KOPI DUKA

(Teruntuk Kabut)

Secangkir ini saja
Seduh lalu rasakanlah duka

Dari biji kopi di kebun hati
Tanah yang kuyup berlebih
Kopi ini beraroma nestapa

Sengaja tak kuberi gula
Karena pahit kopi adalah cinta
Dan kuingin kau merasakannya

Maka seduhlah
Secuilpun aku bahagia
Agar kau merasakannya juga

Jika kau tak tega
Menangislah bersama pahit
Lalu haturkanlah sesendok gula

Dan kopi tak lagi duka
Aku bahagia

29-04-2014

SINEMAKU

Sampai adegan selesai
Episode masih panjang
Naskah kisah roman tersenyumlah
Belum di titik klimaks

Sinematografi kehidupan masih pertanyaan
Bersama plot-plot suka dan lara
Bernyanyilah di jeda keduanya

Tawa atau luka akhirnya
Bersenggamalah saja dengan alur cerita
Kelak lahir bocah-bocah hikmah
Dan kitapun diajak mereka bersurga ria

Sinema ini memang sandiwara
Tapi terangkat dari dunia nyata
Maka pastilah kuras air mata
Pun mengundang bala tawa

Sinemaku bercerita
Tak jauh beda


27-04-2014

GELISAH

Kau kemana kau otakku
Diamlah...

Tenang
Ayolah jangan terkungkung kebebasan
Beredarlah sopan

Jangan nakal...
Berdansalah saja dengan Tuhan

Tenang...
Jangan berguman ketidak-adilan
Semua sudah jalan

Berhentilah gusar
Kumohon otakku sayang

25-04-2014

SEBAIT RINDU

*Untuk Kabut

Pejam mata
Terdengar bisik angin mendayu
Menabuh gendang telinga
Permisi tuan...
Lembut ia masuk bersahaja
Mengeja lalu mengeja
Sederhana saja kubisa mengerti tiap kata
"Aku jiwa wanita"; katanya
Sebilah pisau kenang terhunus
Otakpun sibuk menangkis
Ternyata sudahlah benar
Angin bisikan rindu wanitaku yang hanya angan
Semakin, dari sepoi-sepoi ke puyuh
Hingga inilah sebait untuk rindu yang tak lusuh

23-04-2014

TAWASSUL RINDU

(Sajak Kabut)

Ila hadroti habibati
Terkhusus wanita pujaan
Kudendangkan suara genderang;
Dentuman marawis;
Serta jeritan seruling;
Teruntuk mengundang kehadiran
Gerombolan bayang-bayang;
Dalam berkecamuknya perang kerinduan

Ila hadroti habibati
Kuundang kau berbusana asa;
Berselendang dengan cinta;
Disini lilin-lilin mengiringi jalan
Karpet merah membentang di sepanjang
Berjalanlah anggun;
Hadir... hadir...
Sulaman kenang kini kain perindu wahai sayang

Ila hadroti habibati
Bunga-bunga berjenis tujuh;
Dupa-dupa keromantisan;
Aku bersorban putihnya takdir;
Bersiap menyambut hadir
Bersama gumanan masa lalu;
Tersirat kemurnian rindu
Maka hadirlah kekasihku

Ila hadroti habibati
Summa ila jami'i kiso'ina
Hadirlah pasuka kenang;
Kalian ditantang kaum kerinduan
Bangkitlah melawan;
Bersama meningginya bendera harapan
Hunuslkanlah pedang;
Bunuh derita yang berperisai cinta
Menang... menang...
Dan tawassulpun terkabul sayang

21-04-2014

BUNGA KANTIL PUSARA HATI

Bersila tapa memuja dengan kata; Menengadah dalam syair-syair do'a; Saat petang hingga siang; Seperti mengharap bunga matahari mekar tengah malam;

Kini hati pulas dalam pusara; Bunga-bunga kantil menghujamkan wangi di atasnya; Ini kematian, hati amnesia tentang cara melupakan; Kemana lentera, ajaklah aku tertawa;

Hadirlah sukma penafsir luka, kuutus kau bersama merpati; Katakan hatiku mati karenanya; Tak mampu bercinta; Sedari suguhan senyum melantun amukan Izrail, dalam hati; Dulu;

Probolinggo, 20-04-2014

BUKAN SEKADAR PUISI

Tersenyumlah kekasih angan
Disini aku masih terkagum-kagum tanpa menilai
Decak anggun jangan lambaikan tangan
Disini aku masih mengeja-eja tanpa kebohongan

Dari baris ke bait
Bukan sekadar puisi hati
Ini jelmaan keromantisan ayat-ayat Tuhan
Dari fiksi ke ilusi
Bukan sekadar untaian mimpi
Ini jelmaan harapan garis-garis Tuhan

Tersenyumlah kekasih angan
Rasa ini tak berujung tajam
Tapi busurnya mengkilat kesucian
Tersenyumlah kekasih angan
Catat ini tak berpena emas
Tapi tintanya menghitam jelas
Tersenyumlah kekasih angan
Pemuja ini tak bermodal keagungan
Tapi keadaan inilah apa adanya

Bukan sekadar puisi
Sanjungan telah basi

20-04-2014


KOSONG

kosong semua
semua kosong
kosong mata
mata kosong
kosong melayang
melayang kosong

kosong raga
raga kosong

kosong makna
kosong arti
diri hanya kosong
langkahpun kosong

kosong saja
rasa memuja kosong

berdansalah kosong
seperti tarian semu
berdustalah kosong
seperti nyanyian bisu

kosong buta
mata mengosong pura
kosong membabi buta
lara, duka, kosong asa

kosong
begitu saja maksudnya
kosong ya kosong

pagi kosong, 19-04-2014

KABUT MALAM

Telah lusuh warna terang
Gugus bintang melayang bungkam
Sedangkal pikiran
Sedalam khayalan
Mengigau batin bercinta kekal

Kabut malam datang
Mencekam garang
Lumatlah rinduku sayang

Jangan...
Jangan pulas dulu
Malam masih panjang
Sepanjang goresku dalam sajak malang

Jangan...
Jangan mencibir lesu
Kabut masih tebal
Setebal tiraimu menghalang rindu

Maka ijinkanlah aku berdadu
Dengan cintamu, sayang

Di tengah malam
Di tengah kabut
Meruntuhlah dari kerajaan
Beri aku serpihan beton perasaan

Maka kubangun ilusi nakal
Bersanding denganmu di pelaminan

Sekian sayang
Kupastikan malam berkabut ribut
Berebut peluk mengulang sebut
Kabut..kabut..kabut...

Hempaslah sebentar
Kuingin memandang senyuman
Meski hanya angan

malam jumat, 1:54 wib, 18-04-2014

HIPERCANDU

Ini bukan hipercandu nikotin, bukan pula hipercandu caffein, apalagi hipercandu narkotika, lebih dari itu semua. Seperti gerak maknetik yang memaksa gerak, seperti gravitasi yang memaksa benda melekat ke bumi, hipercandu yang kusebut hipercandu kabut ini telah memaksaku untuk selalu mengingatnya.

Tak ada teori waktu, meski katanya waktu relatif, ilusif, dan perspektif, semua tetap tak ada waktu ketika hipercandu. Berjalan inklusif, mengalir seperti insulin, cepat. 

Ini bukan rekayasa konseptual yang akhirnya selesai, bukan teori rekaan layaknya hasil kaum sofis. Memang kedengarannya seperti senyewa non polar, tak menyatu dengan kenyataan, tapi inilah hipercandu.

Neuron-neuronku bingung, kesana kesini, mencari indikasi-indikasi yang khayal, merangkai berkas-berkas kenangan, kemudian seperti puzzle, terbentuklah monalisa versiku sendiri.

Hahaha, hipercandu, potensi tetap potensi, yakinku manifestasi dari potensi tetaplah ada, meski porsentasenya mistis, begitupun mendapatkan Dia, kabut.

Alih-alih ini harapan, batupun melebur bersenyawa berlian, apalagi hanya sesama hati, tak se-genpun bisa dimutasi, Hanya saja konsekuensi tetaplah potensi feed back yang pasti, bukankah begitu kata hukum meterialistiknya alam.

HIPERCANDU, Kunikmati sajalah, sembari mengais debu sisa hikmah-hikmahnya.

16-04-2014

Jl. SUDARMAN

Melintas arah barat
Mesin berderu gegas

Muda berdansa hangat
Canda melayat penat

Petasan berdendang
Anak kecil berlaga hebat

Aku menganga kata
Secangkir kopi beraroma suka

Seduh saja bersama suka
Jl. Sudarman goreskan cerita

Jember, 13-04-2014

DANGDUT POLITIK

Dut... dut... dangdut
Bergoyang-goyang
Aso
i...

Dut
... dut... dangdut
Pinggul bergeyol
Aso
i...

Pol
... pol... politik
Bergoyang-goyang
Aso
i...

Yang leto
i tersenggol
Yang tolol me-lontong
Terjebak parpol
Aso
i...

Pol
... pol... politik
Bangsa bergeyol
Pemimpinnya Konyol
Aso
i...

Dut
... dut... dangdut
Dangdut politik aso
i
Tersenggol konyol
Bergoyang-goyang leto
i

So
i... soi... asoi
Bergoyang aso
i
Ikuti irama parpol
Bergeyol-geyol
Indonesia aso
i

Dut
... dut... dangdut
Pol
... pol... politik
Aso
i...

10-04-2014








KAWAN KISARAN

(Untuk sahabatku Ely Rhizkie Irwanto, di Kisaran, Medan)

Ini teduh malam
Ini mistis lamunan
Ini coretan kawan

Bertabir segara
Kata bersegera
Padahal sederhana
Dari Kisaran terobat lara

Elegi-eligi sirna
Sejenak bertanya
Nias, batak atau melayukah anda?
Padahal baru saja

Ini gerombolan bintang
Ini kebesaran Tuhan
Ini gatra kawan

Selaput jarak runtuh
Tersenyumlah girang
Bersama alunan Sikambang
Menarilah kawan
Di tanah Kisaran

Ini aku tertawa
Ini aku tertegun suka
Ini aku suguhkan kata
Untukmu kawan

Tak lihay 
Pun tak sehebat tangan Samosir
Catatku hanya tarian angan
Bergerak bak tari Profan
Tapi inilah kawan
Kata yang akan memantra
Kala kelak aku tua

Ini saja di kisaran
Ini saja kawan
Ini saja semoga bersahaja
Bersalam rasa seadanya

23:51 wib, 09-04-2014

WANITA ANGAN (V)

Embun bergugur
Malaikat pagi bertasbih
Melati beromansa
Koi-koi bergurau ria
Aku berangan wanita

Mulut membisu kata
Telinga menuli suara
Hati menenang rasa
Otak mengangan mesra

Seduh secangkir teh
Seraya pena merangkai roman

Pagi kian tak membuta
Pun wanita mendekati nyata

Angan-angan menawan
Sentuh karatan sayang
Mengkilatlah sebentar
Aku kedinginan

Kemarilah...
Wanita anganku

Durjana nafsu bukan itu
Gemercik suaramu, apalagi
Menarilah bersamaku nanti
Tarian sufi sesama hati
Kau pasti mengerti

Kemarilah...
Wanita anganku

08-04-2014

HARI TENANG KAMPANYE

Paiton ke prbolinggo
Pantura raya sudah biasa
Meliuk liuk roda empat pun dua

Kelakar tawa di warung-warung sederhana
Aku yakin, mereka menertawakan sandiwara tua
Tentang orator ulung pencari suara
Karena esok, pesta demokrasi bangsa menggelegar dusta

Hari ini tenang, kata aturan saja
Baleho-baleho caleg menghilang seketika
Padahal kemarin, janji mereka berdesain gagah perkasa

Hari ini tenang, benarkah?
Kalau tenang, kenapa banyak uang mencari korban
Baru saja, pembeli suara bergerilya
Suaraku dihargai dua puluh ribu saja
Aku tertawa saja
Seperti mereka di warung pinggiran pantura

Hahahaha...
Cukup dulu kata
Aku hendak menikmati bus menuju kota
Salam sejahtera saja
Untuk indonesiaku tercinta
Semoga esok pemimpin berjiwa surga
Begitu saja, indonesia

08-04-2014

WANITA ANGAN (IV)

Lagi-lagi
Hati bercagak angan
Di teras malam berjubah hitam

Gegas menyusup cepat
Bak kembang matahari layu
Gesit menyambar terang
Angan berbunga sayang
Bersari asa kemudian luka
Sudah, ini biasa

Melayang-layanglah kunang-kunang 
Meski siang
Bermainlah bersama pipit-pipit
Nyanyikan siulan lantang
Selantang mimpi sang pembait angan

Anganku...
Sembunyikan wanitaku di goamu
Biar bertapa sepi
Kelak ia sakti
Dan akupun memati suci

Tak berjudi asa
Karena semua pasti

Mengertilah
Wanita angan bersorban kenangan

07-04-2014

WANITA ANGAN (III)

Decak anggun
Saat buih air singgah
Kau girang tertawa
Sederhana

Bercucur mesra
Terjun terpingkal bebatuan
Gerombolan air saksi ketertawan
Kau borgol rasa
Di penjara berjeruji senyuman

Ingatlah wanita angan
Kabut-kabut siang
Pantun-pantun alam
Puisi-puisi hilir sungai
Bait-bait kisah kemarin siang
Ayat-ayat sayang
Ingatlah saja sebentar
Biarkan tak melapuk basi
Abadi

Tirai api melilit, sudahi
Ijinkan kelambu suciku sayang
Tabiri keanggunan hatimu
Semalampun tak apa-apa

Wanita anganku

06-04-2014

WANITA ANGAN (II)

Kecup mimpiku
Cumbu semaumu
Sampai kata bisu

Erat dekap
Enyah ragu sebentar
Sampai lilin padam
Belai sekujur prahara lara
Biar hati membuta

Wanitaku
Berikan kerudung
Air mata tak mengering
Helai rambutmu
Bukan itu anganku
Tersenyumlah

Angan berangan
Cinta bercinta
Malam-malam
Sepi kesepian
Hijrahlah sayang
Negeri khayalku masih menawan

Angan angan
Wanita jangan lambaikan tangan

05-04-2014

WANITA ANGAN (I)

membatulah
sampai memuas
sampai berkarat tunggu

parangku
berhenti tak mau
teruslah saja bersabung rindu
gatra masih mantera 
sampai rasa binasa

sulutlah
kesedihan hanya ke-ego-an
debu hitam hiburan
karena api melalap sepi
terbakarlah hati
sampai memutih
sampai dan sampai
tergantung mati
angan hati

sedari fiksi
lalu ilusi
cempaka mengemis wangi

sudilah 
mawar perawan
berbagilah sari cerlang
meski angan
sampai terang

wanitaku...
ijinku berangan

02-04-2014

SKENARIO MIMPI TADI MALAM

(Refleksi hadirnya kabut dalam mimpi yang kedua kalinya; edisi april mop; benar-benar kejutan)

Awal kisah; gerombolan kawan mengaung rindu, hampir satu menuju seribu, pun aku, aktor skenario mimpi tadi malam; beradu peran; semoga protagonis menang.

Masih; angguk, simbol ku-iakan ajakan, harap lepas wanita pelebur lara pun bergegas, bertemu kumala tertelan duka, harap bahagia pada skenario selanjutnya. Tadi malam melayang.

Sudah sayang; gerombolan datang senyuman, kutelisik antar sudut pertemuan, wanitaku hilang. Mata memutih, air mengalir dalam kedip, bibir pulas dalam skenario mimpi; sedih peranku.

Kemana; wanita mimpi berdansalah denganku, malah tertipu, tegukku hanya sepi, sudahlah begitu; skenario mimpi berujung duri, bias skenario, lalu do'a terlantun di sepertiga tadi malam; selesai.

01-04-2014