TADI BERBUKA PUASA DI BANDUNG

Selepas ashar meneriaki telinga
Bergegas si putih bermesin menuju arah utara
Ditunggangi sang empunya yang berpena Jaka Samudera

Nol hingga sembilan puluh
Begitu jarum merah menunjukkan angka
Di tikungan yang ke sekian kalinya
Berhenti sejenak demi sebungkus Surya

Berlanjut si tangan kanan memutar pacuan
Hingga sampai sang empunya di Mahardika
Sebuah kantor pemancar radio ternama

Duduk di kursi setengah mewah
Mungkin sedang menikmati Wifi gratis yang tersedia
Seorang sahabat lama yang mengundang bercengkrama
Awal tiba senyum khas langsunglah rekah
Hangat kebersamaan masih terasa indah

Jam tangan masih berkata setengah lima
Ludas setengah jam selanjutnya bersama cerita
Tawa, reuni masa, nostalgia, mungkin juga cinta
Yang terakhir berdasarkan definisi surga

Kemudian perang mulut tentang menu berbuka
Pilih Warung, Lesehan, Cafe atau sebagainya
Lalu putuslah keputusan sederhana
Di Bandung berbuka puasa segera terlaksana

Beat putih melawan Beat hitam
Siapa yang menang
Tentu si putih yang merajai jalanan
Karena memang sebagai petunjuk jalan

Hingga inilah Bandung
Beralas bambu
Berdinding bambu
Bermeja bambu
Ada kolam renang
Ikan-ikan mondar-mandir kebingungan
Ada tamu berwajah familiar

Ini Bandung yang menawan
Yang kuciptakan sendiri
Dengan dimensi ilusi hati
Sebab pernah bersamaku disini
Bandung yang berkerudung sunyi

Cukup!
Kakap sudah dibakar
Lalapan sudah di atas nampan
Jus alpukat sudah bersusu coklat
Segelas kopi hitam mengkilat
Lupakan sejarah usang
Mari berbuka ala Bandung di pinggiran


00.02 WIB, 06 Juli 2015

No comments:

Post a Comment