MENJELANG 2015

Jalang sekali setahun kemarin
Rupa-rupa bala petaka berwujud dara
Menganggun goda dalam penat-penat jiwa

Telah terkepung menikmati
Baru sadar ternyata ujian berdasi
Ini gantung diri
Dicekik tali sulaman sendiri

Serat-serat kehormatan melilit seram
Bahkan terbakar bersama kertas-kertas kepintaran
Akhirnya panas kini terasakan
Di atas sepi tempat bersila kemapanan

Sudah saat kiranya
Mengubur kobar kabar kabur
Jaminan tentang jelmaan juru tuntun
Yang justru memati-dinikan petualang ulung

Jambesari, 30 Desember 2014

CERITA MALAM

Dewi Airlangga (44)

Malam tadi
Ceritanya begini
Dan hanya air mata yang tahu

Antara aspal
Rambut berkaca-kaca
Rupa luar biasa indahnya

Berbalut kuning terang
Terkira purnama
Anggun perawan

Malaikat berbisik romantis
"Dewi Airlangga"
Aku sudah tahu

Masih terpana
Melepas langkah
Beratnya tak habis dikata

O, bercinta lagi
Laksana mengurai badai
Tertumpuk angin-angin kenangan

Tak letih
Keburu ditagih
Janji melepas dalih

Akh, persetan
Nyanyian hati teramat gencar
Tak didengar kepedihan

Tanjung, 100 m utara Pantura, 26-12-2014

DENTINGAN HATI

Dewi Airlangga (43)
Teratai emas
Tunjukkan kemana arah hilir
Menuai bukan lagi impian
Membuai, apa lagi
Hanya garis-garis tertulis
Hanya buih-buih tersampai
Kepada petaka kupinjam
Bahasa tentang kepedihan
Begitu kiranya
Sebelum dikecam pecundang
Dewi, tak kunjung mengerti
Mungkin hanya karena abstraksi
Hingga sulit dipahami
Celetuk ego bersombong diri
Di hadapan hakim para peri
Yang kata cinta adalah selendang mati

Tanjung, 23-12-2014

ANTARA BERPETUALANG DAN DIAM

Berpetualang;
Sukma meluncur, dari rahim meriam menyerang menggempur, melawan angin memukul kabur, percikan api terang mengerang, nyalanya bias kegagahan petualang.
Sudahlah habis, bersisakan asap-asap tiarap, menjadi tabir pengharap. Berpetualang;

Diam;
Mematung di museum, perang tak datang menyambang, diperhatikan mata-mata , dipertanyakan jiwa-jiwa, tentang apakah tak bergerak tapi bercerita. Diam;

Berpetualang & diam;
Antara keganasan yang mula-mula, yang ditunggu acap kali tak seindah yang dikira. Apakah;

Tanjung, 18-12-2014

ANTARA PULANG DAN IMPIAN

Pulang;
Mungkin layaknya merpati, terbang menyusuri belantara, jaring-jaring laba-laba kerap menghadang, reruntuhan dedaunan sebesar perisai acap kali menyerang, ranting-ranting penuh duri-duri bersembunyi sesekali mengejutkan nyali.
Pulang ke arah timur, kembali membawa cerita sederhana dari belantara, lalu terbang di hutan sendiri yang telah dihafal liuk runtuh dedaunan, pun lintasan yang mungkin paling terjal. Pulang;

Impian;
Mungkin layaknya medan yang tak sempat dijamah pandang, padang pasir seluas harapan, di tengahnya sebuah danau terhimpit gedung-gedung peristirahatan, beratapkan emas-emas perawan, di dalamnya dzikir-dzikir ketuhanan seperti nyanyian hujan, mengantarkan pulas menuju puas.
Impian ke arah manakah?, sepintas nalar bukanlah pulang, tapi cukupkah kebingungan antara keduanya, terhapus impian melanjutkan impian. Impian;

Pulang & impian;
Antara keduanya seperti berdiri di atas pedang, darah bercucuran membentuk tanya, lagi-lagi menunggu keputusan takdir di meja nyata. Apakah;

Tanjung, 18-12-204

PENYAIR SEMBARANGAN

Awan, penyair harapan
Sedang menulis apa kau pagi ini?
Masihkah tentang yang digantungkan
Antara langit dan kemarau

Langit, penyair kesombongan
Sedang menulis apa kau pagi ini?
Masihkah tentang yang dikucilkan
Antara matahari dan bulan

Matahari, penyair kegelapan
Sedang menulis apa kau pagi ini?
Masihkah tentang yang dirindukan
Antara bumi dan senja

Bumi, penyair keromantisan
Sedang menulis apa kau pagi ini?
Masihkah tentang yang dipertanyakan
Antara siang dan malam

Siang, penyair kebohongan
Sedang menulis apa kau pagi ini?
Masihkah tentang yang dikecam
Antara hujan dan gersang

Hujan, penyair kemistisan
Sedang menulis apa kau pagi ini?
Masihkah tentang yang didebatkan
Antara pelangi dan sinar

Pelangi, penyair kebahagiaan
Sedang menulis apa kau pagi ini?
Masihkah tentang yang diperselisihkan
Antara wanita dan cinta

Wanita, penyair kearifan
Sedang menulis apa kau pagi ini?
Masihkah tentang yang ditafsirkan
Antara bunga dan perawan

Bunga, penyair kejujuran
Sedang menulis apa kau pagi ini?
Masihkah tentang yang dipamerkan
Antara ilalang dan topan

Ilalang, penyair kesederhanaan
Sedang menulis apa kau pagi ini?
Masihkah tentang yang digelisahkan
Antara tanah dan bebatuan

Tanah, penyair keadilan
Sedang menulis apa kau pagi ini?
Masihkah tentang yang dihakimi
Antara aku dan dosa

Aku, penyair sembarangan
Kukabarkan pada kalian semua
Aku sedang menulis tentang yang dibingungkan
Antara sunyi yang ramai menawan
Dan ramai yang sunyi mencekam

Tanjung, 16-12-2014

UNDANGAN BERCINTA UNTUK PENA

Ayolah penaku
Bawa aku bepetualang mimpi seperti dulu
Mendaki Mahameru hingga Rinjani
Membaca puisi di Taman Ismail Marzuki
Menulis seperti Dewi Lestari
Atau melukis di Ubud, Bali

Ayolah penaku
Jangan mengering layu
Masih telalu sedikit memecah teka-teki
Mengeja tingkah nakal hati
Memakna Bromo hingga Kawah Ijen yang berapi
Mengurai peluh di metropolitan pagi
Jakarta, Bogor, Yogyakarta, Surabaya hingga bali dan banyuwangi
Melangitkan mimpi
Atau berpuisi untuk Sang Dewi

Ayolah penaku
Aku rindu kau menari di Pulau Merah
Berbasa-basi pasca Bundaran HI
Menyapa mesra indahnya Danau Rengganis kala sepi
Menyeduh kopi pagi di Kota Malang yang beragam arti
Meratapi sedih di bawah langit Probolinggo lagi
Atau memesan inspirasi dari Surabaya tentang hati

Ayolah penaku
Tintamu masih hitam
Masih mampu menuntunku berjalan
Bukankah kau pernah tergores tentang keabadian
Bahkan sabda-sabda kau pahatkan
Dan aku yang menyimpannya di lemari perpustakaan
Suatu saat pasti mata merindukan
Karena ia adalah harapan

Jadi!
Ayolah penaku
Mata hati, hati bermata
Mata pena, pena bermata
Lihatlah bersama mata-mata
Disana surga menunggu kita bercinta

Tanjung, 15-12-2014

HARPA YANG HAMPA

Dewi Airlangga (42)

Benar-benar hampa
Harpa tak ber-senar
Tanpa nada latar
Nyanyian hambar

Na.... Naaaa
Laaaa..... La
Akh, membosankan
Lirik tak berlarik
Gaduh tak ditabuh

Otak gamang
Diludahi memar
Bekas hantaman perawan
Setahun silam hingga sekarang

Tanjung, 10-12-2014

ADALAH BAGAIMANA

Dewi Airlangga (41)

Aku adalah kegelisahan
Bingung tentang depan dan belakang
Bak pion terperangkap jalan
Maju salah aturan
Mundur bukan lagi pilihan
Aku adalah kesepian
Bingung tentang terang dan petang
Tertatih taklukkan dua ketetapan
Malam dibekap dingin
Siang disandera angin
Aku adalah kerinduan
Bingung tentang menyerah dan kenyataan
Hampir busuk otak stagnan
Membuang atau dipelihara alam
Justru terperangkap dua mata kesimpulan
Aku adalah bagaimana
Bingung tentang bertanya dan seharusnya

Tanjung, 09-12-2014

(W=F.S)=RINDU

*Thefure

Ada sebuah bilik tentang Kita
Kala putih abu-abu menyulam cerita
Aku ingat betul tawa-tawa
Mata-mata bersuka sama
Menghabiskan remaja berlalu tertata
Kini sudah tergantung di dinding museum rasa
Kuberi judul "Rindu" di bawahnya

Dan lima meter malam ini
Aku menatap bilik dengan pena
Diserbu angin musim hujan
Segerombolan manusia kuperhatikan
Hampir tak ada beda dengan Kita yang kuceritakan
W=F.S adalah tema
Angka-angka coretan mereka lihay mengundang masa
Aku terbawa hadir ke dalamnya
W=F.S bukan lagi sebuah formula
Ia mantra pemanggil sejarah Kita

Apa kabar Kita?
Masihkah Kita sibuk membelai desimal
Atau sedang mengukur sebuah kecepatan benda
Atau sedang mencari turunan sebuah persamaan
Atau sedang menghafal nama-nama jenis tumbuhan
Atau sedang menjumlahkan massa sebuah atom
Atau mungkin Kita sibuk menanyakan jadwal pelajaran

Apa kabar Kita?
Tidak-kah kita ingin menghitung volume bilik kita lagi
Bilik yang kita namai Athena
Dengan tinggi tiga meter
Panjang tiga meter pula
Lebarnya kurang lebih dua setengah meter saja
Berapakah volumenya?
Jawabannya pasti tak sama
Karena angka Kita sudah berbeda
Bisa Nol, bisa satu, bisa seterusnya
Tapi semua tetaplah angka
Yang kemudian menjelma makna dan cinta

Tanjung, 09-12-2014

KULTUS CINTA KEMBALI DIBACAKAN

Dewi Airlangga (40)

Mula-mula kultus cinta kembali dibacakan
Bukan bersama gerimis kabut yang lalu-lalu(*)
Kali ini sakral bergaun kemistisan hujan
Bercincin mendung tanpa batu berlian
Semua sederhana gugur membawa kejutan
Sungguh keabsolutan makna
Tak habis waktu otak menafsirkan
Liku luka sirna begitu saja
Tertafsir pada bulir-bulir karya tanpa koma
Hingga terkadang berlalu surga
Ketika rasa terbawa berdzikir dalam do'a
Dan lagi-lagi kultus cinta dibacakan
Menyeret petang pada petang
Namun tak dibiarkan ketakutan

Tanjung, 11:30 WIB, 06-12-2014
(*) Pada Sajak AWAL MATA KEMUDIAN BERAIR

DI KANTOR POS HUJAN LAGI

Dewi Airlangga (39) 
*Kisah belum usai


Ini ceritanya dalam pagi
Tiba-tiba hujan air mata lebat
Antara antrian manusia di kantor pos
Aku gemetar kedinginan
Tak kuasa apa-apa
Semua berubah tak biasa

Ini sebabnya dalam cerita
Gadis bermata menawan menatap tepat
Merona garis-garis wajahnya
Membekapku ke dalam sebuah musim
Dimana mata hampir kering

Ini kejutannya dalam takdir
Dia, gadis, dialah Dewi Airlangga
Hampir hujan kuhentikan
Kenapa hujan semakin lebat
Tak cukupkah elegi kutulis
Tak cukupkah ucapan selamat menangis
Kenapa kisah ini semakin dramatis

Ini kantor posnya dalam geram
Ingin kurangkai senyum
Malah aku merenung
Meski jarah pandang urakan
Bermanis kata malah enggan
Memalukan bermain rasa
Gelagat luka diumbar
Kenapa aku berbodoh demikian rupa
Benar-benar memalukan

Ini indahnya dalam Dewi Airlangga
Tak siap tanpa hujan air mata
Kubiarkan saja deras
Kantor pos bukan kebetulan yang sesaat
Jauh dari sekedar tanya
Garis Tuhan kulihat tegas bermakna
Waktu dan ruang tak sesempit lubang senapan
Ini jelas hujan yang direncanakan
Aku harus siap kedinginan

Tanjung, 06-12-2014

PENCURI JALAN

Ini kisah ke-tidak-bebasan
Pencuri jalan dibingkai kemapanan
Saban hari melirik aspal
Kemana selanjutnya mata kebingungan
Telinga berbising knalpot jalanan
Hidung mengendus aroma pembaharuan
Mulut mencicipi beragam kopi hitam
Tapi tak mudah
Pencuri jalan masih dijerat pasal
Dalam kemuliaan dan pertanggung jawaban
Sampai benar-benar otak tanpa kegaduhan
Maka dicuri jalan
Dibungkus sutra suci
Digantung di rumah kaca sejati
Hingga kelak ia tak basi
Dan cukup untuk makan sampai mati

Arak-arak, 04-12-2014

MENUJU KUBURAN NESTAPA

Dewi Airlangga (38)

Tak bisa pelangi menghalang angin, paceklik ini paksaan, berat berbohong pura-pura amnesia, hati berpuisi tak bertinta, di langit suram tanpa lentera.

Sengaja air mengalir ke ketinggian, itu hukum otak yang hilang, biarlah bertengkar, gaduh kejujuran adalah perjuangan menuju kebahagian malam.

Gugurlah air mata tak mengapa, senyap-senyap jangan sampai bernada, tunggang kepedihan, kelak ia bersayap putih, terbang mengitari kuburan nestapa.

Tanjung, 04-12-2014

BEKU

Dewi Airlangga (37)

Tak mengeja sepi
Hilangmu aksaraku mati
Dikejar berlari buntu
Ditunggu berarti bisu

Tak menafsir pilu
Lenyapmu penaku beku
Diam menyayat hati
Menulis menyedihkan puisi

Mati aksara beku sang pena
Sebaris seribu peluh
Sebait sejuta bungkam kubutuh
Otak dirantai
Hati kebingungan melerai
Sabung nyata dan khayal teramat mencekam

Beku dan beku
Kutulislah beku
Sebelum mencair ditiup waktu

Tanjung, 01-02 Desember 2014

SATU DESEMBER

Tinggal pucuk elegi 
Mantra-mantra di lemari
Syair-syair dalam peti
Puisi-puisi di kertas mati
Prosa-prosa melankolis
Himne-himne cinta realistis
Bait ke bait menangis
Dihujat drama tragis
Di pentas manusia yang bengis

Satu desember kupulangkan
Pada angin dititipkan
Bawa ke dunia tanpa masa
Jangan antariksa
Jauh yang tak ber-aksara
Bilamana surga
Tentu kafannya adalah karya

Tanjung, 01-12-2014