KISAH PETAKA

Dewi Airlangga (34)

Langit menderu kulipat waktu
Bintang menghambur kubentuk kabur
Berlari merangkul ujung badai
Kisah dulu petaka dimulai

Replika masa berdialog rasa
Berkecamuk bara memercik asa
Digdaya mengobar peluh sadar
Dihantam kenang ditikam zaman

Pagi luntur kulanjut lamun
Awan redup kubentuk kabut
Tajam memandang kahyangan silam
Tempat dulu merana dipinang

Sempurna masa kususun ulang
Air mata hati jatuh ke otak nadi
Berbunga puisi berduri mimpi
Cukup mengganti jerihnya sunyi

Usai mega kucelup derita
Segelas air mata pelepas dahaga
Sebentar lagi kuminum bahagia
Dan mati terkepung makna

Tanjung, Malam hingga malam lagi, 27-28 Nopember 2014

SAJAK YANG HILANG

Dewi Airlangga (33)
Sajak di urut ini menghilang
Kutulis kemarin di bumi tapa Dewi Airlangga
Dicuri angin
Disembunyikan mesin
Dibajak takdir
Tiga tiga, aku kehilangan permata
Tak sudi kutukar sesal
Kutulis saja alurnya demikian
Biar jejak Sang Dewi rapi dieja zaman

Tanjung, 26-11-2014
Pasca hilangnya sajak Dewi Airlangga (33) yang ditulis di Surabaya, 22-11-2014.

KAKI LAWU

Aku menyaksikan 
Di kaki Lawu
Aku melihat senja disembunyikan
Hamparan sawah membentang 
Anak-anak bermain girang
Menyulam ria dengan lumpur surga

Aku menyaksikan
Di kaki Lawu
Di bawah tenda berkumpul para pakar
Budayawan, elit politikus, sejarawan, pecinta alam
Berhantam kata tentang budaya perlawanan
Tentang kapitalis yang gempar menyerang

Aku menyaksikan
Di kaki Lawu
Indonesia keanggunan alam
Indonesia keberagaman kawan
Indonesia masih punya perlawanan
Menerjang gusar penjajah tanpa senapan

Aku menyaksikan
Di kaki Lawu
Kacang rebus, pisang rebus, merebus kekeluargaan
Kopi hitam digilir, angin semilir berdesir
Indah bukan main
Lawu menghembuskan nafas silaturrohim

Lagi-lagi aku menyaksikan
Indonesia yang menawan
Dari jejak-jejak petualangan
Di pulau seribu tanpa ibu

Panekan, Magetan, 22-11-2014

BOSAN MENJADI KUCING

Aku bosan menjadi kucing
Aku bosan mengeong
Aku bosan mengendus bau amis
Aku bosan menjilat najis
Aku bosan
Aku bosan
Aku bosan

Ingin kupatahkan taring ini
Biar keji tak melilit hati
Ingin kukuliti bulu-bulu ini
Biar sombong tak menghiasi diri
Ingin kusumbat hidung ini
Biar fitnah tak menjadi-jadi
Ingin kupatahkan cakar ini
Biar dengki tak semakin menggerogoti
Ingin kupotong ekor ini
Biar diri tak mudah terpengaruh benci
Aku ingin berhenti menjadi kucing
Aku bosan menjadi kucing
Aku bosan
Aku bosan
Aku bosan

Setiap hari
Aku menjilat kutu-kutuku
Memoles diri, memperelok bangkai
Setiap hari
Aku memburu kenyang
Memuaskan hati, melupakan Tuhan
Setiap hari
Aku mencakar mangsaku
Menggagahkan naluri, memper-tuhan-kan diri

Aku ingin berhenti menjadi kucing
Aku bosan menjadi kucing
Aku bosan
Aku bosan
Aku bosan

Terlalu lama
Bulan purnama telah beratus-ratus kalinya
Senja telah beribu-ribu kali menyapa
Korbanku mungkin sudah tak bisa diangka
Aku bosan
Aku bosan
Aku bosan menjadi kucing
Aku ingin berhenti menjadi kucing

Tanjung, 20-11-2014

CARA MEREKA MENYULAM MANTRA

Dewi Airlangga (33)

Mereka menyulam mantra di kitabku, Dewi 
Mereka menerjemahkan se-sederhana rekah mentari menyapa bumi
Padahal gatra disana jagat penuh luka 
Tak mudah menuai darah yang tercecer tanpa asa

Tanjung, 04:46 WIB, 19-11-2014

SEBUAH TANYA

Dewi Airlangga (32)

Hujan telah melamar kemarau
Malam telah meminang siang
Melati telah mempersunting mekar
Sedang aku...
Bersalam kenal dengan cintamu-pun belum, sayang

Rembulan telah mencium malam
Langit telah membelai bintang
Bunga sedap malam telah memeluk aroma busuk harapan
Sedang aku...
Beradu sentuh dengan cintamu-pun belum, sayang

Ada apa, Kenapa demikian?
Bukankah darah menjelma tinta
Air mata berdzikir do'a
Peluh berlinang derita

Ada apa sebenarnya?
Aku ingin jawab semistis dupa
Dan terkafan nyata
Biar tak digerogoti rayap reka

Tanjung, 17-11-2014

HUJAN PERTAMA GUGUR

Dewi Airlangga (31)

Di bumi tapa Kaisar Air Mata
Langit hitam gaduh
Burung-burung terbang gusar
Masih belum luruh
Air kebahagiaan itu gagah bergelantungan

Di bumi tapa Kaisar Air Mata
Debu bangkit seketika lenyap
Serdadu angin menyeretnya cepat
Sembari menunggu bentakan pentir
Yang lama tak kunjung hadir

Mungkin sebentar lagi
Kode alam ini seirama hati
Jejak dewi akan terhapus sendiri
Kala hujan menyentuh bumi
Kala kepastian melawan mimpi

Tanjung, Kala hujan pertama hampir gugur, 16-11-2014.
Sekitar tiga jam kemudian, hujan benar-benar gugur.

BATU TANPA KAWAN

(Untuk sahabat-sahabatku yang telah berlalu dan yang akan berlalu)

Semua telah lusuh
Lukisan pudar
Puisi hanya hiasan

Pilu melantun
Luruh bintang bukan lagi kesetiaan

Kesah membeku
Semua telah terbingkai rindu
Ingin didekap
Lari secepat kilat

Merana dipenjara luka
Gemetar hingga ubun-ubun
Hanya kepada kertas
Lara dipikul

Hingga pena berduri
Lukai hati sepi

Kemana semua ini?
Setelah tertumpuk kenangan
Apakah disembunyikan hutan?

Mekar lalu menawan
Menawan lalu pudar
Pudar lalu menghilang
Begitukah?

Semakin tak diakal
Jerami memang mudah dibegal hujan
Juga diterjang badai
Oleh angin pun berantakan

Ini gila kawan
Bekas bibirmu masih terasa
Di gelas kopi kemarin siang
Kala kita berpanas harapan
Di trotoar kehidupan

Akh... Sudahlah
Berdosa tangisi malam
Masih beribu lilin di lemari kamar
Doakan aku belajar menyalakan
Satu persatu tanpa kalian

Jika sudah
Aku akan tahu
Kemana semua ini berlalu

Ke hutan?
Ke langit?
Ke laut?
Atau ke goa, tempat para raja bertapa

Ini hanya tunggu
Tapi ini juga jujurku
Aku batu
Terlantar tanpa kalian kawan

Tanjung, depan kamar D-11, 15-11-2014


CERITANYA BEGINI, SAYANG

Dewi Airlangga (30)

Kemarin ceritanya begini, sayang.

Malaikat hinggap di pundakku, siang, pecahan silau menghajar, aku melawan tak ada diam. Malaikat itu hanya memperhatikan, skenario awal segera dimulai.

Ada berbaris-baris tawa di tumpukan jiwa, siang, bertukar canda tuangka cerita, aku hanya berirama sama. Malaikat itu hanya memperhatikan, skenario awal segera dimulai.

Dan, ini gaduh rasa yang tertikam masa, cinta, malaikat menaruh apalah yang aku tak paham. Tiba-tiba genjatan mata berubah rahasia, pun geriknya berubah menjadi bahasa.

Akh, ini goda wanita yang akan mati belia, sangka hipotesa awal, malaikat itu hanya memperhatikan, skenario awal sudah dimulai. Kemudian waktu melumat waktu, hujan bertemu kegersangan, berkali-kali, sayang.

Mencekam bertaruh dengan jawaban, kejam, ternyata malaikat menaruh cinta di jiwaku, sayang. Gugur peluh yang kuanggap penat itu, ternyata kesetiaan. Dan darah itu, ternyata sebuah tinta yang membuatku disulap cinta.

Ini gila, berulang kali aku berpetualang air mata, sering, justru ini yang bisa kusebut derita surga. setiap waktu tertatih-tatih, sayang. Hingga kaki mati langkah memperjuangkan mimpi.

Begitu, sayang.

Tanjung, 14-11-2014

*Terkenang Bayuangga tentang Dewi Airlangga

DISANJUNG SETAN

Peluh tergerai indah
Aroma semen bersenandung dengan tubuh
Muka tersusun lusuh
Terbakar malas bersama sang angkuh

Sedang ternikmati
Di rumah Ilahi
Tempat kajian hati dipelajari

Mula-mula saja
Setan berjurus sekecil atom rasa
Menyanjung jiwa
Berkecimpung meneriakkan bangga
Seindah goda perawan desa
Semanis belai kaum tante kota
Atau boleh jadi lebih dari itu semua

Setan...
Enyahlah kau ke tong sampah saja
Biarkan ikhlas sekali rupa
Aku ingin bercinta dengan Tuhan yang esa

Setan...
Ayolah...
Sejenak lupakan permusuhan kita

*Sajak seusai "Ngecor"
Nurul Jadid, 11-11-2014

WISUDA

Entah, lagi lagi entah
Aku takut memajangnya di ruang tamu
Tak hadir bangga pun makna
Entah, lagi lagi aku bertanya
Kenapa tak terbesit aku bahagia

Sedari kemarin
Kala mereka bersua cita
Dengan toga perkasa yang citrakan sarjana
Aku juga berdansa disana
Tapi tak menari seirama
Entahlah, lagi lagi entah

Rekah senyum memang mekar
Hanya karena aku bersama mereka
Sahabat-sahabatku yang tertawa
Keluargaku yang menatapku bangga
Tapi wisuda......?
Entahlah, lagi-lagi entah
Aku tak berani mengatakan aku bahagia karenanya

Entah,...
Berulang kali aku menanyaka kepada Entah
Tapi masih sama saja Entah menjawabnya Entah
Entahlah,...

Tanjung, Sehari setelah WSD, 10-11-2014

SAJAK LURUS KARYA TUHAN


Aku karya Tuhan.
Maka karyaku adalah karya Tuhan yang dianugerahkan.
Tak bolehlah aku berbangga diri, seharusnya aku lebih bersukur diri.
Begitu seharusnya, tapi terkadang Aku lupa.
Sombongku teramat lihai menghardik jiwa.
Terkadang juga aku pura-pura buta.
Anggap tak melihat yang sebenarnya.
Aku karya Tuhan.
Uniknya aku, hingga akupun tak akan kunjung usai.
Menerjemahkan aku ke dalam bahasa kebenaran.
Aku memang benar-benar menakjubkan.
Aku memang sangat-sangat mengagumkan.
Karena Aku karya Tuhan, Ingatlah!
Tanjung, 09-11-2014

TENTANG SEMUA, DEWI

Dewi Airlangga (29)

Ini bunga sedang diam, didekap malam yang pulas menunggu siang. Gedung-gedung beraroma tua juga demikian, esok ia pasti melakukan persaksian. Tentang aku, sayang.

Nada alam kudengar pelan, menyanyikan tembang klasik karya sang Tuhan, merdu sekali. Kemudian nada itu menyeretku pergi, ke pelaminan khayal yang sering kudambakan. Tentang cinta, sayang.

Debu-debu tak gaduh bersabung kesetenan, ia berbaring nyenyak meski tanpa selimut hujan. Barangkali ia sedang bermimpi, hujan akan segera mendekapnya lagi. Tentang tunggu ini, sayang.

Gugur reranting bersuara gurau, menyapa reremputan yang sedang melamun kehausan. Entahlah, kenapa selanjutnya dedaunan juga ikut tumbang. Tentang kesetian ini, sayang.

Sudahlah, terlalu berbasa-basi, aku dihujat alam dan malam. Mereka mengundangmu, sayang. Kenapa lantas kau hadir dengan berpoles keanggunan. Padahal kemarin, kau telah kabur bersama gerombolan keputus asaan.

Dewi Airlangga, mudah sekali kau berwujud segalanya. Sampai-sampai aku lupa, bahwa kau manusia biasa. Kemudian tersulam menjadi mahligai tapaku memaknai wanita. Akh, aku lupa lagi, sayang.

Bumi Kaisar Air Mata, Jam 1:56 WIB, 08-11-2014

KE "ARAH" TUHAN

Aku ingin terbang ke "arah" Tuhan
Sesatku telah terlalu lama
Merayap kesetanan
Dengan nafsu dibutakan
Hingga dimana aku sekarang?

Aku ingin terbang ke "arah" Tuhan
Sebelum patah sayapku yang tak kekal
Karena kode dari Tuhan telah kusaksikan
Memutih bulu-bulu hitam
Hingga bagaimana aku mengabaikan?
Aku ingin terbang ke "arah" Tuhan

Tanjung, 01-11-2014

KALA DEWI AIRLANGGA BERTOGA

Dewi Airlangga (28)
Di istana kaca
Tempat kutaruh butiran warna
Aku melihat Dewi
Betapa anggun 
Hingga lupaku
Kemarin aku dibuang
Ke lembah kisah tepukan sebelah tangan
Aku melihat Dewi
Berlatar Airlangga
Bertoga bangga
Bersenyum bahagia
Betapa anggun
Hingga lupaku
Kemarin aku bertekad menghilang
Justru sekarang diamuk kesakitan
Di istana kaca
Tempat kubelai sekujur bayang sang Dewi
Aku membelainya lagi
Betapa anggun
Hingga lupaku
Aku masih membelainya lagi
Dengan puisi yang selalu ia anggap basi
Bumi Kaisar Air Mata, Jam 14:25 wib, 01-11-2014
NB: Selamat Dewi Airlangga, Semoga Sukses!