SAJAK-SAJAK DI KOTA MALANG

SAJAK KEKALAHAN

Hahaha...
Inikah kalah?
Jiwa merintih tangis
Hahaha...
Ini tawa penghibur lara
Menangislah sang juara
Hahaha...
Inikah kalah?
Pemenang menyelam diantara air mata
Akupun tertawa
Hahaha...
Inikah kalah?
Atau?
Mungkin?
Aku justru pemenangnya

Malang, 31-05-2014

MALANG PAGI INI

Jl. Raya Langsep masih cukup lengang
Satu becak melaju tenang
Pagi ini malang masih mengesankan

Dekapan dingin
Di bawah warung 24 jam
Bersama hidangan kopi
Pun imaji hati

Malang pagi ini
Masih terdengar burung berkicau
Juga ppohonan rindang mengiringi jalan
Benar jika ini kota Kembang

Selamat pagi Malang pagi ini
Kubuka hariku denganmu bersama seduhan kopi
Sebelum mentari terangun dari sunyi
Setelah rembulan pergi meninggalkan sepi
Aku disini
Di Malang pagi ini

Warung 6x4 m, Jl. Raya Langsep, Malang, jam 5 pagi, 31-05-2014

EVI

Ini tentang kawan
Tatap yang undang kesimpulan
Matanya tajam
Lumbuh mangsa itu biasa

Awal simpul antar benang pertemuan
Kuanggap ia nakal

Waktu beralih waktu
Kueja ia dari kedekatan
Ternyata salah kutarik simpul

Sungguh berlanjut sungguh
Kusimpulkan ulang ketika petang
Ternyata nilai tak cukup hanya dari tatapan

Ya...
Ia tak
Ia tidak
Seperti yang terpikir awal

Ya...
Ia kawan
Ia Evi
Ia pelajaran dalam perjalanan

Malang, jam 23:10 wib, 30-05-2014

KOPI ALA MALANG

Gula tubruk
Gula putih pudar
Ayo...
Menari lihai kopi racikan

Ini kopi ala Malang
Si tangan semakin pelan
Selesai
Pun kopi hidupku di kota Malang

Depan Matos, Malang, jam 16:03 wib, 30-05-2014

BENDERAKU

Kuangkat tinggi benderaku
Hingar bingar cahaya lampu
Kesombongan megah Graha Cakrawala

Disini benderaku
Aku bangga bersamamu
Hingga gemetar bukan takut
Tapi kau pahlawanku
Di bawahmu...
Darah mengamuk
Otak bertarung sengit
Hati bertasbih risau
Bersiap melawan kebodohan

Benderaku
Terima kasih naunganmu
Berkibarlah jaya
Lantun do’aku
Semangat citaku
Bersamamu...
Benderaku...
Kampusku...


Pembukaan MTQ Mahasiswa Regional Jatim, Graha Cakrawala (UM), Malang, sekitar  jam 14:00 wib, 29-05-2014

ENTAH

senyap, risau, entah
pojok entah
sebait saja untuk entah
apa, kenapa, lalu bagaimana entah
seduh asap sembari bertanya entah
entah?

Pojok kamar d11, 28-05-2014

API DARI SANG PENYAIR

Untuk Kang Iam Teater Kala

Kau sulut lagi
Lentera semakin menyala garang
Aku masih ingat
Dulu kau juga sang dalang
Penyair yang buatku melayang
Kau paksa aku menjadi penyair-penyairan
Sekarang
Kau sulut lagi
Api-api semangat bergerumuh geram
Inginnya memangsa barisan huruf
Bersama petang
Aku terima apimu tuan
Silahkan bakar hingga hitam
Kelak abu-abu sisa bukan sesal
Karena katamu
"Tak ada yang terlatih, semuanya berlatih"
Hingga padam

28-05-2014

MENUNGGU HADIRMU

Dua hari kasih
Dimana wajah
Tersulut harap
Hadirlah dari tunggu

Merintih kasih
Air mata hati
Setiap kala
Hadirlah pecah rindu

Mengerti sejenak
Aku sekarat
Bertubi deras
Hadirlah sesaat seekejap

hanya itu
Menunggu hadir
Judul sebuah takdir
Laraku malam ini

Tanjung, Pojok warung, Sekitar Jam 19:00 wib, 25-05-2014

HARLAH 65

Jalanku dinaungi terpal
Pentas berlatar kyai tersayang

Ramai...
Kaum sarungan bersenjata alat sembarangan

Ada dengan gergaji
Ada dengan panci
Ada dengan kabel melilit rapi
Ada dengan kelengkapan santri

Aha...
Sudah menjelang harlah lagi

Esok lebih ramai pasti
Di pojok-pojok pastilah hadir para alumni
Bertutur cerita ketika mereka mondok disini
Bersenggama dengan pesantrennya lagi

Aha...
Harlah Nurul Jadid ke-65 tiba sehari lagi

Aku suka suasana ini
Kepada Tuhan arah pandang hati
Seraya berdoa bersama puisi
Jayakanlah pesantrenku ini

Aha...
Aku santri kyai Zaini

Alghorizm, Tanjung, 0:34 wib, 24-05-2014

KONVOI PUTIH ABU-ABU

Putih kini berwarna kaya
Menjelma pelangi tak beratur
Berhorizontal lalu vertikal
Kadang melengkung
Warna mengkonstruk makna
Di atas putih
Mungkin maksudnya cerita
Atau sekedar kode cinta
Entah...
Abu-abu juga bernasib sama

Lalu gaduhlah jalan raya
Putih abu-abu berkonvoi ria
Entah...
Apalagi maksudnya?

Yang muda bernyanyi girang
Yang mudi menari senang
Berdansa di bawah terik siang
Entah...
Apalagi maksudnya?

Secarik kertas putih
Diangkat melebihi kepala
Diputar-putar menang
Konvoi semakin urakan
Entah...
Itukah ujung kemenangan?

Ya.. ya.. ya..
Akupun bingung
Anggap saja kemenangan
Esok ...
Putih abu-abu akan mereka rindukan
Kala petang
Kala mereka sadar
Selanjutnya cerita lebih mencekam

Hari pengumuman hasil UN SMA. Pojok barat selatan alun-alun kota kraksaan, sekitar jam 2 siang, 20-05-2014.

CERITA LANGIT

Kutulis cerita langit
Di kertas buram
Warna hampir petang
Melayang
Otak menggilas ramai
Menyutradarai cerita langit
Hingga pena bak celurit
Menusuk hati hingga menangis
Karena ini cerita langit
Terkatung katung
Membumi enggan
Mendekatpun berpikir panjang
Ya, beginilah
Namanya cerita langit

Tanjung, 18:10 WIB, 19-05-2014

RINDU DI TANAH DEWI AIRLANGGA

Aku merasakan kamu disini
Aku melihatmu kekasih khayalku
Di tanah ksatria Airlangga

Aku bahagia bercinta dengan jejakmu
Membelai tanah rantaumu
Aku merasakan tatapanmu kasih

Andai mendung kotamu menjadi hujan
Kutitip pesanku dengan tetesannya
Tapi tidak, gerimis hanya lewat
Saat puisi rinduku tak tamat

Bersama mendung hati ini berucap
Rembulan menghilang tapi malam tetap keindahan
Begitupun kamu dan hati ini

Salamku di tengah malam tanah rantaumu
Lihatlah, bintang boleh padam
Angin boleh pula tenang
Tapi rindu berapi-api gusar

Andai tak ada kesedihan malam
Dengan apa lagi kuandaikan kerinduan

Kasih

Surabaya, di atas musholla, sekitar jam 1 malam, 17-05-2014

KEDAI KOPI PEREMPATAN

sisa hujan semalam berbalas kesejukan
surabaya pagi beraut senyuman

selamat pagi metropolitan
mari bersulang kopi
dengan mimpi yang terukir disini

di kedai perempatan ini
simpul tengah adalah diri
kemana selanjutnya mimpi

disini masih mendung lagi
seperti kisahku ini
awal yang berteka-teki
segelap mendung surabaya pagi

tapi tenang
diri tak sedang berjudi
seperti langkah pion catur di kedai ini
semua pasti
salah langkah kita mati
jika benar, kita pemenang sejati

inilah mimpi
di kedai kopi
di perempatan hidup ini

Wonocolo, Suroboyo, 08:06 wib, 17-05-2014

JL. A.YANI

Telentang kulihat langit luas
Sebelah utara Jalan A. Yani
Pinggir kereta api
Penat menjelma cerita

Kukepulkan asap rokok ke arah langit
Sembari menunggu hadirnya kopi

Deru knalpot bertengkar dengan angin
Sepoi-sepoi seakan mengajakku pulas
Di bawah awan yang lepas

Ini keindahan kota
Di atas rumput Surabaya
Kuusir keringatku yang mulai basahi raga

di Jl. A. Yani
Ini cerita sang pengelana kata

Surabaya, Jl. A. Yanu, sekitar jam 3 siang, 16-05-2014

BUS KOTA SURABAYA

Baru saja berangkat
Terik matahari memecah atap
Tubuhku mengkilat
Cukup panas ini memangsa penat

Bus kota surabaya melaju cepat
Kusaksikan artis metropolitan
Berambut sebahu menyanyi di atas pentas
Berlatar kegaduhan

Tenang, tenang!
Bus kota memang terlaknat keras
Begitulah di Surabaya

Surabaya, Njero Bus Kota, sekitar jam 11:00, 16-05-2014

SEPERTI KUMBANG

Odontolabis bellicosa
seekor kumbang bumi Jawa.
Berkerajaan Animalia
Filumnya Arthropoda
Kelas Insecta
Upakelas Pterygota
Infrakelasnya adalah Neoptera
Superordo Endopterygota
Berordo Coleoptera

Kumbang
Aku seperti kumbang
Biasa saja
Seperti kumbang yang ada dimana-mana
Dimana-mana membuat biasa saja
Aku biasa saja

Kumbang
Aku seperti kumbang
Hanya mangsa
Bukan memangsa
Bisaku hanya menjadi hama
Itupun tak begitu berpengaruh pula
Aku biasa saja
Seperti kumbang

Kumbang
Aku seperti kumbang
Meski biasa
Kumbang punya kepala
Pun aku... gunanya berpikir seluas jagat raya
Kumbang punya Thorax
Pun aku... namanya dada yang menantang masa
Kumbang punya kaki
Pun aku... melangkah demi langkah menuju cita
Kumbang punya sayap
Pun aku... sayapku adalah mimpi yang selalu mengajak terbang
Seperti kumbang
Aku biasa saja
Mencoba menghias dunia
Membunuh asa dengan hama cinta

22:55 wib, 14-05-2014

GARDU

Jesss...
Tiiieet...
Greeeng...
Merayap
Makan aspal

Gibas angin
Menyelundup dingin
Dedaunan kering tergelincir
Tertabrak robot-robot gesit

Gardu berwajah merah
Bekaki empat
Aku dibelai penat


Situbondo, 14-05-2014

PESAN DARI YANG TERBUANG


Pria berumur senja itu berjalan tertatih-tatih, setengah merunduk, dengan tongkat bambu yang telah sepuluh tahun menopang langkahnya. Dengan semangat muda ia tinggalkan aktivitasnya, berjalan menyusuri jalan-jalan desa yang pada waktu subuh terguyur hujan deras. Pelan, ia memilih sendirian, tak bersama para warga sekitar yang juga berjalan searahnya. Namanya Soejiwo, pria tak berketurunan.

DINASTI KERAJAAN DI NEGERI DEMOKRASI


“Wahai anakku, satu tahun lagi kamu akan kujadikan presiden di negeri ini.” Ungkap Tamak Kuaso, presiden negeri Edanesia, kepada putranya yang bernama Rakuso Kuaso. Tamak Kuaso merupakan presiden negeri Edanesia yang menggantikan ayahnya tiga tahun silam. Lewat pemilihan umum yang dilaksanakan di negeri Edanesia kala itu, Tamak Kuaso menang telak atas semua lawan politiknya.
Rakuso Kuaso yang merupakan putra tunggal Tamak Kuaso memang diproyeksikan untuk menggantikan kedudukannya di singgasana kepresidenan, meskipun dalam pendidikan, Rakuso Kuaso gagal meraih gelar sarjana sosial politik setelah diusir dari kampusnya karena sudah tujuh tahun tak kunjung menyelesaikan proses akademik.

WANITA KHAYAL LAGI

Untuk: "yang bertema kabut"

Lagi dan lagi
Khayal dan khayal

Mengertilah wanita khayal
Intip lukaku sebentar
Tangisku merintih setiap malam

Saat hujan mengubur hangat
Saat bulan membunuh siang
Ada matamu menatap sendiriku
Ada senyummu menghibur lalu layu
Ada tingkahmu mengundang khayalku
Mengertilah...

Saat nyatamu menggugur harap
Saat kenangan memekat gelap
Saat dimana hanya pena mengadu cepat
Tentang hati yang sekarat
Mengertilah wanita khayal

Sebelum mati
Sebelum aku berhenti
Sebelum dan susadahnya
Kan kubuat kau abadi

Ada namamu berpeti suci
Ada wajahmu dalam sunyi
Ada kamu berarti sebelu mati
Mengertilah wanita khayalku

Air-air mengalir
Mata mata air
Bersama doa
Aku menyambut cinta

Ada rindumu berselimut malu
Ada tatapmu berdalih haru
Ada namamu kekasihku
Aku merangkai pinta pada sang maha Satu
Mengertilah wanita khayalku

Paiton, sebelum tidur, 23:00 wib, 12-05-2014

TAK PUNYA ROKOK; SAKAU

Ya... menganga saja
Jari digigit-gigit sampai luka
Hisap-hisap-hisap
Ya... merana

Tak punya rokok
Padahal hujan baru saja reda
Pori berebut hangat
Seharusnya ini momen suka
Sang pecandu melayang-layang surga
Seharusnya...

Tak punya rokok merana
Nikotin menjelma wanita tercinta
Kangen-kangen-kangen
Batang-batang, sebatang saja
Ya... puntungpun tak apa

Kau-kau, buatku sakau
Kok-kok, kau buatku ingin rokok
Tak punya rokok
;Sakau

Paiton, depan kantor wil D, 18:00 wib, 12-05-2014

JAWA POS RADAR BROMO EDISI 11 MEI 2014

JAWA POS RADAR BROMO EDISI 11 MEI 2014

KOPI SUSU POLITISI

Suara knalpot-knalpot menderu tiada henti. Di pinggir alun-alun kota Kembang, sebelah kiri Jl. Soekarno, aku duduk di trotoar. Sesekali penjual kopi menghampiriku, menawarkan beragam jenis kopi yang mereka jual, “kopi mas,... kopi mas,... kopi cappunino, kopi hitam pahit, kopi luak, kopi susu, monggo mas,” dengan nada lihai para penjual kopi satu persatu menggoda hasratku. Aku sendirian kala itu, malam minggu sebelum jam tujuh, waktu indonesia bagian kota Kembang.
Aku masih duduk tenang, memperhatikan pemandangan alun-alun yang ramai dengan muda-mudi. Hingga beberapa menit kemudian, seorang pria penjual kopi yang kira-kira berumur lima puluh tahun menghampiriku. Tangan kanannya menjinjing termos warna hijau, tangan kirinya bergelantung jenis-jenis kopi instan yang hanya membutuhkan tuangan air hangat lalu siap disajikan. Berbeda dengan para penjual kopi sebelumnya, dia tak berkoar-koar menawarkan kopinya, hanya berjalan pelan seakan-akan menunggu panggilan dari peminat kopinya. “Aneh,...” gumanku dalam hati.
Lama kuperhatikan si penjual kopi tadi, lalu tertangkaplah mataku olehnya. Dia tajam memandangku, perlahan dari jarak sepuluh meter dia mulai menghampiriku. Akupun salah tingkah, takut, bertanya-tanya pada diriku sendiri, “apakah dia marah, atau hanya mengira aku ingin mebeli kopinya.”. Dia semakin dekat, matanya tetap tajam melihatku yang semakin gelisah. Sempat aku berpikir untuk berdiri lalu pergi menjauh, tapi kutenangkan diri sejenak dan melemparkan pandanganku ke arah yang lain.
Sejurus kemudian, si penjual kopi menepuk punggungku. Lalu kuarahkan lagi pandanganku yang sebelumnya berpura-pura lari dari pandangannya.
“Kopi dek?” santun sekali nadanya menawarkan kopi jualannya.
“Berapa  harganya pak?” jawabku sambil mencoba menenangkan pikiranku yang sempat beraduk rasa takut dan gelisah.
“Sudah,... mau kopi apa?, bayarnya urus belakangan.”
“Akh,... aku takut uangku kurang pak!.”
“Wuuuaalah dek,... ini hanya kopi, gag akan sampai korupsi uang rakyat kok dek.” gesit dia menimpal perkataanku. Kemudian dia duduk di samping kananku.
“Adek dari mana?” tanya dia sembari meletakkan perlengkapan jualannya.
“Aku dari kota Bunga pak”
“Waah,.. jauh sekali, pantesan tingkahnya lucu.” cetus dia sambil meracik kopi yang akan ia persembahkan untukku.
“Lucu bagaimana pak?”, aku penasaran dengan kata “lucu” yang dimaksudnya.
“Ya lucu dek,... Adek itu lihat kiri-kanan, liahat kemana-mana, kayak politisi yang sedang bingung mencari suara rakyat saja,” jawab dia cepat. Sembari mengaduk secangkir kopi susu yang hampir selesai dibuatnya. “kalau jalan-jalan ke tempat yang jauh itu harus tenang dek. Biar tidak dimanfaatkan orang-orang jahat. Kayak jadi rakyat, harus tenang jika sedang Pemilu (Pemilihan Umum) supaya tidak dimanfaatkan oleh para politisi penipu. Apalagi kayak adek yang masih masuk kategori pencoblos pemula.” Lanjutnya, lalu dia menyuguhkan kopi susu yang sudah siap saji untukku.
“Terima kasih pak,” ucapku sambil lalu menerima segelas kopi susu tadi.
“Ya, silahkan dinikmati dek.” Semakin santun dia memperlakukanku.
Dalam hati aku heran dengan si penjual kopi yang satu ini, kenapa dia selalu mengaitkan semua hal dengan politik. Sudah tiga kali yang kuingat, dia menganalogikan hal-hal yang sebenarnya sepele dengan politik. “aku harus bertanya”, gumanku dalam hati.
Kok bengong dek?” ia menepuk punggungku yang kedua kalinya semenjak kami bertemu.
“Hah,... gag pak,” aku terbangun dari lamunku. “Begini pak, kenapa bapak selalu mengaitkan semua hal dengan politik?, dari tadi saja bapak sudah tiga kali mengaitkan hal-hal sepele dengan politik.” tanyaku panjang lebar.
Si penjual kopi tersenyum, ia terlihat mengambil nafas untuk menjawab pertanyaanku. “Sekarang ini politik sedang menjadi trending topic di negara kita dek. Ya,.. kita harus mendukung tren ini, biar semua masyarakat juga ikut membincangkan politik negara kita. Dengan begitu mereka akan banyak belajar tentang keadaan politik di negara kita, dan nantinya mereka bisa membedakan antara calon yang benar-benar baik untuk bangsa ini dengan calon yang hanya ngetren di media saja,” ia diam sejenak sembari memperhatikanku yang sedang manggut-manggut mendengar ceramah politiknya. “Karena Pemilu yang sekarang ini banyak sekali calon-calon pemimpin kita yang hanya ngetren alias hebat di media saja, padahal kinerjanya kosong, skil kepemimpinannya nol, wawasan kenegaraannya....?, Apalagi.” Lanjut dia sambil memasang muka sinis dan menyelesaikan jawabannya atas pertanyaanku.
Aku heran, dia penjual kopi atau pengamat politik. Sengaja aku tak sampaikan keherananku, takut-takut ia salah paham.
Kuseduh secangkir kopi susu yang ada di depanku. Meskipun kopi susu itu masih belum jelas statusnya, apakah dijual atau diberikan gratis untukku. Tak selesai aku menyeduh, ia melanjutkan ceramah politiknya , “Nah, sama dengan kopi susu itu dek, kopi itu kenyataan jelek, susu itu rekayasa baiknya. Calon pemimpin kita di media, ya, seperti kopi susu itu. Jika  kopinya banyak susunya juga diperbanyak, bahkan jauh lebih banyak, biar kelihatan putih dan rasanya lebih manis.” Pungkasnya.
Tanpa ancang-ancang , ia langsung berdiri dan meraih perlengkapan jualannya. “Loh,.. loh,... pak, mau kemana pak?” refleksku ketika melihat si penjual kopi bergegas ingin pergi.
“Yaaaa,.. mau jualan kopi dek, supaya keluargaku bisa makan. Saya ini bukan seperti politis nakal, yang ketika duduk saja bisa menghasilkan uang lima miliar.” Ungkap dia sembari melangkahkan kakinya.
“ini uang kopinya pak.” ucapku sambil meraih uang di saku celanaku.
Gag usah, tabung saja buat sekolah yang benar.” pungkasnya setengah berteriak. Lalu dia pergi dan menghilang di kerumunan muda-mudi yang sedang menikmati malam minggu.

Setelah kepergian si penjual kopi aku melamun sendirian, memikirkan kembali ceramah politik yang disampaikan oleh si penjual kopi. Hingga jam sepuluh malam, akhirnya kuputuskan untuk beranjak dari alun-alun kota Kembang, kembali ke kota Bunga dan akan kujadikan ceramah politik dari si penjual kopi menjadi trending topic disana.

STADION ITU ADA DI KAMPUSKU

Tak lebih dua ratus meter persegi, itu kampusku
Di tengahnya stadion berumput subur
Tak megah menjulang langit, itu kampusku
Stadion bergawang batu seperti nisan kubur
Tak gagah papan nama buram, itu kampusku
Di stadion bersuka ria kala senja hampir kabur
Tiap selasa jumat stadion ramai, itu kampusku
Memecah kesedihan dengan menyiksa si bundar
Bertanah persahabatan di tengah kesederhanaan, itu kampusku
Kini di stadion keringat sejarahku bercucur

Jumat, Setelah main bola di kampus tercinta, 05:20 WIB, 09-05-2014

SELAMAT PAGI JUMAT

Selamat pagi matahari 45 derajat
Sudahkah engkau ucapkan selamat pagi?
Selamat pagi nyanyian pipit dan kawan-kawan
Sudahkah kalian memberi makan anak-anak kalian?
Selamat pagi rerumput-rerumput hijau
Sudahkah kalian minum di musim gersang?
Selamat pagi hilir air kotoran
Sudahkah kalian ingin beranjak pulang ke pantai utara?
Selamat pagi kawanku semuanya
Sudahkah kalian menghiasi kisah kalian?

Selamat pagi jumat
Selamat pagi semuanya
Selamat menyudahi yang tak sudah
Entah dosa;
Dusta;
Sombong kata;
Sombong harta;
Sombong segalanya;
Marah mata;
Membuta tulus jiwa;
Keluh asa;
Dan semua kawan dosa;
Sudahi saja
Selamat pagi jumat
Sudahkah kau dengar guman sang pendosa?
Itu saja

Probolinggo, 5 cm timurnya pintu Alghorim, 8:08 WIB, 09-05-2014

SKETSA MIMPI

Ujung pena adalah air mata
Mengalir deras tapi tak terlihat
Tetesnya membuat melankolis jiwa

Telapak jari mulai berkeringat
Membasahi dasar sketsa mimpi
Lalu membiaslah arsiran dengan asli

Ulang jemari tak patah asa
Hingga menyerupa rupa
Tersenyumlah sketsa mimpi

Riang bukan kepalang
Kini sketsa melankolis keindahan
Menatapnya mengajakku berkarya
Meski elegi

Sampai sang pena raib
Sama dengan rasa menghilang
Sampai disana cerita
Sketsa mimpi melamar cinta

06-05-2014

SESAL DI PANTURA

Masih liar
Kutukar Tuhan dengan Jasjus jeruk
Di pinggir aspal Pantura
Di gemuruhnya peluit kapten jalanan

Maafkan aku Tuhan
Hanya itu
Di hati yang mula-mula menyesal

Paiton, 17:30 WIB, 06-05-2014

CAT WARNA KUNING MUDA

Raga-raga sudah dikerubuti lelah
Tawa bibir-bibir mereka renyah
Ada raga sibuk mengoles semen
Ada raga terkapar pulas
Ada raga sibuk mengepel sisa-sisa warna
Cat warna kuning muda kini berubah doa
Catatlah surga wahai Tuhan
Untuk jari penebar bulir-bulir cat kuning muda
Kerikil-kerikil olesan tembok berdoalah untuk mereka
Secerah kuning muda
Cerahkanlah masa depan mereka
Di bawah bintang yang bergemercik keindahan
Di atas tangga yang berdiri kekokohan
Di bawah pena yang mencatat kesaksian
Di atas kertas yang pasrah tergores hitam
Tersenyumlah raga-raga pengabdian
Kelak cerita berwujud kebahagiaan

Di atas tangga depan D19, 1:00 WIB, 04-05-2014

SENJA BERPULANG DOA

Astaghfirullah
Silahkan pulang senja
Bawa salamku pada sang esa
Astaghfirullah
Silahkan istirahat senja
Bawa aku dalam mimpimu
Esok kita bertemu di waktu yang sama
Bersama awal ashar
Berakhir adzan maghrib
Kemudian bawa doaku kembali
Astaghfirullah
Sehari aku berlumut dosa

Paiton, 18:01 wib, 03-05-2014

SKETSA KETIGA

Kugoreskan lagi wajahmu di kertas putih
Dari mata kemudian senyum yang bersahaja
Bukan hal mudah sebelumnya
Tapi yakinku saja
Rasa ini berenergi segalanya
Hingga sketsa ketiga
Jemari lihai menggores pena
Kini hati di lembah sujud sembari berdo'a
Tuhan...
Haturkan salam hati pada dia yang kucinta
Hingga sketsa ketiga
Mataku tak ubahnya tuan raja
Menerima senyum manja
Dari sketsa yang baru saja menyegarkan asa
Juga rupa yang menjelma mantra

01-05-2014

KOPI SUSU POLITISI

(Dimuat di Jawa Pos Radar Bromo Edisi Minggu 11 Mei 2014)

Suara knalpot-knalpot menderu tiada henti. Di pinggir alun-alun kota Kembang, sebelah kiri Jl. Soekarno, aku duduk di trotoar. Sesekali penjual kopi menghampiriku, menawarkan beragam jenis kopi yang mereka jual, “kopi mas,... kopi mas,... kopi cappunino, kopi hitam pahit, kopi luak, kopi susu, monggo mas,” dengan nada lihai para penjual kopi satu persatu menggoda hasratku. Aku sendirian kala itu, malam minggu sebelum jam tujuh, waktu indonesia bagian kota Kembang.