A.B.S.T.R.A.K

Tiba-tiba saja sajadah terbang
Dibawah banjir ketakutan mengendus dosa
Kemudian sukma lari menjinjing doa
Di kala hujan hari ini nanah mengalir ke sungai bahagia
Apa artinya, intinya, katanya, tanyanya, jawabnya
Tak ada sia-sia
Serumit apapun ujungnya tetap rahasia
Apalagi hanya nyata

Di Bumi Tuhan, 01 Mei 2015

SELAMAT PAGI... KAMPUNGAN

Ilustrasi Kampung

Hey...
Selamat pagi... kampungan
Selamat pagi ayam-ayam... kampungan
Selamat pagi tua-tua... kampungan
Selamat pagi pedagang-pedagang... kampungan
Selamat pagi muda-mudi... kampungan
Selamat pagi kabut-kabut... kampungan
Selamat pagi langit-bumi... kampungan
Selamat pagi bayi-bayi... kampungan
Selamat pagi semuanya... kampungan

Hey...
Matahari terbit lagi membawa setangkai siang
Sarinya mari kita bagi rata jangan saling kecam
Apalagi main bacok belakang

Hey...
Warung sebelah menyediakan gorengan
Kopi hitam mengepul persaudaraan
Mari berkumpul dulu sebelum mengais permata di ladang
Sebelum menjajakan karya tangan kesederhanaan
Sebelum mengayun roda perjuangan
Pun memutar ulang kebiasaan kampungan menertawakan siang

Hey... kampungan
Impian sesederhana panen padi di persawahan
Menjadi penerus Ki Hadjar Dewantara
Menjadi penerus Walisango
Menjadi orang bervantofel di istana desa
Atau petani beken seantero kampung belantara
Sederhana sekali kampungan bermimpi ria

Hey... Kampungan
Sedang aku adalah kampungan pengikut irama
Seperti lagu-lagu dangdut yang kalian mainkan
Akupun turut serta bergoyang
Meski tetap melirik panorama indah lainnya di balik perkampungan

Atau mungkin bukan hanya aku
Ada kampungan malu-malu
Ternyata mimpinya bukan sekedar tradisi geografis yang beku

Kampung Jambesari, 29 April 2015

DARI RH HINGGA K HINGGA D

Dewi Airlangga(61)

Dari K hingga D
Telah hafal kulumpuhkan permainanan
Level satu ketika berapi menyerbu
Level dua ketika dipisahkan petang
Di pertigaan yang menakutkan itu

Sebelumnya K hingga D tiada
Berkelahi di terminal melawan raja kebisingan
Inisialnya masih RH
Ia adalah latar petarung berpeluh dosa

Hingga level satu, dua seperti cerita
Kemudian K masih mengelana menantang tema
Beradu lava, hutan, lautan dan alam jagat imajinasi surga
Masih belum D yang gagah hingga sekarang

K lagi kuceritakan
Ia terbang hingga malang, jakarta, puncak keteduhan
Hingga surabaya K naik tahta
Level selanjutnya jauh lebih murka

Selamat datang di arena D
Level semakin jelas
Terhunus pedang, ditusuk tangisan
Sudah biasa di level yang penuh petaka

Sering diinjak kepastian
Ia terbangun lagi dengan hati terkuliti
Petarung masih merasa terhormat dibanding berpura-pura mati
Level D harus tuntas hingga inti
Dimana sang Ratu setidaknya berbekas luka sejati
Dan pada kalanya ia akan ingat
Bekas luka adalah keabadian sang pejuang yang tak dikasihi

Bumi Kaisar Air Mata, 28 April 2015

RASA TAK BERNAMA

Dewi Airlangga (60)

Segelintir otak menghabiskan renyahnya kebahagiaan
Ada juga memikirkan kegelisahan
Tapi tidak dengan otakku
Hingga kini ia mengelana di sekujur tubuh Dewi yang terlantar
Bukan kebahagiaan bukan pula kegelisahan
Ia adalah rasa tak bertema yang terfikirkan

Seglintir mata menghabiskan pandang tentang keindahan
Ada juga menikmati gerak jagat raya di perjalanan
Tapi tidak dengan mataku
Hingga kini ia memandang keabstrakan yang teramat pekat
Bukan keindahan bukan pula perjalanan
Ia adalah sosok tak terbelai namun bisa dirasakan

Segelintir hati menghabiskan penatnya kebimbangan
Ada juga merasakan keseimbangan fikiran
Tapi tidak dengan hatiku
Hingga kini ia menelisik makna yang teramat sulit dipecahkan
Bukan kebimbangan bukan pula keseimbangan fikiran
Ia adalah rasa tak bernama yang kerap mengajak berdansa

Segelintir perbedaan telah memuncak sekian lama
Ada kalanya sadar akan semua
Tapi naluri kehewanan pun ada kalanya merusak makna
Bukan sia-sia kemudian kubuat peringatan dengan nama
Kunamai rasa tak bertema dengan sebutan Dewi Airlangga

Bondowoso, Siang yang petang, 25 April 2015

KEMBALI SEBELUM BERDOSA

Dewi Airlangga (59)

Sebentar dulu kabut pagi
Jangan beranjak menghilang dimakan sinar
Kemarilah sebentar saja
Luangkan waktu bersamaku
Kita tulis lagi Dewi Airlangga yang hingga kini membatu

Sebelum berdosa
Biarkan aksara Dewi Airlangga memaki nahasnya cinta
Hingga sampai suatu kala yang berbeda
Dosa akan mengalir bersama tinta ketika tertulis tentangnya

To be continued, 24 April 2015

JADILAH SEPERTI MALAM KAWAN


“Entahlah, malam tak akan pernah selesai dikaji, kesunyiannya, ketenangannya, keteduhannya, selalu saja membuat diri menjadi lebih tenang dan berfikir terang”

Malam, entah apa definisi malam yang paling tepat. Jika mendefinisikannya sebagai kegelapan sepertinya kurang tepat. Jika mendefinisikannya sebagai waktu beristirahat pun-sepertinya kurang tepat. Pada malam biasanya semua mimpi-mimpi bermain ria, baik sadar ataupun tak sadar. Ia menawarkan berjuta imajinasi, berjuta inovasi, berjuta ide-ide yang jarang didapati di waktu-waktu yang lainnya. Malam, sudahlah, malam ya malam. Biarkan ia menjadi dirinya yang penuh pertanyaan dengan cara ia diam.

Selanjutnya kawan, kuajak kalian menjadi seperti malam. Menjadi seperti ia yang sunyi, menjadi seperti ia yang tenang, menjadi seperti ia yang meneduhkan dan akhirnya kita akan selalu berfikir terang.

Pertama, kubawa kalian kepada sunyinya malam kawan. Sunyi bisa disama-artikan sebagai diam. Mari kita perhatikan, dengan diamnya malam bukan berarti ia lemah, bukan berarti ia tak punya kekuatan untuk mencekam tapi diamnya malam justru karena ia menyimpan banyak sekali kekuatan dan banyak sekali potensi untuk mencekam. Dari hal tersebut kita bisa belajar pada malam kawan, pelajarannya adalah bagaimana kita tak menampakkan “kekuatan” yang sudah kita miliki, bahasa yang lebih kasar adalah “kita tak boleh menyombongkan diri”. Diam saja, dan hanya ketika sudah pada waktunya untuk menunjukkan “kekuatan” maka tunjukkanlah. Ketika sudah waktunya untuk mencekam maka mencekamlah.

Kedua, masih tentang malam kawan. Yang kedua ini adalah belajar tenang seperti malam. Lagi dan lagi, mari kita perhatikan malam ketika hujan, ia tetap tenang bukan, justru lebih tenang dari yang biasanya. Petir menghantam, justru ketenangan malam semakin sakral. Nah, berangkat dari pernyataan tadi mari kita analogikan hujan dan petir tadi sebagai masalah untuk kita yang perannya sebagai malam. Buatlah diri kita menjadi tenang ketika “hujan” dan buatlah lebih tenang lagi ketika “hujan bersekutu dengan petir” mengamuk kita. Anggaplah mereka penghias malam yang sedang kita perankan, penghias langit kita dengan kilatnya, pemerdu bumi kita dengan rintiknya.

Malam dan lagi-lagi malam. Mari kita lanjutkan pelajaran malam ini kawan. Selanjutnya, setelah kita belajar pada sunyi dan tenangnya malam, kita akan belajar tentang bagaimana malam meneduhkan. Ya, silahkan diperhatikan lagi, sungguh malam sangatlah meneduhkan kawan. Malam meneduhi banyak manusia secara bergantian, berjalan ke arah barat setiap hari, satu persatu manusia diteduhinya tanpa ada satupun yang luput dari teduhannya. Sekarang pelajarannya cukup jelas, tak maukah kita meneduhi seperti yang dilakukan malam, tak maukah kita meneduhi teman-teman kita, keluarga kita, tetangga kita bahkan orang lain yang tak kita tahu identitasnya. Karena sungguh sebuah kebanggaan sejati dalam jiwa, jika kita berjuang diri untuk selalu meneduhi sesama atau bahkan seluruh alam jagat raya, ya tentunya sesuai dengan kemampuan kita.

Begitu kiranya kawan, kita berusaha menjadi malam. Meski sebenarnya masih banyak lagi yang bisa dianalogikan tentang malam dan kita, meski masih banyak lagi pelajaran malam yang dapat kita renungi, tapi mungkin dengan hanya tiga pendekatan tentang malam yang dipaparkan tadi kita bisa menjadi manusia yang lebih baik. Menjadi manusia yang lebih bermanfaat. Menjadi manusia yang lebih disayangi-NYA. Amin!.


*Ditulis ketika hujan membasahi tanah kelahiranku pada jam 00.30 wib, 22 April 2015.

LENA

Hei kau lena
Kenapa kau betah mengusik jiwa
Enyahlah
Aku tak sanggup menerkamu

Bibir ocehanmu
Mata kedipanmu
Akh, kurang ajar sekali kau lena

Lena
Kumohon dalam decak aksara yang mulai tak menawan
Enyalah dari muka
Dari jiwa
Dari rasa
Dari otakkku yang ter"lena"

Lena
Kembalikan pena yang kau rampas paksa
Soalnya disana mantraku satu-satunya
Sumber saktiku menaklukkan petaka masa

Lena
Tak haruslah kumemohon seribu lara
Mengertilah dan tinggalkan aku selamanya
Lena... Lena...
Aku merana Lena

Pedalaman Jawa Timur, 19 April 2015, Tentang Lena

PUISIKU DAN AKU


;Puisiku
Aku tak akan lagi menangisimu
Mau kau hidup, mati, menghilang dimakan aspal
Aku tak peduli
Senyumku adalah kamu yang akan lebih manis
Hingga jika aku menangisimu
Maka tentu kamu adalah kematian yang kosong arti

;Puisiku
Larut malam ini di semediku yang bersibuk meninggalkanmu
Tertulis tafsir-tafsir tentangmu
Wajahmu yang kukenal penuh air mata kesepian
Kuhapus dalam khayal yang kuciptakan tanpa berlebihan

:Puisiku
Mari kita berpeluk mesra dalam keabstrakan ini
Kecup mataku yang lelah
Belai rambutku yang lama sekali tak mengenali basah

;Puisiku
Kita masih keajaiban di roda-roda kehidupan
Kita masih bernostalgia tentang yang lama-lama
Kita yang mengutuk kematian jiwa kita
Kita akan bersama sampai detik tinta terakhir tertulis sempurna
Amin

Bondowoso, 16 April 2015

BELAJAR HIDUP PADA RACIKAN KOPI TUBRUK


“Racikan kopi tubruk yang paling ideal bagi pecinta kopi adalah satu sendok kopi tubruk ditambah satu sendok gula untuk satu gelas kecil. Jika kopi tubruk lebih dari takaran tersebut maka akan terlalu pahit, sebaliknya, jika takaran gula lebih dari takaran tersebut maka akan terlalu manis dan kopinya akan kehilangan ciri khas rasanya”.
- Racikan Kopi Ala Penulis -

Itulah diatas rumus racikan kopi tubruk yang ideal. Ada keseimbangan antara kopi dan pemanisnya. Tak berlebihan dalam keduanya. Pun saling melengkapi untuk menciptakan sebuah rasa istimewa. Rasa yang nantinya akan lebih membuat kita “terbang” ketika kita menikmatinya (hanya pecinta kopi yang tahu).

Dan mari kita belajar menafsirkan racikan kopi tubruk ideal sebagai motivasi dalam menjalani hidup ini, memberikan filosofinya sendiri, menyulam arti dibalik kenikmatannya. Yang dalam keadaan sadar, ketika kita menikmati kopi ataupun ketika melihat kopi, kita akan ingat tentang filosofi/arti yang kita sematkan dibalik racikan kopi tubruk tadi.

Mari kita mulai memberi arti/filosofi. Pertama kopi tubruk, kopi tubruk adalah kepekatan, simbolisasi dari sebuah perjuangan, pengorbanan, usaha dan lain sebagainya yang kita anggap pahit dalam hidup ini. Kedua gula, gula adalah kadar manis, simbolisasi dari kesenangan, hiburan, tawa dan lain sebagainya yang kita anggap manis dalam hidup ini.

Ditarik dari arti filosofis yang telah kita buat tadi, maka hidup yang ideal adalah keseimbangan antara kopi tubruk dan gula. Jika terlalu banyak kopi tubruknya, maka akan terlalu pahit hidup kita. Kita hanya berjuang, berusaha hingga lupa “keringat” kita sudah bukan seharusnya, terlalu memaksa tanpa melihat realitas yang sebenarnya, hingga lupa untuk memberi sedikit gula, atau bahkan tak memberi gula sama sekali untuk hidup kita. Kasihan sekali keadaan yang sedemikian rupa, menyiksa dengan kehendak yang berlebihan, hingga jiwa luput dari ketenangan dan kesenangan.

Selanjutnya adalah manakala terlalu banyak gulanya. Ketika sudah seperti ini, maka jelaslah, tak ada nilai dalam hidup kita, minim akan perjuangan, minim akan pengorbanan, tak ada greget yang akan kita rasakan. Semuanya hanya gula. Kesenangan, foya-foya, kebahagiaan yang kita rasakan adalah “kulit”nya saja, bukan substansi dari kebahagiaan yang sebenarnya. Kenikmatan kopi tubruk yang hanya dari aromanya saja, bukan kenikmatan kopi tubruk yang sebenarnya.

Begitu kiranya racikan kopi tubruk dalam filosofi/arti yang sederhana. Pelajaran yang mula-mula tersaji dalam kenikmatannya. Jika anda berfilosofi lain, silahkan diracik ala anda sendiri, jika sudah, maka berbagilah dengan tetangga, saudara ataupun kepada siapa saja yang anda anggap membutuhkannya.

15 April 2015

FAST & FURIOUS 7 DAN PESAN-PESAN DI DALAMNYA


Sebuah sekuel film Box Office yang ditunggu-tunggu telah dirilis, milyaran pasang mata dari seluruh penjuru bumi telah menikmati kemegahannya, aksi-aksi yang spektakuler, teknologi yang canggih, drama yang mengharukan, semua bisa dinikmati pada film yang dirilis pada 3 April 2015 ini.

Ada banyak pesan berharga yang mungkin bisa kita ambil dari film yang disutradarai oleh James Wan ini. Pesan-pesan itu banyak terselip diantara pecahan-pecahan kaca perkelahiaan, diantara panasnya balap jalanan hingga diantara menawannya kisah sebuah keluarga.

Sungguh, jika kita menangkap hal yang positif dari film ini, bukan hanya sekedar hiburan yang dapat kita nikmati. Banyak yang patut dijadikan referensi untuk dijadikan refleksi diri. Dom, Brian, Letty, dan Hoobs telah mengajarkan kita banyak hal, berikut mungkin yang bisa kita ambil pelajaran.

Pertama, Pemimpin seharusnya selalu di depan. Adalah Dom yang menjadi pemimpin pada film yang memakan biaya produksi sebesar 250 juta dollar AS atau setara dengan Rp 3,2 triliun ini. Dalam banyak adegan dialah pemimpin yang harus dicontoh, dia selalu di depan dalam semua perjuangan Tim, semisal ketika dia terjun dengan mobilnya dari Pesawat untuk menyelamatkan Ramsey, dia berada di barisan pertama agar diikuti semua anggota Tim. Konsekuensi besar yang pastinya jarang dilakukan pemimpin kebanyakan.

Kedua, Tak ada teman yang ada hanyalah keluarga. Lagi dan lagi, ini adalah pesan sang pemimpi Fast Forius 7. Tim yang dipimpin oleh Dom anggotanya tidak semua berasal dari satu keluarga, mereka Teman tapi Dom menganggapnya sebagai Keluarga, baginya teman yang selalu setia kepadanya adalah keluarganya juga. Buktinya adalah kematian Han, teman Dom dibunuh secara diam-diam oleh Deckard Shaw di Tokyo. Dan itu merupakan faktor terbesar yang memberikan semangat balas dendam terhadap Deckard Shaw, meskipun Deckard Shaw  juga ingin balas dendam atas adiknya yang dilumpuhkan oleh Tim Dom di Inggris. Tapi itu cukup membuktikan, bahwa Teman juga merupakan keluarga bagi Dom. Bagaimana dengan kita, sudahkah punya keluarga yang demikian?.

Ketiga, Berubah demi keluarga. Ini yang biasanya berat untuk dilakukan, sangat sulit menghilangkan ego untuk menyesuaikan dengan keluarga. Sulit memahami, bahwa pada dasarnya kita yang seharusnya berusaha menjadi anggota keluarga yang baik, Bukan mengikuti apapun yang kita mau. Adalah Brian yang mengajarkan itu semua, dia rela berusaha merubah dirinya menjadi kepala rumah tangga yang baik, meskipun berat untuknya, karena apa yang dia lakukan tidak sesuai dengan kesukaan (hobi) pribadinya. Contoh kecilnya adalah Ketika  Brian mengantarkan anaknya (Jack), ia rela mengendarai mobil keluarga dengan antrian panjang, dan itu benar-benar membosankan baginya. Tapi dia tetap berusaha. Apakah kita sudah demikian?.

Keempat, Keluarga memang berbeda dan saling melengkapi. Ramsey, seorang ahli teknologi yang menemukan “Mata Tuhan”, menjelaskan satu persatu tentang anggota Tim yang dipimpin oleh Dom. Seorang Pelawak, Tentara, Teknisi, Pemimpin dan Nona Pemimpi semua tergabung dalam Tim tersebut, mereka saling melengkapi dalam keluarga, saling bekerja sama dan berperan dengan kemampuannya masing-masing. Dalam skenarionya, jelas sekali, Film ini mengajarkan bagaimana menyatukan perbedaan untuk menjadikan keluarga yang spektakuler dan harmonis.

Kelima, Jangan Menyuruh Mencintai Biarkan Mencintai dengan Sendirinya. Ini tentang cinta, pesan seorang Dom yang berwajah sangar, bertarung adalah “makanan” harian dan balapan di jalanan adalah hobinya yang mungkin tak akan pernah ia hentikan. Dibalik itu semua ternyata Dia mempunyai prinsip menawan tentang kehidupan asmaranya. Dia tak ingin memaksa orang yang dia cintai untuk mencintainya, dia ingin orang yang dia cintai mencintai dirinya secara alami, tanpa paksaan. Letty, yang hilang ingatan, selama 15 tahun Don berusaha untuk menyembuhkannya kembali, sedikit demi sedikit Letty mulai mengingat tentang dirinya. Dan hal penting yang tak pernah Dom sampaikan, yakni tentang pernikahannya dengan Letty. Hingga ketika Letty sempurna dengan ingatannya, Letty menanyakan kepada Dom, “Kenapa kamu tidak memberi tahuku kalau kita sudah menikah?”. Dom dengan haru menjawab “Aku tak ingin menyuruhmu mencintaiku, aku ingin kamu mencintaiku dengan sendirinya”, begitu kiranya jika di-bahasa indonesiakan.

Keenam, Setia Menunggu. Di skenario yang sama dengan Pesan yang Kelima, dimana tergambar secara jelas bagaimana seorang Dom setia menunggu Letty selama 15 tahun, setia memperjuangkan kepulihan Letty dan tetap menjaganya selama 15 tahun tersebut.
Begitulah mungkin pesan yang dapat kita pelajari dari Film Fast & Furious 7, meskipun sebenarnya masih banyak lagi pesan-pesan yang dapat kita ambil. Dan anda, pasti mempunyai cara pandang yang berbeda dari pesan-pesan yang tersampaikan, bahkan mungkin akan lebih luas lagi. Silahkan renungi sendiri!.

“Film bukan hanya untuk hiburan, tapi Film juga media untuk belajar”.Sebuah sekuel film Box Office yang ditunggu-tunggu telah dirilis, milyaran pasang mata dari seluruh penjuru bumi telah menikmati kemegahannya, aksi-aksi yang spektakuler, teknologi yang canggih, drama yang mengharukan, semua bisa dinikmati pada film yang dirilis pada 3 April 2015 ini.

Ada banyak pesan berharga yang mungkin bisa kita ambil dari film yang disutradarai oleh James Wan ini. Pesan-pesan itu banyak terselip diantara pecahan-pecahan kaca perkelahiaan, diantara panasnya balap jalanan hingga diantara menawannya kisah sebuah keluarga.

Sungguh, jika kita menangkap hal yang positif dari film ini, bukan hanya sekedar hiburan yang dapat kita nikmati. Banyak yang patut dijadikan referensi untuk dijadikan refleksi diri. Dom, Brian, Letty, dan Hoobs telah mengajarkan kita banyak hal, berikut mungkin yang bisa kita ambil pelajaran.

Pertama, Pemimpin seharusnya selalu di depan. Adalah Dom yang menjadi pemimpin pada film yang memakan biaya produksi sebesar 250 juta dollar AS atau setara dengan Rp 3,2 triliun ini. Dalam banyak adegan dialah pemimpin yang harus dicontoh, dia selalu di depan dalam semua perjuangan Tim, semisal ketika dia terjun dengan mobilnya dari Pesawat untuk menyelamatkan Ramsey, dia berada di barisan pertama agar diikuti semua anggota Tim. Konsekuensi besar yang pastinya jarang dilakukan pemimpin kebanyakan.

Kedua, Tak ada teman yang ada hanyalah keluarga. Lagi dan lagi, ini adalah pesan sang pemimpi Fast Forius 7. Tim yang dipimpin oleh Dom anggotanya tidak semua berasal dari satu keluarga, mereka Teman tapi Dom menganggapnya sebagai Keluarga, baginya teman yang selalu setia kepadanya adalah keluarganya juga. Buktinya adalah kematian Han, teman Dom dibunuh secara diam-diam oleh Deckard Shaw di Tokyo. Dan itu merupakan faktor terbesar yang memberikan semangat balas dendam terhadap Deckard Shaw, meskipun Deckard Shaw  juga ingin balas dendam atas adiknya yang dilumpuhkan oleh Tim Dom di Inggris. Tapi itu cukup membuktikan, bahwa Teman juga merupakan keluarga bagi Dom. Bagaimana dengan kita, sudahkah punya keluarga yang demikian?.

Ketiga, Berubah demi keluarga. Ini yang biasanya berat untuk dilakukan, sangat sulit menghilangkan ego untuk menyesuaikan dengan keluarga. Sulit memahami, bahwa pada dasarnya kita yang seharusnya berusaha menjadi anggota keluarga yang baik, Bukan mengikuti apapun yang kita mau. Adalah Brian yang mengajarkan itu semua, dia rela berusaha merubah dirinya menjadi kepala rumah tangga yang baik, meskipun berat untuknya, karena apa yang dia lakukan tidak sesuai dengan kesukaan (hobi) pribadinya. Contoh kecilnya adalah Ketika  Brian mengantarkan anaknya (Jack), ia rela mengendarai mobil keluarga dengan antrian panjang, dan itu benar-benar membosankan baginya. Tapi dia tetap berusaha. Apakah kita sudah demikian?.

Keempat, Keluarga memang berbeda dan saling melengkapi. Ramsey, seorang ahli teknologi yang menemukan “Mata Tuhan”, menjelaskan satu persatu tentang anggota Tim yang dipimpin oleh Dom. Seorang Pelawak, Tentara, Teknisi, Pemimpin dan Nona Pemimpi semua tergabung dalam Tim tersebut, mereka saling melengkapi dalam keluarga, saling bekerja sama dan berperan dengan kemampuannya masing-masing. Dalam skenarionya, jelas sekali, Film ini mengajarkan bagaimana menyatukan perbedaan untuk menjadikan keluarga yang spektakuler dan harmonis.

Kelima, Jangan Menyuruh Mencintai Biarkan Mencintai dengan Sendirinya. Ini tentang cinta, pesan seorang Dom yang berwajah sangar, bertarung adalah “makanan” harian dan balapan di jalanan adalah hobinya yang mungkin tak akan pernah ia hentikan. Dibalik itu semua ternyata Dia mempunyai prinsip menawan tentang kehidupan asmaranya. Dia tak ingin memaksa orang yang dia cintai untuk mencintainya, dia ingin orang yang dia cintai mencintai dirinya secara alami, tanpa paksaan. Letty, yang hilang ingatan, selama 15 tahun Don berusaha untuk menyembuhkannya kembali, sedikit demi sedikit Letty mulai mengingat tentang dirinya. Dan hal penting yang tak pernah Dom sampaikan, yakni tentang pernikahannya dengan Letty. Hingga ketika Letty sempurna dengan ingatannya, Letty menanyakan kepada Dom, “Kenapa kamu tidak memberi tahuku kalau kita sudah menikah?”. Dom dengan haru menjawab “Aku tak ingin menyuruhmu mencintaiku, aku ingin kamu mencintaiku dengan sendirinya”, begitu kiranya jika di-bahasa indonesiakan.

Keenam, Setia Menunggu. Di skenario yang sama dengan Pesan yang Kelima, dimana tergambar secara jelas bagaimana seorang Dom setia menunggu Letty selama 15 tahun, setia memperjuangkan kepulihan Letty dan tetap menjaganya selama 15 tahun tersebut.
Begitulah mungkin pesan yang dapat kita pelajari dari Film Fast & Furious 7, meskipun sebenarnya masih banyak lagi pesan-pesan yang dapat kita ambil. Dan anda, pasti mempunyai cara pandang yang berbeda dari pesan-pesan yang tersampaikan, bahkan mungkin akan lebih luas lagi. Silahkan renungi sendiri!.

“Film bukan hanya untuk hiburan, tapi Film juga media untuk belajar”.

12 April 2015

BALADA ORANG-ORANG PEDALAMAN, BANG IWAN

BANG IWAN

Akulah pedalaman Bang
Di pegunungan yang kau sebutkan
Benar kau katakan, ini balada
Dijajah bangsa sebangsa

Aku juga melihat Bang
Manusia dibodohi mereka
Di matanya sama sekali tak bercuriga
Bahkan tertawa merasa diagungkan

Benar-benar balada Bang
Tak tajam lagi tombak panah dan parang
Pedalaman tak punya lagi korban
Sudah di mangsa senapan

Pada apa lagi pedalaman bergantung Bang
Kalau bukan pada Tuhan
Balada ini bertopeng kemesraan
Satu persatu saudaraku merantau

Aku saudaramu disini Bang
Mendengarkan lagumu yang selaras keadaan
Mengernyitkan dahi tanpa bisa berbuat arti
Tak se hebat kau menyuarakan isi hati

Begitu saja Bang Iwan
Semoga suara dari pedalaman tersampai
Arena perang saudara semakin mencekam
Ditabuh di pelbagai meriam

Pedalaman Bondowoso, 12 April 2015

JANGAN PUAS, KATA STEVE JOBS


Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the heart, you’ll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don’t settle.”

-Steve Jobs-


“Pekerjaan Anda akan mengisi sebagian besar hidup Anda , dan satu-satunya cara untuk benar-benar puas adalah melakukan apa yang Anda yakini adalah pekerjaan besar . Dan satu-satunya cara untuk melakukan pekerjaan besar adalah mencintai apa yang Anda lakukan . Jika Anda belum menemukannya , teruslah mencari . Jangan puas . Seperti dengan semua masalah hati , Anda akan tahu bila Anda telah menemukannya . Dan , seperti hubungan yang hebat , itu hanya akan lebih baik dan lebih baik seperti tahun-tahun bergulir . Jadi, teruslah mencari sampai ketemu . Jangan puas . " Steve Jobs

Pesan Steve Job tadi merupakan sebuah peringatan bagi kita, bahwa kita hidup tidak akan langsung mengetahui potensi kita. Kita tidak akan langsung tahu apa sebenarnya skil terpendam kita miliki. Kita harus mencarinya, higga suatu saat yang kita mempunyai waktu yang berbeda, potensi itu akan kita rasakan dan kita yakini.

Bagaimana cara kita untuk mengetahui potensi itu, lakukanlah semua hal yang kita anggap besar. Jika sudah, apakah kita mencintai hal tersebut, jika kita senang dengan mengerjakan hal besar yang kita cintai tersebut maka itulah potensi kita.

Memang tak mudah menentukan mana yang kita anggap besar dan tidak, juga menentukan mana yang kita cintai atau tidak. Adalah hati atau keyakinan yang mengetahu itu, maka semuanya ditentukan oleh diri kita sendiri, apakah itu hal besar dan apakah itu hal yang kita cintai.

Tak selesai sampai disana, ketika kita sudah mengetahui hal yang merupakan potensi bagi kita maka langkah selanjutnya adalah bagaimana kita memupuk potensi tersebut hingga menjadi sesuatu yang lebih besar lagi untuk hidup kita. Menjadikannya sebuah pijakan untuk kita melangkah ke hidup yang lebih baik tentunya. Jangan sampai dengan potensi tersebut kita justru menyalah-gunakannya.

Begitu mungkin maksud Steve Job. Hidup adalah mencari potensi diri, kemudian meyakininya, kemudian dengan potensi itu kita meraih sesuatu yang besar untuk hidup kita. Dengan catatan “Jangan menyalah-gunakan potensi yang kita miliki”, bawa ia pada hal-hal positif untuk kita, lingkungan kita dan seterusnya. Dan jangan puas untuk yang sudah kita raih, raihlah yang lebih besar lagi. DON’T SETTLE.

11 April 2015

MALAIKAT MASA SILAM ITU, DATANG LAGI

Moh Arif Rohmatullah

*Istimewa untuk sahabat lama Moh Arif Rohmatullah

Kerumunan warna tak terhitung berubah-ubah
Mata menghitam menyeret warna berpetualang
Mula-mula saja
Ketika semangat letih berdalih sedih
Malaikat masa silam datang menasehati pedang
Pedang yang mula-mula tak bisa membunuh kemalasan

Dengan bahasa versi nostalgia
Kala malaikat bisa kupandang di masa baka
Ia manis mengiringku bertinggi asa
Hingga gesit jemariku melejit
Kupanggil malaikat-malaikat lain untuk menulis
Menjadilah puisiku yang sedari kemarin menangis

Pedalaman Bondowoso, 10 April 2015

DIINGATKAN HUJAN


Ditengah kuyup hujan diserempet setan
Malaikat bertasbih menetes lebat
Rambut tergerai kedinginan
Isinya berbaik sebagai pengintai kenyataan
Menelisik makna yang mulai terbuang

Sudah semakin terlena oleh nominal
Makna seakan bukan lagi harapan
Gesit langit menjelma latar penghayatan
Bisikan air hujan yang semakin nyaring
Bumi yang terkikis mengalir
Tuhan, suguhkan keistiqomahan
Jangan biarkan tubuh meradang keluhan
Pun jiwa jangan sampai dimabuk keduniaan

Mungkin basi menguak hati
Catatan-catatan berulang-ulang bermain arti
Tapi dengan apa lagi diingatkan diri sendiri
Kesadaran ini tak tiap saat membasahi
Seperti hujan yang tak turun sepanjang hari

Hujan Jambesari, 12.39 WIB, 07 April 2015

GERHANA BULAN SETELAH GERHANAMU

Dewi Airlangga (58)

Gerhana benar-benar datang, sayang
Padahal kemarin kuumpamakan kau gerhana berkepanjangan

Kali ini gerhana bulan, sayang
Gerhana dimana gerhanamu disandingkan

Alam yang mendramatisir
Atau aku yang berlebihan menafsir
Seakan sajak ke sajak teratur terjejak

Gerhana dan gerhana
Kupanggil kau Dewi Airlangga
Mari saksikan bersama meski kita berhati beda

Jambesari, 04 April 2015

AKU SUDAH TELANJANG; DATANGLAH

Setibanya hati merayap di senja ini
Kisruh ruang yang kuhiasi jutaan aksara mati
Kuburan jasad-jasad lama yang mulai tak kukenal wajahnya

Kanan-kiri cerita di perjalanan pagi
Ada sebuah ajakan untuk menantang yang sekarang
Ada sebuah kebosanaan yang terburu meninggalkan sebuah zaman

Banyak yang terlupa senyumnya bagaimana
Banyak yang terlupa pula tawanya bagaimana
Kisruh, benar-benar kisruh
Petaka datang lagi
Mengamuk uban-uban yang mulai kentara dipandang

Angin datanglah
Bawakan gerimis yang kudatangkan di masa silam
Buat aku menjadi dingin
Aku sudah telanjang tanpa selapis-pun kain penghalang
Aku tak ingin tertidur
Masih teramat banyak yang belum ku wajahkan
Tentang sesuatu yang tak berwajah
Masih teramat banyak yang belum ku senyumkan
Tentang sesuatu yang tak punya bentuk senyum
Masih teramat banyak yang belum ku menangiskan
Tentang sesuatu yang tak punya bentuk tangis

Bertahanlah
Kumohon bertahanlah
Demi dzikir di bulir-bulir huruf  kaum dekil
Yang selanjutnya semoga menjadi koin
Bekalku berjalan di atas Sirotol Mustakim

Jambesari, 01 April 2015