SKENARIO YANG TERLEWATKAN

Dewi Airlangga (23)

Skenario yang mana yang aku terlewatkan
Sedari kemarin namamu mengaung berkeliaran
Telingaku entahlah bagaimana
Diamuk gemuruh yang tak tahuku dari mana
Sudahkah kau mendengarnya pula
Suara aung yang memangsa ketiadaan kita


30-09-2014

SAJAK UNTUK MAS RENDRA

Sudah sekitar empat tahun
Kau bercumbu dengan matimu Mas Rendra

6 Agustus 2009
Begitu kubaca waktu tetapmu meninggalkan dunia
Lewat halaman buku sebelum sampul belakang
Begitu pula aku mengenalmu

Mas Rendra
Aku terpukau renungi sajak-sajakmu
Apalagi di sajak terakhir yang kau tuliskan
Meneteskah air mata kala itu?

Aku yakin
Kau bukan hanya berpuisi
Hembusan ketuhanan dari sajakmu bukan lagi ilusi
Itu tinggi, Mas Rendra

Pertanyaanku...
Apakah kau sudah tahu bahwa kau akan mati?
Dan itu sajak terakhirmu yang suci?
Untuk siapa kau berpuisi?
Dan berjuta tanya lagi

Mas Rendra
Sedang apa kau sekarang disana?
Apakah kau sedang berpuisi
Menggoda malaikat-malaikat kematian
Atau...
Kau sedang membacakan puisi-puisi jadulmu
Hasil jerih pikir dan rasamu kala di bumi ini
Atau...
Kau sedang menyeduh kopi
Sebatang rokok di tangan kiri
Sebuah pena di tangan kanan
Dan kau sedang menulis persaksian hidup yang sebentar
Atau...
Aku tak tahu lagi
Tapi kira-kira begini
Jika dicerminkan dari sajak terakhirmu yang terperi
Yakinku kau sedang bersenang hati

Mas Rendra.. Mas Rendra...
Begini saja sajakku yang tak semenawan punyamu

Dan seperti akhir sajakmu yang berjudul "He, Remco"
Kubaitkan dengan sedikit aco
"He, Mas Rendra
Rokokku habis
Boleh aku minta sebatang dari kamu"

Probolinggo, 29-09-2014

HUJAN TAPI

Bukan Rendra, Tapi inilah aku adanya
Bukan Gibran, Tapi inilah aku yang tak menawan
Bukan Iwan Fals, Tapi inilah aku si pemalas

Memang bukan
Tapi doa selalu termantrakan
Ingin raga bukan sekadar pahatan
Ingin otak bukan sekadar pajangan
Ingin hati bukan sekadar gumpalan

Memang bukan
Tapi dan tapi dan tapi
Aku banyak tapi yang bisa kujadikan hujan

Probolinggo, 29-09-2014

DIBACANYA ASA

Dewi Airlangga (22)

Dari huruf
Dan kata terangkai
Kalimat telah kupaham

Terima kasih kau menoleh
Dan sajadah kembali terhampar
Bersama doa yang kesekian
Dan cinta yang tak butuh ikatan

Hingga waktu membatu
Otak kosong tentangmu
Hati pun begitu
Sampai saat yang seperti itu

Aku berdiri menatapmu
Bersorban asa

24-09-2014

PERAWAN I-V

PERAWAN (I)

Dari bumi yang kusebut rindu
Aku melihat perawan seperti Elang
Matanya tajam memandang
Seperti ingin memangsa sendiriku

Aku yang berdiri tegap membisu
Mata beradu Elang berputar lapar
Sayapnya membentang geram
Seperti ingin menyeret ragaku

Dari bumi yang kusebut rindu
Aku melihat harapan seperti langit siang
Birunya kedamaian
Seperti ingin melindungiku

Aku yang gersang menghitam
Pori beradu panas menyengat lahap
Terangnya terhampar lepas
Seperti ingin menyinari jiwaku

Dari bumi yang kusebut rindu
Aku melihat perawan di bentang harapan
Tersenyum lalu diam
Diam lalu diam yang kusebut pertanyaan

Probolinggo, 21-09-2014

PERAWAN (II)

Mendekatlah perawan
Musim telah hampir hujan
Kegersangan akan segera usai
Kau pasti kedinginan
Mendekatlah
Jika tiba peluklah segera

Aku ada sebiji benih bunga
Jika tiba mari tanam bersama
Di lahan sejengkal yang kupunya
Bukan Edelwise tapi cukuplah hingga umur senja
Bukan Melati tapi cukuplah untuk meromantiskan hati
Maka mendekatlah perawan
Sebelum hujan pertama datang

Probolinggo, 22-09-2014

PERAWAN (III)

Bunga bersari emas
Berikan untukku
Ingin kurangkai menjadi mahkota

Bunga bertangkai baja
Berikan untukku
Ingin kuasah menjadi pedang

Wahai perawan
Kau yang bersari dan bertangkai
Kabulkan kalbuku
Pintaku di bait lalu

Aku pasti gagah
Mahkota di kepala
Pedang tersungging wibawa
Lalu kurajai semua denganmu, perawan

Probolinggo, 23-09-2014

PERAWAN (IV)

Ada sebuah cincin di jiwaku
Maukah kau menjadi empunya
Ia melingkar berkilau iman
Bermuka berlian keanggunan

Jika kau mau
Kemarilah dengan tersenyum malu
Beriaslah kesederhanaan dan kejujuran

Jika sudah
Jemarimu yang masih memerah
Telapak tanganmu yang masih tersering basah
Kucumbu sebentar
Dan kuberikan cincinku yang tak berpasang

Bondowoso, 24-09-2014

PERAWAN (V)

Kueja keningmu yang masih tak berkerut
Esok pasti disana kau kukecup

Kukaji pundakmu yang masih lurus
Esok pasti disana kau kupeluk

Sebelum esok itu
Pasrahlah kau kusanjung mesra
Lewat seluas umpama
Tentang menawanmu yang setara jagat raya

Bondowoso, 25-09-2014


SUDIKAH

*Untuk Dewi Airlangga

Kala angin diterpa dingin
Kala api dibakar panasnya sendiri
Kala ini aku bunuh diri

Sudikah...
Kau datang sebelum hujan
Bak pelangi melengkung dermawan
Haturkan indahnya tanpa alasan
Dan aku tak bunuh diri lagi

Sudikah...
Kau datang sebelum siang
Bak pagi berembun keteduhan
Gugurnya lembut tanpa kepedihan
Dan aku tak bunuh diri lagi

Sudikah...
Jika tak sudi aku bunuh diri lagi
Hingga mati yang kesekian kali
Tanpa kubur
Tanpa nisan
Tanpa kafan

Bumi Kaisar Air Mata, Tanjung, 20-09-2014

BAYANG DAN DZIKIR SUBUH

Bayang... bayang...
Fajar kabur di kejar subuh
Bintang hilang ditinggalkan petang
Tapi bayang lekas-lekas datang
Kunang-kunang lenyap dipulangkan malam
Kelelawar membuta bergelantungan
Tapi bayang terang berdatangan
Bunga sedap malam waktunya tidur
Tapi bayang bangun menggempur
Sewaktu bersama dzikir subuh
Begitu bayang muncul
Bayang.... bayang....
Dan rinduku tak berpulang

20-09-2014

DEWI SENJA DI WAKTU PAGI

Dewi Airlangga (21)

Dewi bergaun senja
Rambut dililit pelangi
Berdiri anggun di muka istana
Debu kegersangan terbang menari
Begitu kala pagi ini menatap terik mentari

Sedang ksatria air mata ceritanya begini
Kuda tunggangnya merayap cepat
Habis si anak panah
Busur hanya simbol kegagahan yang lenyap

Sejurus waktu
Tak lebih sedetik mata beradu tatap
Badai berontak menghancurkan niat
Ksatria air mata lupa tentang melupakan dewi airlangga

14-09-2014

IS LIKE WIND

Is like wind
I wanna win again
Hold you before rain
Keeping your hair
Make it dance nicely
Keeping your smile
Make it perfectly
Is like wind
I don't wanna stop my walking
Walk to what i feel
Walk to where i have to be there
Is like wind
To the north is true
To the east is true
No wrong way to love you
Is like wind
So, please dont distrub me to fly
When i would die i will see beautiful sky
Then i say good bye

13-09-2014

KUCATAT MALAM

Setangkai asap rokok kuhaturkan untukmu malam
Otak yang kau caci
Hati yang kau usik kini
Asap ini terima kasihku
Mari bersulang denganku
Dengan secangkir kopi basi
Sambil menunggu pagi
Malam...
Kau musuh menghantam nyali
Kala kau datang selalu teka teki
Ilusi, mimpi, misteri, inspirasi dan sejagat harapan menghampiri
Entah?
Angin yang kau utus
Petang yang kau sulam
Sunyi yang kau rangkai
Juga bisikan yang kau lirihkan
Mengundangku sibuk berdialog dengan kehidupan
Hingga pucat mataku
Memutih rambutku
Kering bibirku
Mengkerut kulitku
Kau masih sama memperlakukanku
Sudahlah tapi tak sudah
Usailah tapi tak usai
Teramat banyak telah terperikan di kertas-kertas masa lalu
Tapi tetaplah begitu
Setiap bahasan adalah semu
Cita pun cinta
Dosa pun begitu seterusnya
Sudahlah sementara
Usailah sementara
Mari merokok lagi
Mari minum kopi lagi
Esok, malam pasti kembali
Dan akan seperti ini lagi

00:43 12-09-2014

05:12 : AWAL MATA KEMUDIAN BERAIR

Ini waktu
Saat dewi-dewi menghaturkan kabut
Saat malaikat subuh mengutus dingin
Saat kultus hati dibacakan
Di atas serigala berbadan istana

Ini waktu

Saat mata merangkai rasa
Saat bibir diam yang berkata

Awal kemudian seperti judul
Waktu ini

09 September 2014

PAGI DAN SEBUAH MISTERI

Kenapa dengan pagi?
Pipit-pipit berkicau menggoda bumi
Debu-debu diam tak ribut berkelahi
Rumput-rumput mekar tersenyum lebar
Bunga-bunga merekah kecantikan
Angin-angin senang melayang santai
Anak-anak bermain-main kegirangan
Tua-tua melalap umur menjadi muda
Muda-muda bergerilya berebut dingin sebelum cahaya
Kenapa dengan pagi?

Mentari tak garang bukan?

Sungai mengepul segar
Ikan-ikannya bersenda gurau antara bebatuan
Segara pun beralun pelan
Perahu-perahu layar menari di kejauhan
Si empunya sibuk bernyanyi untuk kebahagiaan
Kenapa dengan pagi?

Apakah malaikat ketenangan hijrah ke bumi?

Secangkir kopi dengan racikan sendiri
Atau secangkir teh yang siap kita nikmati
Mari bersamanya renungkanlah misteri
Kenapa pagi seperti ini?

02-09-2014