QUO VADIS CINTA

Teratai bersila tapa, air berarus tak wajar kemana, reranting tolonglah, peluklah hilir rawa, selamatkan petapa yang berguman paksa. Kemana?

Setiba selanjutnya, bait atas kesamaan rupa, belibis putih mengunyah anjing, tak habis, membangkai saja. Terhatur untuk siapa?.

Berkumandang saja suara gemuruh kerisauan, dalam peti berkayu balsem, juga keranda yang belum tersiapkan pusararasa, surga surga surga, neraka-pun bisa.

Kemana, jikalau pasrah, tak gugur melati, tangkainya menguning lalu mati, daunnya mengering lalu gugur berganti, sudikah walau sekali, pastinya kan mengiris hati.

kemana lagi cinta, ayat-ayat ini bakar keringnya sukma, lara, luka, sudahlah semua, hingga bersujudlah pada sang esa, tertuntun, dan matilah rasa berdalih cinta. Akhirnya, mungkinkah? kemana selanjutnya? cinta.

Probolinggo, 07:04 wib, 25-03-2014
(saat harapan termakan rasionalitas sempurnanya "Kabut")