WANITA

Sudah lumut rangkul raga
Kemana wanita menari suka
Pentas tersulut lentera hampir berubah arang
Menghilangkah?
Atau mantraku tak sakti lagi
Pria bermasa-lalu raja
Sempat taklukkan para wanita elok rupa
Seperti cerita yang mengering
Kapan gugur bersaman angin
Lalu, kemarilah wanita

27-02-2014

KEMARILAH WANITA

Sudah lumut rangkul raga
Kemana wanita menari suka
Pentas tersulut lentera hampir berubah arang
Menghilangkah?
Atau mantraku tak sakti lagi
Pria bermasa-lalu raja
Sempat taklukkan para wanita elok rupa
Seperti cerita yang mengering
Kapan gugur bersaman angin
Lalu, kemarilah wanita


27-02-2014

BISIK UNTUK MALAM

Wahai suara sunyi
Nyanyian jangkrik di sawah sebelah
Desiran angin di antara kuduk
Pun dendang nada kodok di kali rawa

Wahai otak ramai
Jeritan cinta di istana ingat
Gaduh asa di simpang pilihan
Pun gemuruh tuntutan di masa selanjutnya

Wahai kalian raga dan jiwa
Bisik untuk malam biar ia juga merasa
Kalbu mendayu di tengah bisu
Tak merintih biarlah hanya bisik semu

Wahai malam
Sudahkah kau dengar?
Jiwa yang tak tenang
Pun otak berlumang bosan

Apalagi...
Cinta tergerai berantakan
Dalam bisik...
Cobalah jawab wahai malam


Probolinggo, 23-02-2014

MIMPI MEMATUNG

Terpahat nama di batu tua
Sesosok replika cinta mematung duka
Karena hanya...

Tangan gesit membentuk senyum manis
Patung sematkan suka di bengisnya lara
Karena hanya...

Mimpi mematung
Tak bisa dilanjutkan menjadi nyata
Cukuplah kenang meski senyum hanya tiru belaka
Karena hanya...
Mimpi yang mematung di hati sang pecinta

Probolinggo, 22-02-2014

untuk "kabut"

PENJAGA KALI

Dekil mulut-mulutmu berdiskusi kebenaran
Tangan-tanganmu kasar tersering mengeruk kali agar air ketuhanan tetap mengalir lancar
Sungguh, penjaga kali sebuah kemulyaan
Kerap sekali keringat-keringatmu gugur di hilir kali yang penuh duri cobaan
Tak jarang pula, air mata-air mata do’amu tergenang di aliran air kali yang kadang keruh
Sungguh, penjaga kali sebuah kehormatan
Terenyah hati ini berlalu, ingin kusematkan kegagahanmu di catatan keabadianku
Kelak para penjaga kali akan kurindu
Dan hilir air kali saat ini akan berujung di samudra ilmu
Bersama kisah, bersama cerita para penjaga kali
Karena aku juga penjaga kali

20-02-2014, 21.15 WIB.

di STTNJ, rapat teknis program kerja Wil. Sunan Kalijaga

TERINGAT CINTA

(Sebuah prosa liris tentang "kabut")

Jarum jam berputar gontai
Satu jam setelah senja sirna
Ketika mega merah sulit diterka
Kaena malam sedang berduka

Langit hitam berselimut hujan
Cakrawala kini tak lagi berbintang
Hanya tetes hujan...
Sesekali mengkilat disapa lampu-lampu penerang

Raga sibuk mengusap peluh
Sehari penuh bertikai dengan kumuh
Akhirnya selesailah...
Lalu duduk teringat wanita indah

Sudah... sudah...
Kuraih pena berwarna merah
Tersanding kertas putih tanpa baris
Lalu kumulailah menulis

Bingung...
Hujan tak kunjung reda
Juga bingungku...
Akan kuberijudul apa?

Sejenak hati beradu rasa
Otakku sibuk mencari cara berbagi rasa
Tentang cinta...
Lalu kuberi judul saja "TERINGAT CINTA"

Lamun demi lamun selesai terbaitkan
Senyum "cinta" semakin jelas terabadikan
Entah akan menawan atau urakan
Yang terpenting, inilah ungkapan kejujuran

Lamun berhenti di titik satu
Ketika cinta baru singgah dulu
Ketika senyum"nya" mengubar rindu
Dan masih belum berlalu

Setelah senyum,tatapannya menggugah ingat
Mata indah bak nyata menatap sendiriku
Nyaliku semakin menggebu
Pena merah semakin gesit mencatat rindu

Setengah jam berlalu
Kini rindu selesai kuterjemahkan
Dalam sajak takberalur
Juga sajak tak teratur

Lalu, hujan pun reda tanpa terasa
Kumandang adzan pecahkan lamun tentang "cinta"
Kusudahkan saja...
Karena catat tak akan seindah rasa yang sesungguhnya

Catatan cinta
Teringat cinta
Mengabadikan cinta
Bersukur akan kehadiran cinta

Probolinggo, 18-02-2014, 06.30-07.17 WIB.

(Teruntuk Kabut)

MENANTANG MASA

Masih bising masa itu
Kala gema idealisme mahasiswa menggerutu kalbu
Merubah lara kebodohan menjadi kesombongan
Dan terhunus pedang dialektika di medan perang intelektual
Terhentak jiwa dan kuanggap akulah kesempurnaan
Kala itu...

Masih memori jelas tergores isarat
Masa dimana terpaan keharusan menjelma kegagahan
Ubah diri menjadi keabsolutan sesaat
Semua sangat cepat...
Cepat...

Kini pedang berdarah kisah
Sayatan demi sayatan mengering sudah
Belum usai...
Biarkan pedangku tetap tajam
Bila perlu, akan kuasah dengan keistiqomahan

Kesombongan masa muda teruslah menggaduh
Lantunkan genderang perang lalu bersualah penuh
Perang belum selesai...
Aku berdiri menantang petang
Karena musuh adalah masa depan yang penuh pertanyaan

18-02-2014


Refleksi mahasiswa semester VIII

AKU INGIN SEPERTI MEREKA

Seperti mereka
Tersenyum di kebebasan alam
Knalpot-knalpot berderu menggilis aspal
Tawa muda-mudi yang berujung pengalaman

Seperti mereka
Berputar di waktunya malam
Lumpuhkan kesunyian dengan nyanyian kawan
Dan siul godaan menidurkan kegalauan

Seperti semuanya
Aku ingin seperti mereka
Berteriak di umur yang katanya surga
Lalu puas setelah umur senja

AKU INGIN SEPERTI MEREKA


17-02-2014

DJARUM BLACK

Sebatang keangkuhan
Setiap kemasan bentuk kegagahan
Mengkilat segi tiga merah
Tunjukkan konsistensi keberanian

Hampir dua bulan warna hitam mengepul di mulut sang tuan
Bukan rasa...
Bukan lebel...
Hanya filosofinya pas untuk keadaan

Hitam...
Sejajar duka menghardik rasa
Merah, kini hanya warna kecil di kuasa hitam

Hisap dan hisaplah dengan candu
Jadikan hitam berubah debu
Lalu asap kelabu berlari rindu
Menghampiri jantung yang lama semu

Habislah...
Lalu di ujung batang sampailah
Lingkar keemasan menyambutlah
Ternyata hitampun akan punah

Djarum Black...
Hitam akan selesai
Asap kebebasan akan melayang
Hingga ujung kahyangan
Hingga menjadi awan
Lalu...hujan...
Mungkin...

16-02-2014

Terinspirasi dengan kabut dan djarum black

KENAPA HARUS KABUT?

Kusebut dia KABUT. Dia indah meski berada di jauh sana. Dia juga menyejukkan meski dia tak pernah memelukku. Dia lembut seperti kabut, adalah sebab ku tak berhenti mengaguminya. Dia pemberani seperti kabut yang berani menyentuh bumi dan menantang langit, juga sebabku masih mengaguminya. Dia juga cakap seperti cakapnya kabut menyapa hembusan angin, lagi-lagi ini juga sebabku masih tak bisa menghapus jejaknya hingga kini.

Masih belum kubahas tentang senyum dan tatapannya. Seperti kabut, senyumnya dingin menusuk hati (bukan mata), indah, lembut, tenang dan tak mudah untuk dilupakan. Seperti kabut juga, tatapannya tenang penuh makna, dan tatapan ini yang semakin membuatku semakin terkesima dan semakin menggila cinta.

Seperti kabut, maka kusebut dia KABUT, wanita yang sudah sekian lama menjelma mantra di setiap pujian-pujian hati sang penunggu cinta. Juga makna di setiap bait-bait puisiku yang lama mati, dialah yang menghidupkan kembali. KABUT, jika suatu saat dia turun dari langit yang sekarang kusebut mimpi, maka tak akan ada sejarah pertikaian, karena KABUT sudah kujadikan ratu di istana hati yang menjunjung tingga cinta abadi.


11-02-2014

FIKSI LAGI

Sudah mata menatap jingga, langkahpun mengarah duri agar luka, juga hati ku buka untuk semua, namun semua hanya coba, kau wanita fiksiku justru semakin buatku gila.

Lampion adalah umpama, kemana cinta menyebar bahagia, tapi malah tidak kusangka, cintaku mengarah ke satu titik saja, wanita fiksiku raja tunggal dalam jiwa.

Sudah, sudah. Fiksi lagi, fiksi lagi. Sebutlah saja nyata lalu pendam, bumi mati kemudian terang, kala itu fiksi pastilah berperan pejuang, kala itu juga kau wanitaku yang pastilah tetap menawan.

10-02-2014


Teruntuk Kabut

ANAK PANAH

Anak panah meluncur, kini berpisah dengan sang busur.
Anak panah melawan, angin minggirlah sebelum terusir.
Anak panah terbang, awan pekat janganlah dulu gugur.
Anak panah bertasbih, sebutlah nama tuhan dengan hati besar.
Anak panah mengembara, luruslah jangan berbelok ke arah luar.
Anak panah ucaplah, Bismillahir rohmanir rohim.


Bondowoso, 06-02-2014

RIFA

................ lalu .....
....... curi ..................
pasrah ...................
......... bisu .................
...... RIFA ..................
.................. usai ......
.... melayang ............
............ cinta ................
kala ...........................
.................. selamanya ....

RIFA


03-02-2014

SENJA JUM'AT

Di forum berlatar masa lalu
Kala senja hadir di hari jum'at
Bidadariku turun lagi dari langit perantauan
Menyapa mata-mata perindunya
Bersama selendang senyum yang tersanding rapih

Di pojok percakapan kisah klise
Semua lisan terkesima rindu
Pun aku yang sedari lalu mencuri pandang bidadariku
Hati berpeluh malu
Tapi kubiarkan saja begitu

Wahai cinta di senja jum'at
Tak habiskah kisah bertumpu saat
Padahal hati mulai tak mengenal khianat
Sudahkah kisah tercukupkan?
Jika cinta masih merajam ingat

Haruskah lariku meninggalkan
Jika senja jum'at masih hal yang menawan
Tak bisakah sejenak
Kecup jiwaku lalu ucapkan rindu
Wahai Bidadariku...


Sabtu, 6:41 WIB, 01-02-2014