RAMADHAN HARI KEDUA

Sedari pagi pena menyapa mata
Menari suka di pentas kuning penuh aksara
Kutangkap suara terlantun dari masjid raya
Sang kyai menyulam makna

Langit mulai menguning
Bibir-bibir mulai mengering
Sabar menyambut matahari terguling

Ramadhan hari kedua
Masih hari para petapa
Kata-kata terjaga
Sikap bersahaja
Hati hati-hatilah saja
Surga;


30-06-2014

JELMAAN KABUT

Dewi Airlangga (5)

Wahai jelmaan kabut
Sebutku dulu untuk Dewi Airlangga

;surat
Masihkah kau secepat kilat
Lari kala cahaya menerka
Masihkah kau sempat mendekap
Dalam ke-tak-sadaran petang

;asa
Di malam-malam kapan lagi
Kabut membelai lembut
Diwarnai bunga-bunga sedap malam
Kala musim hujan belum datang
Biar api unggun menambah keromantisan

;balas
Setitikpun lenyap
Disergap angin-angin lampau
Menyerang dari belakang, menyelinap
Hanya aku semakin kedinginan

;kabut
Dewi Airlangga;


30-06-2014

LETIH MENUNGGU HUJAN

Dewi Airlangga (4)

Aku letih melayang
Biru langit bukan lagi kahyangan
Pelangi berbaju hitam
Awan kapan menghujan
Aku letih sayang
Dewiku;
Airlangga


30-06-2014

EPISODE TAK KUNJUNG USAI

Dewi Airlangga (3)

Episode melupakan
Justru kepingan bayang hadir dari hamburan
Kemarin puisi mulai padam
Malah malam ini bayang semakin garang

Episode membunuh
Dewi Airlangga kugantung dibawah langit
Awan-awan lalu justru selamatkan dengan rindu

Episode meghapus
Coretan sajak kuhempaskan ombak
Malah karang menjulang cepat
Jelmaan rasa dalam kata kini merana
Dewi Airlangga pun tetap mematung pesona

Episode mlenyapkan
Sungguh cara berganti cara
Cerita berganti cerita; Dewi tak kunjung sirna
Hingga apalah episode selanjutnya
Terluka atau bahagia; dua sisi koin bersama seutuhnya

Episode Dewi Airlangga
Sinema belum usai bercerita
Cinta;


30-06-2014

RAMADHAN HARI PERTAMA

Senja berpulang senyum
Gerimis firman menyejukkan alam
Lalu lalang raga bersuka maghrib sebelum mega
Ramadhan hari pertama
Di bilik bulan termulya, mari bercinta
Belai nikmat sang esa
Surga;

Langit menggema ria
Lantun-lantun sakral berkelana
Memenjara setan-setan petang
Trunlah malaikat Rokib bersibuk pena
Di hari yang masih pertama

Sepertiga malam meminang
Sujud bertemakan suapan
Semoga esok irama puasa menawan
Surga;

Cukup ini hari pertama
Ramadhan;


29-06-2014

MATA TANDUS

DEWI AIRLANGGA (2)

Lihatlah dewi
Mata mengering tandus
Tak tumbuh kaca-kaca kilau
Seperti dulu kau melihat dirimu dalam mataku

Lihatlah dewi
Setelah replika pudar
Di pelupuk ini kau menghilang

Entah, kemarilah dewi
Sebelum tak bisa berkedip
Dikejauhan kau pasti melihat
Hadirlah dewi. . .
Usaplah air mata tak berair
Sebelum buta


28-06-2014

KSATRIA AIR MATA & DEWI AIRLANGGA

DEWI AIRLANGGA(1)

Dewi airlangga
Tengah malam ini
Kala ksatria air mata bersedih
Sedang apakah kau?
Sudahkah kau berselendang mimpi
Atau kau masih sibuk berdansa dengan sepi

Dewi airlangga
Tengah malam ini
Kala ksatria air mata menangis lirih
Sedang apakah kau?
Sudahkah kau melupakan puisi
Atau kau masih sibuk mengejanya sendiri

Dewi airlangga
Ksatria air mata hampir gugur di medan aksara
Jurus-jurusnya menghilang seketika
Mantra-mantranya kaku binasa
Terlalu bengis serdadu mimpi mengoyak batinnya

Dewi airlangga
Tak sudikah mustika kau beri
Demi hati sembuhku yang hampir putus asa


26-06-2014

KAISAR AIR MATA

Busur panah menggantung gagah
Sudah beberapa meluncur anak panah hebat
Sudah pula mangsa terganjar lumpuh
Kaisar bersejarah teguh

Ini anak panah kesekian
Melesat tajam

Ini anak panah paling tajam
Mangsa hanya diam
Ini anak panah beracun sayang
Mangsa tak kunjung terlumpuhkan

Kaisar air mata
Busurnya tak gagah lagi
Anak panah bersisa pasrah
Harap tajam tak sia-sia
Mangsa berbeda mangsa
Tangguh semoga tunduk lumpuh
Di bidikan selanjutnya


22-06-2014

GUGUR BERSAMA HUJAN

Mengalun di atas hujan
Kelabu langit kini tersapu
Aku terbang antara siang
Air mata menghujan
Segeralah datang

Dari sini jelas, bidadari bermandikan kenang
Di bawah air terjun rindu
Air mataku yang lalu-lalu

Andai kemudian petang
Aku tidur bersanding bintang
Bidadari kembali ke kahyangan
Jauh di atasku melayang

Kepastian terpedih bidadari melewatiku
Senyumpun tak sampai
Apalagi menggoda tatapan
Mata yang terhabiskan air mata hanya berduka

"Selamat ke kahyangan cinta"
Bisik penghujung cerita
Kemudian aku gugur
Bersama hujan malam
Sekarang...


17-06-2014

BINTANG BERKAKI LIMA

Sudah nyanyian kata
Antara gerimis luka
Sudah dentuman air mata
Antara pipi memerah darah

Bintang berkaki lima
Itu goda palsu belaka
Kala petang memangsa

Sudahkan saja
Sayap-sayap melemah
Jikalau sudah suratan angka
Bintang kan gugur juga


17-06-2014

ADA

ada kopi tak ada gulanya
ada kumbang tak ada bunganya
ada sungai tak ada pelanginya
ada sore tak ada senjanya
ada mulut-mulut mencibir
ada mata-mata menangisi
ada telinga-telinga menghakimi
ada apakah?
ada gugatan air mata


16-06-2014

T

Sebelum membangkai
Kupeluk Tuhan

Sajadah bernanah
Kuusap dengan sujud

Berlagu setan usai
Sejenak dzikir lantunkan

Sebelum dikeroyok ulat
Ruh berlaga hamba
Gagah


11-06-2014

LAUTAN WAJAH

Kapal-kapal karam
Di kelopak matamu

Garis-garis pantai
Segaris bibir manismu

Lautan wajah
Senja dibalik bulu mata
Gerai rambut laut pasang
Ah.... aku tenggelam


11-06-2014

LEMBAH BROMO SILAM

LEMBAH BROMO SILAM (I)

Gugur kabut malam
Membelai mesra hadirku
Lembut...
Selembut kasih tersenyum hangat

Dingin mendekap erat
Seerat kasih menatap

Di lembah kasih
Kerangka masa tentang cinta
Terpenjaralah sekarang
Aku sendirian, sekarat

Lembah bromo menelan korban
Luka-luka kenangan
Darah deras, sayang

Yang silam
Kini jelmaan
Hantu siang malam
Aku ketakutan, sayang

Hadirlah kesini...
Hati yang sepi
Sebelum aku mati
Terbunuh silam
Lembah bermata pisau

Lara-lara menetes
Bersama air mata
Kalbuku merindu, sayang
Mengertilah...

Sajak-sajak ini kepedihan
Mengertilah...

Tersenyumlah seperti awal, sayang
Saat kita berkabut sama
Tersenyumlah, sayang
Bahagiakan walau sebentar

10-06-2014

LEMBAH BROMO SILAM (II)

Tarian kabut
Nyanyian angin
Aku berdansa kala itu
Bersama dingin

Sesekali...
Ingatkah kau, kasih
Bisik senyummu
Bisik tatapanmu
Bisikkan tenang kala itu

Selimut malam
Berkamar alam
Lampion bulan
Ingatkah kau, kasih
Aku bercinta sendirian
Dengan anggap
Kau merasakan
Perih bukan?

Aku bercatur
Di papan lembah kepedihan
Bromo hitam putih keromantisan
Salah langkah
Aku mati hingga sekarang

Lembah Bromo silam
Kerikil kecil lukai kaki kisahku
Sejajar waktu kala itu
Aku diam
Mati langkah, diam dan diam

10-06-2014

LEMBAH BROMO SILAM (III)

Kabut...
Kabut...
Kabut...
Skenario berawalan kabut

Jujurlah alam
Kenapa kau datang
Bisakah kabut menghilang

Sudah kuyup berkabut
Padahal hanya...
Bukan hujan lebat

Tak kering
Kabut gugur lagi

Sedari lembah bromo silam
Hingga sekarang di ujung pantai
Masih saja kabut datang

Aku sudah kedinginan
Kabut sebutku, sayang
Mengertilah...

Sudahi sabung hati ini
Damai, sayang
Aku kedinginan
Mata memucat kata
Otak gusar cerita
Hati teramuk rasa

Kabut...
Kabut...
Kabut...
Sebutku kau kabut
Sebab skenario awal adalah kabut
Berhentilah ribut

Ini hati
Bukan markas pejudi
Pasti...
Mengertilah, kabut, sayang

10-06-2014

LEMBAH BROMO SILAM (IV)

Lepas senja
Sehabis menyeduh hangat
Giliran tawa berlaga

Bulan jangan mengintip
Aku sedang bercinta
Berjudul sendiri saja
Meski kekasih ada

Dia pasti ingat

Gelagat mata tertangkap
Saat kucoba menyelinap
Lewat tatap

Dia pasti ingat

Kulukis senyum
Antar jeda kalimat
Saat bercerita lepas

Sudah...
Ini kisah kusam
Lembah bromo silam
Pahit manisnya geram
Marahi masaku sekarang

Hingga kata raib
Dimakan sajak kenangan
Hingga...
Masih saja bisa
Kata bercerita sama

10-06-2014

LEMBAH BROMO SILAM (V)

Kasih...
Tak bisakah seperti dulu?

Jamuan senyum
Puaskan sedihku
Antara gugurnya kabut kala itu

Kasih...
Tak bisakah seperti dulu?

Lucu tingkahmu
Punahkan laraku
Antara amukan angin pegunungan kala itu

Tak bisakah mengerti, kasih?
Hati merongrong rindu
Seperti vulkanik memangsa kakiku
Masih seperti kala itu

Lembah Bromo silam
Kala ia petang
Akulah sekarang

Hadirlah...
Aku kesepian di tengah padang pasir
Hanya gugus bintang terdahulu
Memaksaku tersenyum palsu
Padahal bibir telah kaku
Uraiku, umpama kala itu

Di Lembah Bromo
Silam, menawan
Tak sekarang

10-06-2014

LEMBAH BROMO SILAM (VI)

Nakal
Kau goda aku
Meski niat tak begitu

Lancang
Aku dekap kamu
Meski niat tak begitu

Mendekatlah...
Hatiku mengajakmu
Kenapa kau terlelap di sisiku

Menjauhlah...
Hatiku bingung tentangmu
Kenapa kau menatap mesra kala itu

Lembah bromo silam
Cerita layangan
Terbang tak searah angin

Entah tipu
Entah aku tersipu

Mungkin memang seharusnya
Skenario tipu dan tersipu
Menjelma rindu


10-06-2014

BUMI PARA PETAPA

Panas memangsa
Bersebelah segara
Embun lari secepat kilat
Kala pagi belum tamat

Tanah geram
Sering kehausan
Pelangi bermusuh langit
Tak pernah bercinta

Petang berbintang
Tontonan saban malam
Awan tak berani melawan
Segara mengutus pasukan siluman

Tiga kata sebutku
"Bumi para petapa"

Siang lelapkan dungu
Petang bangunkan kalbu
Petapa berjurus begitu

Hingga berlumut rindu
Petapa gagah beradu
Lawannya serdadu nafsu

Tak usai laga
Panas masih memangsa
Di bumi para petapa


Nurul Jadid, 10-06-2014

TAK BERANGKA

(Sajak Refleksi "KABUT")

Bukan satu hingga sembilan
Tak ada bilangan desimal
Apalagi bulat

Bukan hingga atau tak terhingga
Tak ada rumus tetapan
Aplagi turunan

Bukan sudut atau celcius
Tak ada nol derajat
Apalagi tiga ratus enam puluh penuh

Bukan satuan atau dimensi
Tak ada simbolisasi pasti
Apalagi dimensi dari satuan tadi

Bukan angka
Bukan juga sangka
Pasti dari teori yang tak pasti

Angka-angka alam terabaikan
Tak ada praktikum
Apalagi laporan semu

Ini kasus abstrak
Efeknya jelas
Tak berkelas

Subjek tak selektif
Hukum tubrukan yang tak berangka
Pantul pastilah ada
Begitu mungkin umpama

Hingga gravitasi
Hingga waktu ter-relatifisasi
Hingga kekekalan energi
Hingga gelombang cahaya matahari
Hingga gerak tak beraturan pasti
Semua adalah konstruksi kasus ini
Hanya saja angka digilas mati
Tak berangka


Tanjung, 06:WIB, 07-06-2014

SENJA DI NURUL JADID

Nadham menggertak langit
Kaum sarungan menyambut senja
Di bawah naungan sya'ban
Awan yang sering kelabu

Bersegera kaki-kaki kemulyaan
Mengkaji si lembaran kuning buram
Di rumah Tuhan

Tertib mata tertib telinga
Mendengar kyai menerjemah lafadz
Lalu memperjelas makna
Dalam lembar Fathul Qhorib
Karya Syaikh Muhammad
Putra Qhosim

Ini senja di Nurul Jadid
Menawan bukan?

Senja belum usai
Selanjutnya sabda-sabda Nabi terurai
Dalam lembaran-lembaran kuning
Disebutnya Riyadhus Shalihin
Hikmah demi hikmah
Tersuratlah lembut
Selembut senja menyapa mata
Tersiratlah semua
Tentang makna

Ini senja di Nurul Jadid
Menawan bukan?

Sebelum maghrib menyembunyikan senja
Tafsir Al-qu'an terurailah
Kyai masih mengkaji pelan
Memahamkan...
Mengajarkan...
Lalu pergilah senja
Bersama lantun do'a
Bersama tenangnya Nurul Jadid
Di awal malam

Menawan bukan?
Senja di Nurul Jadid


Depan kantor Wilayah D, PP. Nurul Jadid, 05:00 WIB, 05-06-2014

MATA

Berkaca-kaca
Bercerminlah pada mata ini, sayang
Wajahmu jelas
Sebelum menetes lagi
Lalu kering
Silahkan dieja
Merah kenapa
Hampir tak ber-air mata
Mata dan mata
Sejarah tangisan
Kala kau tersenyum
Bertingkah lucu
Jelas terlukis
Pada mata yang berkaca-kaca
Lalu menjelma
Air mata ...
Sudah kutumpuk semuanya
Dengan wadah kata
Agar mata tak sengsara
Pada suatu ketika
Kala ia merindukannya
Kelak, jika kau tak terlukis dalam mata
Gugur bersama air mata terakhir
Usailah...


05-Juni-2014

SAMPAI ASA TIADA

Tak ada ragu
Mendayu
Hingga sampai waktu

Ini bukan dadu
Asa belum layu

Walau tertatih
Jauh pandang
Masih kekosongan

Sampai asa tiada
Kala hujan
Hingga karam
Dimakan lautan

Begitu analogi roman
Di sela perjalanan

Sampai asa tiada
Bersama takdir sang esa


03-06-2014