JAWA POS RADAR BROMO EDISI 05 OKTOBER 2014

JAWA POS RADAR BROMO EDISI 05 OKTOBER 2014

PAGI DAN SEBUAH MISTERI

Kenapa dengan pagi?
Pipit-pipit berkicau menggoda bumi
Debu-debu diam tak ribut berkelahi
Rumput-rumput mekar tersenyum lebar
Bunga-bunga merekah kecantikan
Angin-angin senang melayang santai
Anak-anak bermain-main kegirangan
Tua-tua melalap umur menjadi muda
Muda-muda bergerilya berebut dingin sebelum cahaya
Kenapa dengan pagi?

Mentari tak garang bukan?

Sungai mengepul segar
Ikan-ikannya bersenda gurau antara bebatuan
Segara pun beralun pelan
Perahu-perahu layar menari di kejauhan
Si empunya sibuk bernyanyi untuk kebahagiaan
Kenapa dengan pagi?

Apakah malaikat ketenangan hijrah ke bumi?

Secangkir kopi dengan racikan sendiri
Atau secangkir teh yang siap kita nikmati
Mari bersamanya renungkanlah misteri
Kenapa pagi seperti ini?

02-09-2014

SETANGKAI BUNGA KATA; UNTUK SAHABATKU

;Sudah lama sahabatku
Rekah senyummu bersembunyi

;Petang ini
Diantara lilin tadarus
Kau mengecup bahagiaku kembali

;Kemari sahabatku
Ini setangkai bunga kata
Telah kulilitkan tali silaturrohmi
Juga pita merah simbol juang kita yang terperikan

;Jangan bungkam lagi
Ini aku berpuisi
Tentang untaian duri yang kumiliki
Karena aku bosan menyakiti

;Sedari ini
Mari berpuisi segubuk lagi
Biar sama-sama ber-dingin ilusi
Mimpi yang kau ajari

;Cukup setangkai bunga kata ini
Nyaliku memelukmu sahabatku

03-07-2014

KOPI DUKA
(Teruntuk Kabut)

Secangkir ini saja
Seduh lalu rasakanlah duka

Dari biji kopi di kebun hati
Tanah yang kuyup berlebih
Kopi ini beraroma nestapa

Sengaja tak kuberi gula
Karena pahit kopi adalah cinta
Dan kuingin kau merasakannya

Maka seduhlah
Secuilpun aku bahagia
Agar kau merasakannya juga

Jika kau tak tega
Menangislah bersama pahit
Lalu haturkanlah sesendok gula

Dan kopi tak lagi duka
Aku bahagia

29-04-2014

05:12 : AWAL MATA KEMUDIAN BERAIR

Ini waktu
Saat dewi-dewi menghaturkan kabut
Saat malaikat subuh mengutus dingin
Saat kultus hati dibacakan
Di atas serigala berbadan istana

Ini waktu

Saat mata merangkai rasa
Saat bibir diam yang berkata

Awal kemudian seperti judul
Waktu ini

09 September 2014

SUDIKAH
*Untuk Dewi Airlangga

Kala angin diterpa dingin
Kala api dibakar panasnya sendiri
Kala ini aku bunuh diri

Sudikah...
Kau datang sebelum hujan
Bak pelangi melengkung dermawan
Haturkan indahnya tanpa alasan
Dan aku tak bunuh diri lagi

Sudikah...
Kau datang sebelum siang
Bak pagi berembun keteduhan
Gugurnya lembut tanpa kepedihan
Dan aku tak bunuh diri lagi

Sudikah...
Jika tak sudi aku bunuh diri lagi
Hingga mati yang kesekian kali
Tanpa kubur
Tanpa nisan
Tanpa kafan

Bumi Kaisar Air Mata, Tanjung, 20-09-2014