KENAPA HARUS KABUT?

Kusebut dia KABUT. Dia indah meski berada di jauh sana. Dia juga menyejukkan meski dia tak pernah memelukku. Dia lembut seperti kabut, adalah sebab ku tak berhenti mengaguminya. Dia pemberani seperti kabut yang berani menyentuh bumi dan menantang langit, juga sebabku masih mengaguminya. Dia juga cakap seperti cakapnya kabut menyapa hembusan angin, lagi-lagi ini juga sebabku masih tak bisa menghapus jejaknya hingga kini.

Masih belum kubahas tentang senyum dan tatapannya. Seperti kabut, senyumnya dingin menusuk hati (bukan mata), indah, lembut, tenang dan tak mudah untuk dilupakan. Seperti kabut juga, tatapannya tenang penuh makna, dan tatapan ini yang semakin membuatku semakin terkesima dan semakin menggila cinta.

Seperti kabut, maka kusebut dia KABUT, wanita yang sudah sekian lama menjelma mantra di setiap pujian-pujian hati sang penunggu cinta. Juga makna di setiap bait-bait puisiku yang lama mati, dialah yang menghidupkan kembali. KABUT, jika suatu saat dia turun dari langit yang sekarang kusebut mimpi, maka tak akan ada sejarah pertikaian, karena KABUT sudah kujadikan ratu di istana hati yang menjunjung tingga cinta abadi.


11-02-2014