ANJING HITAM

Tibalah saat aku bungkam
Melihat mimpi terkatung-katung
Melayang tanpa hempasan angin
Langit yang dulu kau sebut biru
Menghilang begitu saja, sayang

Adakah jawab, kini hanya bisu
Tangisku setiap hari, deras, mutiaraku gugur

Dan hanya puisi mendekapku lembut
Selembut kau menyobek mimpiku sayang

Seekor merpati tersesat di gelap hutan
Gerombolan hiu terdampar di laut dangkal
Aku terbunuh di hatimu sayang

Kemarilah!
Sesaat saja...
Raih darah di mataku
Sebelum raib diminum waktu
Dan kaupun tahu...
Ada anjing hitam ingin menjadi pangeran

Jambesari, 31-07-2014

BARU KEMARIN

;Refleksi di Tanah Kelahiran

Serasa baru kemarin aku bermain layangan
Pohon sengon yang selalu mengganggu terbangnya, memucat
Serasa baru kemarin aku bermain kelereng
Lubang yang selalu kujadikan sasaran, menghilang
Serasa baru kemarin aku dilempari tasbih
Kyai yang menuntunku alif hingga ya’, menua
Serasa baru kemarin aku menjinjing kitab sullam taufiq
Setiap sabtu dan rabu sore kubaca, memburam
Serasa baru kemarin aku menanggalkan jumat dengan bola
Lapangannya kini bersebelah kantor kecamatan, menawan
Serasa baru kemarin ibu mengantarku ke madrasah
Jalan dikerubuti bambu sudah menyempit, tak rapih
Serasa baru kemarin ayah mengajakku ke sawah
Sungai didekatnya sudah tak seramai dulu lagi, sepi
Serasa baru kemarin aku mencari jamur setiap musim hujan
Sekarang sudah tak ada lagi penerusku, berbeda
Serasa baru kemarin aku menyungging ketepel
Juga sudah tak ada penerusku, berbeda
Serasa baru kemarin aku menggantungkan kaleng bekas di ontelku
Berbunyi nyaring di jalan-jalan setapak, hahaha
Serasa baru kemarin deretan cerita yang tak mungkin dalam satu sajak
Tanah lahirku bingkai sejarahku, indah

Serasa baru kemarin saja
Ternyata hidup hanya setangkai bunga
Ingin kita nikmati aromanya atau tidak sama sekali
Ingin kita tanam benihnya atau kita buang

Serasa baru kemarin saja
Ternyata hidup hanya lukisan belaka
Ingin kita hargai atau kita hormati
Ingin kita simpan atau kita pajang

Serasa baru kemarin saja
Lalu bagaimana jika bunga layu dan lukisan pudar
Menyesalkah?

Bondowoso, 29-07-2014

CUKUP GERAI RAMBUT

Dewi Airlangga (18)

Cukup gerai rambutmu
Antara sudut lihat sempit
Meski secepat burung melepas dahaga di danau tak bernama
Cukup dan itu cukup
Temali rindu sedikit lepas
Cukup untuk bernapas puas

Bumi kaisar air mata 26~07~2014

KAU ANTARA ESTETIS DAN MELANKOLIS

Dewi Airlangga (16)

Kau begitu sakral
Hingga aroma dupa kalah
Jangankan aromamu!
Bayangmu adalah mantra
Yang membuatku sakti mandraguna

Kau begitu tangguh
Hingga bagaimana melumpuhkanmu
Jangankan senyummu
Tatapanmu adalah penantian panjang
Yang membuatku sakit merana

Kau begitu ada
Antara estetis dan melankolis
Bagaimana melupakan
Bayangmu memburu ingatan
Yang membuatku sakti lalu sakit berkepanjangan

24-07-2014

SEKARAT MENGHARAP

Dewi Airlangga (15)

Berkabung terlilit asa
Rekah senyum yang tak kunjung tiba
Cari berujung sepi
Setiap senja, Dewi

Tak kau rasakah
Angin menderu pelan di hadapmu
Itu jejakku, Dewi

Aku sekarat
Mata mengharap
Hati mengkarat
Tunggu ini menyakitkan, Dewi

Ada lukisan di istana fiksi
Kenapa selalu kamu, Dewi
Pikirku yang enggan mati

24-07-2014

MEMATA-MATAI KEANGGUNAN

Dewi Airlangga (14)

Diantara pecahan kaca yang rapi
Setiap menjelang maghrib menyanyikan adzan
Raib malasku menelisik anggunmu, dewi
Rerumput yang tak kutahu namanya
Berebut mengganggu mataku
Edan, tak kunjung ku meraih pandangmu
Hingga bagaimana aspal yang kugilas berkata
"tak bosankah Ksatria Air Mata?"
Kenapa harus berwajah dua
Itu hatiku yang berkata
Lelucon basi sudahlah berhenti
Ini gugur rasa dari kahyangan
Suci mengabadikan
Bukankah begitu, dewi?
Dan kaupun masih bungkam
Anggap apalah aku mengemis kebahagiaan
Yang lama pulas di pusara tunggu
Menyakitkan berjudi dengan harapan
Apalagi taruhan adalah kejujuran

19-07-2014

RAMADHAN HARI KE-LIMA BELAS

Telah melewati senja; tadi
Ada anak berlari menjerit
Ada mereka bermandi di sungai yang hampir mati
Ada muda bersimpuh di jembatan
Ada mereka menggonggongkan knalpot pembantai
Ada suara merajai langit
Ada mereka berlantun firman ilahi
Di jalan-jalan tikus pedesaan; tadi

Telah melewati maghrib; tadi
Ada kabar langit
Ada malaikat turun mencari-cari
Ada apakah ini?
Ada jutaan berdiskusi hati hari ini
Ada setan kebingungan dalam jeruji
Ada apakah ini?
Ada manusia bersujud khusuk menyambut mati
Di daratan-daratan islam; tadi

Telah melewati hari ke-lima belas ramadhan; tadi
Ada rindu-rindu terlewat pasti
Ada sesal-sesal kenapa tak berebut baiknya hati
Ada angin gesit menerobos telinga kiri
Ada pesannya singkat sekali
Ada apa kau tak mau perbaiki diri
Di waktu yang mula-mula sadar; tadi

13-07-2014

JAWA POS RADAR BROMO EDISI 13 JULI 2014

JAWA POS RADAR BROMO EDISI 13 JULI 2014

RAMADHAN HARI KESATU

Senja berpulang senyum
Gerimis firman menyejukkan alam
Lalu lalang raga bersuka maghrib sebelum mega
Ramadhan hari pertama
Di bilik bulan termulya, mari bercinta
Belai nikmat sang esa
Surga;

Langit menggema ria
Lantun-lantun sakral berkelana
Memenjara setan-setan petang
Trunlah malaikat Rokib bersibuk pena
Di hari yang masih pertama

Sepertiga malam meminang
Sujud bertemakan suapan
Semoga esok irama puasa menawan
Surga;

Cukup ini hari pertama
Ramadhan;


29-06-2014

RAMADHAN HARI KEDUA

Sedari pagi pena menyapa mata
Menari suka di pentas kuning penuh aksara
Kutangkap suara terlantun dari masjid raya
Sang kyai menyulam makna

Langit mulai menguning
Bibir-bibir mulai mengering
Sabar menyambut matahari terguling

Ramadhan hari kedua
Masih hari para petapa
Kata-kata terjaga
Sikap bersahaja
Hati hati-hatilah saja
Surga;

30-06-2014

RAMADHAN HARI KE-TIGA
Terik menyengat panas
Mendidihlah dosa-dosa
Meleburlah pahala

Tengah siang lemas
Lemahlah nafsu kurang ajar
Letihlah hati berurakan

Yang siang berjuang
Tanduslah mata memandang kemaksiatan
Keringlah mulut melantun ajaran setan

Yang siang tenang
Bertasbihlah dengan bisikan
Bersama angin menerka awan
Ramadhan;

01-07-2014

RAMADHAN HARI KE-EMPAT

Sepertiga malam
Melingkar empat belas orang
Beralas plastik bening,
Sesajen sunah diatasnya;
Tangan-tangan berayun
Meraih pahala-pahala sebelum adzan

Mari bercengkrama Ramadhan
Lingkarkan darah kekeluargaan
Sebelum fajar yang benar

Bintang masih tak hilang
Mari berhitung dosa kelam
Berselingkan senyum kawan

Kemudian;
Bersama butir-butir berputar
Mari tanggalkan malam
Astaghfirullah
Mari berjumpa lagi di lailatul qodar
;Ramadhan

02-07-2014

RAMADHAN HARI KE-EMPAT BELAS

Membasah sudah si tandus gersang
Semusim panas selesai
Bumi tapaku tersenyum girang
Aroma debu menyeruak gusar

;Di tengah ramadhan

Grombolan serdadu kerajaan awan datang
Membantai separuh panas
Menyelamatkan tawanan yang kelaparan
Malam mengharukan kawan
Aku menyaksikan terkagum diam

;Masih

Lalu bagaimana hati yang gersang
Sudahkah demikian

;Di tengah ramadhan

12-07-2014

ILUSI KAISAR AIR MATA

Dewi Airlangga (13)

;Kaisar Air Mata
Pejamkan matamu
Kabut tipis turun menyapa pagi
Mentari mengundangmu bernyanyi sepi
Rindang hijau daun menari pelan
Mengikuti sepoinya angin pegunungan

Rasakan di hatimu
Dewi Airlangga menghaturkan senyuman
Mata indahnya memandangmu selembut awan

;Kaisar Air Mata
Angkatlah tanganmu
Besitkan seuntai doa suci
Tuhanmu tak tuli pun tak mati
Khusuklah bersama kesejukan alam
Belailah Dewi Airlangga dalam harapan

Rasakan di hatimu
Dewi Airlangga mengerang kedinginan
Peluklah jika kemudian ia membutuhkan

;Dewi Airlangga
Entah apa yang akan kau perikan?

Bumi Kaisar Air Mata, 12-07-2014

RAMADHAN HARI KE-TIGA BELAS

Bulan hampir sempurna, setan-setan belum merdeka, di jeruji masa-masa nasi membasi, dua hari kemudian witir menambah qunut dalam bacaan, tiga hari kemudian nudzulul quran dirayakan.

;Ramadhan

Pohon-pohon dosa belum tumbang, alquran belum sekalipun hatam, iman digerogoti ulat kemalasan, hingga semoga tak membusuk, Astaghfirullah dalam sajak ke-tiga belas, semoga tak Kau laknat.

;Ramadhan

Peluh lapar setelah fajar, tenggorokan mengering kehausan, rangkullah ikhlas biar tak sia-sia, terimalah sembahku Tuhan, hingga jika hati berkarat, mata terlaknat, mulut khianat, telinga bermaksiat; ampunilah.

;Ramadhan

Allahumma taqobbal minna sholatanaa washiamanaa waqiroatanaa warukuanaa wasujudanaa waqu'udanaa watasbihanaa watahlilanaa wathadorruana wakhusuanaa yaa ilahil aalamin; amin.

11-07-2014

RAMADHAN HARI KE-DUA BELAS

Diam
Terpejam
Petang
Lalu rasakan senja memanja

Kuncup akan mekar
Setelah adzan menggema lantang

Diam
Rasakan
Kenyang
Lalu Tuhan memanja kita

Miskin telah terasakan
Setelahnya kita bagaiamana

Diam
Pikirkan
Tenang
Lalu nyatakanlah celetuk hati

10-07-2014

RAMADHAN HARI KE-SEBELAS

;Tim samba tergilas
Ramadhan-pun tertindas
Senyap sahur lalu berpesta untung
Meja-meja judi terbuka berduyun-duyun
Hingga air mata membanjiri subuh
Selesai

;Prabowo-Joko Widodo adu sikut
Ramadhan-pun tersudut
Terik siang lalu saling kecam
TPS-TPS permainan terbuka sakral
Hingga media bersabung kemenangan
Belum usai

;Ramadhan hari ke-sebelas
Antara menang dan kehormatan
Sudikah hati kembali tenang
Lalu sadar harga mati kehidupan
Skenario sudah ditetapkan
Selesai

09-07-2014

RAMADHAN HARI KE-SEPULUH

;tadarrus
Salahkan yang salah
Antrilah dengan kepastian
Bersabarlah memperhatikan

Ada bibir melantun indah
Ada pula berantakan
Hargailah perbedaan

;kemudian
Rayakan kebersamaan

Begitu, mungkin baiknya kehidupan
;di balik tadarrus malam

08,07,2014

SURAT KACA

Dewi Airlangga (12)

Bukan lewat merpati
Secarik surat tak berkertas kupersembahkan

Berlayar warna pecahan pelangi
Kususun rapi karyaku yang basi

Silahkan kau nikmati Dewi

Aku masih manis di kursi sunyi
Masih memangku mimpi

08-07-2014

RAMADHAN HARI KE-SEMBILAN

Hujan merangkul lapar
Di trotoar pinggiran aspal
Diusik robot-robot tak berkaki
Bising menghardik ilusi
Sampai disini, aku mengajak alam berdiskusi
Antara lapar dan rahasia di balik menghargai
Saatn raga-raga mereka santai bersama secangkir kopi

07-07-2014

MERANA DALAM ANGKA

Dewi Airlangga (11)

;Di kediaman 05:12 wib
Dulu kau lahap menggodaku

;Di ketinggian 2.329 m dpl
Dulu kau hisap naluri priaku

;Di suhu antara 0-10 derajat celsius
Dulu kau gerogoti liarku

;Di hamparan angka pasti
Sekarang berujung tak pasti

;Di sini Dewi Airlangga
Sekarang angka memaksaku merana

07-07-2014

RAMADHAN HARI KE-DELAPAN

;Kemeja hitam
Kerah berwarna abu-abu bongkar pasang
Sepertinya akan menawan
Selanjutnya di hari kemenangan

;Kopyah hitam
Sudah berkarat ke-kuning-kuningan
Sepertinya petaka datang
Selanjutnya penampilan adalah ukuran

;Ramadhan hitam
Hati tetap berbaju kusut berantakan
Sepertinya bukan lagi persoalan
Selanjutnya yang terpenting kegagahan

;Sungguh hitam
Ada apa ini Ramadahan
Sepertinya semua telah menghitam
Selanjutnya di perpisahan, Ramadhan

06-07-2014

RAMADHAN HARI KE-TUJUH

;Berkecamuk dusta
Entah bagaimana
Ini dosa untuk selamatkan jiwa

;Padang teatrikal
Kala ramadhan
Ijinkan aku berdosa sekali saja
Demi surga mereka

;Topeng putih berkedok
Rupa-rupa penyempurna
Biar paras ini me-malaikat
;Pura

05-07-2014

KUMBANG DI DEPAN SEBUAH ISTANA

Dewi Airlangga (10)

;Istanamu
Setelah mega disembunyikan bintang
Dimana kau dewi

;Pulangkah
Kumata-matai di depan gerbang
Tak kunjung kelihatan

;Sekali pandang saja
Biar rindu tak melapuk
Dalam kisah yang tak bertepuk

;Kumbang malam
Adalah aku terbang tergopoh
Di depan istanamu sayang

05-07-2014

RAMADHAN HARI KE-ENAM

Aku tak menulis
Tergilis

04-07-2014

SETANGKAI BUNGA KATA; UNTUK SAHABATKU

;Sudah lama sahabatku
Rekah senyummu bersembunyi

;Petang ini
Diantara lilin tadarus
Kau mengecup bahagiaku kembali

;Kemari sahabatku
Ini setangkai bunga kata
Telah kulilitkan tali silaturrohmi
Juga pita merah simbol juang kita yang terperikan

;Jangan bungkam lagi
Ini aku berpuisi
Tentang untaian duri yang kumiliki
Karena aku bosan menyakiti

;Sedari ini
Mari berpuisi segubuk lagi
Biar sama-sama ber-dingin ilusi
Mimpi yang kau ajari

;Cukup setangkai bunga kata ini
Nyaliku memelukmu sahabatku

03-07-2014

RAMADHAN HARI KE-LIMA

Ke pusaralah jahatku
Di karpet merah
Kuhaturkan dirimu

Barisan istighfar
Kuhaturkan tuk mengarakmu

Konvoi dzikir
Menjulangkan bendera laailaha illallah
Juga untuk menghaturkanmu

Pusaramu telah terhias lampu
Betahlah disitu
Aku melepasmu

Hingga jika kau berniat keluar nanti
Maka harap hati
Aku bukan tuanmu lagi

03-07-2014

LUKA HITAM

Dewi Airlangga (9)

Luka semalam mebekas sakral
Seperti aroma luban
Mistis menghardik logis

Hingga siang membekap petang
Tetap saja,
Hitam.

03-07-2014

CEMBURU

Dewi Airlangga (8)

Aku menangis lagi
Digilas Dewi sedang bermesra
Di bilik dunia biru
Tempat kutelisik kabarnya

Mau bagaimana mata ini
Ikuti saja ritme hati

03-07-2014

RAMADHAN HARI KE-EMPAT

Sepertiga malam
Melingkar empat belas orang
Beralas plastik bening,
Sesajen sunah diatasnya;
Tangan-tangan berayun
Meraih pahala-pahala sebelum adzan

Mari bercengkrama Ramadhan
Lingkarkan darah kekeluargaan
Sebelum fajar yang benar

Bintang masih tak hilang
Mari berhitung dosa kelam
Berselingkan senyum kawan

Kemudian;
Bersama butir-butir berputar
Mari tanggalkan malam
Astaghfirullah
Mari berjumpa lagi di lailatul qodar
;Ramadhan

02-07-2014

PELAN SEPI

Dewi Airlangga (7)

Masih berjalan satu kaki
Pelan;

Masih bertepuk satu tangan
Sepi;

Tersenyum saja karena keduanya
Dewi Airlangga;
Pelan dan sepi kubuat tertawa

Dengar saja rintih suara
Dewi Airlangga;
Pelan dan sepi kubuat terbahak lama

Tatap saja bengkak mata
Dewi Airlangga;
Pelan dan sepi kubuat tertawa terbahak lama

La... la... la...
Na... na... na...
Akh...
Begitu aku menyanyi saja
Kau... kau... kau...
Dewi... Airlangga...
Atau...
Berpuisi saja
Sembari nikmati pelan dan sepi jiwa

02-07-2014

RAMADHAN HARI KE-TIGA

Terik menyengat panas
Mendidihlah dosa-dosa
Meleburlah pahala

Tengah siang lemas
Lemahlah nafsu kurang ajar
Letihlah hati berurakan

Yang siang berjuang
Tanduslah mata memandang kemaksiatan
Keringlah mulut melantun ajaran setan

Yang siang tenang
Bertasbihlah dengan bisikan
Bersama angin menerka awan
Ramadhan;

01-07-2014

KERIS

Dewi Airlangga (6)

;keris

Kau sungging bak raja
Matamu mengajakku bercinta
Kau memeluk beriring suara gamelan malam
Antara pipi dan mata yang kau belai
Kau menatap sayang
Dan keris; menggorok jantungku pelan

;keris
Aku kaisar ber-air mata
;keris
Kau Dewi Airlangga
;keris
Mati berbau bunga
Mati berbau bangkai
Matiku yang kesekian angka
Suri;

01-07-2014