DUNIA YANG BELUM DIPAHAM

Dewi Airlangga (68)

Sudah amat lama kita bercinta
Di dunia yang kubuat

Kau berbinar-binar
Dari sekujur elemen yang tak wajar
Aku-pun kadang di luar sadar
Dunia ini salah apa benar

Memang ada kala menawan
Saat keajaiban menampakkan
Selebihnya adalah kepedihan

Ingin ditinggalkan
Kalau ada jalan keluar
Sampai disinipun
Seluas pandang hanya Kau
Duniaku yang belum dipaham


28 Juni 2015

RADIO RAMADAN

(Ramadan Hari III)

Radio Ramadan
Percakapan menuju kumandang adzan

Hanya saban  senja Ramadan
Akan bisa dinikmati di telingamu kawan
Di desa lahirku

Banyak pengeras suara
Adu keras melayangkan tangkapan radionya
Kadang masuk dan keluar pintu sudah beda

Ada tanya bermacam seputar Islam
Dipandu penyiar radio
Antara penelpon dan dai pilihan

Biasa setelah beberapa sesi
Ada iklan toko dari perkotaan
Beda-beda intinya sama
Menawarkan baju baru menuju kemenangan

Dan sekarang iklannya lebih memaksa
Penelpon harus beriklan pula
“Toko Bla... Bla... Terlengkap kebutuhan anda”
Radio istimewa

Cukup radio sudah sirine
“tiiiieeeeeeeeeeeetttttnnnnnnnnnnggg”
“Allahuakbar Allahuakbar”
Radio mati

Begitu saja radio senja
Di saban Ramadan
Tak di waktu-waktu selainnya

20 Juni 2015


TARGET, MENGHAMBA ATAU KEWAJIBAN

(Ramadan Hari II)

Benar-benar tanyakan
Tanda tanya tanpa batas panjang kali lebar
Di kehausan, lapar
Menjinakkan nafsu kemanusiaan
Apakah titik tujuan

Target sebagai rekor perseorangan
Sebulan tanpa celah
Lalu medali kepuasan dikalungkan

Menghamba sehamba-hambanya
Bukan lain-lain selain lainnya
Hamba sujud pada Tuhan
Mengagungkan
Hamba karena hamba

Atau kewajiban kungkungan
Aturan Tuhan sebagai jalan pijakan
Jika tidak lalu dosa lalu neraka pastinya

Benar-benar tanyakan
Pada hati sehati-hatinya
Adakah bongkahan jawaban
Yang kemudian yakin seyakin-yakinnya
Apakah sebenarnya

Ada jawaban yang tak terhitung
Dimana campur tangan keresahan
Keegoisan, kehewanan, kesetanan
Kadang kemalaikatan

Hingga sampai detik berjuang ketekunan
Dimana hati berdiri tegas
Hingga raga sanggup terkuras
Bahkan ikhlas
Walau tak benar-benar tahu sampai dimana ikhlas

Benar-benar tanyakan
Takut-takut ada kejanggalan
Yang mengakibatkan kekosongan
Bukan tentang kesia-siaan
Jauh antara nafas dalam jantung
Ada yang seharusnya kita paham

Allah Maha Pengampun
Ampunilah segala kesalahan
Hamba sedang bertafakkur tentang keabstrakan
Yang tak masih tak kuasa indera menakar


 19 Juni 2015

KEMANA PATROL?

(Ramadan Hari II)

Patrol, disini kami menyebutnya
Suara gentongan
Berkombinasi suara cangkul yang dipukul paku
Tak luput sebagai nada bas
Ember dan kadang galon atau apa sajalah
Lagu yang tak pernah lupa
Selain lagu-lagu yang sesukanya
“Saaaaaaaaur,... Saur,... Saaaaaaur,.... Saur...”

Akh,... kemana pasukan itu
Biasanya ada sarung melingkari leher
Tua muda bergerilya sepanjang jalan
Jalan lubang-lubang
Berdebu

Biasanya juga
Bentrok adu nyaring tabuhan
Kala berpapasan pasukan patrol musuh bebeyutan
Kadang juga ada gabungan
Dari mushola-mushola saudara

Akh,... kemanakah pasukan itu
Aku rindu
Apa sudah gugur di perang masa
Apa desaku telah kehilangan sukmanya
Dimakan usia yang menuntut tak berbuat apa-apa
Salah redaksi
Menuntut merubah cara hidup lama

Tak akan kudengar lagi kata Patrol
Bukan beberapa tahun lagi
Cukup Ramadan ini
Akan kuceritakan nanti pada anak cucu
Dengan nada sangat ber-iklan
Kali saja mereka tertarik menirukan

Awal cerita kusampaikan begini
“Dulu itu seru,...”
Kubayangkan sekarang
Mereka menganga sangat antusias
Ternyata ada masa silam yang tak bisa mereka rasakan

19 Juni 2015


MENUJU MATAHARI VERTIKAL

Tadi
Kucari bulir keramaian
Antara tebal kabut
Runtuhnya malam
Gagah matahari
Melawan dingin di puncak

Datang satu demi satu
Kata-kata silam
Dimana telah kujejer
Pondasi sekuat kapal pesiar
Hingga ketika badai seperti sekarang
Kuanggap ayunan
Menari
Diatas gelombang

Ingin seperti matahari
Sabar di kala malam
Pada waktunya
Matilah kesunyian
Ditikam
Dibuatnya cacing kepanasan
Hingga pas
Kuasai lurus vertikal
Tanpa bayangan
Berdiri kuat sendiri

Berangkat dari lamunan
Ditenun sedemikian
Dibakar dalam bejana berair panas
Kering
Lalu dengan matahari
Berharga pengorbanan
Aku ingin menjadi matahari

Kemarilah
Belum menyingsing
Dan malam masih bengis

17 JUNI 2015


MASA, DIMAKNA

Ada masa
Dimana raga yang kita tunggangi kesakitan
Dipaksa lari cepat menaklukkan batas waktu
Alasannya mimpi di depan
Yang kadang masih belum kelihatan
Atau kadang masih perlu merobohkan tembok
Satir antara imajinasi dan kenyataan

Ada masa
Dimana jiwa yang kita elukan letih
Dipaksa memainkan kepuasaan tanpa mampu
Alasannya kesempurnaan hakiki
Yang kadang masih teka-teki
Atau kadang masih tiada secuil-pun pertanda reaksi

Ada masa
Dimana kita berdiri tanpa apa-apa
Dipaksa menjadi segalanya
Alasannya adalah ada
Yang kadang masih belum dibuktikan
Atau kadang masih perlu dijelaskan
Apakah ada kita yang berdiri tanpa apa-apa

Ada masa
Dimana itu semua perlu disetubuhi
Perlu dijiwai sesakral mungkin
Alasannya mimpi, kesempurnaan, ada
Yang hanyut di dalamnya
Atau disembunyikannya sendiri
Hingga harus ada masa kesadaran
Bukan sekadar membuka keaslian
Melainkan kegaduhan dari mana berasal


16 JUNI 2015

MAGHRIB JUMAT; SOWAN PADA MBAH-MBAH

Assalamualaikum Mbah
Maghrib di Jumat lagi
Cucumu sowan bakti
Ucap tahlil
Lantun firman
Dzikir-dzikir
Terhaturkan dari cucumu Mbah
Malam ini
Mungkin sekelumit rerumput liar
Telah menjalar di Makammu
Maaf cucumu lalai membersihkannya
Nisanmu mungkin sudah ada yang hilang
Cucumu lagi-lagi terkadang kurang ajar
Atau bahkan cucumu ini tak tahu
Makammu telah dijadikan jalan raya
Maaf lagi-lagi cucumu lalai
Mbah...
Kalian pasti sedang melihat cucu-cucu kalian
Mengharap Fatihah
Mengharap siraman amal yang hanya didapat lewat doa
Maka karena itu Mbah
Ini cucumu sowan seadanya
Maaf, lagi-lagi karena ke-kurang-ajaran
Aku tak menghafal satu persatu nama kalian
Maka kusebutlah satu-satu setahuku
Lalu sisanya ku Jamak seperti ajaran sesepuh
Al-fatihah...


11 Juni 2015

OPNAME

Kemarin tapi sudah pulang
Butir-butir mungil
Bertulis judul masing-masing
Berwajah kuning
hijau
biru
putih
Sering kali memakai garis tengah
Semua akrab bermain Waterboom
Di titik mulai rongga mulut yang kering
Di atasnya adalah mata yang memerah
Sebab suhu lampaui empat puluh
Entah apa satuan dalam ucap wanita berseragam putih
Juga ada pasukan panahan
Tiga anak panah berhasil tertancap sempurna
Dua ditarik lagi oleh sang empunya
Satu anak panah, nahas
Ia dua hari dibiarkan tertancap
Diperintah empunya
Menyebar cairan-cairan yang telah ia bekalkan
Hingga datang
Paman
Bibi
Keponakan
Nenek
Tetangga
Pun ada serta
Roti
Susu
Kacang
Kopi
Minuman Ringan
Buah-buahan
Semua sekamar
Menyaksikan yang dipanah pasukan berseragam putih
Yang sesekali bertanya begini
"Ada keluhan apa untuk sementara ini, mas?"
Mual
Pusing
Muntah
Diare
Atau "Silahkan berbaring dulu, mas. Mau diperikasi lagi"
Lengan luruskan
Masih 100
Ketiaknya dibuka
Dijepit
Sudah 38
Begitu pertunjukan untuk tamu-tamu di kamar bau obat
Ada di teras depan
Kaum bapak asik menyeduh kopi
Setelah sekejap basa-basi dengan tanya peduli
Begitulah lelaki
Terinti
Disini datang badai kasih yang merobohkan benci
Lewat disini
Ingin kuceritakan lagi nanti


11 Juni 2015

KEKHAWATIRAN

Dewi Airlangga (67)

Sedikit kekhawatiran
Jika matamu tak kian layu

Saban malam sayang
Sebelum tenggelam pada ketiadaan
Rona-rona antara jendela
Matamu tanpa lambai ajakan
Cukup begitu dengan diam
Aku dimesrakan

Sedikit kekhawatiran
Jika bibirmu tak kian batu

Makbul semua romansa
Ada jemarimu belai pipi tangis ini
Banyak waktu itu terjadi
Pada latar yang kuciptakan sendiri
Dimana tanpa suara
Tak bisa dipotret
Lalu kucetak seluas harapan pada nyata

Sedikit kekhawatiran
Jika semua mata ini terus begini
Di matamu adanya henti


04 Juni 2015

GURU TUA (BUKAN GURUKU) AJARKAN AKU BIJAKSANA

Guru tua terhormat
Jangan matamu melaknat

Sudah gugur tangan yang terangkat
Bukan maki tapi bijak ternanti

Boleh merunduk punggung muda ini
Tapi jangan mengecam patuh diri
Sudah kubuang liur yang kau suguhi

Aku mengemis kebijaksanaan
Malah kau tak hiraukan
Bahkan kau telanjangi aku kekanak-kanakan
Bahkan parah pecah persetan
Kau hujani aku kala telanjang
Dingin wahai pak guru tua

Mengingat matamu kini bagaimana
Mengingat tuamu kini bagaimana
Mengingat kau sebagai guru kini bagaimana
Mana kajian petuah ulung
Saban hari kau kepulkan terselubung
Kenapa sekarang main menang
Bukan menggurui kebijakan

Naik arena tinju bersabuk perhiasan
Biar nanti kejuaraanmu terkenang
Jangan disini
Ini arenanya para pencari kebijaksanaan

Bagaimana aku tak tercengang
Ini petaka besar yang pernah kuabadikan
Ada ketidak-maluan mengacungkan kebijaksanaan
Yang tahu-tahu bukan kebijaksanaan

Bukan soal salah atau benar
Ini musim menggurui guru di perguruan
Biar guru-guru tak menggurui guru-guruan
Guru dalam kaidah tersakral keguruan
Guru menggurui guru-guru ucapkan
"Temukanlah Kebijaksanaan"


03 Juni 2015

SETAN!!!

Dewi Airlangga (66)

Setan
Keparat
Anjing
Ayolah otakku
Ayolah hatiku
Kau siapa
Dia siapa
Haruskah membatu seribu
Ingat tentang air mata yang tak tumbuh cemara

Aku menangis tajam
Sedang tak terhirukan
Aku saban hari terjungkal
Sedang selalu teracuhkan
Kemana bengis kulawan
Aku tak mendapati tempatnya
Sedang ia
Melukaiku tanpa henti

Setan
Madakaripura kenapa harus sakral
Berulang kali berjuang meniadakan
Kini ia cepat kilat menghantam
Kasihi aku wahai kisah roman
Nelangsa ini tak cukup kuat aku menahan

Setan
Setan semuanya
Berurusan dengan setan jadinya setan
Menghentikan setan
Apa benar setan?

Siapa bisa bantu aku
Demi Tuhan
Perasaan ini begitu menyakitkan
Tolong...
Aku tak mampu lagi
Seperti tak mampuku berpuisi isi lagi
Kini lurus seperti koran pagi

Jbr, 01 juni 2015