DESA, DIRI, DZIKIR

Selagi disini
Di setiap pagi tanpa lari pagi
Di setiap siang tanpa gemuruh mesin produksi
Di setiap sore tanpa sibuk lalu lintas kembali
Di setiap maghrib tanpa jeritan klakson antri
Di setiap isya tanpa wanita ber-rok mini
Di setiap tengah malam tanpa bola 8 di warung judi
Di setiap sepertiga malam tanpa telanjangan muda-mudi
Di setiap itu semua yang kutahu
Meski mungkin tak begitu

Selagi disini
Jemur padi sembari membunuh kutu para ibu
Ke sungai saban pagi memungut air murni
Gadis-gadis tersipu malu dipandang para perjaka berlalu
Layang-layang putus tua-tua menyuarakan api
Selagi disini
Aku bersaksi atas kehidupan ini

Sepuluh, dua puluh, tiga puluh
Atau beberapa tahun lagi
Akan ada saksi lain menceritakan kehidupan ini
Hingga tak benar-benar tahu apalah arti bersaksi
Hanya ada hati yang acap kali menuntut diri
Menyatakan perankanlah peran yang dianugerahkan Tuhan
Lagi-lagi
Hingga tak benar-benar tahu apalah arti berperan

Maka selagi disini
Di desa yang kutumpangi
Akan kuceritakan yang kulihat meski kadang basi
Karena benar apa kata tadi
Beberapa tahun lagi semua takkkan begini

Ketika sudah tak begini
Maka begini mungkin maksud secara hakiki
Betapa Tuhan sang maha kaya karya
Ubah waktu beda berubah segalanya
Ubah manusia beda berubah semuanya
Padahal tempat tetap adanya
Betapa sulit berfikir ke arah makna
Hingga cerita harus tetap harus dijaga

Maka selagi disini
Biarkan kata-kata berdzikir abadi
Menceritakan desa ini
Menjadi amal alir menuju sisi Ilahi

Desa Jambesari, 29 Mei 2015


No comments:

Post a Comment