PESAN DARI YANG TERBUANG


Pria berumur senja itu berjalan tertatih-tatih, setengah merunduk, dengan tongkat bambu yang telah sepuluh tahun menopang langkahnya. Dengan semangat muda ia tinggalkan aktivitasnya, berjalan menyusuri jalan-jalan desa yang pada waktu subuh terguyur hujan deras. Pelan, ia memilih sendirian, tak bersama para warga sekitar yang juga berjalan searahnya. Namanya Soejiwo, pria tak berketurunan.


Ya, hari ini pesta demokrasi digelar, Soejiwo berniat memilih sang pemimpin negaranya. Ia paham sejarah bangsanya yang penuh polemik, karena sewaktu muda ia seorang aktivis perjuangan yang selalu menginginkan negaranya lebih baik, lebih baik dan lebih baik, begitu cita-citanya. Hingga saat itu cita-citanya belum tergapai. Dan saat itu juga ia berharap dengan satu hak suaranya ia bisa mewujudkan cita-citanya.

Lima puluh tahun yang lalu, ketika ia berumur 25 tahun, ia menggagas organisasi besar yang bernama Ikatan Pembela Bangsa (IPB). IPB aktif menyuarakan suara rakyat dengan media-media yang mereka miliki, salah satunya Suara Peduli Bangsa, sebuah majalah yang terkenal gencar menyerang kebijakan pemerintah yang berlawanan dengan suara rakyat. Disana, Soejiwo berperan sebagai pemimpin redaksi selama tujuh tahun, selama itu juga Soejiwo tak henti-hentinya diteror oleh antek-antek lawan.

Kisah itu lima puluh tahun silam, berbeda dengan 20 tahun selanjutnya. Semenjak Soejiwo dibuang ke desa pembuangan dengan tuduhan sebagai pemberontak, semenjak itu juga Soejiwo hanya menghabiskan waktunya dengan bertani dan menulis di desa terbelakang yang saat itu hanya berwarga 30 orang, itupun buta huruf semua.

Kini, seorang pejuang tua yang bernama Soejiwo itu terdampar begitu saja. Sejarahnya dihapus oleh para penguasa bangsanya.

***

Soejiwo masih berjalan tertatih-tatih, masih melawan lumpur-lumpur di jalan desa. Kakinya mulai letih, tinggal beberapa puluh meter lagi ia sampai ke tempat pencoblosan. Raut wajahnya bukan kebohongan, semangat nasionalismenya masih jelas nampak di setiap garis-garis keriputnya. Hanya karena ia merasa kelelahan, lalu ia putuskan untuk beristirahat sejenak di bawah pohon wringin pinggir jalan. Ia duduk dan menyandarkan tubuhnya ke batang pohon wringin yang diameternya kira-kira satu meter, lalu menancapkan tongkatnya diantara akar-akar pohon wringin.

Lama ia duduk tenang, sembari mengingat-ingat kembali masa lalunya. “Tuhan, jadikan negaraku ini negara yang lebih baik, lebih baik dan lebih baik.” Gumannya sendirian. Air matanya menetes, sepertinya ia berhasil menyempurnakan memori masa lalunya kala itu.

Beberapa saat kemudian, pria berperawakan tinggi, berwajah oval, berkulit hitam, menghampiri Soejiwo. Pria itu berumur kurang-lebih 25 tahun, namanya Joko. Dia merupakan tetangga Soejiwo yang juga hendak ke tempat pencoblosan.

“Kakek kok disini?”  tanya Joko begitu ia sampai di dekat Soejiwo. Belum sempat Soejiwo menjawab, Joko buru-buru mengajukan pertanyaan lagi, “Kakek nangis? Ada apa kek, kakek ada yang mengganggu?, Kakek jatuh?” dengan nada cemas dan penasaran Joko nyerocos dengan beberapa pertanyaannya. “Tidak Nak, kakek tidak apa-apa,” jawab Soejiwo sembari mengusap air mata yang sedari tadi bercucuran.

Joko masih tak percaya, ia yakin Soejiwo menangis karena ada penyebabnya. “Tak mungkin kakek menangis jika tidak ada penyebabnyanya.” guman Joko dalam hati. Ia pun tak henti untuk menanyakannya lagi. “Kenapa Kek?” nada Joko merendah, seakan ia meminta jawaban dengan lembut.

“Saya hanya teringat masa lalu saya Nak, masa dimana saya masih bisa berbuat banyak untuk bangsa ini, tidak seperti sekarang, saya hanya bisa memberikan satu hak suara saya untuk masa depan bangsa ini.” Ungkap Soejiwo dengan raut wajah sedih.

Joko diam, ia bingung mau berucap apa. Ia tak menyangka, ternyata karena bangsanya air mata Soejiwo mengalir.

“Dulu, ketika saya masih muda seperti kamu Nak. Saya punya cita-cita untuk menjadikan bangsa ini lebih baik, saya mengkritik pemerintah dengan tulisan-tulisan saya, saya juga  mengajak teman-teman sebaya saya untuk juga ikut andil dalam menjadikan bangsa ini lebih baik, terutama dalam kepengurusan sistem pemerintahan yang dikuasai oleh manusia-manusia tak bertanggung jawab. Itu dulu, sekarang saya sudah tak muda lagi. Berjalan sejauh ini saja saya sudah tidak kuat.” lanjut Soejiwo menceritakan masa mudanya.

Joko masih diam, ia semakin terharu mendengar kata demi kata yang terucap dari lisan Soejiwo. Sambil mangguk-mangguk, kemudian terbesit di pikirannya, “apa yang telah saya lakukan untuk bangsa ini?”. Kali ini Joko merasa berdosa pada tanah kelahirannya, karena ia sadar, ia belum melakukan apa-apa untuk negaranya.

“Nak,...” kata Soejiwo sambil menepuk pundak Joko.

“Ya, Kek.” Jawab Joko yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia dari ungkapan-ungkapan Soejiwo.

“Kamu harus melanjutkan cita-cita Kakek,” ungkap Soejiwo diiringi desiran angin yang kemudian menggugurkan beberapa daun wringin. “Kamu harus melakukan sesuatu untuk bangsa ini, jangan biarkan bangsa ini terus terpuruk, berusahalah untuk menjadikannya lebih baik, lebih baik dan lebih baik. Ini sudah seharusnya yang harus kamu lakukan, bukan Kakek lagi, sudah generasimu.” lanjut Soejiwo.

***

Sejurus kemudian, Soejiwo meraih tongkatnya. Kemudian ia berdiri. Diiringi rangkulan Joko yang membantu topangan tongkat Soejiwo. “Yang muda yang berjuang Nak, yang tua mengarahkan saja,” ungkap Soejiwo lirih tergagap-gagap.

Joko masih saja diam. Hanya matanya berkaca-kaca. Sesekali ia menatap wajah Soejiwo, memperhatikan raut wajah kesedihaannya, raut wajah harapannya, pun raut wajah kesetiaannya pada bangsa.

“Ayo kita ke tempat pencoblosan. Kita pilih pemimpin yang benar-benar baik untuk bangsa ini.” Ucap Soejiwo sembari mengayunkan tongkatnya untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat pencoblosan. Joko hanya mangguk-mangguk, mengiakan kehendak Soejiwo.

Kemudian angin berdesir tenang, menyeret sisa air hujan subuh. Daun-daun wringin runtuh seakan merayakan ketenangan. Suara ranting patah lalu jatuh. Pagi masih belum berlalu, sang pejuang yang terbuang masih berjuang. Dengan satu suaranya, ya, hanya dengan satu hak suaranya. Bagaimana dengan Joko? Akan berjuangkah? Sekarang kalian yang akan melanjutkan cerita ini.

Paiton, 14-19 Mei 2014