MUHARRAM VERSI DESAKU

Senja kemudian berbaring ke ufuk barat
Sebelum itu adalah yang akan kuceritakan
Karena maghrib nanti adalah tahun baruku berpijak kehidupan

Awal cerita
Suara Drum Band bersabung angin kemarau
Tertangkap telinga lalu beranjakku menuju lorong
Sekejap demi sepintas saja
Kulihat iringan motor bergerilya arak-arakan
Knalpot-knalpotnya berteriak kegirangan
Waaah, ini karnafal...

Kupersingkat cepat lekas kuberdiri dipinggir aspal
Seorang mayoret menyambut dengan kepiawayan memainkan tongkat
Entah, apalah namanya aku tak paham
Lenggak-lenggok mengatur nada tabuh puluhan mata suara
Waaah, ini luar biasa...

Tak usai
Iring-iringan masih beradu
Satu persatu kuperhatikan
Puluhan santri berbaris ria
Aku tahu persis apa yang sedang mereka rasa
Karena dulu aku sempat menjadi lakon juga
Seperti artis di karpet merah
Betapa bahagia aku kala itu
Begitu kulihat raut wajah mereka yang masih lugu

Masih belum usai
Di baris selanjutnya aku kembali terpana
Para kaum sarungan kecil dikawal ibu-ibunya
Ada kopyah miring
Bedak setebal satu mili meter
Ada wajah-wajah mungil mereka yang bercumbu malu tartawa
Aku pun tahu persis apa yang sedang mereka rasa
Karena dulu aku juga sempat menjadi aktor peraga
Waaah, aku seperti kembali ke umur dini saja
Kala otakku masih berbau suka

Akh, sudahlah
Ini kuberitahu
Ini semua Muharram versi desaku
Dan masih terlalu indah untuk dibiarkan berlalu

Jambesari, Jumat 18:wib, 24-10-2014