KUBALAS RINDUMU “BAJINGAN” MASA LALU

*Catatan untuk sahabatku ANDIKA DIKA
Sahabatku!
Aku dendam menaklukkan malam kita, aku dendam memaki karya kita, aku dendam mencibir kesombongan kita. Aku dendam semua tentang kita, lagu-lagu yang kau putar, sekarang aku sering mengajaknya mengembara di ruangan ini, merdu, hingga sesekali aku menangisi pergi bersamanya, entah apa yang pergi, aku juga bingung. Yang jelas sahabatku, ada segerombolan bajingan yang seharusnya kita tahu, mereka selalu menggerogoti nurani kita, mereka bergerilya pada sudut-sudut sempit jiwa kita. Kebencian, keegoisan, kesombongan, kedengkian dan yang semua aku tak bisa menyebutnya, berbaju baja, berperisai kuat, bersenjata pedang tajam mengkilat. Mereka yang kuduga telah membuatku bingung, mematikan semua kemalaikatanku, buta membedakan yang mana yang sebenarnya kebenaran. Tapi tenang, Tuhan selalu memberi kejutan, semua akan terjawab pada waktu yang pada hakikatnya telah ditentukan. Seperti sekarang ini, kau pasti mengerti. Begitupun dengan yang kau rasakan sekarang, tentang bajingan-bajingan yang sedang kau lawan. Dan sekedar kabar, sekarang aku sedang melawan bajingan-bajingan yang jauh lebih menakutkan. Doakan aku mampu menaklukkan mereka yang sedang mengaung ingin memangsaku, sahabatku.
Sahabatku!
Kau bernostalgia tentang sebuah puisi, akupun juga!
SETANGKAI BUNGA KATA; UNTUK SAHABATKU
;Sudah lama sahabatku
Rekah senyummu bersembunyi
;Petang ini
Diantara lilin tadarus
Kau mengecup bahagiaku kembali
;Kemari sahabatku
Ini setangkai bunga kata
Telah kulilitkan tali silaturrohmi
Juga pita merah simbol juang kita yang terperikan
;Jangan bungkam lagi
Ini aku berpuisi
Tentang untaian duri yang kumiliki
Karena aku bosan menyakiti
;Sedari ini
Mari berpuisi segubuk lagi
Biar sama-sama ber-dingin ilusi
Mimpi yang kau ajari
;Cukup setangkai bunga kata ini
Nyaliku memelukmu sahabatku
03-07-2014
Pelik memang hidup ini, hati lebih runyam dari sekedar kenyataan. Maka tak heran jika semua ujung pencarian pelbagai bidang ilmu adalah ketenangan. Dan memelukmu dengan aksaraku adalah ketenanganku yang tak bisa ditukar hanya dengan sekadar bajingan-bajingan kelam.
Sudahlah sahabatku, aku terharu membaca tulisanmu, aku bukan siapa-siapa yang pantas dirindu, jangan mengajakku menetaskan air mata sendirian, disini teramat sepi. Suatu saat akan ada sebuah tempat, kita akan disana bersama, menulis puisi-puisi bersama lagi, tentang wanitamu, tentang wanitaku, tentang hidup ini, tentang bajingan-bajingan, tentang alam, tentang Tuhan atau tentang apa sajalah, atau juga tentang kita sendiri. Yang terpenting, jangan menyerah, tak ada yang mudah, tapi harus tabah. TETAP SEMANGAT DAN TERUS BERKARYA. Tertawa juga, karena dunia ini sangat pantas untuk ditertawakan.
Jambesari, 11-02-2015