BELAJAR HIDUP PADA RACIKAN KOPI TUBRUK


“Racikan kopi tubruk yang paling ideal bagi pecinta kopi adalah satu sendok kopi tubruk ditambah satu sendok gula untuk satu gelas kecil. Jika kopi tubruk lebih dari takaran tersebut maka akan terlalu pahit, sebaliknya, jika takaran gula lebih dari takaran tersebut maka akan terlalu manis dan kopinya akan kehilangan ciri khas rasanya”.
- Racikan Kopi Ala Penulis -

Itulah diatas rumus racikan kopi tubruk yang ideal. Ada keseimbangan antara kopi dan pemanisnya. Tak berlebihan dalam keduanya. Pun saling melengkapi untuk menciptakan sebuah rasa istimewa. Rasa yang nantinya akan lebih membuat kita “terbang” ketika kita menikmatinya (hanya pecinta kopi yang tahu).

Dan mari kita belajar menafsirkan racikan kopi tubruk ideal sebagai motivasi dalam menjalani hidup ini, memberikan filosofinya sendiri, menyulam arti dibalik kenikmatannya. Yang dalam keadaan sadar, ketika kita menikmati kopi ataupun ketika melihat kopi, kita akan ingat tentang filosofi/arti yang kita sematkan dibalik racikan kopi tubruk tadi.

Mari kita mulai memberi arti/filosofi. Pertama kopi tubruk, kopi tubruk adalah kepekatan, simbolisasi dari sebuah perjuangan, pengorbanan, usaha dan lain sebagainya yang kita anggap pahit dalam hidup ini. Kedua gula, gula adalah kadar manis, simbolisasi dari kesenangan, hiburan, tawa dan lain sebagainya yang kita anggap manis dalam hidup ini.

Ditarik dari arti filosofis yang telah kita buat tadi, maka hidup yang ideal adalah keseimbangan antara kopi tubruk dan gula. Jika terlalu banyak kopi tubruknya, maka akan terlalu pahit hidup kita. Kita hanya berjuang, berusaha hingga lupa “keringat” kita sudah bukan seharusnya, terlalu memaksa tanpa melihat realitas yang sebenarnya, hingga lupa untuk memberi sedikit gula, atau bahkan tak memberi gula sama sekali untuk hidup kita. Kasihan sekali keadaan yang sedemikian rupa, menyiksa dengan kehendak yang berlebihan, hingga jiwa luput dari ketenangan dan kesenangan.

Selanjutnya adalah manakala terlalu banyak gulanya. Ketika sudah seperti ini, maka jelaslah, tak ada nilai dalam hidup kita, minim akan perjuangan, minim akan pengorbanan, tak ada greget yang akan kita rasakan. Semuanya hanya gula. Kesenangan, foya-foya, kebahagiaan yang kita rasakan adalah “kulit”nya saja, bukan substansi dari kebahagiaan yang sebenarnya. Kenikmatan kopi tubruk yang hanya dari aromanya saja, bukan kenikmatan kopi tubruk yang sebenarnya.

Begitu kiranya racikan kopi tubruk dalam filosofi/arti yang sederhana. Pelajaran yang mula-mula tersaji dalam kenikmatannya. Jika anda berfilosofi lain, silahkan diracik ala anda sendiri, jika sudah, maka berbagilah dengan tetangga, saudara ataupun kepada siapa saja yang anda anggap membutuhkannya.

15 April 2015

No comments:

Post a Comment