IBU; AKU ANAKMU

Cakrawala malam membentang berbintang kilau
Jauh lebih indah kilaumu ibu
Menghiasi jenuhku menyinari petangku

Samudra biru menghampar berombak menawan
Jauh lebih menawan hamparan kasihmu ibu
Mewarnai hidupku menenggelamkan laraku

Seperti gugur hujan di gurun sahara
Aku tanah yang teramat bahagia
Kasihmu deras menyirami tandusku ibu

Seperti pelangi di balik sungai karama
Aku hutan yang teramat bersuka ria
Tujuh warna menyapa rimbaku ibu

Seperti apalagi kujadikan umpama
Indah keseimbangan semesta telah menjelma sama
Adalah keindahan kasihmu ibu

Seperti apalagi kugambarkan cinta
Indah romansa para pujangga telah menyatu sama
Adalah keindahan cintamu ibu

Teramat sering kugugurkan air mata sucimu
Justru kau berikan aku rekah senyummu

Teramat sering kusayat hati ikhlasmu
Justru kau haturkan aku darah juangmu

Ibu...
Maafkan anakmu terlalu sering mengobar pilu
Masih ingin bersimpuh aku di telapak kakimu
Mengharap naungan di panas matahari sejengkal yang akan berlalu

Maafkan anakmu ibu...
Terlalu sering kuabaikan rambu nasehatmu
Masih ingin bermandi di telaga kasihmu
Mengharap kesucian di kala aku berangkat menghitung dosa-dosaku

Ibu...
Gemuruh siang senyapnya malam
Gemercik air wudhu’ yang kau jatuhkan
Aku masih ingin disana ibu

Amukan badai tenangnya awan
Lantun doa yang selalu kau haturkan
Aku masih ingin disana ibu

Ibu... Ibu... Ibu...
Begitu aku seharusnya menyebutmu
Hingga tak berbatas waktu
Karena aku adalah anakmu

Jambisari, Bondowoso, 07-08-2014