AKU YANG SETAN (II)


Kalian siapa
Aku yang perkasa
Kalian tak tahu apa-apa
Aku yang bisa segalanya
Kalian sampah-sampah tak berguna
Aku bunga hiasan dunia
Kalian siapa
Aku yang setan berbicara
Tanjung, 25-01-2015

BANGKIT DARI MATI SURINYA SANTRI

*Dibacakan pada acara Khitobah (BANGKIT DARI MATI SURINYA SANTRI) Wilayah Sunan Kalijaga Pondok Pesantren Nurul Jadid, 19 Januari 2015.

Assalamualaikum para santri
Selamat malam para santri
Selamat siang para santri
Selamat sore para santri
Selamat pagi para santri
Semoga waktu tak menenggelamkan santri
Semoga waktu tak memati-surikan santri

Sebelumnya...
Sebelum lisan mengering
Sebelum tenggorokan mati melingking
Mari kuberitahu....
Tentang yang akan kubacakan antara lilin-lilin
Antara gemuruh hujan yang mulai menggigil
Antara berantaranya bumi dan luasnya langit antar galaksi
Antara senyuman-senyuman manis dan jeritan-jeritan tangis kaum santri
Antara yang terindra dan yang sulit diterka
Mari kuberitahu....
Tentang yang akan kubacakan ini

Ini bukan sebuah puisi
Bukan ilusi
Bukan tentang mimpi
Bukan elegi
Apalagi sekedar refleksi
Ini adalah sebuah orasi untuk diri sendiri
Tentang santri yang seharusnya tak mati suri

Ingat tentang kehormatan sejati
Sejarah santri yang mengguncang pertiwi
Ingat tentang kebanggaan hakiki
Sejarah santri yang baik budi
Berakhlak islami
Berbudaya pribumi

Santri...
Mula-mula kudengar sebutan ini
Tak ingat awal, kapan telinga ini mulai mengenali
Sejurus kilat, familiar sekali kata santri menyublim dalam nadi
Kucari-cari, lama sekali
Kutanya-tanya, tak kunjung berarti
Kufikir-fikir, kesimpulannya malah nihil
Kemudian....
Baca ke baca
Fikir ke fikir
Cerita ke cerita
Dan akhirnya begini kudapatkan cerita

San..... san..... san.....
Ternyata San adalah suci
Tri...... tri...... tri......
Ternyata Tri adalah tiga untuk arti
Santri...
Ternyata santri adalah suci dari tiga dimensi

Dimensi...
Lalu aku bertanya lagi
Apakah tiga dimensi yang harus suci
Sejenak...
Otak mulai gusar
Neuron-neuron di kepala bergelimpangan berputar
Peluh gerimis beraroma amis
Mereka-reka dimensi yang diceritakan
Tak usai digapai, pencerita melanjutkan

Tiga dimensi...
Dimensi ucapan, dimensi perbuatan dan dimensi hati
Tiga dimensi yang sucinya harus terpenuhi
Barulah gelar santri hakiki disandang sang empunya hati

San... san... san...
Tri... tri... tri...
Kuhematkan lagi cerita dalam kesederhanaan
Santri adalah sucinya hati, perbuatan dan ucapan

Kemudian...
Kudengar lagi cerita baru
Dawuh kyai Abdul Haq Zaini sekitar 6 tahun yang lalu
Santri itu ada tiga macam yang harus kita tahu
Baiklah.... Mari kusebut satu persatu

Bismilla hirrohma nirrohim
San... san... san...
Tri... tri... tri...
Bau Santri adalah yang nomor satu
Adalah mereka yang bukan santri tapi mengaplikasikan nilai-nilai santri
Menyucikan tiga dimensi meski tak bergelar santri
San... san... san...
Tri... tri... tri...
Santri Bau adalah macam ke dua setelah yang nomor satu
Adalah mereka yang bergelar santri tapi mengabaikan nilai-nilai santri
Tak menyucikan tiga dimensi meski bergelar santri
San... san... san...
Tri... tri... tri...
Santri yang benar-benar santri adalah macam selain nomor dua dan satu
Adalah mereka yang bergelar santri dan mengaplikasikan nilai-nilai santri
Menyucikan tiga dimensi hingga menuju santri hakiki
Semoga kita termasuk dalam kategori ini

San... san... san...
Tri... tri... tri...

Cukuplah persepsi definisi
Mengurai kata santri tak cukup seribu miliar kata-kata orasi
Kata santri telah mengisi sejarahnya sendiri
Di bilik perjuangan , tatanan sosial, bangun peradaban, bahkan ideologi kebangsaan

Permasalahan sekarang adalah....
Kita yang berlabel santri
Masihkah kita ingin mati suri
Berwajah api tapi tak bisa membakar
Berwajah lautan tapi tak bisa menenggelamkan
Bersejarah kehormatan tapi tak bisa melanjutkan

Seperti kisah yang lalu-lalu
Kisah dari para leluhur dan para kyaiku
Lewat anggun tutur lisan mereka
Ataupun lewat catatan kesaksian mereka
Puing-puing sejarah yang berserakan
Mari kita tata ulang
Tentang kaum santri yang bersejarah menawan
Tentang kaum santri yang tak mati suri keenakan

San... san... san...
Tri... tri... tri...
Secarik kertas hasil telisik beberapa kisah
Tercatat kabar dari walisongo
Komando para santri abad 15
Bersama mereka....
Gugur tempur... Gugur tempur... Gugur tempur...
1513, bersama kerajaan Demak kaum santri membom-bardir Portugis di Malaka
Gugur tempur... Gugur tempur... Gugur tempur...
1526, bersama kerajaan Demak kaum santri meluluh-lantahkan Portugis di Sunda Kelapa

San... san... san...
Tri... tri... tri...
Beberapa abad selanjutnya
Nyanyian perang masih bergemerincing dipojok-pojok Nusantara
Jeritan bedil belanda masih nyaring menggema
Perjuangan merdeka semakin menggebu-gebukan upaya
Barisan kaum santri tak ingin diam saja
Mereka sigap satu komondo bersama para pejuang bangsa
Gugur tempur... Gugur tempur... Gugur tempur...
1674, bersama bendera Sultan Agung kaum santri turut menggempur
Gugur tempur... Gugur tempur... Gugur tempur...
1666, bersama bendara Sultan Hasanuddin kaum santri turut mengusir
Gugur tempur... Gugur tempur... Gugur tempur...
1821, bersama bendera Imam bonjol kaum santri turut menggembar-gembor
Gugur tempur... Gugur tempur... Gugur tempur...
1825, bersama Pangeran Diponegoro kaum santri turut membasmi londo
Pun perang Banten, 1888, perang Aceh 1873...
Kaum santri tetap setia, kokoh berjuang bersama bangsa untuk bangsa

Tak henti...
Tak kusut sulaman santri
Kala kumandang gerakan kemerdekaan menggema
Kaum santri malah semakin memuncakkan asa
Dengan langkah konkrit yang tak berbelit
Bersama Kyai Hasyim As’ari
Berdirilah Nahdlatul Ulama’ di bumi pertiwi
Bersama Kyai Wahab Hasbullah
Berdirilah Majlis Islam A’la Indonesia dengan kuasa Allah
Bersama Kyai Zainal Arifin
Berdirilah Pasukan Hisbullah yang tak kenal getir
Bersama Kyai Masykur
Berdirilah Pasukan Sabilillah yang siap menggempur

San... san... san...
Tri... tri... tri...
Kaum santri masih tak berhenti
Resolusi Jihad Kyai Hasyim As’ari adalah puncak konfrontasi
10 November 1945
Ingatkah kalian...
Pasca merdekanya indonesia raya
Pasukan Inggris mati kutu di tanah Surabaya

Santri
Lagi-lagi masih tak henti
Mewarnai berantara negeri dengan bunga-bunga suci
Menyatakan makna bahwa mereka tak mati suri
Lagi dan lagi
Kita kenal selepas merdekanya bangsa ini
Ada Moh. Rosyidi,  menteri agama berdarah santri
Ada Kyai wahid hasyim, menteri agama yang juga panitia persiapan kemerdekaan pertiwi
Ada Kyai Idham Kholid, ketua MPRS di gedung istana pribumi
Ada Kyai Abdurrahman Wahid, Presiden ke 4 negeri ini
Ada Bung Karno, ternyata proklamator indonesia adalah santri sejati
Ada dan ada banyak lagi
Ada banyak santri yang tak mati suri
Berjuang, tak hanya memikirkan diri sendiri
Mungkin dan mungkin
Mungkin ini maksud dawuh Kyai Zaini
“Saya tidak ridho santri saya tidak berjuang di tengah Masyarakat”
Mati suri sekarat
Tak menebar manfaat
Hidup berkecipung nikmat
Tak memikirkan umat

Santri mati suri
Masihkah kita menginginkannya dalam diri
Tak maukah kita meniru kyai-kyai tadi
Tak maukah kita meniru santri-santri tadi
Tak maukah kita hidup mewarnai kehidupan ini
Dengan sucinya tiga dimensi
Santri hakiki yang tak mati suri

Ya...
Tak mati suri

Probolinggo, 15-18 Januari 2015

AKU YANG SETAN

Jangan mendekat
Kau akan kulumat
Kucabik lahap dengan taring laknat

Sudah kubilang jangan mendekat
Berdarah sudah matamu menatap
Bersisakan bau amis pada mulutku yang bengkak

Tanjung, 15-01-2015

SELALU BEGITU ADANYA

Dewi Airlangga (48)
Setiap kali selalu begitu adanya
Rambut tergerai
Dari belakang aku menyelinap
Bersama desah knalpot
Kadang ronta kaki melangkah
Kadang juga jeritan pedal mengayun
Begitu menyelesaikan rindu
Sebelum kutinggalkan tanah bisu
Sayang...
Esok pagi begitu
Salam kutitipkan pada dedaduan di depan rumahmu
Dan jika kau tak keberatan
Tersenyumlah ke arahku
Esok pagi, sayang!
Begituku yang tak ubah baru
tanjung, 09-01-2014

PERTEMUAN DI BAWAH POHON

*Untuk Muhammad Taufik MK (Thefure 005)
Di bawah rinai kebahagian
Sehabis pipit-pipit pulas di pohon yang akhirnya menjadi payung
Tiga gelas kopi setengah panas
Menghantar pada cerita-cerita yang berbekas
Dirapikan lalu dihidangkan berpita naluri
Tentang manusia yang pasti merindukan kisah sebelum mati
Sekejap sekali berlalu pasti
Kemudian nyata dicuri senja hari ini
Menyisakan ornamen hati
Terpahatkan pengingat waktu
Agar suatu waktu melihatnya adalah tandu
Yang siap menghantarkanku menuju rindu
Tanjung, 08-01-2014

YANG BERSEMAYAM

Dewi Airlangga (47)
Kau di mata
Melucuti nyata
Kau di otak
Membumbui watak
Kau di garis wajah
Rambu hati yang terjajah
Tanjung setelah hujan, 01:00 wib, 03-01-2015

UNDANGAN RASA

Dewi Airlangga (46)
:Sebelumnya
Kau pasti kedinginan
Lebat air mengguyur tanah penantian
Dari jendela sukma aku menyelinap pandang
Kau yang bergaun terang
Pancaran dari semesta petang
:Selanjutnya
Tak letih kataku menggoda
Karena memang tak butuh nahkoda
Ia mengalir sealir rasa
Kupersilahkan saja biar tak semakin menderita
:Seusainya
Matamu kupejamkan dalam hujan
Bisikmu kusuarakan dalam awan
Senyummu kurekahkan dalam petir malam
Menjadilah aku meminang kerinduan
Tanjung kala hujan, 02-01-2015

BUKAN SEKEDAR ILALANG

Dewi Airlangga (45)
Sialan...
Mengejek siang-siang
Meludahi hati yang hampir riang
Aku tak pengecut sayang
Kejujuran bertahan bukan sekedar ilalang
Ini savana harapan
Kelak disini kubangun istana peradaban
Tempat tinggalku menuju Tuhan
01-01-2015

SELEPAS 2014


:Selepas
Selamat menempuh hidup baru
Permaisurimu bukan lagi si anggun lalu
Bergegaslah merajut belaian waktu


:Selepas
Catatan sejarah hampir dimakan uban
Selepas dipersilahkan ketuban
Kini dilepas setahun beraromakan luban


:Selepas
Ada kejujuran tersampaikan
Selaput mesra berdarah perjuangan
Dilepas pada angka bertajuk peringatan


:Selepas
Maka ingatlah benar-benar
Matahari telah terbit lagi memancar
Melepas malam pada terompet setan


Jambesari, 01-01-2015