MEMATA-MATAI KEANGGUNAN

Dewi Airlangga (14)

Diantara pecahan kaca yang rapi
Setiap menjelang maghrib menyanyikan adzan
Raib malasku menelisik anggunmu, dewi
Rerumput yang tak kutahu namanya
Berebut mengganggu mataku
Edan, tak kunjung ku meraih pandangmu
Hingga bagaimana aspal yang kugilas berkata
"tak bosankah Ksatria Air Mata?"
Kenapa harus berwajah dua
Itu hatiku yang berkata
Lelucon basi sudahlah berhenti
Ini gugur rasa dari kahyangan
Suci mengabadikan
Bukankah begitu, dewi?
Dan kaupun masih bungkam
Anggap apalah aku mengemis kebahagiaan
Yang lama pulas di pusara tunggu
Menyakitkan berjudi dengan harapan
Apalagi taruhan adalah kejujuran

19-07-2014