TANPA BATAS

Pernah menirukan kelakar filsuf di tanah yunani kuno
Bahkan inggris, prancis, jerman hingga filsafat merogo sukmo
Tertulis di kanvas masa lalu yang berukuran jumbo

Pernah menirukan siulan ilmuwan ilmu alam terkenal
Fisika, biologi, geografi hinggi kimia yang paling ternikmati
Terintegrasi ke dalam siulan kata yang kini terpahat mimpi

Pernah menirukan kaum sufi di belantaranya duniawi
Mengosongkan temali bumi menyatukannya dengan abdi
Tersulam rapi hingga kini aksaranya berjejer menasehati

Pernah menirukan pakar teknologi di era mesin auto dimensi
Bermesra dengan deretan kode dengan nama berikut ini
Python, Pascal, Java, Web hingga Delphi yang semuanya berjejak peduli

Pernah menirukan guru mengajar penuh ketulusan hati
Menuntun kearifan membacakan kode-kode Tuhan
Bersisakan lagu-lagu yang kini bisa didengar ulang

Pernah menirukan pecinta alam mengejar matahari tenggelam
Desir ombak, terkaan angin pegunungan, manisnya pendakian
Gambar-gambarnya kini menjulang di dinding purnama petang

Pernah menirukan anak jalanan tanpa mengingat kasih sayang
Berjalan kaki menyusuri trotoar penuh preman
Berbekal korek api serta rokok di saku kiri semuanya terbaca kembali

Pernah menirukan pengamen bus antar kota yang istimewa
Nyanyian negeri sebagai umpan mengais receh bergambar garuda
Terpana setelah dituang lagi di sajadah merah merona

Pernah menirukan aktivis menumpahkan kritis
Nada berkoar-koar di tengah keramaian siang
Lengserkan, lengserkan, Revolusi, kata-kata yang tersemat mati

Pernah menirukan tokoh televisi di perebutan kursi
Beraksi di depan kamera LSR milik kameramen kelas pertiwi
Di surabaya pagi semuanya tertulis rapi di sajak perjalanan kaki

Pernah menirukan wartawan kelas kakap menyusuri berita rakyat
Nara sumber di bom bardir tanya yang menjilat
Digiring lalu tamat, mengesankan berjudi dengan kiasan laknat

Pernah menirukan sastrawan membacakan jurus-jurus kawakan
Penonton menganga menangis menjerit menepuk tangan gembira
Terasa mereka selesai dijeruji aksara menawannya hingga termakna

Pernah menirukan pujangga gila cinta
Kemana-mana satu nama dipoles lentera berbunga goda
Dan ini justru menjadi utama di perjalanan doa

Pernah dan pernah dan ingin pernah lagi
Tak ingin ada batas di hamparan samudera Tuhan yang hakiki
Terlalu sia-sia jika tak mendayung ke yang lebih dalam lagi

Entah dimana ini?, 07 Mei 2015

No comments:

Post a Comment