DINASTI KERAJAAN DI NEGERI DEMOKRASI


“Wahai anakku, satu tahun lagi kamu akan kujadikan presiden di negeri ini.” Ungkap Tamak Kuaso, presiden negeri Edanesia, kepada putranya yang bernama Rakuso Kuaso. Tamak Kuaso merupakan presiden negeri Edanesia yang menggantikan ayahnya tiga tahun silam. Lewat pemilihan umum yang dilaksanakan di negeri Edanesia kala itu, Tamak Kuaso menang telak atas semua lawan politiknya.
Rakuso Kuaso yang merupakan putra tunggal Tamak Kuaso memang diproyeksikan untuk menggantikan kedudukannya di singgasana kepresidenan, meskipun dalam pendidikan, Rakuso Kuaso gagal meraih gelar sarjana sosial politik setelah diusir dari kampusnya karena sudah tujuh tahun tak kunjung menyelesaikan proses akademik.

“Bagaimana anakku? Apakah kamu siap?” tanya Tamak Kuaso dengan mimik wajah bijak layaknya kebanyakan presiden sebuah negeri.

“Saya siap-siap saja pa, tapi, apakah segampang itu. Bukankah disini negeri demokrasi pa, untuk bisa menjadi presiden harus dipilih rakyat secara langsung.” Jawab Rakuso Kuaso dengan rasa kekhawatiran.

Tamak kuaso manggut-manggut mendengar jawaban putranya. Sembari ia mengelus-elus jenggotnya yang kira-kira berukuran 5 cm, kemudin dia menegakkan posisi duduknya dan memandang tajam pada Rakuso Kuaso yang berdiri 2 m di depannya. “Tenang anakku, woles saja, semua bisa diatur. Semua yang ada di negeri ini bapak yang mengendalikan.” pungkas Tamak Rakuso.

***

Akhirnya tibalah pada masa kampanye. Di layar-layar televisi, ketua Lembaga Pemilihan Umum (LPU), Cobloso Kuaso, mengajak rakyat untuk ikut berpartisipasi atas akan diselenggarakannya pemilihan umum dan mengajak rakyat untuk tidak menjadi golongan putih (golput). “Ayo rakyat Edanesia, berbondong-bondonglah ke tempat pencoblosan pada tanggal 14 Agustus nanti. Ingat, jangan golput. Masa depan Edanesia ada ditangan anda.” Ungkap Cobloso Kuaso dengan nada berapi-api di setiap jeda acara televisi.

Rakuso Kuaso sibuk kesana-kemari untuk berkampanye, dari pedesaan hingga perkotaan tak luput dari target kampanyenya. Kerusakan jalan desa yang sebelumnya tak pernah dihiraukan kini mendapat perhatian khusus dari Rakuso Kuaso, ia berjanji kepada rakyat disana untuk memperbaiki kerusakan jalan jika ia nantinya terpilih sebagai presiden. Tak hanya itu, Rakuso Kuaso juga berjanji akan memasang merkuri di semua jalan desa. Di perkotaan, Rakuso Kuaso mulai menggelar konser-konser besar yang mendatangkan artis-artis top negeri Edanesia. Biasanya, dia memberikan sambutan sebelum konser dimulai.

Jika Rakuso Kuaso sibuk dengan kampanyenya hingga ke penjuru negeri, tidak demikian dengan ayahnya, ia sibuk mengundang tokoh-tokoh pemerintahan untuk hanya sekedar makan bersama di rumahnya dan setelah itu biasanya ia langsung memberi tahu para tamunya bahwa putranya akan mencalonkan diri sebagai presiden negeri Edanesia. Tercatat sudah puluhan tokoh yang pernah ia undang ke rumahnya, sebut saja Menterio Bumno, Menteriono Ekonomasi, Mentery Pertahonon, Kyai Fuloso, Singduwe Mediose Nusantoro dan yang lainnya, termasuk Cobloso Kuaso.

***

Ketika pemilihan umum hampir pada hari pelaksaan, rakyat negeri Edanesia dikagetkan dengan isu-isu miring Rakuso Kuaso yang terungkap oleh media. “Kok bisa ya, padahal dia pernah menggelapkan uang rakyat ketika masih menjabat sebagai bupati,” ungkap Rakyato Jelato yang tinggal di negeri Edanesia bagian timur.

“Akh, ayahnya sih presiden, meskipun pernah dijerat kasus penggelapan uang proyek minyak bumi tetap saja bisa mencalonkan diri sebagai presiden,” ungkap Rakyato Kecilo pada temannya, Rakyato Awamo, di negeri Edanesia bagian barat.

Tak hanya itu, rakyat negeri Edanesia juga ramai membicarakan Rakuso Kuaso di dunia maya. Di SuarorakyotBook, salah satu jejaring sosial terbesar di negeri Edanesia, ada sebuah grup yang bertema “Anti Rakuso Kuaso”. Grup ini mengupas semua kejelekan yang pernah dilakukan oleh Rakuso Kuaso.

Selain SuarorakyotBook yang menjadi media rakyat Edanesia untuk memberi tahu kejelekan Rakuso Kuaso. Di Rakyotter yang juga merupakan jejaring sosial terbesar di negeri Edanesia, rakyat Edanesia menegaskan bahwa Rakuso Kuaso tak pantas untuk menjadi pemimpin mereka selanjutnya. Di Rakyotter ini rakyat Edanesia memberi hastaq #AntiRakuso untuk mempermudah penyebaran informasi seputar kejelekan Rakuso Kuaso.

Seperti tak ada pengaruh, Tamak Kuaso dan Rakuso Kuaso malah tenang-tenang saja mendengar respon negatif rakyat Edanesia yang semakin menjadi-jadi. Bahkan di daerah yang sebelumnya menjadi tempat kampanye Rakuso Kuaso telah ramai pula membicarakan kejelekannya. Dan itupun masih tak berpengaruh bagi keduanya. “Hahahaha, dasar rakyat kecil, kayak suara kalian didengar saja.” Celetuk Tamak Kuaso ketika menonton acara televisi yang menayangkan berita seputar respon rakyat Edanesia terkait isu-isu kejelekan Rakuso Kuaso.

***

Akhirnya pemilihan umum tiba. Rakyat negeri Edanesia berpesta demokrasi. Tempat-tempat pencoblosan ramai, sepertinya Cobloso Kuaso berhasil dalam menyadarkan rakyat bahwa golput itu tidak baik.

Dua minggu setelah hari pencoblosan akhirnya hasil pemilihan umum akan segera diumumkan secara resmi oleh Cobloso Kuaso. Di depan istana negeri Edanesia, disaksikan jutaan rakyat negeri Edanesia ia berdiri di atas mimbar. “akhirnya saya selaku ketua LPU akan mengumkan hasil pemilihan umum yang berlangsung pada tanggal 14 Agustus kemarin. Sesuai dengan pengumpulan data surat suara dari seluruh penjuru negeri Edanesia. Setelah dilakukan penghitungan, maka didapatlah hasil, bahwa yang akan menggantikan Tamak Kuaso sebagai presiden adalah Rakuso Kuaso.” Ungkap Cobloso Kuaso lantang. Seketika rakyat Edanesia diam. Mereka tak bisa berbuat apa-apa, mereka takut, karena Tamak Kuaso terkenal dengan presiden yang tak berpikir panjang untuk menghabisi rakyatnya yang menantang, meskipun sekarang dia sudah bukan presiden lagi.

***

Ketika usai pengumuman pemenang pemilihan umum, banyak wartawan-wartawan mancanegara yang hendak meliput pergantian presiden di negeri Edanesia. Salah satunya adalah wartawan dari Negeri Indonesia yang bernama Bebaso Bersuaro.

Awalnya Bebaso Bersuaro ingin mewawancarai Tamak Kuaso, tapi karena masih belum bisa menemuinya Bebaso Bersuaro langsung menuju salah satu warung di pinggiran istana negeri Edanesia. Disana ia bercakap-cakap dengan penjaga warung demi menambah data untuk pembuatan beritanya.

“Mau pesan apa mas?” tanya wanita setengah baya pemilik warung ketika Bebaso Bersuaro baru duduk di kursi bambu yang disediakan di depan warung. “Kopi saja satu bu,” jawabnya.
“Siapa yang menang pemilu kali ini bu?” seakan tak ingin menyianyiakan waktu, Bebaso Bersuaro langsung ke inti pembicaraan. “Ya Tamak Kuaso mas. Emangnya mas dari mana kok belum tahu?, bukannya pengumumannya baru saja disampaikan.” Tanya pemilik warung sekenanya. “Aku bukan warga sini bu, aku dari negeri sebelah, Indonesia.” Jawab Bebaso Bersuaro. “Owg... dari Indonesia toh. enak ya disana, demokrasinya jalan, gag kayak disini. Demokrasinya berubah menjadi dinasti kerajaan, sekarang ini contohnya,” cetus si pemilik warung dengan nada kecewa dengan negerinya sendiri. “Ya, begitulah bu, di Indonesia untuk tingkatan Presiden masih belum ada  yang main sistem dinasti kerajaan, kalau yang tingkat bupati, buuuuuaaaaaanyak!!!.” Pungkas Bebaso Bersuaro.

14-05-2014