JIKA MAKA

Dewi Airlangga (20)

Jika maka
Maka jika
Kuhapus kau di pahatan sukma

Jika maka
Maka jika
Kutinggalkan kau di puisi lama

Jika maka
Maka jika
Jika maka
Maka tak bisa begitu saja

Jika dan jika
Maka dan maka
Sayangnya hanya ada satu jika
Pun satu maka

Maka aku tak bisa

29-08-2014

TENTANG AKU DIAM

Antara gerak daun meliuk pasrah
Angin menyeruak santai tenang
Aku diam

Disana kau bertingkah
Dentum suara merayap pelan
Aku diam

Geram hati melangkah
Gerutu mata hanya memandang
Aku diam

Senyap telinga merekah
Segesit cahaya selagi senang
Aku melangkah

Aku diam
Kumuseumkan dulu sebentar
Aku melangkah, sayang

18-08-2014

IBU; AKU ANAKMU

Cakrawala malam membentang berbintang kilau
Jauh lebih indah kilaumu ibu
Menghiasi jenuhku menyinari petangku

Samudra biru menghampar berombak menawan
Jauh lebih menawan hamparan kasihmu ibu
Mewarnai hidupku menenggelamkan laraku

Seperti gugur hujan di gurun sahara
Aku tanah yang teramat bahagia
Kasihmu deras menyirami tandusku ibu

Seperti pelangi di balik sungai karama
Aku hutan yang teramat bersuka ria
Tujuh warna menyapa rimbaku ibu

Seperti apalagi kujadikan umpama
Indah keseimbangan semesta telah menjelma sama
Adalah keindahan kasihmu ibu

Seperti apalagi kugambarkan cinta
Indah romansa para pujangga telah menyatu sama
Adalah keindahan cintamu ibu

Teramat sering kugugurkan air mata sucimu
Justru kau berikan aku rekah senyummu

Teramat sering kusayat hati ikhlasmu
Justru kau haturkan aku darah juangmu

Ibu...
Maafkan anakmu terlalu sering mengobar pilu
Masih ingin bersimpuh aku di telapak kakimu
Mengharap naungan di panas matahari sejengkal yang akan berlalu

Maafkan anakmu ibu...
Terlalu sering kuabaikan rambu nasehatmu
Masih ingin bermandi di telaga kasihmu
Mengharap kesucian di kala aku berangkat menghitung dosa-dosaku

Ibu...
Gemuruh siang senyapnya malam
Gemercik air wudhu’ yang kau jatuhkan
Aku masih ingin disana ibu

Amukan badai tenangnya awan
Lantun doa yang selalu kau haturkan
Aku masih ingin disana ibu

Ibu... Ibu... Ibu...
Begitu aku seharusnya menyebutmu
Hingga tak berbatas waktu
Karena aku adalah anakmu

Jambisari, Bondowoso, 07-08-2014

SAJAK UNTUK TUHAN

Waktu terlewat begitu cepat
Matahari lalu bulan lalu menghilang
Hitam lalu putih lalu rontok perlahan
Kencang lalu kriput lalu begitu cepat berlalu
Kemana waktu untuk Kau Tuhan

Terlampau sering bercinta dengan mawar
Aku lupa batangnya berduri tajam
Hingga terluka lalu aku tersadar
Maafkan, aku lalai peringatanMu Tuhan

Waktu terlewat begitu cepat
Menangis lalu gersang lalu gerimis
Ganjil lalu genap lalu puluhan tergapai
Satu lalu dua lalu satu persatu copot bergiliran
Kemana waktu menghamba kepada Kau Tuhan

Terlampau sering melukis tentang alam
Aku lupa catnya menciprat berantakan
Hingga ternoda lalu aku tersadar
Maafkan, aku lalai peringatanMu Tuhan

Searoma wewangian surga
Sajak ini kuhaturkan waktu yang berisikan dosa
Lalu maafkanlah wahai Tuhanku yang esa

04-08-2014

PESAN DARI AWAN

Asap belerang menyapa awan
Danau hijau indah ditawan pandang

Langit membiru terang
Ada samudra di atas awan
Raga digenggam dingin wahai kawan

Ini pesan dari awan
Ternyata Tuhan sang maha seniman

Kawan...
Kemarilah kau kuundang
Jangan membatu terkurung setan
Ayat-ayat Tuhan bertebar menerangi petang
Mewarnai terang

Begitu saja...
Pesan dari awan yang teruntukku tertitipkan

Kawah Ijen, Sekitar 07:00 WIB, 03-08-2014

TENTANG PETUALANGAN INI

Bernyanyi menari bersenang-senang
Api unggun aku kuasa kau kupegang
Lihatlah para penjaga bintang
Malam telah kutantang

Gerimis kabut menerka geram
Laju angin menghantam garang
Aku tak takut...
Silahkan kalian serang

Ini jalan surga petualang
Menelisik kode Tuhan di kegagahan alam

Peluh masih kusimpan dalam dingin
Gemerincing otak masi bening
Apalagi hati bersulam dzikir

Malaikat petang kemarilah kuajak kau berdansa lirih
Tentang setan-setan yang mula-mula bernyanyi sedih

Berteriak api-api
Membakar nyaliku bermain api
Di petualangan ini mari berteka-teki

Kawah Ijen, Sekitar 22:00 WIB, 02-08-2014

SI JANDA; DIMANA AIR MATAMU?

Keras...
Aliran hidup ini keras
Seperti menghantam batu-batu di hilir sungai brantas

Umpama Si Janda
Penipu hidung belang entah kemana
Ditelan mulut setan berkaki dua

Sedari berkepala tiga
Hingga kriput selimuti janda
Entah dimana air matanya bertapa

Kala siang disiksa matahari
Kala malam dibelai sepi
Si Janda begitu saja saban hari

Hingga rambut berwarna tiga
Entah dimana?
Masih tak sempat ku sapa air matanya

Lalu andai aku berjumpa
Sapaku berkalimat sederhana
"Aku mengagumimu wahai air mata"

Bondowoso, 01-08-2014

SUARA ITU

Dewi Airlangga (19)

Seperti terbang
Kudengar suara dari langit petang
Tak berani aku melawan

Terbunuh sudah
Terbakar raga kala dingin mencambuk garang

Gusar mencekam
Suara itu sakral menawan
Aku terhunus tutur pedang

01-08-2014