CALON ISTRIKU (II)

Dimakan suasana
Berbusana pasangan semut
Ganti-ganti di jalan-jalan buntut

Bak pesawat tempur
Mata-mata meluncurkan racun
Mulut-mulut malah mendengkur

Alih-alih menertawakan
Gelombang sunyi justru menghunus pedang
Gesit ditangkis dengan tangan tanpa perisai

Menangis sekeras-keras pita
Serupa teriak dipadang pasir
Malah debu menyumbat tenggorakan

Liar tersesat dalam bisu
Hanya telinga beradu lagu-lagu
Dari tahun 80-an yang tercipta

“Kumenanti seorang kekasih
Yang tercantik yang datang di hari ini”
Semakin sakral suasana hari di lirik ini

Kemudian sehelai rambut gugur
Terutus terbang menuju kerumunan
Antara senyuman para korban penantian

Sudah demikian ulasan takdir bebatuan
Yang sampai pada skenario lajang
Kemana selanjutnya hidup ditendang

Sebentar sebait lagi
Dalam judul masih tak tersebut maksud
Kuceritakan dipertemuan wahai Calon Istriku


21 Juli 2015 

No comments:

Post a Comment