TENTANG SEMUA, DEWI

Dewi Airlangga (29)

Ini bunga sedang diam, didekap malam yang pulas menunggu siang. Gedung-gedung beraroma tua juga demikian, esok ia pasti melakukan persaksian. Tentang aku, sayang.

Nada alam kudengar pelan, menyanyikan tembang klasik karya sang Tuhan, merdu sekali. Kemudian nada itu menyeretku pergi, ke pelaminan khayal yang sering kudambakan. Tentang cinta, sayang.

Debu-debu tak gaduh bersabung kesetenan, ia berbaring nyenyak meski tanpa selimut hujan. Barangkali ia sedang bermimpi, hujan akan segera mendekapnya lagi. Tentang tunggu ini, sayang.

Gugur reranting bersuara gurau, menyapa reremputan yang sedang melamun kehausan. Entahlah, kenapa selanjutnya dedaunan juga ikut tumbang. Tentang kesetian ini, sayang.

Sudahlah, terlalu berbasa-basi, aku dihujat alam dan malam. Mereka mengundangmu, sayang. Kenapa lantas kau hadir dengan berpoles keanggunan. Padahal kemarin, kau telah kabur bersama gerombolan keputus asaan.

Dewi Airlangga, mudah sekali kau berwujud segalanya. Sampai-sampai aku lupa, bahwa kau manusia biasa. Kemudian tersulam menjadi mahligai tapaku memaknai wanita. Akh, aku lupa lagi, sayang.

Bumi Kaisar Air Mata, Jam 1:56 WIB, 08-11-2014