ISLAM-KU ISLAM NUSANTARA

(Sebuah sumbang pemikiran tentang tema Mukhtamar NU yang ke-33)

Ini bukan agama baru
Ini bukan Islam baru
Ini bukan aliran baru
Ini bukan aliran sesat terbaru
Ini Islam Nusantara
Ini Islam Indonesia
Ini Islam Walisongo
Ini bukan liberal
Ini bukan perusakan definisi islam
Ini Islam Nusantara
Ini Islam berwajah Indonesia

Gus Mus mengatakan seperti susunan Idhofah
Pada kitab-kitab nahwu dipaham
Jurmiyah, Imriti, hingga Safinatun Najah
Ada mudhof, ada mudhof ilaih
Nusantara mudhof, Islam mudhof ilaih
Islam disandarkan
Atau boleh sebaliknya
Nusantara diislamkan
Budaya, tradisi, kebiasaan
Dikristalkan menjadi nilai keislaman
Jika mudhof rofa' maka mudhof ilaih Jer
Jika mudhof nashob maka mudhof ilaih Jer
Jika mudhof Jer maka mudhof ilaih Jer
Kiranya begini ketika sampai pada I'rob
Nusantara, India, Cina
Adalah mudhof ber-i'rob beda
Tapi mudhof ilaih tetap Jer
Islam hakiki
Dibingkai mudhof secara maknawi
Dipoles budaya serta tradisi

Islam bergerak
Sebutan lain seirama Islam Nusantara
Gus Fayadl yang mempopulerkan
Bukan stagnansi
Bukan kekakuan
Islam bergerak
Kompromi tanpa menghilangkan prinsip tegak
Menyublim bersama keadaan
Tapi tak tercemar oleh keadaan
Justru menambah nilai keadaan
Begitu Islam Nusantara
Islam menyublim pada Nusantara
Tapi tak tercemar oleh Nusantara
Justru menambah nilai Nusantara
Wayang di-islamkan
Keroncong di-islamkan
Petik laut di-islamkan
Bahkan Gobak Sodor di-islamkan
Bergerak pada nadi Nusantara
Hingga Nusantara bernafas Islam sesungguhnya

Islam-ku Islam Nusantara
Tuhan-ku tetap Allah sang Maha Kaya
Nabi-ku tetap Muhammad sang Pencerah Dunia
Kitab-ku tetap Al-qur'an yang mulia
Dan aku tetap seorang hamba di tanah Nusantara



Jambesari, 01 Agustus 2015, Bertepatan dengan hari pertama Mukhtamar NU yang ke-33 di Jombang, dengan tema besaran "Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia".



KISAH ALIRAN LISTRIK

Belum paham listrik
Meski kisahnya mudah ditulis

Air, uap, nuklir, angin
Bahkan banyak lagi. Belum paham

Lalu lewat serabut hasil alam
Besi, logam, kuningan. Belum paham
Berselancar lihai hingga ujung percabangan

Dibagi menjadi angka-angka
Daya, tegangan, muatan. Belum paham
Berlalu rapih proses hingga proses pemanfaatan

Hingga muncul mata-mata dua
Siap dikonverensikan ke jalur beda

Lalu menjadilah secara tulis sederhana
Kopi, cahaya, warna. Tak paham
Alangkah bodohnya akal

Dawai peramai telinga
Pop, Rock, Jazz, Reggae. Tak paham
Pun korban listrik menumpahkan sengatan

Ternyata luas sebuah kisah
Merah, kuning, hijau, di percabangan jalan
Led di masjid agung
Isya’ 18.xx
Maghrib 17.xx
Subuh 04.xx
Dhuhur 11.xx
Ashar 15.xx
Jakarta, Paris, Manchester, Rio. Tak paham
Mudahnya algoritma berulah mapan

Ini mau kemana otak berselancar
Sebab aliran listrik nakal-nakal menantang
Ada kejanggalan terapan
Kenapa? Kenapa? Kenapa?. Tak paham
Untuk apa? Untuk apa? Untuk apa?. Tak paham

Dzikir dengan fikir
Mungkin pembaca paham dengan “Tak paham”
Ajarkan penulis jika kalian paham
Sebab malaikat mungkin menyaksikan
Kebodohan adalah proses memahami kebesaran Tuhan

Ini hanya kisah aliran listrik
Ping, Notification, Hastaq, Mention. Tak paham
Masih amat-sangat banyak lagi kisah pijakan
Mari berkisah...
Dengan beragam kebodohan

Jambesari, 31 Juli 2015


CALON ISTRIKU (III)

Atom adalah Fayakun
Materi adalah Fayakum
Sel adalah Fayakun
Organ tubuh adalah Fayakun
Dedaunan adalah Fayakun
Savana adalah Fayakun
Satu adalah Fayakun
Tak terhitung adalah Fayakun
Biner adalah Fayakun
Mesin adalah Fayakun
Abu adalah Fayakun
Padang pasir adalah Fayakun
Lava adalah Fayakun
Merapi adalah Fayakun
Air adalah Fayakun
Samudera adalah Fayakun
Awan adalah Fayakun
Langit adalah Fayakun
Galaksi adalah Fayakun
Calon istriku...
Kau-pun Fayakun

Fayakun sebelumnya diawali Kun
Fayakun segala yang ada

Fayakun sudah tetapan
Gerak seimbang
Keselarasan
Keserasian
Fayakun keindahan tanpa batas
Fayakun keindahan tanpa jangkauan nalar
Fayakun keindahan sederhana
Fayakun keindahan proses
Fayakun keindahan fungsi
Fayakun keindahan ilusi
Fayakun keindahan mimpi
Fayakun keindahan nostalgia
Fayakun keindahan segalanya
Fayakun calon istriku

Calon istriku
Kau-pun Fayakun
Sebab telah ada Kun
Pada sebuah zaman yang lalu
Azali begitu disebut oleh para Guru

Fayakun
Menunggu Fayakun
Jika telah Fayakun-mu terlihat
Maka wahai calon istriku
Fayakun-ku merona ayu
Bersiap mencumbu se-indah caraku
Sebab kau amanah Fayakun-ku sebagai imam di sisa waktu
Meski sedikit berlebih godaku
Tapi percayalah...
Aku berusaha dan tetap Tuhan yang berfirman Kun
Fayakun Sakinah... Amin
Fayakun Mawaddah... Amin
Fayakun Rohmah... Amin

Negeri Roman, 29 Juli 2015


SETENGAH KEPALA

Adanya dicibir
Hilangnya dicari
Tingkahnya dibenci
Diamnya disayangi
Lebih baik ada dan bertingkah
Karena hilang tak ditemukan
Karena diam akan tenggelam
Setengah kepala
Setengahnya biar dada bertanggung jawab
Karena begitu terdengar
Emha berterik tentang Kalijogo mengajarkan
Adanya adalah tingkah
Hilangnya adalah diam
Meratapi setengah kepala
Semoga hidup berjalur makna
Meski tak sampai setengah dewa


Perbatasan Jambesari, 27 Juli 2015

SURGA DENGAN PUISI

Jalur puisi tentang surga
Sebab ia mempunyai mata berbeda
Telinga berbeda
Logat berbeda
Diksi berbeda
Gatra berbeda
Sudut berbeda
Makna berbeda
Cara menghamba berbeda

Pernah dikata
Banyak jalan menuju Roma
Banyak pula jalan menuju yang Kuasa
Sebab bukan masalah agama
Justru bagaimana meng-agama-kan cara

Seperti jalur menuju Jakarta
Banyak jalur
Banyak pula cara menaklukkannya

Pesawat hukum fisika
Motor supranatural
Sepeda ayunan bio-logika
Kapal pesiar berlayar kefilsafatan
Ambulan dari kedokteran
Becak dengan kemelaratan
Bahkan jalan kaki “gembel” buatan
Hingga bukan masalah cepat tidaknya sampai
Jakarta tetap tujuan keagungan dengan jalur pilihan
Dan dengan cara pilihan pula
Hanya tentang bagaimana ke-khusuk-an
Lalu Jakarta bukan hanya dogma paksaan

Sebab kadang hanya karena biologis
Sebab kadang hanya karena geografis
Meski sebab itu adalah takdir
Lari ke pojok-an sebagai taqlid musafir
Tentu bukan pilihan sejati
Karena perkara keyakinan harusnya dibumbui
Diasah setajam-tajamnya
Takut-takut harus melawan kekafiran yang tiba-tiba

Seperti puisi yang tercipta
Maka kadang membacanya lagi adalah surga
Hingga tak mau mengancam kata
Jika harus menulis dosa

Laailaaha Illallah
Do’a pada jalur menghamba
Semoga Khusnul Khotimah pada ujung dunia
Kala Izroil menghentikan nafas pada fana-nya raga

Jambesari, 27-28 Juli 2015


FIKSI SEORANG PECUNDANG

Ia pergi pada ketinggian. Bulu-bulunya memutih. Berpidato lantang menyuarakan kesempurnaan. Gemetar tangan hingga kaki. Pecundang.

Ia pergi pada kerendahan. Bulu-bulunya me-lumpur. Berkisah melankolis menceritakan kepedihan. Gemetar mata hingga bibir. Pecundang.

Ia pergi pada ketiadaan gravitasi. Bulu-bulunya menghilang. Berenang terbang memandang kekosongan. Gemetar otak hingga hati. Pecundang.

Ia datang menuturkan kejanggalan. Pada kota-kota menantang. Pada desa-desa tangis-senyum diadukan. Hingga pada Tuhan keputusan. Pecundang.

Ia datang menafsirkan ke-indera-an. Pada mata-mata melihat. Pada telinga-telinga mendengar. Pada mulut-mulut bicara. Pada Pecundang.

Ia adalah sebab. Bagaimana dinamis jelas. Membentuk menjadi-menjadi yang diwakilkan. Dibentuk sebab-sebab lain dalam pertanyaan. Pecundang.

Ia adalah karena. Bagaimana pergi dan datang. Semakin resah semakin pelik karena terjawab. Di-remang-kan karena-karena pandangan. Pecundang.

Ia adalah apa. Bagaimana menjadi bagaimana. Bagaimana menjadi sebab. Bagaimana menjadi karena. Sebab terjadinya apa karena apa. Bagaimana Pecundang.

Ia adalah kesimpulan dari fiksi-fiksi. Pecundang berjudi dengan teka-teki. Sebagian hambar kabar. Yang tak terasa di-rasa-rasa-kan. Fiksi Pecundang.

Ia adalah “sebab karena apa”. Ia adalah bentuk tak bernama yang di-nama-nama-i sembarangan. Biar rupanya fiksi. Memasukkan fiksi lagi. Pecundang.


26 Juli 2015

JUJUR HAMBA UANG

Menimang-nimang peran penghambaan
Neraca uang di takdir ketetapan
Telah sampai di sisi roda bagian bawah
Dompet menganga tanpa gigi
Kuda bertelinga kaca tanpa pakan
Kaca persegi ber-kaya-warna tanpa asupan
Sedotan api di warung lesehan tanpa kepemilikan
Jujur, hamba uang

Kegelisahan semakin akut
Seakan bahagia berpita hitam
Digaris receh dan lembaran
Jujur, hamba uang

Kemana, dimana, bagaimana
Sempat terlupa bertuhan harta
Sebagian sujud dibuang pada reka-reka
Berpura-pura, nikmatnya dunia
Isya’ di hembus kopi-kopi malam
Subuh di cakar kantuk mendalam
Dhuhur kelewatan
Ashar ditenggelamkan senja berparas menawan
Maghrib digilas perjalanan pulang
Jujur, hamba uang

Maafkan Tuhan
Hamba uang lupa bersukur atas kecukupan
Sempat ditafsir pada khilaf
Namun justru hakikatnya lebih nahas
Sempat teryakini pada alamiah penciptaan
Namun justru lebih pada kedurhakaan
Jujur, hamba uang

Ada penting diatasnya lebih penting
Hamba uang belajar kebahagian
Di kekosongan
Di candu keduniaan
Telah Kau utus kemelaratan
Menyadarkan penghambaan yang keliru
Tentang kebahagian kelas semu
Jujur, hamba uang

Aku jujur belum melalui kekhusuk-an
Sebab hamba uang teramat plin-plan
Hati berlalu lintas cabang
Tersesat lalu semoga kembali
Dan semoga tak hilang
Jujur, hamba uang

Berusaha menjadi hakikat hamba Tuhan
Sebab uang
Mula-mula ditemukan ke-tidak-sejatian
Mula-mula ditemukan ke-fana-an
Mula-mula ditemukan ke-sementara-an
Mula-mula ditemukan ke-candua-an
Dan jika si uang kembali
Mula-mula semoga mula-mula
Ia mengabarkan tentang ketuhanan Tuhan
Jujur, hamba uang ber-istighfar
Astaghfirullah Hal’adiim

Kau Tuhan maha pemberi uang
Mohon dengan uang tetap bertauhid
Mohon tanpa uang tetap bertauhid
Mohon antara sedikit dan lebihnya
Tetap menghamba pada-Mu yang esa
Jujur, hamba (tanpa uang) ber-istighfar
Astaghfirullah Hal’adiim

25 Juli 2015



KELAS RUANG TAMU

Semacam jadwal sekolah-an
Selepas maghrib layaknya jam pertama
Ada teriak bel masuk
Hanya terdengar oleh telinga pelajar
Waktunya belajar

Pilih ruang kelas
Sengaja tak tertera pada jadwal
Terserah mau belajar apa
Jurusan akik, kitab klasik, mitos hingga mistis
Sejarah Indonesia, Agraria, tawa hingga tertawa
Atau jurusan campur sari
Atau jurusan Infotaiment pada setiap momen
Kelas paling populer di sekolah-an

Gurunya yang punya kelas
Kadang ulasan pelajaran bias
Maklum, bukan kelas kekangan birokrat
Tanpa silabus, tanpa KKM nasional yang cepat hangus
Tak dikalungi prosedur kelas atas
Tak berprinsip tapi jauh lebih pelik
Salah kedip langsung D.O tanpa pamit

Sampai puas
Sampai mata merah
Tak berkotak waktu
Tak berbayar tiap jam tiga ribu
Malah sang guru menyuguhkan susu
Kadang kopi, kadang teh, kadang ya tak ada
Mungkin guru  sedang diterka krisis dana

Begitulah kelas ruang tamu
Meski masih banyak uraian tak bermutu
Perkenalkan ini sekolahku yang baru
Tanpa buku, tanpa ijasah
Adanya adalah resah
Dimana tatap muka demi muka
Cenderung tanya bertemu tanya selanjutnya
Tesis anti-tesis selanjutnya agak beda
Bersenandunglah kerukunan warga
Meski masih bertanya

23 Juli 2015 


MIMPI SIANG

Dewi Airlangga (70)

Mimpi siang dalam kerumunan cerita sebelumnya, nyata-nyata semua terasa, begini yang sebelumnya di sebuah bilik, mimpi ada yang mengatakan reinkarnasi, boleh jadi yang akan terjadi, boleh juga yang terulang kembali, jutaan persepsi semua boleh jadi, lepas itu arti mimpi siang teramatlah berarti, karena sebuah romansa kini bercerita lagi.

Sekedar merayu bukan lagi jalan memiliki, setengah sia-sia mungkin saja bisa dikata, mimpi siang yang akan terceritakan nasibnya sial, karena tanpa harapan, bukan reinkarnasi, bukan terulang kembali, dan tak akan terjadi, selaput pemisah nyata dan mimpi kini sejengkal saja, jelas tapi panas, tak meleleh meski demikian terbekas.

Mimpi siang, mula-mula aku melihatnya di sebuah jalan, depan rumah yang dalam cerita aku di pintu awal, ia memandangku tajam, hingga sampai terlewat jalan, ia tak henti, jelas mata itu berbinar, entah keinginan, tangisan, atau boleh jadi cibiran, sedang aku bersiap pesta di kebun belakang, aku rindu mata itu.

Selepas mata terbuka, tak kuasa jemari menahan undangan, datang sukma-sukma masa lalu, berpesta yang sebenarnya di sebuah layar, bermenukan mata indah sang impian, anggun ia melewati jalan, masih jelas hingga di “kata” ini, meski yakinku ini bukan reinkarnasi, bukan reka ulang, dan boleh jadi tak akan terjadi, dan jika terjadi maka ini Dejavu dari sebuah mimpi, tetap sebuah misteri.


22 Juli 2015

CALON ISTRIKU (II)

Dimakan suasana
Berbusana pasangan semut
Ganti-ganti di jalan-jalan buntut

Bak pesawat tempur
Mata-mata meluncurkan racun
Mulut-mulut malah mendengkur

Alih-alih menertawakan
Gelombang sunyi justru menghunus pedang
Gesit ditangkis dengan tangan tanpa perisai

Menangis sekeras-keras pita
Serupa teriak dipadang pasir
Malah debu menyumbat tenggorakan

Liar tersesat dalam bisu
Hanya telinga beradu lagu-lagu
Dari tahun 80-an yang tercipta

“Kumenanti seorang kekasih
Yang tercantik yang datang di hari ini”
Semakin sakral suasana hari di lirik ini

Kemudian sehelai rambut gugur
Terutus terbang menuju kerumunan
Antara senyuman para korban penantian

Sudah demikian ulasan takdir bebatuan
Yang sampai pada skenario lajang
Kemana selanjutnya hidup ditendang

Sebentar sebait lagi
Dalam judul masih tak tersebut maksud
Kuceritakan dipertemuan wahai Calon Istriku


21 Juli 2015 

CURAHAN HATI KEPADA SUTARDJI

Sutardji!
Dengarkan aliranmu ini
Cur-cur-cur
Hat-hat-hat
Tulisku hancur
Hatiku kiamat

Mantra-mantra yang kau ajarkan
Mengeong di kucingmu
Sutardji!

Kelam yang silam
Silam yang kelam
Kucingku yang lahir ulahmu
Mencakarku kini garang

Lupakan sejarah perkenalan
Dengarkan saja
Sutardji!

Dangkal pisau kata-ku
Tak kunjung tajam
Malah semakin karat
Dimakan air genang
Tenang-diam-pinggiran

Sesekali kucium kawan-kawanmu
Chairil si misterius di kuburan
Rendra di kematian menawan
Taufik serupa namaku di kebijaksanaan
Gus Mus yang masih di Televisi nasional
Aku memesrakan kesendirian
Kadang Gie muncul tiba-tiba
Dari seringai kabut desa

Sutardji!
Kau yang masih bernafas
Semakin kabur kabar
Gusar mata mencakar
Dieja tak tereja
Ditulis tak tertulis
Bala petaka digembala
Hingga kadang aku terikut digembala
Nahas

Dunia yang setapak
Tak sampai kaki lelah
Otakku sudah dipenuhi tanah

Sutardji!
“Malakut-malakut sepi”
Sajak masukku yang silam
Kini disandera setan

Mendengarlah...
“Batu akik hijau lumut
Lumut hijau di jemari tangan
Satu titik aku mengamuk
Amuk setan menghapus kenang”
Sekedar pantun kebisingan
Sutardji!

Cur-cur-cur
Hat-hat-hat
Merapi timur digusur
Sajakku-pun terlewat
Cur-cur-cur
Hat-hat-hat
Lebaran besar diusung
Sajakku-pun terlewat
Cur-cur-cur
Hat-hat-hat
Hati lelah gugur
Sajakku ayolah melayat
Masih banyak kematian yang perlu diungkap
Sebelum dicibir Sutardji
Bukankah begitu?
Sutardji!

Kucing mengeong
Kopi hitam diendus
Ada jutaan aroma beda
Apalagi beda kucing
Meeeooong...
Meeeeeeoooong...
Ada kebenaran dalam kebenaran
Ada kenyataan dalam kenyataan
Adakah kebenaran dalam kesalahan?
Adakah kenyataan dalam ketiadaan?
Meeeong...
Ada kucing korban tabrak lari
Tak terlihat

Sutardji!
Ha... 10x
Lalu diam jemari berhenti mengetik


20 Juli 2015

DOSA, SAMPAI KETIKA

Sampai ketika bisu
Apakah
Sampai ketika keriput
Apakah
Sampai ketika tewas
Apakah
Dibawah atap bintang
Melucuti satu persatu kebaikan
Hingga telanjang
Menjadi kotoran
Berdiri dibelai kemapanan
Sampai ketika bisu
Ludah kering
Sampai ketika keriput
Kulit penuh rumput
Sampai ketika tewas
Kembali menjadi bangkai
Dibawah tanda kekuasaan
Tetap menggali jalan tikus
Mengendus tujuan hangus
Seperti buta
Padahal tak buta
Seperti bodoh
Padahal tak bodoh
Lama lama sadar
Tak sadar lagi
Sampai ketika bisu
Semoga tidak
Sampai ketika keriput
Semoga tidak
Sampai ketika tewas
Semoga dan semoga tidak
Amat gesit tak tertangkap,dosa
Selalu terperangkap, dosa
Bahkan kadang sengaja ingin disekap, dosa
Maafkan aku Tuhan, berdosa-dosa
Sampai ketika...


15 Juli 2015

LAGU LEBARAN KECILKU

Terlantun lagi
Di bumi lahir

Ada lagu kecilku
Jika lebaran hampir terbit

Berbahasa madura
Meski tanahnya Jawa

Liriknya tiga baris
Hanya telah mendarah

Tiap kali dilantun
Hadirlah mukaku yang ingusan

Begini liriknya
Mungkin ada kamu sama

"Laggunah tellasan
Melleyah manisan
Begiyeh ji tosan"

Humor berkelakar
Sederhana bukan

Tapi jangan sampai
Tosan mendengar

Ditendang kalian
Dipandang tajam

Lebaran selamat datang
Semoga lahir kebaikan

Dari lagu kusampaikan
Maaf segala langkah

Bukan hanya teruntuk Tosan
Tapi semua nyawa pada kehidupan


Jambesari, H-3 Lebaran, 13 Juli 2015

BUNGA DI TAMAN JAUH

Dewi Airlangga (69)

Bunga cantik
Di taman jauh

Tak cukup kaki
Mengusik panas jalanan

Tak kuasa terpetik
Tangan berat menggapai

Dibebani takdir
Hanya cukup dipandang

Itupun mata tak berkutik
Dengan hati berjalan

Hanya aroma yang nyata
Sebab telah dihafal

Dari itu tak tertepis
Masih jelas bunga mekar

Pada musim kemarau
Hujan, bahkan waktu yang diam

Menarik meski sakit
Kala duri terlihat tumbang

Tak jatuh menjerit
Duri terbang menyerang

Hingga kadang berdarah
Semisal ini yang tersajakkan

Bunga di taman jauh
Tak 'kan menjadi bangkai

Sebab saban musim
Kusiram kau dari kejauhan

Taman Bunga Bondowoso, 12 Juli 2015

AIR MATA SAKTI

Bukan melankolis
Hanya simbolis

Air mata yang sering kalian sebut
Di hampir semua kisah
Akan segera kabur

Bukan biologis
Apalagi psikis

Air mata yang sering kalian lihat
Di hampir semua tempat
Akan segera luntur

Air mata deras
Gugurkanlah
Hingga habis, kering
Sebentar diam
Menangislah lagi

Ia berubah sakti
Tangisan itu tak 'kan henti
Hanya yang biasa akan menjadi
Sebab telah menjadi kanal
Menyeret

Menangislah
Lihatlah, semakin cepat
Bahkan ada sebagian tertolong
Mereka tertawa
Karena belum tahu sejatinya
Tak sadar diselamatkan air mata

Sudah kukatakan
Bukan melankolis
Bukan biologis
Bukan psikis
Ini simbolis
Air mata sakti


20.04 wib, 10 Juli 2015

TADI BERBUKA PUASA DI BANDUNG

Selepas ashar meneriaki telinga
Bergegas si putih bermesin menuju arah utara
Ditunggangi sang empunya yang berpena Jaka Samudera

Nol hingga sembilan puluh
Begitu jarum merah menunjukkan angka
Di tikungan yang ke sekian kalinya
Berhenti sejenak demi sebungkus Surya

Berlanjut si tangan kanan memutar pacuan
Hingga sampai sang empunya di Mahardika
Sebuah kantor pemancar radio ternama

Duduk di kursi setengah mewah
Mungkin sedang menikmati Wifi gratis yang tersedia
Seorang sahabat lama yang mengundang bercengkrama
Awal tiba senyum khas langsunglah rekah
Hangat kebersamaan masih terasa indah

Jam tangan masih berkata setengah lima
Ludas setengah jam selanjutnya bersama cerita
Tawa, reuni masa, nostalgia, mungkin juga cinta
Yang terakhir berdasarkan definisi surga

Kemudian perang mulut tentang menu berbuka
Pilih Warung, Lesehan, Cafe atau sebagainya
Lalu putuslah keputusan sederhana
Di Bandung berbuka puasa segera terlaksana

Beat putih melawan Beat hitam
Siapa yang menang
Tentu si putih yang merajai jalanan
Karena memang sebagai petunjuk jalan

Hingga inilah Bandung
Beralas bambu
Berdinding bambu
Bermeja bambu
Ada kolam renang
Ikan-ikan mondar-mandir kebingungan
Ada tamu berwajah familiar

Ini Bandung yang menawan
Yang kuciptakan sendiri
Dengan dimensi ilusi hati
Sebab pernah bersamaku disini
Bandung yang berkerudung sunyi

Cukup!
Kakap sudah dibakar
Lalapan sudah di atas nampan
Jus alpukat sudah bersusu coklat
Segelas kopi hitam mengkilat
Lupakan sejarah usang
Mari berbuka ala Bandung di pinggiran


00.02 WIB, 06 Juli 2015

SEBATAS YANG BERBATAS

Kau pasti tahu itu
Batas

Kita dilumpuhkan garis
Pangkat sosial warisan keledai
Ada kecanggungan
Ada ketidak-wajaran

Kau pasti tahu itu
Batas

Aku gemetar
Memberikan gempa kepadamu
Ada ke-pura-pura-an
Ada buta-buta-an

Kau pasti tahu itu
Batas

Lelaki sesuka kalian dianggap pecundang
Padahal tak se-sederhana kedipan
Ada peluh dingin
Ada semut mengerubuti kaki

Kau pasti tahu itu
Sebatas yang berbatas

Katakanlah jujur
Beri aku kode-kode alam
Ada alat pengurai
Ada keberanian yang harusnya kau undang

Kau pasti tahu itu
Wanita yang mengerti tangga kataku


BanBon (terenskripsi), 05 Juli 2015

INGAT BANDUNG INGAT KAMU

Hei kamu
Bandung lautan api
Aku bersemayam di perut bumi
Suatu saat aku berwajah lava menyapamu kembali
Sekarang belum berani

Bandung yang kau hajar
Memar aku melihat
Disana kupergoki cinta diam-diam berapi

Hei... Hei....
Jangan bergegas salah paham
Ini bukan definisi kamus besar
Arti-arti berserakan tanpa kekangan
Ditafsir bolehlah
Tapi jangan berlebihan
Ini hanya Bandung
Dari asal pinggiran kita ada kesamaan
Tapi kamu
Kanvas diwarna Bandung dengan keistimewaan
Aku hanya bayangan
Mengikuti kamu di jalan-jalan warna
Tanpa kenal
Siapa kamu
Apa sukamu
Apa bencimu
Apa cukup di jalan
Dari sana gatra ini tumpah
Melakoni peran sebagai mata-mata keindahan


Bondowos Petang, 00.13 WIB, 02 Juni 2015

JEJAK KAKI

Kakiku lekat
Terikat
Pada masa dekat
Sebelum terpejam mata
Tak melihat apa-apa
Kembali
Membawa yang tak ada
Masih berusaha
Kulukis semua disini
Biar mimpi menghirup udara
Lanjutlah jejak kaki
Jajah lamunan
Buat aku merana
Se-merana mungkin
Kenyataan berhenti sementara
Aku lewat sebentar
Jejak kaki berpasir
Berdebu
Berbatu
Berkerikil
Apalah tak peduli
Kaki masih belum mati
Langkahi pinggiran
Berbulu domba di tengah serigala
Mangsalah
Akan lari berjejak darah
Justru lebih indah ceritanya
Pada telinga-telinga
Jejak kaki menggoda


01 Juli 2015