BARU KEMARIN

;Refleksi di Tanah Kelahiran

Serasa baru kemarin aku bermain layangan
Pohon sengon yang selalu mengganggu terbangnya, memucat
Serasa baru kemarin aku bermain kelereng
Lubang yang selalu kujadikan sasaran, menghilang
Serasa baru kemarin aku dilempari tasbih
Kyai yang menuntunku alif hingga ya’, menua
Serasa baru kemarin aku menjinjing kitab sullam taufiq
Setiap sabtu dan rabu sore kubaca, memburam
Serasa baru kemarin aku menanggalkan jumat dengan bola
Lapangannya kini bersebelah kantor kecamatan, menawan
Serasa baru kemarin ibu mengantarku ke madrasah
Jalan dikerubuti bambu sudah menyempit, tak rapih
Serasa baru kemarin ayah mengajakku ke sawah
Sungai didekatnya sudah tak seramai dulu lagi, sepi
Serasa baru kemarin aku mencari jamur setiap musim hujan
Sekarang sudah tak ada lagi penerusku, berbeda
Serasa baru kemarin aku menyungging ketepel
Juga sudah tak ada penerusku, berbeda
Serasa baru kemarin aku menggantungkan kaleng bekas di ontelku
Berbunyi nyaring di jalan-jalan setapak, hahaha
Serasa baru kemarin deretan cerita yang tak mungkin dalam satu sajak
Tanah lahirku bingkai sejarahku, indah

Serasa baru kemarin saja
Ternyata hidup hanya setangkai bunga
Ingin kita nikmati aromanya atau tidak sama sekali
Ingin kita tanam benihnya atau kita buang

Serasa baru kemarin saja
Ternyata hidup hanya lukisan belaka
Ingin kita hargai atau kita hormati
Ingin kita simpan atau kita pajang

Serasa baru kemarin saja
Lalu bagaimana jika bunga layu dan lukisan pudar
Menyesalkah?

Bondowoso, 29-07-2014