JAWA POS RADAR BROMO EDISI 08 MARET 2015

JAWA POS RADAR BROMO EDISI 08 MARET 2015

SAJAK GURU PERJAKA

Wahai murid-murid perawan
Ini baca sajak dari guru perjaka yang kalian tuakan

Mata ini masih tak jinak
Nafsu ini masih panas merangak
Jangan kalian tersenyum manis
Apalagi menggoda genit
Takut-takut gurumu ini lupa tentang najis

Wahai murid-murid perawan
Pelajaran dimulai
Lupakan sejenak tentang naluri setan
Jangan kalian undang dengan kedip-kedip mencurigakan
Takut-takut gurumu ini benar-benar lupa daratan

Sekali lagi jangan
Tak usah lenggak-lenggok manja
Gurumu ini masih perjaka
Tak usah menatap berwajah bunga
Takut-takut gurumu ini benar-benar membawa petaka

Wahai murid-murid perawan
Tak ingin abdi sia-sia
Maka mohon jangan kalian memancing durjana
Karena jika ia sampai tertangkap
Maka kalian yang akan tersekap

Begitu silahkan kalian paham
Wahai murid-murid perawan


Bondowoso, 21-02-2015

TETANGGA (BUNGA)

Sebut saja namanya Bunga
Senyumnya angin di hutan rimba
Menerjang pepohonan tua
Berseteru mengalahkan dedaunan raksasa

Dikhianati suami berkepala naga
Berjudi di langit Nirwana
Menyemburkan api kala di istana
Menyanding bidadari-bidadari berbayar tahta

Sungguh mencekam nasib si Bunga
Beranak perawan muda dan lelaki ingusan
Ditinggal pergi tulang punggung tersayang
Apakah selanjutnya Bunga melawan
Jalan masih tak bersinar

Di ufuk matanya
Harapan jelas berbinar
Garis-garis matanya
Bernyanyi jutaan tanya
Kedip matanya
Simbol juang kegigihannya
Pandangan matanya
Bunga mengharap Bunga kembali mekar bersahaja
Di warna matanya
Sajak ini terlahir menyapa belahan makna
Di matanya, Bunga

Pinggiran Bondowoso, 25-02-2015

TETANGGA (ILALANG SEPUH)

Sebut saja namanya Ilalang Sepuh
Sudah ribuan manusia menginjak jasanya

Keringat ilalang bertaburan di setiap sudut ruang
Tempat manusia-manusia memerangi kebodohan

Setiap hari...
Setiap matahari memandang ubun-ubun
Ia memperhatikan pintu-pintu mengaung

Setiap pagi...
Setiap matahari menyapa subuh
Ia membelai lantai-lantai mengeluh

Berkopyah putih kusut
Bercelana selutut
Berbaju buntut
Ilalang sabar mengulang-ulang ritual semut

Ilalang Sepuh tak berakar keluh
Diinjak
Diludahi
Dimakan sapi
Ia tetap saja berdiri

Ilalang Sepuh beruban surgawi
Indah untuk diselimuti puisi
Biar tak kedinginan diterjang putaran bumi

Pinggiran Bondowoso, 12.46 WIB, 26-02-2015