TERINGAT CINTA

(Sebuah prosa liris tentang "kabut")

Jarum jam berputar gontai
Satu jam setelah senja sirna
Ketika mega merah sulit diterka
Kaena malam sedang berduka

Langit hitam berselimut hujan
Cakrawala kini tak lagi berbintang
Hanya tetes hujan...
Sesekali mengkilat disapa lampu-lampu penerang

Raga sibuk mengusap peluh
Sehari penuh bertikai dengan kumuh
Akhirnya selesailah...
Lalu duduk teringat wanita indah

Sudah... sudah...
Kuraih pena berwarna merah
Tersanding kertas putih tanpa baris
Lalu kumulailah menulis

Bingung...
Hujan tak kunjung reda
Juga bingungku...
Akan kuberijudul apa?

Sejenak hati beradu rasa
Otakku sibuk mencari cara berbagi rasa
Tentang cinta...
Lalu kuberi judul saja "TERINGAT CINTA"

Lamun demi lamun selesai terbaitkan
Senyum "cinta" semakin jelas terabadikan
Entah akan menawan atau urakan
Yang terpenting, inilah ungkapan kejujuran

Lamun berhenti di titik satu
Ketika cinta baru singgah dulu
Ketika senyum"nya" mengubar rindu
Dan masih belum berlalu

Setelah senyum,tatapannya menggugah ingat
Mata indah bak nyata menatap sendiriku
Nyaliku semakin menggebu
Pena merah semakin gesit mencatat rindu

Setengah jam berlalu
Kini rindu selesai kuterjemahkan
Dalam sajak takberalur
Juga sajak tak teratur

Lalu, hujan pun reda tanpa terasa
Kumandang adzan pecahkan lamun tentang "cinta"
Kusudahkan saja...
Karena catat tak akan seindah rasa yang sesungguhnya

Catatan cinta
Teringat cinta
Mengabadikan cinta
Bersukur akan kehadiran cinta

Probolinggo, 18-02-2014, 06.30-07.17 WIB.

(Teruntuk Kabut)