PANTURA X KM

selamat pagi pantura
aspal yang tak kunjung tenang

selamat pagi knalpot-knalpot liar
perjalanan yang tak kunjung usai

selamat pagi kopi pinggir jalan
lama lidah tak mencumbumu sayang

selamat pagi asap rokok persahabatan
lama raga tak bertukar senang

selamat pagi pantura x kilo meter
tak sempat kuukur panjang risaumu

selamat pagi perjalanan
singgahlah jika kau butuhkanku kawan

pantura probolinggo, 30-03-2014

BERDAMAI DENGAN TAKDIR


Enyah kau setan pendusta
Bisik jarum tajammu bolehlah buat luka
Tapi tak rela darah bercucur dosa

Habis terkikis ini upaya
Silahkan skenario selanjutnya
Damai dengan takdir biar tak berjudi rasa

Dalam mistis cerita jiwa lama
Katanya juga Tuhan berhukumkan alam raya
Jika putih balas pun sama, yakin saja!

30-03-2014

TAUBAT SANG PENDOSA

Laailaha illallah
Subhanaka
Inni kuntu minad dholimin
Astaghfirullah
Astaghfirullah
Astaghfirullah hal adzim

Nada tauhid sebelum fajar
Bangunkan matinya kematian
Matinya hati parahnya mati
Karena mati baiknya hati-hati

Tiada Tuhan patutlah disembah
Allah sang kuasa kematian
Bersama kepergian bintang
Sang pendosa menangis petang
Matinya lampu pijar kebajikan
Hati mati, mati hati

Inni kuntu minad dholimin
Aku pendosa dari kedholiman
Seonggah raga mematinya jiwa
Tak bertauhid mata
Tak bertauhid telinga
Hati kian membuta
Mati semuanya memati
Akulah pendosa

Astaghfirullah Astaghfirullah 
Astaghfirullah hal adzim
Ucap ejawantahan jiwa
Hiduplah matinya hati pendosa
Setelah fajar subuhlah tiba
Nisan masih tak surga
Juga tak neraka
Janganlah mati lagi
Wahai hati pendosa sunyi
Setelah pagi

Depan Kantor WIL.D
06:00 WIB, 29-03-2014

KENANG TANGISAN BULAN

(Refleksi tangisan bulan bersama "kabut")

Malam kesaksian menagih ingat
Kala kita menjemput tawa
Antara gugusan bintang
Kala kita menyaksikan tangisan bulan

Ketinggian puncak keindahan
Sebelum musim hujan menyulam panas
Langit tak mendung ria
Tangisan bulan pun jelas merana

Kala itu...

Garis senyum berbaris lembut
Kuterlelap disana melayang suka
Jamuan cinta kau hidangkan
Berbungkus tingkah dan tatapan menawan

Tak lepas kabut berperan saksi
Tarian dinginnya turut indahkan sunyi
Di malam yang kusebut kenang
Hati terkutuk tangisan bulan

Hingga sekarang...

Di atas rumput sebagian gersang
Bersama kekosongan malam
Kuhaturkan kenang tangisan bulan
Karena hatipun demikian

Puaskanlah kesedihan
Besok atau lusa bulan sempurna
Air mata mengeringlah perlahan
Sampailah kala saat terkenang

Hitamlah berbintang
Ejaan malam tak selamanya menyulitkan
Lepas dan godalah bulan
Buat tangisan berubah mustika keberuntungan

Tangisan bulan...

Jangan kau doakan kesamaan
Dulu itu hanya cumbu
Jangan kau salahkan aku
Dulu itu caraku agar dia tak bisu

Tangisan Bulan...

Menagislah malam ini
Teteskan air mata di lembah pesan
Haturkan salam kesucian
"Aku merindu surga para pecinta kesetiaan"

Probolinggo, 28-03-2014

QUO VADIS CINTA

Teratai bersila tapa, air berarus tak wajar kemana, reranting tolonglah, peluklah hilir rawa, selamatkan petapa yang berguman paksa. Kemana?

Setiba selanjutnya, bait atas kesamaan rupa, belibis putih mengunyah anjing, tak habis, membangkai saja. Terhatur untuk siapa?.

Berkumandang saja suara gemuruh kerisauan, dalam peti berkayu balsem, juga keranda yang belum tersiapkan pusararasa, surga surga surga, neraka-pun bisa.

Kemana, jikalau pasrah, tak gugur melati, tangkainya menguning lalu mati, daunnya mengering lalu gugur berganti, sudikah walau sekali, pastinya kan mengiris hati.

kemana lagi cinta, ayat-ayat ini bakar keringnya sukma, lara, luka, sudahlah semua, hingga bersujudlah pada sang esa, tertuntun, dan matilah rasa berdalih cinta. Akhirnya, mungkinkah? kemana selanjutnya? cinta.

Probolinggo, 07:04 wib, 25-03-2014
(saat harapan termakan rasionalitas sempurnanya "Kabut")

MALANG BERKABUT (II)

Sajadah pagi berdoa harap
Kota malang kuintip dari kejauhan
Seruling emas bernada senyum di teras kalbu

Lantang jari menjerit tangis
Letupan air mata hanya suara sendu
Untuk kesaksian wanita yang membisu

Tentang malang berkabut
Karena wanita bersuaka rindu
Di lembah tua raga penunggu

Disana, malang merangkul tingkah
Wanita jelmaan kabut yang ribut
Tak kunjung rasa merasuk 

25-03-2014
(untuk Kabut di tanah Malang)

MALANG BERKABUT

di kota mangga mendung memaksa hujan
pijakan kaki terlebur kabur untuk tenang
menepilah sebentar otak kegelisahan
menengadah harapan semua akan selesai
woles kata anak terlahir tahun 95-an

di kota malang kabut memangsa pagi
sedari kemarin hujan terlelap untuk menari
sudah kabut basah kuyup berputar sendiri
tersenyumlah hati merayakan fiksi
sandinglah kabut bermain-main puisi

malang berkabut kota mangga hujanlah
biarkan mendung lewati waktu dhuha
lalu sepucuk doa di atas sajadah pinta
bawalah kabut bersama mendung kotanya
hujanlah ke hati pujangga di kota mangga

Probolinggo, 21-03-2014
(Untuk kabut di kota malang)

PESAN BIDADARI

hahaha,..
Pesan penidur lara
melayang kilat menerpa sekejap
tergerus rindu yang memucat
akhirnya...

Hahaha,..
Pagi hangus dingin
sehelai pesan menyelimuti pori pecinta dekil
terlalu lama bermain lumpur kering
akhirnya,... 

Terpesan siratan jiwa
"aku baik-baik saja"
katanya,..

Hahaha,..
Tertawa gesit kisah roman
terpingkal-pingkal hati menari riang
pesan kini nada mistis pengundang puitis
bersenanglah, hati
cinta itu arti

hahaha,..
Ini pesan bidadari

19-03-2014

APA KABAR BUSTANUL ULUM

(Sajak rindu seorang alumni)

Apa kabar Bustanul Ulum?
Apa kabar pesantrenku?
Apa kabar sekolahku?

Bustanul Ulum...
Masih merajai ingat
Gema takbir dari surau yang sekarang masjid
Masih jelas dalam hati
Petuah-petuah kyai dan guru-guru pengabdi
Masih jelas sekali
Disana aku belajar bermimpi
Masih jelas
Tanahmu sejarah mengaji

Apa kabar bustanul ulum?
Masihkah nadzam-nadzam bergemuruh sahdu
Dari kelas-kelas yang dulu penuh debu...
Masihkah semangat santri berkecamuk rindu
Mengabdi pada kyai dan para guru...
Masihkah para santri sibuk melantunkan dzikir merdu
Saat senja menjemput maghrib dan subuh...
Masihkah seperti itu?

Apa kabar bustanul ulum?
Sudahkah sajadah berjejer rapi
Kala sepertiga malam merangkul sepi
Sudahkah para pemetik ilmu surgawi bersujud pagi
Kala matahari baru bangun dari petangnya mimpi
Sudahkah para santri berebut barokahnya hati
Mengabdi pada pesantren dan kyai
Apa kabar para santri?
Apa kabar Bustanul Ulumku saat ini?

Apa kabar bustanul ulum?
Apa kabar pesantrenku?

Bagaimana keadaan kyai Zuhairi?
Bagaimana keadaan Gus Alawi?
Bagaimana keadaan Gus Nabil?
Bagaimana keadaan Gus Aufal?
Bagaimana keadaan Neng Lubabah?
Dari hati, semoga lantun doa menyertai bakti
Dengan bait ini, semoga hati bersilaturrohim abdi
Padamu, Guru-guruku

Apa kabar bustanul ulum?
Disini, rintih doa menjerit lantang
Kadang malam, kadang siang
Lalu lalang kenangan selalu tersenyum riang
Mengajukku terbuai zaman
Ternyata kau masih pesantrenku yang kusayang

Lalu kutanyakan sendirian...
Apa kabar bustanul ulum yang menawan?

Disini, ditanah rantau
Aku merindu pesantrenku
Saat dulu kau ajarkan tafsir-tafsir ilmu
Dikala semu
Dikala pilu
Dikala hidup kuanggap benalu
Kau kekuatan yang mengajarkanku
Kau guruku,...
Kau kyaiku,...
Kau Bustanul Ulumku,...

Probolinggo, 18-03-2014

OWAAAALLAAAH

O....
Ya,...ya,....
Em....
Gag.......
Kok........????
Owaaaallaaah....
Ya,...ya,....
Haaah...
Oea,....
Hahahahahahaha,...
Huuuuuuusshhhhhhh,....
......
......
......
Ya,...

16-03-201

BERTASBIH

Bertasbih Siang.

Bersenandunglah wahai jiwa, bunuhlah keangkuhan dan kesombongan, purna dan ejawantahkan kearifan teori kesantunan, sufistik dan percayalah bahwa Tuhan bukan sekedar nama yang diperkosa kebiasaan, hati lalu hati, hati-hatilah, dan semoga sampai aku dan Kamu bersatu, karena aku memang Kamu.

Bertasbih Malam.

Terpejamlah mata, perangkap dosa di mistisnya nyata, tidurlah, matilah raga seonggah mayat pelantun nada jiwa, tidur dan tidur, tidur, tapi hati begadanglah, sudah saatnya bertamu kepada Tuhan, dan sampai aku terlelap di sisiNya.

15-03-2014

PUISI KABUT

Ini bukan puisi Aku 
Juga bukan Celurit Emas
Bukan pula karya Si Burung Merak

Ini puisi Kabut
Dari "Senyuman di Pangkuan Kabut"
Hingga "Negeri Kabut"
"Mencari Kabut"
"KUKABUTKU"

"Fiksi"
"Perempuan Khayal"
Hingga "Permisi Malam"

Ini puisi Kabut
Guman hati tak tertasrif sempurna
"Tasrif Cinta"
dan kadang ku ingin "Cukup"

"Erotomania", ini gila
Hingga gila
"Kabut Garis Miring Angka"
Sebenarnya

"Lalu"
"Masih Jelas"
Bait-bait surga penunggu cinta
Hingga "Musim Hujan Pertama"

Ini puisi Kabut
Di "Singgasana Mimpi"
Ku "Teringat Lagi"
"Sketsa" seorang Kabut

Selanjutnya
"Mimpi Mematung"
Dengan kata
Karena "Kaulah Kata"
Kabut

13-03-2014

PERMISI MALAM

(Istimewa untuk "Kabut")

Permisi malam
Pagar rumput silahkan diam
Gerbang besi berkarat 
Menarilah bisik-bisik
Menyanyilah pelan-pelan

Permisi lagi malam
Silahkan masuk sayang
Pintu tak rapat
Anak kunci tergantung pulas
Lama menunggumu, sayang

Permisi ketiga kalinya malam
Lampu padam enam bulan 
Sayang, sebelah kursi goyang
Lilin setengah batang
Nyalakan biar tak petang

Permisi lagi malam
Jangan malu
Apalagi takut
Ini rumah tak bertuan
Lukisan dindingnya kamu

Permisi terakhir malam
Lindungi bidadari
Biarkan bermalam
Besok terbangun
Lalu menghilang bersama malam

Silahkan
Datanglah 
Pergilah
Terserahlah
Permisi malam, aku menghayal

12-03-2014

EROTOMANIA

(Inspirasi dari "kabut")

Tanpa alkohol, hingga rambut menguning lalu memutih, barat timur selatan utara, dimana, aku mabuk. Erotomania.

Otak layang-layang, bumi lenyap, hahaha. Berdansa dengan kerinduan, bersenandung di kuil khayalan. Erotomania.

Mati, mati, mati. Arak bali, bukan. Ini minuman pujangga, candu menuju surga setia. Mati, over dosis. Erotomania.

Bulu kuduk merintih, ujungnya menangis, wuuuaalah, ia juga mabuk. Lentik jemari bergoyang-goyang nakal, mabuk, sajaklah. Erotomania.

Tutuplah kelambu, tabir kenistaan cinta. Anggapan aku gila. Bakar atau biarkan api tersulut sendiri. Mati dilahap api, aku sedang erotomania.

11-03-2014

PADAMLAH SEJENAK

Saksi ilalang siang
Petanglah sebentar
Saja 

Cendrawasih berniat tidur
Padamlah sejenak
Tanpa

Air mata meneteslah
Sudah petang
Tenang

Puas mencibir takdir
Bersukurlah sesaat
Ikhlas 

Padamlah sejenak sayang
Lari ingat
Kosong 

Bersanding sedih cinta
Hitam putih
Menyatulah

Pundi akan hadir
Gema mulya
Surga

Padamlah sejenak luka
Bersabarlah cinta
Pasti

Tak kanan kiri
Petang terang
Takdir

09-03-2014

ELEGI-ELEGI AKHIR

(Masih terinspirasi kabut)

ELEGI (Akhir U)

Kocah-kacih kalbu
Belum purna waktu
Seribu air mata berlalu

Syair-syair hanya rayu
Kendana sedihku
Kacung perias rindu

Tafsirlah tanpa ragu
Elegi tak membisu
Apalagi semu

ELEGI (Akhir A)

Kau anggapku gahara
Bocah mahkota istana
Semua tinggal pesan saja

Dusta
Sedihpun layaknya udara
Sentuh semua jiwa

Tak hanya Rahwana
Arjuna, Bima, Yudisthira sama
Korban elegi cinta

ELEGI (Akhir I)

Dimana kemala sembunyi
Hati hampir mati
Kemari atau ku harus mencari

Kemala obat hati
Agar syair tak selalu elegi
Sebelum mati

Hadirlah mimpi
Nyatakan sebelum basi
Lalu keselendangkan sehelai kaci

08-03-2014

MATI

Jika memayat
Silahkan tancapkan marmer bekas
Hitam atau putih
Diatas otak bersorban kafan
Catat nama bila perlu
Al-fatihah jadilah lampu
Mati...
Rindulah 
Aku ingin berarti dulu
Menangislah 
Surga sejarahku mengajakmu
Bukan sebab lain
Jika sudah begitu
Tanamlah 
Dan kita jumpa abadi
Mati

07-03-2014

AKULAH PEMIMPIN (II)

Bengis terpa lara duka
Tak usai satu
Kalian ajak ke surga lagi

Perih jiwa baru pulih
Melayang lagi
Aku takut kawan, mengertilah

Tak ke nereka 
Aku paham jalan
Tapi aku masih pecundang

Bibir bunga mawar
Bila sudah, aku rela termakan
Hingga akar

Bersama lembayung
Akan berjalan tangan
Menikmati tanggung kehormatan

Sadar, sadar, sadarlah
Aku pemimpin
Dan aku pemimpin lagi

Tarian ini ajakan
Seperti salsa
Atau dansa

Jelasnya
Aku ikut estetika alam
Hingga selesai, dan aku menang

Karena jiwa
Bersama raga
Adalah pemimpin menuju surga

Alghorizm, 06-03-2014
Refleksi tanggung jawab yang besar

NEGERI KABUT

Lihat bangunan itu
Pudar cat putih 
Tembok beton rapuh

Trotoar batu mulia
Pecah berduri terhampar begitu saja
Menjadi ranjau kaki-kaki jelata

Kotanya mati bernisan tanpa angka
Jalan tikus hancur hangus
Terlalap api

Ini negeri kabut
Gubuk di pedesaan kumuh
Tak rapih pohon hijau mengering
Hutan kadang terbakar matahari

Sungai berhenti mengalir
Mata air tersumbat bencana longsor kering
Ini benar

Padi menguning
Bukan untuk panen
Hama kesedihan telah hadir

Ini negeri kabut
Sang pemimpin berduka 
Negerinya korban kerisauan
Istananya seperti pusara di tengah hutan

Masyarakat ketakutan
Teror mencibir tentram
Mati sejahtera pun hidup terluka
Di negeri kabut

03-03-2014

BAIT RINDU UNTUK SAHABAT

Dulu...
Sebatang rokok
Asapnya mengepul bersama
Menggilis penat aturan
Bersamamu sahabat...
Jalan hitam
Kita tertawa menghilang
Saat kesepian
Kala bosan
Keping cerita masih tak usang
Ingat
Aroma tubuhmu
Di teras depan kita pulas
Bermimpi
Bersamamu sahabat
Sesajen kebiasaan tetap lekat
Lagi...
Setiap langkah yang jauh
Di kota pelarian
Saat kita tertinggal disini
Kita berjuang bukan?
Kita bosan
Kita kesepian 
Kita hanya
Berdua
Menangis terluka
Menghibur diri dengan secangkir kopi
Di bangun tua lantai dua
Menjelang tengah malam
Bersamamu sahabat...
Kemana sekarang?
Rindu
Tanpamu aku berbeda
Kemana?
Masih merasakah
Diamku adalah kata
Kau sahabatku
Itu saja
Sahabatku...
Bersama bait air mata ingin gugur
Kuhempas
Aku bukan anak kecil
Aku sahabatmu
Meski beda
Karena waktu merubahku
Mengertilah sahabat
Bersamamu 
Aku merindu kala dulu
Sungguh...
Yakinku kaupun begitu

03-03-2014