JUJUR HAMBA UANG

Menimang-nimang peran penghambaan
Neraca uang di takdir ketetapan
Telah sampai di sisi roda bagian bawah
Dompet menganga tanpa gigi
Kuda bertelinga kaca tanpa pakan
Kaca persegi ber-kaya-warna tanpa asupan
Sedotan api di warung lesehan tanpa kepemilikan
Jujur, hamba uang

Kegelisahan semakin akut
Seakan bahagia berpita hitam
Digaris receh dan lembaran
Jujur, hamba uang

Kemana, dimana, bagaimana
Sempat terlupa bertuhan harta
Sebagian sujud dibuang pada reka-reka
Berpura-pura, nikmatnya dunia
Isya’ di hembus kopi-kopi malam
Subuh di cakar kantuk mendalam
Dhuhur kelewatan
Ashar ditenggelamkan senja berparas menawan
Maghrib digilas perjalanan pulang
Jujur, hamba uang

Maafkan Tuhan
Hamba uang lupa bersukur atas kecukupan
Sempat ditafsir pada khilaf
Namun justru hakikatnya lebih nahas
Sempat teryakini pada alamiah penciptaan
Namun justru lebih pada kedurhakaan
Jujur, hamba uang

Ada penting diatasnya lebih penting
Hamba uang belajar kebahagian
Di kekosongan
Di candu keduniaan
Telah Kau utus kemelaratan
Menyadarkan penghambaan yang keliru
Tentang kebahagian kelas semu
Jujur, hamba uang

Aku jujur belum melalui kekhusuk-an
Sebab hamba uang teramat plin-plan
Hati berlalu lintas cabang
Tersesat lalu semoga kembali
Dan semoga tak hilang
Jujur, hamba uang

Berusaha menjadi hakikat hamba Tuhan
Sebab uang
Mula-mula ditemukan ke-tidak-sejatian
Mula-mula ditemukan ke-fana-an
Mula-mula ditemukan ke-sementara-an
Mula-mula ditemukan ke-candua-an
Dan jika si uang kembali
Mula-mula semoga mula-mula
Ia mengabarkan tentang ketuhanan Tuhan
Jujur, hamba uang ber-istighfar
Astaghfirullah Hal’adiim

Kau Tuhan maha pemberi uang
Mohon dengan uang tetap bertauhid
Mohon tanpa uang tetap bertauhid
Mohon antara sedikit dan lebihnya
Tetap menghamba pada-Mu yang esa
Jujur, hamba (tanpa uang) ber-istighfar
Astaghfirullah Hal’adiim

25 Juli 2015



No comments:

Post a Comment