UNTUK YANG DI BANDUNG


Aku meraih sepotong iri di bilik nadi
Untuk kau yang di Bandung
Mustika-mustika karya yang kau jejer di trotoar
Di dinding-dinding pasar
Bahkan di perempatan-perempatan jalan
Meski aku hanya mengintip dari kesunyiaan
Sebuah tempat dimana paceklik mimpi bertubi-tubi menghujam
Aku menggenggam bara api permusuhan abadi
Untuk kau yang di Bandung
Permadani-permadani kata yang kujejer di ke-tak-pastian
Di genting-genting harapan
Bahkan di jalan-jalan setapak persawahan
Meski kau tak sedetikpun melihat dari kemegahan
Sebuah tempat dimana pajangan-pajangan otak adalah kebanggaan
Aku mengernyitkan dahi
Untuk kau yang di Bandung
Di bawah terik panas hati yang kuderita
Aku akan melawan
Melukis Bandungku sendiri
Pinggiran Bondowoso, 28 Pebruari 2015

TETANGGA (ILALANG SEPUH)


Sebut saja namanya Ilalang Sepuh
Sudah ribuan manusia menginjak jasanya
Keringat ilalang bertaburan di setiap sudut ruang
Tempat manusia-manusia memerangi kebodohan
Setiap hari...
Setiap matahari memandang ubun-ubun
Ia memperhatikan pintu-pintu mengaung
Setiap pagi...
Setiap matahari menyapa subuh
Ia membelai lantai-lantai mengeluh
Berkopyah putih kusut
Bercelana selutut
Berbaju buntut
Ilalang sabar mengulang-ulang ritual semut
Ilalang Sepuh tak berakar keluh
Diinjak
Diludahi
Dimakan sapi
Ia tetap saja berdiri
Ilalang Sepuh beruban surgawi
Indah untuk diselimuti puisi
Biar tak kedinginan diterjang putaran bumi
Pinggiran Bondowoso, 12.46 WIB, 26-02-2015

TETANGGA (BUNGA)


Sebut saja namanya Bunga
Senyumnya angin di hutan rimba
Menerjang pepohonan tua
Berseteru mengalahkan dedaunan raksasa
Dikhianati suami berkepala naga
Berjudi di langit Nirwana
Menyemburkan api kala di istana
Menyanding bidadari-bidadari berbayar tahta
Sungguh mencekam nasib si Bunga
Beranak perawan muda dan lelaki ingusan
Ditinggal pergi tulang punggung tersayang
Apakah selanjutnya Bunga melawan
Jalan masih tak bersinar
Di ufuk matanya
Harapan jelas berbinar
Garis-garis matanya
Bernyanyi jutaan tanya
Kedip matanya
Simbol juang kegigihannya
Pandangan matanya
Bunga mengharap Bunga kembali mekar bersahaja
Di warna matanya
Sajak ini terlahir menyapa belahan makna
Di matanya, Bunga
Bondowoso, 25-02-2015

SELAMAT PAGI TERATAI EMAS


Teratai pelilit hati
Selamat membaca hari
Pada paragraf kali ini lantangkan suara
Jangan biarkan setan mencibir
Bentak kesombongan
Berdirilah dengan naluri
Cukup berlagak menyendiri
Sudah saatnya tak basa-basi
Bondowoso, 25-02-2014

RINDU METROPOLITAN

(Burung Nakal Kembali pada Sangkar)
Sudah dibegal umur
Kembali menjadi anak pinggiran yang kesepian
Kanan kiri yang hanya persawahan
Depan belakang yang hanya celotehan basa-basi persaudaraan
Sudah disetubuhi nasib
Kembali menjadi kekasih gelap metropolitan
Dikunjung hanya jika ada waktu luang
Dibelai hanya jika butuh hiburan
Padahal masih sebentar ditinggal
Metropolitan kini meninggalkan rindu teramat dalam
Kelakar lampu-lampu jalanan
Rengek trotoar perkotaan
Rintih ornamen-ornamen kemegahan
Serta rekah senyum perawan-perawan modis bergaya
Semua adalah rindu di heningnya desa
Sudah disudahi saja
Bala rindu harus dilawan paksa
Esok matahari terbit menjinjing surya
Pipit-pipit merayap mencuri padi
Hilir sungai merdu bernyanyi
Kabut tipis menyentuh pori
Kekasih abadi tersenyum menghibur diri
Menjenguk hati yang sakit menyendiri
Pinggiran Bondowoso, 23-02-2015

LELAKI YANG TERBUANG

(Istimewa untuk Andika Dika)
Ia adalah senyuman yang disandera malam
Ia adalah tatapan yang dipenjara siang
Ia adalah mantra masa lalu
Setiap yang membaca akan sakti merayu
Ia adalah cermin masa lalu
Setiap yang melihat akan lekas memacu
Ia adalah anak panah aksara
Setiap yang memanah akan bangga terpana
Sayang...
Waktu di titik nahas
Sekarang ia terbuang ke jurang yang tak pantas
Dihukum rimba
Diadili serigala
Ditertawakan angsa-angsa
Ia pucat terlihat jelas
Di keningnya bekas batu melaknat
Di pundaknya tak berbeban tapi tiarap
Menyakitkan benar terbayangkan
Sungguh malang lelaki terbuang
Semoga saja padanya Tuhan menunjuk jalan
Lalu saksikan
Mantra itu akan kembali sakti
Anak panah aksara akan melejit kilat
Lelaki terbuang akan segera membalas laknat
Menyudahi ludah-ludah yang tak bermanfaat
Tuhan...
Berikan ia sebuah kejutan
Agar terlihat lagi matanya berbinar
Bondowoso, 23-02-2015

EROPA


Terlintas...
Ingin aksara menjadi kode
Di jalan yang masih setapak, retak
Merinding aksara ragu berjujur asa
Melintas...
23-02-2015

SAJAK GURU PERJAKA


Wahai murid-murid perawan
Ini baca sajak dari guru perjaka yang kalian tuakan
Mata ini masih tak jinak
Nafsu ini masih panas merangak
Jangan kalian tersenyum manis
Apalagi menggoda genit
Takut-takut gurumu ini lupa tentang najis
Wahai murid-murid perawan
Pelajaran dimulai
Lupakan sejenak tentang naluri setan
Jangan kalian undang dengan kedip-kedip mencurigakan
Takut-takut gurumu ini benar-benar lupa daratan
Sekali lagi jangan
Tak usah lenggak-lenggok manja
Gurumu ini masih perjaka
Tak usah menatap berwajah bunga
Takut-takut gurumu ini benar-benar membawa petaka
Wahai murid-murid perawan
Tak ingin abdi sia-sia
Maka mohon jangan kalian memancing durjana
Karena jika ia sampai tertangkap
Maka kalian yang akan tersekap
Begitu silahkan kalian paham
Wahai murid-murid perawan
Bondowoso, 21-02-2015

PECAH

Dewi Airlangga (52)
Bongkahan nama, tersimpan dalam bejana tua, motifnya semakin lama semakin berevolusi bunga, dibentuk alam, dihaluskan takdir sang esa. Tertanya seberapa lama sempurna, bongkahan nama diam sejuta aksara, lebihnya kadang ia memaki asa, sakitnya bukan main, ubun-ubun serasa pecah. pecah. pecah.
Apa kiranya, bongkahan nama lenyap dimakan karat, atau keajaiban merubahnya menjadi air, kuteguk kubiarkan mengalir, menjadi ganti lelahku selama ini. Tertanya lagi, apakah itu mungkin, bejana tua harap-harap juga tak pecah. pecah. pecah.
Bondowoso, 20-02-2015

KYAI ZUHRI ZAINI TADI MALAM


Tadi malam
Kyai Zuhri berkunjung di bawah sadar
Di bawah pulas jiwa
Di bawah pulas raga
Tadi malam
Jelas beliau berdiskusi hangat dengan Gus Amak*
Di bawah lantai dua
Di bawah Tangga
Tadi malam
Aku sowan gembira berjumpa guru tercinta
Di bawah mata
Di bawah nyata
Tadi malam
Kini setelahnya adalah reka
Pesan apakah yang tersirat sebenarnya
Yakinku beliau sedang mengajariku tentang yang nyata
Tadi malam
Kini setelahnya adalah kebahagiaan
Memandang guru dalam kerinduan
Membimbing meski dalam ketak-sadaran
19-02-2015
*Nama panggilan Gus Imdad Rabbani, Putra KH. Zuhri Zaini

INGIN KUJADIKAN SETAN

Dewi Airlangga (51)
Setan, kau setan
Enyahlah dari otakku
Malah bersarang kebal
Setan, kau setan
Ingin kuanggap kau setan
Ah, kau bernyata keanggunan
Bermata harapan
Tersenyum melambaikan kesetiaan
Setan... setan...
Aku muak berpuisi puji
Kumaki kau malah berbentuk mimpi
Aku muak, sayang
Teramat lelah berusaha menjadikanmu setan
Mataku seakan buta bidadari-bidadari di sampingku
Aku muak, sayang
Muak...
Ingin kuludahi kisah ini
Biar secepat kilat aku berdiri
Lalu memandang masaku yang tak basi
Tanjung, 18-02-2015

TAK JAUH BEDA DENGAN ROKOK

Dewi Airlangga (50)
Sulit mengalah kepada candu
Berhenti merokok butuh komitmen tangguh
Kenikmatan memainkan kepulan
Keindahan berlagak santai dengan sentuhan
Luar biasa tak mudah ditinggalkan
Tak terfikir seberapa banyak pengorbanan
Mati ya sudah mati
Meski di bungkusnya sudah jelas mengakibatkan mati
Tapi ini tantangan sebelum mati
Kalau takut, ya pecundang
Kejujuran atas kenikmatan jauh lebih berarti
Meski konsekuensinya jelas, mati
Tak jauh beda pun rupanya
Dewi Airlangga begitu adanya
Bondowoso, 18-02-2015

KUBALAS RINDUMU “BAJINGAN” MASA LALU

*Catatan untuk sahabatku ANDIKA DIKA
Sahabatku!
Aku dendam menaklukkan malam kita, aku dendam memaki karya kita, aku dendam mencibir kesombongan kita. Aku dendam semua tentang kita, lagu-lagu yang kau putar, sekarang aku sering mengajaknya mengembara di ruangan ini, merdu, hingga sesekali aku menangisi pergi bersamanya, entah apa yang pergi, aku juga bingung. Yang jelas sahabatku, ada segerombolan bajingan yang seharusnya kita tahu, mereka selalu menggerogoti nurani kita, mereka bergerilya pada sudut-sudut sempit jiwa kita. Kebencian, keegoisan, kesombongan, kedengkian dan yang semua aku tak bisa menyebutnya, berbaju baja, berperisai kuat, bersenjata pedang tajam mengkilat. Mereka yang kuduga telah membuatku bingung, mematikan semua kemalaikatanku, buta membedakan yang mana yang sebenarnya kebenaran. Tapi tenang, Tuhan selalu memberi kejutan, semua akan terjawab pada waktu yang pada hakikatnya telah ditentukan. Seperti sekarang ini, kau pasti mengerti. Begitupun dengan yang kau rasakan sekarang, tentang bajingan-bajingan yang sedang kau lawan. Dan sekedar kabar, sekarang aku sedang melawan bajingan-bajingan yang jauh lebih menakutkan. Doakan aku mampu menaklukkan mereka yang sedang mengaung ingin memangsaku, sahabatku.
Sahabatku!
Kau bernostalgia tentang sebuah puisi, akupun juga!
SETANGKAI BUNGA KATA; UNTUK SAHABATKU
;Sudah lama sahabatku
Rekah senyummu bersembunyi
;Petang ini
Diantara lilin tadarus
Kau mengecup bahagiaku kembali
;Kemari sahabatku
Ini setangkai bunga kata
Telah kulilitkan tali silaturrohmi
Juga pita merah simbol juang kita yang terperikan
;Jangan bungkam lagi
Ini aku berpuisi
Tentang untaian duri yang kumiliki
Karena aku bosan menyakiti
;Sedari ini
Mari berpuisi segubuk lagi
Biar sama-sama ber-dingin ilusi
Mimpi yang kau ajari
;Cukup setangkai bunga kata ini
Nyaliku memelukmu sahabatku
03-07-2014
Pelik memang hidup ini, hati lebih runyam dari sekedar kenyataan. Maka tak heran jika semua ujung pencarian pelbagai bidang ilmu adalah ketenangan. Dan memelukmu dengan aksaraku adalah ketenanganku yang tak bisa ditukar hanya dengan sekadar bajingan-bajingan kelam.
Sudahlah sahabatku, aku terharu membaca tulisanmu, aku bukan siapa-siapa yang pantas dirindu, jangan mengajakku menetaskan air mata sendirian, disini teramat sepi. Suatu saat akan ada sebuah tempat, kita akan disana bersama, menulis puisi-puisi bersama lagi, tentang wanitamu, tentang wanitaku, tentang hidup ini, tentang bajingan-bajingan, tentang alam, tentang Tuhan atau tentang apa sajalah, atau juga tentang kita sendiri. Yang terpenting, jangan menyerah, tak ada yang mudah, tapi harus tabah. TETAP SEMANGAT DAN TERUS BERKARYA. Tertawa juga, karena dunia ini sangat pantas untuk ditertawakan.
Jambesari, 11-02-2015

PANTOFEL KERINGAT AYAH


Berjalan gagah
Pantofel mengkilat mewah
Sekali lewat mata-mata sumringah
Sang akademisi bangga menyongsongkan kerah
Cuuuuuuuuuuih...
Apa bangga yang dibangga
Kau garis miring Aku, siapa kita?
Pantofel bukan keringat siapa-siapa
Adalah keringat ayah yang kita injak suka-suka
Lalu apa kita gagah menaklukkan cita-cita
Jika sekalipun tak pernah kita semir mesra
Pantofel yang bergelimpangan duka
Hingga sekarang, kita bahagia mamakainya
Pantofel keringat Ayah
Jangan sampai lupa
Esok malaikat pasti akan menyakannya
Jambesari, 11-02-2015
Refleksi Pantofel hari pertama

SAJAK SANG PENGANGGURAN


Diukur lama kasur empuk
Belai bantal hingga kantuk
Pulas lalu hati mengamuk
Dipandang masa-masa merajut
Buku-buku, aduh... setumpuk
Mencekam lalu hati tersudut
Dibaca do’a-do’a memohon petunjuk
Tuhan, aduh... pengangguran sedang bersujud
Hening lalu hati pasrah manggut-manggut
Mau (di)apakan lagi
Pengangguran, aduh... bosan memeluk
Mengamuk lalu tersudut lalu manggut-manggut
Jambesari, 10-02-2015

BONDOWOSO PAGI


Kabut tipis membekap mesra
Angin pulas belum bangun mengembara
Langit cerah merona 
Burung-burung kecil mengintip dari sangkarnya
Bondowoso pagi, istimewa
Rekahlah senyum-senyum khalifahnya
Pilu dibakar pagi
Lara ditendang pergi
Hati berpesta melati
Semerbak aroma ikut serta berpuisi
Untuk Bondowoso pagi
Benar-benar surgawi
Tuhan lagi-lagi menunjukkan ke-maha senimanannya lagi
Di inti Bondowoso pagi
Jambesari. 10,02,2015

NURUL JADID, AKU PAMIT (II)

Lagi-lagi aku pamit Nurul Jadid
Jangan menetes air mata
Simpan saja dengan suka
Nurul jadid yang akan tahu jika kau berat meninggalkannya
Jangan menetes air mata
Simpan saja dengan bahagia
Nurul jadid masih rumahmu yang kau boleh merindukannya
Jangan menetes air mata
Simpan saja dengan pamit bahagia
Nurul jadid akan membimbingmu dengan do’a-do’anya
Jangan menetes air mata
Simpan saja...
Nurul jadid telah menjadi kepingan jiwa
Bagi tuanmu, Aku, wahai air mata
Tanjung, 08-02-2015

NURUL JADID, AKU PAMIT (I)


Aku ingin mengembara
Aku ingin menaklukkan masa depanku
Sesekali aku akan pulang, Nurul Jadid
Menengok kau, Rumahku, Nurul Jadid
Mungkin kau akan lebih megah
Masjid akan semakin sesak
Santri-santri akan lebih sibuk dari sekarang
Aku pamit Nurul Jadid
Doakan aku mengamalkan ilmu
Seperti pesan Kyai Zuhri dalam pamitku
Barokah yang selalu menjadi harapku
Seperti pesan Kyai Fahmi yang juga dalam pamitku
Aku pamit Nurul Jadid
Bingungku menulis tentangmu
Bukan karena kau tak berarti untukku
Justru karena kau teramat berarti untukku
Aku pamit Nurul Jadid
Maafkan salah-salahku
Teramat sering mengabaikan aturanmu
Aku pamit, Rumahku
Tanjung, 07-02-2015

BENCANA HATI


Gempa hati memakan korban lagi
Ketak-tenangan ketakutan bertubi-tubi
Musnah bangunan kemegahan
Rata menatap masa depan
Roboh mercusuar yang dibangun untuk harapan
Tak bisa menatap setitik sinar di tengah lautan
Bencana hati
Telah usai menerjang ganas
Bangunan-bangunan saatnya dibangun lagi
Waktu masih panjang
Cukup untuk membangun yang lebih megah lagi
Bencana hati
Tanpa sombong kutantang
Datanglah lagi biar aku lebih berarti
Tanjung, 04-02-2015

AKULAH SEBATANG ROKOK


Akulah sebatang rokok
Telah kalian hisap
Entah kalian kepulkan atau tidak
Asap-asap sisa adalah mimpiku
Mereka telah terbang
Melayang-layang melanglang-semesta
Ditikam angin diinjak hujan disambar petir
Akulah sebatang rokok
Telah berubah menjadi puntung
Entah bagaimana selanjutnya
Nasib puntung adalah pertanyaan
Ke tong sampah yang tak kuharapkan
Semoga tidak... semoga tidak... semoga tidak
Amin...
Atau puntung berubah menjadi cindramata
Dibalut berlian-berlian cinta
Diwarnai percikan-percikan cita-cita
Lalu diabadikan di istana surga
Semoga iya... semoga iya... semoga iya...
Amin... amin... amin...
Tanjung, 02-02-2015
Refleksi dicabutnya gelar Kepala Wilayah Sunan Kalijaga

AKU YANG SETAN (III)


Air liur subuh
Banjir yang menenggelamkan iman
Sudahlah mati tabiat ke-hambaan
Tuhan ditikam santai
Sedang itu aku berwajah setan
Dimanja mata-mata neraka
Dibelai tubuh merana
Oleh selimut mati, hati
Tanjung, 02-02-2014

PULANG TANPA NYATAMU

Dewi Airlangga (49)
Dari aku membelai pagi
Ditunggu kau berjalan anggun di karpet merah yang kusediakan
Dipandang mataku seperti yang lalu-lalu adalah harapku
Ternyata engkaupun tak kunjung datang
Hingga senja kutendang dengan kekecewaan
Kau tak kunjung datang pula
Apakah aku benarlah gila
Tiadamu menyeretku berimajinasi rasa
Kubuat kau berdiri nyata di pentas aksara
Ganti ke-tak-hadiranmu kemarin lusa
Padahal skenarioku adalah tapa
Kemarin adalah akhirku memandangmu berdimensi sama
Sebelum aku dipulangkan paksa
Ternyata beginilah skenario Tuhan yang esa
Selamat tinggal sayang...
Esok selalu kejutan Tuhan yang kuharapkan
Tanjung, 01-02-2015