HIPERCANDU

Ini bukan hipercandu nikotin, bukan pula hipercandu caffein, apalagi hipercandu narkotika, lebih dari itu semua. Seperti gerak maknetik yang memaksa gerak, seperti gravitasi yang memaksa benda melekat ke bumi, hipercandu yang kusebut hipercandu kabut ini telah memaksaku untuk selalu mengingatnya.

Tak ada teori waktu, meski katanya waktu relatif, ilusif, dan perspektif, semua tetap tak ada waktu ketika hipercandu. Berjalan inklusif, mengalir seperti insulin, cepat. 

Ini bukan rekayasa konseptual yang akhirnya selesai, bukan teori rekaan layaknya hasil kaum sofis. Memang kedengarannya seperti senyewa non polar, tak menyatu dengan kenyataan, tapi inilah hipercandu.

Neuron-neuronku bingung, kesana kesini, mencari indikasi-indikasi yang khayal, merangkai berkas-berkas kenangan, kemudian seperti puzzle, terbentuklah monalisa versiku sendiri.

Hahaha, hipercandu, potensi tetap potensi, yakinku manifestasi dari potensi tetaplah ada, meski porsentasenya mistis, begitupun mendapatkan Dia, kabut.

Alih-alih ini harapan, batupun melebur bersenyawa berlian, apalagi hanya sesama hati, tak se-genpun bisa dimutasi, Hanya saja konsekuensi tetaplah potensi feed back yang pasti, bukankah begitu kata hukum meterialistiknya alam.

HIPERCANDU, Kunikmati sajalah, sembari mengais debu sisa hikmah-hikmahnya.

16-04-2014