TAK MUDAH

Dewi Airlangga (27)
Tak semudah kemarau lalu hujan
Tak semudah itu Dewi
Tumbuh lalu gugur
Juga tak semudah itu
Apalagi angin lalu tenang
Tak semudah itu juga
Hati tak bernafas
30-10-2014

DI MISTIK DI

Di bawah cibiran manusia yang kata sendiri sempurna ini, Aku diam
Di bawah senyuman manusia yang kata orang sempurna ini, Aku hormat
Di bawah senyuman manusia yang kata sendiri sempurna ini, Aku jijik
Di bawah cibiran manusia yang kata orang sempurna ini, Aku patuh
Di atas aku harus mencibir dan tersenyum, Aku bodoh
Di atas aku kadang lupa dibawah ada saatnya, Aku kurang ajar bukan?
Di atas aku ini apa, Aku sadarlah
Di bawah aku ini bagaimana, Aku bijaklah
Di atas aku di bawahlah
Di bawah aku di ataslah
Di, bukannya hanya masalah posisi, Aku bodoh
Di, dua huruf tapi masih saja aku berdalih sakti, Aku sombong
Di, dimanakah mengkaji diri bertepi, Aku mati?
Di, hanya Di, dan akhirnya berakhir di Di, Aku abadi

Tanjung, Jam 0:44 WIB, 28-10-2014

PEMBAGIAN DOSA

) Pembagi dosa berkata, begini
Ini dosamu si penari lidah
Ini dosamu si hamba sombong
Ini dosamu si tangan panjang
Ini dosamu si pemakan tanah
Ini dosamu si dan si dan si setan

) Penyair dosa berkata, begini
Dosamu mana?
Jika kau tak punya
Mari kuberi meski sehujat dosa
Aku punya segudang dosa yang kubingkai kata

) Penerima dosa berkata, begini
Terima kasih untuk dosanya
Jika kelak kau butuh
Maka tak keberatan kumengembalikannya

) Penyair dosa berkata, begini
Akh, akur sekali kita para pendosa

) Tuhan berkata, ?

) Pembagi dosa, Penyair dosa dan Penerima dosa berkata, begini
Apa kata Tuhan?
Pasti DIA bilang, "Kamu penghuni surga"

) Dosa berkata, begini
Kalian bodoh

Jambesari, Jumat 13:35, 24-10-2014

MUHARRAM VERSI DESAKU

Senja kemudian berbaring ke ufuk barat
Sebelum itu adalah yang akan kuceritakan
Karena maghrib nanti adalah tahun baruku berpijak kehidupan

Awal cerita
Suara Drum Band bersabung angin kemarau
Tertangkap telinga lalu beranjakku menuju lorong
Sekejap demi sepintas saja
Kulihat iringan motor bergerilya arak-arakan
Knalpot-knalpotnya berteriak kegirangan
Waaah, ini karnafal...

Kupersingkat cepat lekas kuberdiri dipinggir aspal
Seorang mayoret menyambut dengan kepiawayan memainkan tongkat
Entah, apalah namanya aku tak paham
Lenggak-lenggok mengatur nada tabuh puluhan mata suara
Waaah, ini luar biasa...

Tak usai
Iring-iringan masih beradu
Satu persatu kuperhatikan
Puluhan santri berbaris ria
Aku tahu persis apa yang sedang mereka rasa
Karena dulu aku sempat menjadi lakon juga
Seperti artis di karpet merah
Betapa bahagia aku kala itu
Begitu kulihat raut wajah mereka yang masih lugu

Masih belum usai
Di baris selanjutnya aku kembali terpana
Para kaum sarungan kecil dikawal ibu-ibunya
Ada kopyah miring
Bedak setebal satu mili meter
Ada wajah-wajah mungil mereka yang bercumbu malu tartawa
Aku pun tahu persis apa yang sedang mereka rasa
Karena dulu aku juga sempat menjadi aktor peraga
Waaah, aku seperti kembali ke umur dini saja
Kala otakku masih berbau suka

Akh, sudahlah
Ini kuberitahu
Ini semua Muharram versi desaku
Dan masih terlalu indah untuk dibiarkan berlalu

Jambesari, Jumat 18:wib, 24-10-2014

TANGIS MENANGISI TANGISAN

Dewi airlangga (26)

Mari kutangisi
Hingga tangis menangisi tangisan
Menangislah tangis
Ditetes terakhir tangisan
Tangis tetaplah menangisi keindahan
Maka Mari lihatlah aku menangis, sayang

Bondowoso, 22-10-2014

TIGA SAJAK SPASI*

#Indonesia Spasi Rayaku

Indonesia rayaku
Mari bersatu hapuslah spasi antar suku
Antar agama, antar ras, antar semua yang sebabkan kita saling adu peluru

Indonesia rayaku
Kau raya dengan spasi kau tak berdaya
Marilah kembali pada prinsip mahakarya
Bhinneka Tunggal Ika

Indonesia rayaku
Kini kau berawak baru
Kau bahtera ayolah melaju
Taklukkan bentangan samudera berkarang batu

Indonesia rayaku
Langit boleh menghitam
Badai boleh menghantam
Bhinneka Tunggal Ika adalah mahasakti pusakamu
Maka marilah lawan sang badai
Di bawah langit hitam

Indonesia rayaku
Bukan Indonesia spasi rayaku
Mari berlayar menuju pulau mimpi para pahlawan masa lalu


#Pak Joko Spasi Wi

Merinding ku melihatmu
Dari layar berdimensi dua
Siang ini kala kau berdiri di istana merdeka

Senyummu aku tak paham
Jutaan rakyat mengaung ria
Aku mendengar suara hati mereka
Mungkin semua juga mendengar

Kemudian suara meriam
Terompet iringan lagu indonesia raya
Merayap di dinding langit
Aku mendengar dari indonesia kecil ini Pak Joko
Juga mungkin mereka
Senyummu lagi-lagi aku tak paham
Tapi semoga kau juga mendengar
Suara meriam di hati mereka yang sering geram

Pak Joko spasi Wi
Joko Tingkir
Joko Tarub
Joko Samudro
Semoga kau Joko serupa mereka

Joko Joko Joko
Pak Joko spasi Wi
Tolong jangan kau pakai spasi untuk rakyatmu ini
Jadilah Jokowi
Seperti janji merah putih suci
Abdi dan abdi tanpa mati


#S Spasi B Spasi Y

Sepuluh tahun berlalu
Kini kami pulangkan kau ke Cikeas
Jasa peluhmu akan selalu kami kenang
Akan kami ukir kau di hati pertiwi

S spasi B spasi Y
Di senja nusantara yang kau pijak
Kini kami pulangkan kau dengan rasa hormat

Kau Indonesia yang letih
Kau satu nafas Indonesia yang kami banggakan
Istirahatlah, kami selimuti kau dengan terima kasih tak bertepi
Istirahatlah, kami akan menghalangi angin ke rumahmu

Biarlah giliran generasi kami
Membersihkan dekil tanah air ini
Kau silahkan istirahat saja
Seraya memperhatikan tingkah anak pertiwi
Nasehati kami jika mulai berdosa untuk negeri

S spasi B spasi Y
Abdi tanpa spasi yang kau berikan
Kau anak pertiwi yang kami banggakan
Menyanyilah malam ini, karena kami juga menyanyi untukmu
Indonesia Raya, Indonesia mencintaimu Pak SBY

*Tiga Sajak Spasi, ditulis pada tanggal 20 Oktober 2014, Hari dimana Jokowi resmi menggantikan SBY sebagai Presiden Indonesia.

AKU TAK SEDANG MEMBUAT FIKSI

Hampir gugur zam-zam di mataku
Otakku bisu
Hanya segumpal makhluk metafisik yang bicara
Nadanya selembut kabut yang sering kuceritakan, bahkan lebih
Kemudian aku diterpa dinding kenangan, tempat coretan berjuang

Hahaha...
Entahlah, aku tertawa atau menangis
Hidup ini bengis dan mudah sekali ia terbalik
Seperti malam, waktu yang menyatukan kita
Kemudian siang, mudah sekali bukan?
Tapi antara mereka....
Pagi dan senja indah bukan drama
Itu nyata kawan

Ya sudahlah
Kutunggu kau di gugus bintang yang kau rencanakan

Kantor LPM Alghorizm, 19-10-2014

SUARA HUNUSAN PEDANG

Dewi Airlangga (25)

Aku gemetar
Suara itu bagai menghunus sebilah pedang
Suhu tubuhku naik drastis
Otakku, entahlah tiba-tiba apatis

Suara itu, ya, layaknya...
Gemerencing lonceng perang

Tanjung, Sekitar 06:00 WIB, 11-10-2014

PERJAKA (I)

Dimanakah perjaka akan dikubur
Yang kata; matinya indah

Dimanakah?

Liang-liang lahat teramat banyak menganga
Ada berbunga
Ada berbangkai
Rumusnya-pun mudah
Dimanakah perjaka rela dikubur

Jangan pikirkan dulu nisan
Yang kata; Ia hanya hiasan

Tapi yang menjadi soal
Dimanakah takdir perjaka dikebumikan

Tanjung, 08-10-2014

KEMARILAH SI SABAR

Sabaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar...
Kemarilah;kemarilah;kemarilah

Tengah hutan blantara
Singa, macan, ular-ular berbisa raja dan semua pemangsa
Memburuku disini
Malam mencekam
Siang aku sendiri ketakutan

Sabaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar...
Kemarilah;kemarilah;kemarilah

Aku butuh kawan
Sempat diterjang harimau
Disembur cobra
Dicakar elang
Digulung anaconda
Beruntung aku selamat

Kemarilah sabar...
Aku hanya butuh kawan

Takutku
Aku mati tanpamu sabar


Kantor Wilayah Sunan Kalijaga, 21:00 WIB, 7-10-2014

BARANGKALI

Dewi Airlangga (24)

Barangkali sudah tak kau hiraukan
Air mata yang menetes menjelma kata keindahanmu
Barangkali sudah tak kau ingat
Air mata yang gugur membentuk sketsa wajahmu
Barangkali sudah tak kau tahu
Air mata yang merindukan usapanmu
Barangkali sudah tak kau pedulikan semuanya

Barangkali tak mengapa
Biarlah air mata ini menjadi tinta pena bisuku saja
Akan kuceritakan lewat kertas-kertas rongsokan
Kulipat sekecil mungkin lalu kusimpan di kotak baja
Entah kapan...?
Lalu kukubur di tanah tak bertuan
Barangkali seribu tahun kemudian
Ada pemuda berjiwa sama
Dan ia menceritakannya sebagai dongeng Ksatria Air Mata
Barangkali akan seperti itu, Dewi Airlangga

Tanjung, 06-10-2014

JAWA POS RADAR BROMO EDISI 05 OKTOBER 2014

JAWA POS RADAR BROMO EDISI 05 OKTOBER 2014

PAGI DAN SEBUAH MISTERI

Kenapa dengan pagi?
Pipit-pipit berkicau menggoda bumi
Debu-debu diam tak ribut berkelahi
Rumput-rumput mekar tersenyum lebar
Bunga-bunga merekah kecantikan
Angin-angin senang melayang santai
Anak-anak bermain-main kegirangan
Tua-tua melalap umur menjadi muda
Muda-muda bergerilya berebut dingin sebelum cahaya
Kenapa dengan pagi?

Mentari tak garang bukan?

Sungai mengepul segar
Ikan-ikannya bersenda gurau antara bebatuan
Segara pun beralun pelan
Perahu-perahu layar menari di kejauhan
Si empunya sibuk bernyanyi untuk kebahagiaan
Kenapa dengan pagi?

Apakah malaikat ketenangan hijrah ke bumi?

Secangkir kopi dengan racikan sendiri
Atau secangkir teh yang siap kita nikmati
Mari bersamanya renungkanlah misteri
Kenapa pagi seperti ini?

02-09-2014

SETANGKAI BUNGA KATA; UNTUK SAHABATKU

;Sudah lama sahabatku
Rekah senyummu bersembunyi

;Petang ini
Diantara lilin tadarus
Kau mengecup bahagiaku kembali

;Kemari sahabatku
Ini setangkai bunga kata
Telah kulilitkan tali silaturrohmi
Juga pita merah simbol juang kita yang terperikan

;Jangan bungkam lagi
Ini aku berpuisi
Tentang untaian duri yang kumiliki
Karena aku bosan menyakiti

;Sedari ini
Mari berpuisi segubuk lagi
Biar sama-sama ber-dingin ilusi
Mimpi yang kau ajari

;Cukup setangkai bunga kata ini
Nyaliku memelukmu sahabatku

03-07-2014

KOPI DUKA
(Teruntuk Kabut)

Secangkir ini saja
Seduh lalu rasakanlah duka

Dari biji kopi di kebun hati
Tanah yang kuyup berlebih
Kopi ini beraroma nestapa

Sengaja tak kuberi gula
Karena pahit kopi adalah cinta
Dan kuingin kau merasakannya

Maka seduhlah
Secuilpun aku bahagia
Agar kau merasakannya juga

Jika kau tak tega
Menangislah bersama pahit
Lalu haturkanlah sesendok gula

Dan kopi tak lagi duka
Aku bahagia

29-04-2014

05:12 : AWAL MATA KEMUDIAN BERAIR

Ini waktu
Saat dewi-dewi menghaturkan kabut
Saat malaikat subuh mengutus dingin
Saat kultus hati dibacakan
Di atas serigala berbadan istana

Ini waktu

Saat mata merangkai rasa
Saat bibir diam yang berkata

Awal kemudian seperti judul
Waktu ini

09 September 2014

SUDIKAH
*Untuk Dewi Airlangga

Kala angin diterpa dingin
Kala api dibakar panasnya sendiri
Kala ini aku bunuh diri

Sudikah...
Kau datang sebelum hujan
Bak pelangi melengkung dermawan
Haturkan indahnya tanpa alasan
Dan aku tak bunuh diri lagi

Sudikah...
Kau datang sebelum siang
Bak pagi berembun keteduhan
Gugurnya lembut tanpa kepedihan
Dan aku tak bunuh diri lagi

Sudikah...
Jika tak sudi aku bunuh diri lagi
Hingga mati yang kesekian kali
Tanpa kubur
Tanpa nisan
Tanpa kafan

Bumi Kaisar Air Mata, Tanjung, 20-09-2014

JAWA POS RADAR SURABAYA EDISI 05 OKTOBER 2014

JAWA POS RADAR SURABAYA EDISI 05 OKTOBER 2014
PERAWAN (I)

Dari bumi yang kusebut rindu
Aku melihat perawan seperti Elang
Matanya tajam memandang
Seperti ingin memangsa sendiriku

Aku yang berdiri tegap membisu
Mata beradu Elang berputar lapar
Sayapnya membentang geram
Seperti ingin menyeret ragaku

Dari bumi yang kusebut rindu
Aku melihat harapan seperti langit siang
Birunya kedamaian
Seperti ingin melindungiku

Aku yang gersang menghitam
Pori beradu panas menyengat lahap
Terangnya terhampar lepas
Seperti ingin menyinari jiwaku

Dari bumi yang kusebut rindu
Aku melihat perawan di bentang harapan
Tersenyum lalu diam
Diam lalu diam yang kusebut pertanyaan

Probolinggo, 21-09-2014

PERAWAN (II)

Mendekatlah perawan
Musim telah hampir hujan
Kegersangan akan segera usai
Kau pasti kedinginan
Mendekatlah
Jika tiba peluklah segera

Aku ada sebiji benih bunga
Jika tiba mari tanam bersama
Di lahan sejengkal yang kupunya
Bukan Edelwise tapi cukuplah hingga umur senja
Bukan Melati tapi cukuplah untuk meromantiskan hati
Maka mendekatlah perawan
Sebelum hujan pertama datang

Probolinggo, 22-09-2014

PERAWAN (III)

Bunga bersari emas
Berikan untukku
Ingin kurangkai menjadi mahkota

Bunga bertangkai baja
Berikan untukku
Ingin kuasah menjadi pedang

Wahai perawan
Kau yang bersari dan bertangkai
Kabulkan kalbuku
Pintaku di bait lalu

Aku pasti gagah
Mahkota di kepala
Pedang tersungging wibawa
Lalu kurajai semua denganmu, perawan

Probolinggo, 23-09-2014

PERAWAN (IV)

Ada sebuah cincin di jiwaku
Maukah kau menjadi empunya
Ia melingkar berkilau iman
Bermuka berlian keanggunan

Jika kau mau
Kemarilah dengan tersenyum malu
Beriaslah kesederhanaan dan kejujuran

Jika sudah
Jemarimu yang masih memerah
Telapak tanganmu yang masih tersering basah
Kucumbu sebentar
Dan kuberikan cincinku yang tak berpasang

Bondowoso, 24-09-2014

PERAWAN (V)

Kueja keningmu yang masih tak berkerut
Esok pasti disana kau kukecup

Kukaji pundakmu yang masih lurus
Esok pasti disana kau kupeluk

Sebelum esok itu
Pasrahlah kau kusanjung mesra
Lewat seluas umpama
Tentang menawanmu yang setara jagat raya


Bondowoso, 25-09-2014

UNTUK AYAH IBUKU DI ARAFAH

Rekah doa kupanjatkan dari sini ayah ibuku
Dari tanah nusantara yang baru mengantarkan senja
Lantun firman ilahi juga rintihan hati
Semoga kalian baik diri di tanah suci

Secarik kabar kutahu kalian sedang di Arafah
Di sebuah padang dimana dzikir menggema ripah
Disana berjuta hamba sedang bercumbu mesra
Dengan yang maha esa yang maha kuasa dan maha segalanya

Dari sini ayah ibuku
Aku juga bercumbu rayu dengan Tuhanku
Mengharap Ia melindungi kalian di tanah sakral itu
Pun mengharap amal ibadah kalian yang berlalu disana
Diterima oleh Ia yang maha pengasih maha penyayang dan maha segalanya

Dari sini ayah ibuku
Rindu kubalut sutra doaku
Baik-baik disana...
Gugur air mata untuk Tuhan yang kalian persembahkan
Gugur peluh untuk Tuhan yang kalian perjuangkan
Semoga semuanya menjadi sebuah kemuliaan

Dari sini ayah ibuku
Aku anak yang hanya bisa mendoakan

Probolinggo, 03-10-2014

DZIKIR SEORANG PEROKOK

Siang mencekam
Kemana malam
Kenapa tak kunjung datang

Mata lusuh menunggu
Gerah raga berlilit air asam
Kemana malam
Kenpa tak kunjung datang

Lama menunggu
Lalu kusulut sebatang rokok
Kuhisap lalu kukepulkan
Dan otakku melayang

Siang tetap mencekam
Tapi sebatang rokok mengajakku bertengkar dengan alam
Tentang siang hingga menjadi malam
Tentang pagi hingga menjadi malam
Tentang sore hingga menjadi malam
Waktu yang dibalut kafan pertanyaan

Lewat sebatang rokok
Kuhisap lagi hingga ia bermain ke dalam nadi
Kuhisap lagi hinggga ia menemani otakku yang sibuk berteka-teki
Kuhisap lagi dan lagi dan lagi Hingga siang ini basi
Dan ia tak mencekam lagi

Sebatang rokok ini
Pul... Tekepul... Tekepul... Mengepul-lah...
Pul... Tekepul... Tekepul... Mengepul-lah...
Pul... Tekepul... Tekepul... Mengepul-lah...
Kubacakan dzikir lewat sebatang rokok ini
Berikanlah pertolonganmu wahai Ilahi
Datangkan jawaban untuk otakku yang lama berteka-teki

Pul... Tekepul... Tekepul... Mengepul-lah...
Kumohon tetapkanlah hambamu ini
Berjalan searah kebenaranmu Ya Robbi
Selembut kepulan asap rokok berjalan pasti
Lembutkanlah hati yang kadang kala mengeras ini

Sebatang Rokok...
Kuhisap lagi
Kukepulkan lagi
Semoga esok siang tak mencekam lagi

Pul... Tekepul... Tekepul... Mengepul-lah...
Tuhan, maafkan aku berdzikir dengan cara begini

Tanjung, 01-10-2014