LOBANG PONDASI (SAKRAL DESA)

Dicangkul
Aku merangkul
Apakah maksud benang ukur
Hanya membentuk satu pojok

Mencangkul
Sang tuan harus pertama turun lapang
Kala maghrib baru saja terbang
Kenapa tak siang terang

Benar sakral
Lobang pondasi berdasar hitungan
Ternyata ada kitab yang hilang pasaran
Disana bumi dipelajari keyakinan

Bukan penyimbangan
Dalil sepuh sepertinya bukan ramal
Melainkan buah tangan kebijakan
Ketika pengalaman disatukan

Klasik menakjubkan
Dimana indra peka menerka
Hingga dalam cawan cucu-cucu menikmatinya
Sakral desa


Jambesari, 30 MEI 2015

CALON ISTRIKU

Bersabarlah sayang
Calon istriku

Ini bukan kemauan
Ini ketentuan

Belum bisa kucumbu kau di atas pelaminan
Meski sudah kusiapkan dayang-dayang
Bahkan janur kuning kulengkungkan di pinggiran jalan
Bukan hanya satu
Hampir habis nafas merangkai

Belum bisa kukecup keningmu di malam pertama
Meski sudah kusiapkan do'a-do'a dari sesepuh surga
Bahkan katanya ada sholat sebelumnya
Bukan hanya itu
Hampir tak bisa dihafal semuanya

Belum bisa kuajak kau sholat bersama
Di sebuah bilik tempat memuji Tuhan bersama
Bahkan menangisi anak cucu kita
Bukan hanya itu
Hampir disana kita saling menguatkan asa

Belum bisa kuajak kau meniduri mimpiku
Kutiduri mimpimu
Meniduri serangkaian sempurnanya hati
Hingga kita bersama di pangkuan Ilahi
Bersama buah-buahnya hati

Calon Istriku
Bersabarlah sayang
Karena kita memang harus bersabar
Di Lauhil Mahfud kita sudah ditetapkan


Jambesari, 08.16 - 09.25 WIB, 30 Mei 2015

TANYA-TANYA DI PEDESAAN BERTANYA

Gemuruh Penyampaian Visi-Misi Calon Kepala Desa Jambesari. (Rabu, 28 Mei 2015)

Sebentar
Ini sedang terjadi apakah

Tanya-tanya saling menanyakan
Belum dijawab hingga di meja makan
Gamang para mulut
Di bawah ada tanya-tanya setelah tanya

Bapak survei menebar tanya
Wartawan ikut-ikutan meramaikan suasana
Para bajingan jangan ditanya
Sudah dipasang angkanya di papan neraka

Pos-pos malam
Domino tetangga bergerilya
Isu "bom" malam terakhir
Satu nomor sibuk menyiapkan strategi tanding

Teras rumah
Hingga dapur diskusi sengaja disenyapkan
Ceramah, pidato, nasehat, ajakan, permohonan
Monggo diracik campur legit
Sebentar lagi tanya dijawab buncit
Ya, jika tanya berjawab kedip-kedip

Sebentar
Ini sedang terjadi harapan

Tanya-tanya saling berkomentar
Tanya satu "aku mendoakan"
Tanya dua "aku memperjuangkan"
Tanya tiga "aku membela"
Tanya empat "aku menolong rakyat"
Tanya lima "aku mengharap kalian semua"
Cukup lima tanya semoga Pancasila

Wuaalah...
Selesai andai tersampai demikian
Bung Karno dan kawan-kawan takkan lagi terkenang
Takkan lagi menyuarakan do'a dari lain alam

Hancur lebur
Bangkit lagi
Hancur lebur
Bangkit lagi
Lebih bernuansa
Asal jangan selalu pada nuansa pertama
Bertanya lagi tanya?


Catatan Politik Desa, Jambesari, 30 Mei 2015

DESA, DIRI, DZIKIR

Selagi disini
Di setiap pagi tanpa lari pagi
Di setiap siang tanpa gemuruh mesin produksi
Di setiap sore tanpa sibuk lalu lintas kembali
Di setiap maghrib tanpa jeritan klakson antri
Di setiap isya tanpa wanita ber-rok mini
Di setiap tengah malam tanpa bola 8 di warung judi
Di setiap sepertiga malam tanpa telanjangan muda-mudi
Di setiap itu semua yang kutahu
Meski mungkin tak begitu

Selagi disini
Jemur padi sembari membunuh kutu para ibu
Ke sungai saban pagi memungut air murni
Gadis-gadis tersipu malu dipandang para perjaka berlalu
Layang-layang putus tua-tua menyuarakan api
Selagi disini
Aku bersaksi atas kehidupan ini

Sepuluh, dua puluh, tiga puluh
Atau beberapa tahun lagi
Akan ada saksi lain menceritakan kehidupan ini
Hingga tak benar-benar tahu apalah arti bersaksi
Hanya ada hati yang acap kali menuntut diri
Menyatakan perankanlah peran yang dianugerahkan Tuhan
Lagi-lagi
Hingga tak benar-benar tahu apalah arti berperan

Maka selagi disini
Di desa yang kutumpangi
Akan kuceritakan yang kulihat meski kadang basi
Karena benar apa kata tadi
Beberapa tahun lagi semua takkkan begini

Ketika sudah tak begini
Maka begini mungkin maksud secara hakiki
Betapa Tuhan sang maha kaya karya
Ubah waktu beda berubah segalanya
Ubah manusia beda berubah semuanya
Padahal tempat tetap adanya
Betapa sulit berfikir ke arah makna
Hingga cerita harus tetap harus dijaga

Maka selagi disini
Biarkan kata-kata berdzikir abadi
Menceritakan desa ini
Menjadi amal alir menuju sisi Ilahi

Desa Jambesari, 29 Mei 2015


LAGU BARU

Dewi Airlangga (65)

Menyanyilah
Tenggorakan kering
Pitaku pintaku
Putuslah
Urat leher
Likuku lukaku

Jatuh di malam ini
Lagu baru
Lirik dimana pinta luka
Luka pinta
Menyayat tenggorakan hingga urat leher

Bukankah benar telah kau kata
Tapi magis berhenti mula-mula
Tak bisa

Ini bukan kekonyolan
Datanglah setiap kunyanyikan, sayang


28 Mei 2015

KABAR LESUNG PIPI SISWI PENGGODA

Maaf
Ini hanya kelakar jiwa di penataran

Siswi berparas elok
Kemarin berseragam
Kini berbalut bunga tulip warna kemerahan

Seperti pipi jelita
Lesung yang biasa ia jadikan senjata
Menggoda lagi setengah pagi ini

Berat menutupi kegembiraan
Ada silau masa lalu dimatanya
Sisa pertemuan berdurasi singkat di ruang ujian

Pura-pura tak sudi
Malah disekap wajah ini dalam hati
Jangan goda lagi

Hinggap kupu-kupu cukup dipandang
Aku masih terkapar
Godamu maaf terlempar

Bukan karena ingusan
Jiwa ini sedang terlelap di pertapaan
Tak ingin bermain hanya karena lesung pipi menawan

Pojok Sebuah Sekolah, 26 MEI 2015

JEMARIKU BERKATA BEGINI

;Kelingking
Hamba kecil yang menyeduh kopi, kecil kau dicipta Ilahi ke bumi, mengapa justru mengucilkan kerendahan diri, congkak sekali memoles bak penguasa akar-akar misteri, menyingsingkan lengan kendali, lupa kau kelingking tak tahu diri.

;Telunjuk
Pemimpin saling tunjuk, tunjuk sana sini, jangan menyempitkan arti demi puas diri, sudah di pundak peran-peran diperintahkan, maka lakukan jangan saling tikam.

;Tengah
Bajingan, setan kau perkarakan, dosa angkatlah jari tengah padanya, ada kemunafikan yang menyeret pada neraka, ada kedholiman tertawa terbahak-bahak, kenapa diam seribu gerak dan suara, bangkitlah, acungkan perkasa jari tengah melawan tanpa gentar rasa.

;Manis
Bunga rampai di pekarangan, pindahlah kesini, tabur manismu pada pahit nelangsa, luka, asa, semerbak aroma amis tolong kau gantikan, sudah kubilang berkali-kali Manis adalah keabsolutan tanpa koma, tak bisa tersajak sebait saja.

;Ibu
Semua kembali pada Ibu, anak-anak akan dibijaki Ibu, tak ada kesalahan tak ada kebenaran, acungkanlah Ibu, karena ia berdoa semua akan berakhir pada lelap perjalanan di sisi Tuhan. Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah.

Jambesari, 25 Mei 2015

SEMALAM DI PENGOPIAN


Bermodal angka pada kertas
Membawa kegaduhan jiwa yang cemberut
Meluncurlah bersama angin maghrib
Semalam begitu menggebu
Tanpa rima layaknya sajak ini

Carut-marut kelakar rasa
Terpojok daya fikir keronta
Mulai ada rima
Ketika kopi bersandingkan tawa
Di pangkuan sahabat lama

Dari polisi menangkap penjahat
Menggoda biduan kota dengan lensa cepat
Menggilai SPG batangan berlalu sesaat
Mendiskusikan Moge yang kebetulan lewat
Semua terasa begitu nikmat

Lenyap kesepian terdampar
Tertitipkan pada knalpot malam
Geleng-geleng telah berpulang
Selepas pagi datanglah utusan
Katanya harus menuliskan ulasan

Jambesari, 23 Mei 2015

MATI LAMPU DI PEDALAMAN

Semalam ceritanya begini di pedalaman
Mati lampu tak kurang dua jam

Tak sampai ingusan turun dari masing-masing surau
Aku menunggangi piaraan karya jepang
Bersama sesama perjaka menyusuri desa
Inginnya menyeduh kopi pinggiran aspal
Seperti kebiasaan para perkotaan
Nahas, lupa tentang perbedaan
Sepanjang roda menggilas tak kunjung kopi terlihat
"Ini maghrib kawan", cetus malaikat di telinga kanan

Benar saja dihukum kematian sang lampu jalanan
Ya sudah rengek mesin diubah perbincangan

Aku bicara pada kegelapan
Kanan kiri pedalaman berangkat pada pencerahan
Gugur dedaunan dibakar
Ingusan semakin kencang meneriakkan takbir Tuhan
Mungilnya lilin-lilin perlawanan
Menantang lincahnya gelap yang menuntut sekarat
Benar sekali mereka bukan pecundang
Selip kataku dalam perbincangan
Pada mati lampu yang kesekian

Benar begitu adanya cerita semalam
Mati lampu di pedalaman, kawan


Jambesari, 21 Mei 2015

PELANTUN LAGU KEAKRABAN

Mengarang lagu keakraban
Niat dilantunkan setiap pertemuan

Dibuka nada masuk decak bibir simetris
Beberapa baris kata kemudian diurai
Berperan spasi ke kunci selanjutnya
Ta.. ta.. Wa.. wa..
Diulang sebanyak kali
Agar tak lekas lagu berakhir bosan pada dengki

Benar ini kemulyaan
Bukan kepuraan yang merugikan lain tangan
Karena latar lagu
Adalah keakraban insan dipertunjukan

Menawan sekali terdengar
Dari pada harus mendengar rintih kejujuran
Yang kadang menyayat pedih kenyataan
Di pelipis hati tertembak tepat sasar

Sudah baik menyanyikan lagu keakraban
Bukan?


Jambesari, 20 Mei 2015

SETAPAK BERBEDA BUKAN PERBEDAAN

Kau amerika aku korea
Kau metropolitan aku pedasaan
Kemudian pesawat tempur
Menabrak umur
Kemudian setapak kukatakan
Kita dalam perbedaan
Melangkah pada jalan masing-masing
Hingga bening
Raut wajah kita tak hilang dalam kering
Dimakan cahaya musim
Karena kita selalu dingin


Kampung Huni, 20 Mei 2015

POJOK LAPANGAN TENTANG IA

Dewi Airlangga (64)

Kembali mengukur huruf
Kembali menyuarakan arus
Kembali memungut gores raga di cerita romansa
Kembali yang sebenarnya hati tak sudi

Ini pojok lapangan
Dimana alam kembali diutus mengembalikan malam
Juga mengembalikan huruf pada kegaduhan

Ia hadir dengan yang tertakdirkan
Ia berpoles merah muda dengan senyum ala kadarnya
Biasa yang justru mengamuk isya berwaktu lama

Ia bercerita menghadap mata-mata
Ia lincah memutar kenyataan menjadi keanggunan
Terpancar jelas dua mata berbinar canggung merana

Ia tertawa, tersenyum, tersipu
Ia apa sebenarnya Ia
Malam ramai hanya Ia mampu mendatangkan diam

Inikah kembali yang wajar
Jika surga datang dari Ia yang dikembalikan Tuhan
Maka semoga saja ini dzikir bermuka perasaan
Maka selanjutnya kembalilah walau penuh kebosanan

Ia, Ia, Ia
Ingin rasanya selalu kusandingkan Ia
Menjadikan Ia teman bersujud di sisa mencari makna


Kamar Dilarang Diam, Jambisari, 18 Mei 2015

KITA BERBEDA UNTUK SEGALANYA TAPI TIDAK DENGAN CINTA (Gie), KITA BERBEDA UNTUK SEGALANYA BEGITUPUN CINTA (Bukan Gie)

Dewi Airlangga (63)

Panjang judul asal ada
Panjang cerita kaca-kaca di pola mata
Manusia tercipta dari lumpur berbeda-beda
Apalagi tiupan sebagai isinya
Jantung diketuk hiduplah memulai gerak raga
Tak ada persis serupa alias sama
Boleh berserat boleh mengkilat
Biarpun sewarna sewajarnya bercorak beda

Satu hal pemersatu hingga baka
Gie pernah menyebutnya cinta
Tapi apa soal sebut
Nasib lagi-lagi tak serupa yang menyebut
Ada kenyataan lain yang lebih terburuk
Ketika tak satupun mampu dibuat ber-se-tepuk

Selepas Menikmati Pertemuan, 18 Mei 2015

SOAL CINTA

Telah menjadi soal utama
Parade cinta mewarnai seantero luas rasa
Layang sayap menerka langit
Jatuh dilahap samudera
Atau berlayar dengan keduanya

Memilukan menyoal cinta
Mendewasakan pula menimang-nimang nilainya
Kerap mata berbanjir bala air mata
Pun kadang girang meluapkan gembira
Hanya masalah detik di lingkaran berdurasi sama

Soal cinta tak kelar hingga tanda lingkar hitam
Di buku putih yang kita pinjam dari Tuhan
Terlalu sebentar!
Apalagi buku tak sampai habis diramaikan
Maka perlulah sebuah tayang ulang
Biar zaman membacakannya untuk pujangga masa depan

Benar-benar soal
Jawaban bukan angka kepastian
Ditiup angin berubahlah tetapan
Dibisiki sunyi mistislah rumus percintaan
Padahal soal masih tak revisi total

Nasib... Nasib... Begitu nasibmu Cinta
Disayang perangai bermahkota kebenaran
Dicaci maki tajamnya kepedihan
Dibekap dalam sejarah tanpa kesimpulan
Soalmu sungguh berteka-teki panjang


Tanah Leluhur Cinta, Jambesari, 12 Mei 2015

TANPA BATAS

Pernah menirukan kelakar filsuf di tanah yunani kuno
Bahkan inggris, prancis, jerman hingga filsafat merogo sukmo
Tertulis di kanvas masa lalu yang berukuran jumbo

Pernah menirukan siulan ilmuwan ilmu alam terkenal
Fisika, biologi, geografi hinggi kimia yang paling ternikmati
Terintegrasi ke dalam siulan kata yang kini terpahat mimpi

Pernah menirukan kaum sufi di belantaranya duniawi
Mengosongkan temali bumi menyatukannya dengan abdi
Tersulam rapi hingga kini aksaranya berjejer menasehati

Pernah menirukan pakar teknologi di era mesin auto dimensi
Bermesra dengan deretan kode dengan nama berikut ini
Python, Pascal, Java, Web hingga Delphi yang semuanya berjejak peduli

Pernah menirukan guru mengajar penuh ketulusan hati
Menuntun kearifan membacakan kode-kode Tuhan
Bersisakan lagu-lagu yang kini bisa didengar ulang

Pernah menirukan pecinta alam mengejar matahari tenggelam
Desir ombak, terkaan angin pegunungan, manisnya pendakian
Gambar-gambarnya kini menjulang di dinding purnama petang

Pernah menirukan anak jalanan tanpa mengingat kasih sayang
Berjalan kaki menyusuri trotoar penuh preman
Berbekal korek api serta rokok di saku kiri semuanya terbaca kembali

Pernah menirukan pengamen bus antar kota yang istimewa
Nyanyian negeri sebagai umpan mengais receh bergambar garuda
Terpana setelah dituang lagi di sajadah merah merona

Pernah menirukan aktivis menumpahkan kritis
Nada berkoar-koar di tengah keramaian siang
Lengserkan, lengserkan, Revolusi, kata-kata yang tersemat mati

Pernah menirukan tokoh televisi di perebutan kursi
Beraksi di depan kamera LSR milik kameramen kelas pertiwi
Di surabaya pagi semuanya tertulis rapi di sajak perjalanan kaki

Pernah menirukan wartawan kelas kakap menyusuri berita rakyat
Nara sumber di bom bardir tanya yang menjilat
Digiring lalu tamat, mengesankan berjudi dengan kiasan laknat

Pernah menirukan sastrawan membacakan jurus-jurus kawakan
Penonton menganga menangis menjerit menepuk tangan gembira
Terasa mereka selesai dijeruji aksara menawannya hingga termakna

Pernah menirukan pujangga gila cinta
Kemana-mana satu nama dipoles lentera berbunga goda
Dan ini justru menjadi utama di perjalanan doa

Pernah dan pernah dan ingin pernah lagi
Tak ingin ada batas di hamparan samudera Tuhan yang hakiki
Terlalu sia-sia jika tak mendayung ke yang lebih dalam lagi

Entah dimana ini?, 07 Mei 2015

NOSTALGIA PERAN

*Istimewa untuk Kepala Wilayah Sunan Kalijaga, Pondok Pesantren Nurul Jadid, Periode 2015-2017, Ust Masyhudi.

Masyhudi


Malam ini ada kamu ditanganku
Kau mengusap keringat di garis kening
Aku tahu kau penat
Aku juga tahu kau merintih diam-diam

Malam ini ada nostalgia kabur di ufuk timur
Kau tersulam jelas di ruang lumpur
Tempat aku bersemedi memanfaatkan umur
Ada kamu di tanganku kawan

Matamu jelas kutatap merangak
Telingamu memerah dipukul hormat
Apalagi hatimu, tak lekas kuanalogikan bebas
Sempat terlintas tentang otakmu yang panas

Ah, sudahlah kawan
Perbedaan memang kenyataan yang usang
Tapi alur yang demikian sudah seharusnya sama dirasakan
Aku dan kamu adalah peran di waktu yang bergiliran

Kita sudah beda langkah
Kau merangkak aku berjuang berdiri tegak
Bukan tentang kemampuan
Ini soal umur yang langkahnya paksaan

Tak membicarakan ocehan cerita di perjalanan
Ini hanya kerinduan pada masa kita berjuang
Tak membicarakan perjuangan yang benar
Ini hanya ulasan kisah di medan perang

Kukatakan lagi kawan
Malam ini ada kamu ditanganku
Mengangkat tanganku beradu cumbu
Di tengah aksaraku yang mulai membisu

Paddunah Kamar, 00.02 wib, 07 Mei 2015

INI SAJA, PESAN

Ada saatnya merasa sepi di tengah keramaian
Ada saatnya merasa ramai di puncak kesepian
Ada saatnya merasa sepi di puncak kesepian
Ada saatnya merasa ramai di tengah keramain
Namun diantara mereka semua adalah pertanyaan
Pertanyaan yang selalu berubah-ubah
Apakah dan apakah, lalu jawaban baru perlahan merubah paradigma
Awal hanya otak bekerja, selanjutnya rasa
Lalu jiwa menjadi sebenarnya
Hingga, aku masih berjalan di dalamnya
Akan kuceritan bagaimana dan hasilnya
Jika sampai hasil sebelum jiwaku berpisah raga

Kamar, menghadap arah barat, 16.24 WIB, 06-05-2015

THE DA VIN"CI CODE"

Dewi Airlangga (62)

Algoritma itu pecah
Tapi kode justru semakin rumit

The DA vin"ci code" belum terurai sempurna
Yakinku algoritma ada yang terhapus dosa
Hingga ia sulit beroperasi sempurna
Mungkin biner karma
Atau persamaan takdir yang berlawan asa

Algoritma masih bukan rumus tetapan
Pastikan kumuat lagi variabel dan konstanta pijakan
Mungkin saja dapat menjadi ganti yang hilang
Dan kemudian algoritma berjalan benar
Meski dengan jalan berputar

Hingga apapun jalan
The DA vin"ci code" berhasil kupecahkan
Lalu kugunakan sebuah kode kebanggaan
Membuka hikmah di jalan kebahagiaan

Hanya kode
Tak lebih dari segalanya
Karena itu saja sudah cukup membahagiakan cerita


Puncak Eifel, Perancis, 05 Mei 2015

HARI INI AKU INGIN MENULIS APA

Apa?
Apa sudah apa kita maknai apa-apa
Apa cukup bingung apa menindas kekosongan 
Apa selalu apa menyeret kebosanan
Aku harus berbuat apa
Bertanya kepada apa, ya sia-sia
Aku akan menjadi apa
Bertanya lagi pada apa, ya sia-sia
Apa jangan jadikan mahkota raja
Pusing belum apa-apa sudah bertanya apa
Apa jangan dipoles gincu permata
Nantinya apa mengecup sisakan luka
Lantas apa jadinya berbuat apa-apa
Tak sekalipun dinikmati karena sibuk dengan apa
Apa-apa-an semua beralasan apa
Dijamin apa akan membuat sengsara
Atau bahkan tak sampai tangan meraih apa-apa
Apa?
Masih bertanya lagi
Bingung lagi kau melangkah menuju apa
Apa?
Masih bertanya lagi
Apamu silahkan kau nikamati
Apaku kukubur dalam peti mati

Desa apa ini, 02 Mei 2015