais kebarokahan, bersama cangkul yang saat ini bertengkar dengan bebatuan.

Semakin lihay angin menggodaku, tipu mataku lalu hadirkan kelelahan, akupun tak sudi. Bukankah ini sebuah pengabdian, pikirku.

Sang cangkul keberatan, “aku kesakitan”, lirih ia berucap dalam khayalku. “Hahaha, cangkul... cangkul... andai kau bisa bicara,” gumanku.

Cangkul... cangkul...
Lusuh wajahku, kopiah biru kini berubah semu. Pun celana, andai masih baru, sudahlah ia tak pantas untuk berumur tujuh minggu. Tapi, kenapa cangkul masih cemburu padaku?, andaiku lagi.

Cangkul... cangkul...
Cukup menghitung jumlah peluhku, cukup pula membanding-bandingkan tasbih gerakku, ikhlas dan sabarku adalah yang paling kurindu. Serta barokah dalam ujung harap setiap doaku.

“Mengapa begitu?,” cangkul berkata lagi dalam khayalku.
Cangkul... cangkul... Karena inilah hidup yang hidup.
Lalu cangkulpun bisu, nyatanya begitu.


02:10 wib, 18-01-2014

JAWA POS RADAR BROMO EDISI 12 JANUARI 2014

JAWA POS RADAR BROMO EDISI 12 JANUARI 2014

SAMBUTLAH HUJAN, AKU MATI BERSAMANYA

Adalah kamu saat ini yang mewadahi hujan jiwaku.
Dengan emas berlapis mutiara samudra di kedalaman Antartika.
Air hujan jiwa terkulai tak berdaya tanpa nyawa.
Pasrah karena kamu bertabur kilau bak mata pedang yang menancap karang.

Mati...
Tanpa kain kafan, tanpa batu nisan, juga tanpa dupa-dupa pemujaan.
Ini matilah jiwaku dalam lebel kehormatan.
Tak akan menjadi kunang-kunang kuku-kuku, pun tak akan melayang-layang arwah, kata mitos beredar di kuping kanan.
Matiku di pelupuk mata bidadari kahyangan, matiku di sari bunga sang perawan.

Sambutlah rintik air jiwa kepasrahan.
Tanpa perantara ku jatuh menantang pekat awan, kecepatan setara hujaman sinar.
Lalu sampailah kau tak basah, tapi percikan, kau berdiri lalu dinginlah sudah.
Tenang...
Tenang...

Irama hujan bukan sebuah keniskalaan.
Deru kebisingannya hanya liku, luka adalah bekas perjalanan di trotoar.
Sampailah lalu sambutlah air jiwa hujan di tanah para pertapa.
Penjara dengan wadah emasmu, tuang ke kolam lumpur jika kau pun mau.
Sambutlah Hujan, aku mati disana wahai sayang...


30-11-2013

AKHIR-AKHIR

Malam-malam desir
Desir-desir angin
Angin-angin tenang
Tenang-tenang ...
Alam semakin tua wahai kawan...

Lilin-lilin padam
Padam-padam iman
Iman-iman pudar
Pudar-pudar...
Tuhan semakin terlupakan wahai kawan...

Jerit-jerit tangis
Tangis-tangis rintih
Rintih-rintih sedih...
Aku semakin sedih melihat semua ini kawan...

Gonjang-ganjing zaman edan
Gadis-gadis mudah sekali lepas perawan
Robak-rabik politik setan
Wakil rakyat mudah sekali korupsi uang
Cabik-cabik kesesatan
Manusia sekarang mudah sekali permainkan Tuhan

Edan-edan zaman
Zaman-zaman akhir
Akhir-akhir harapan
Harapan...
Semoga Tuhan tak murka wahai kawan

Probolinggo, 24:00 WIB, 01-01-2014

BERHENTI KEBEBASAN

Sepekan tanpa koma
Akhirnya aku di titik selesai
Sepekan tanpa lingkar
Akhirnya aku di dalam nalar

Bebas berulah nakal
Tanpa simpul semua kulakukan
Merdeka bingkai alasan
Malah hidup berujung berantakan

Kumal-kumal otak berjalan
Langkah kaki hanya kesesatan
Niat hati mencari kebenaran
Justru hati terpenjara kegelapan

Sudahlah kebebasan
Menjadikanmu Tuhan adalah kesalahan
Sudahlah kusimpulkan
Aku berhenti dari kebebasan

26-12-13

SAHABAT DI GUBUK RINDU

(untuk THEFURE)

Gubuk rindu menyimpan pilu
Disana kau terbang mencari mimpimu
Yang dulu kau sempat ceritakan padaku

Di tengah musim kala itu
Kau duduk bersimpuh lugu
Lalu kau peluk tubuhku

Di tengah musim yang sepi dari deru
Sebuah gubuk tempat kita menghapus semu
Hanya aku dan kamu yang tahu

Kini dendang lagu yang kau nyanyikan kala itu
Undang resahku untuk segara menyapamu
Menagih semua mimpimu

Disini, di gubuk rindu
Jejakmu jelas menguasai pandangku
Aku merindukanmu, sahabatku

15:25, 10-01-2014

Kala kudengar Semua Tentang Kita (Peterpan)

BIRU PUTIH

Biru seperti ombak samudera
Tergopoh lariku
Terhempaslah aku di pantai kerinduan

Seperti gelombang
Kerudungmu berayun nakal
Biru...

Putih balutan raga
Tak sempat deru angin
Lirik matamu malah usik kesendirian

Biru Putih
Lepaskan aku menjadi tawanan
Bebas...

Di bawah birumu
Mengharap langit jatuh
Lalu lembar putih dimulai


09-01-2014

LA LA LA

Risau nada masih menjerit ingat
La la la masih jelas
Kala itu ruang masih kumuh

Saksiku perjuangan mereka
La la la masih jelas
Sendu duka ubahnya menjadi tawa

Aku tak mengerti apa-apa
Bisaku hanya menyanyi ria
La la la dan La la la

Masih jelas kecilku
Tangis mereka kala sakitku menerpa
Sembari daun sirih singgahlah di dahi

Lalu, Jika sedikit aku remaja
Nakalku tak buat mereka murka
Tuntun, tak pernah lepas bunga dari sang tangkai

La la la
Nada tawa tentang mereka
Karena ku ingin mereka bahagia

La la la ...
Sekarang aku sembah sukur pada sang esa
Mereka cinta dan surgaku

La la la
Ku tunduk dan mulyakan mereka
Merekalah Ibu dan Bapakku

06:35 wib, 08-01-2014

Kala Rindu

KISAH RUANG SIDANG

Pintu seakan neraka yang menganga
Sepatu-sepatu mengkilat bernada tantang
Di semua raut wajah merekalah penjajah ruang

Lebur sudah aku dalam sidang
Lidah mereka merongrong kesalahan
Entah, aku hanya mangsa status akademik sialan

Deru suara liar cobaku menghajar
Mentahkan serangan yang katanya selalu benar
Waaalah, ternyata hanya kesesatan

Pun waktu berjalan lamban
Kenapa tak mereka sobek-sobek kertas haturanku
Biar semakin panas otak bersua gentar

Akh, nyatanya ruang sidang tak sepanas drama malam
Kisah klasik dari tetua tak ubahnya rongsokan
Hanya kelinci bermuka singa

Dan sudahlah...
Tak sampai kaki berlumut besi
Ruang sidang kini selesai


13:08 WIB, 06-01-2014

AKHIR-AKHIR

Malam-malam desir
Desir-desir angin
Angin-angin tenang
Tenang-tenang ...
Alam semakin tua wahai kawan...

Lilin-lilin padam
Padam-padam iman
Iman-iman pudar
Pudar-pudar...
Tuhan semakin terlupakan wahai kawan...

Jerit-jerit tangis
Tangis-tangis rintih
Rintih-rintih sedih...
Aku semakin sedih melihat semua ini kawan...

Gonjang-ganjing zaman edan
Gadis-gadis mudah sekali lepas perawan
Robak-rabik politik setan
Wakil rakyat mudah sekali korupsi uang
Cabik-cabik kesesatan
Manusia sekarang mudah sekali permainkan Tuhan

Edan-edan zaman
Zaman-zaman akhir
Akhir-akhir harapan
Harapan...
Semoga Tuhan tak murka wahai kawan


Probolinggo, 24:00 WIB, 01-01-2014