TENTANG UNGKAPAN “BIASA, BELUM BERKELUARGA”


Akhir-akhir ini, agaknya sering diciduk oleh ungkapan paling geli didengar. Seakan ada penindasan karakter kepada “saya” (bisa saja kalian), dianggap seperti mereka yang seakan-akan lebih atau paling pengalaman. Dan pengalaman itu mereka yakini akan juga terulang pada jalan hidup saya selanjutnya. Betapa sangat “intimidasi” bukan?.

“Biasa, belum berkeluarga”, begitulah ungkapan itu. Setiap ada sikap, prilaku, cara, mainstrem dan lainnya yang saya lakukan sering kali di-skak dengan kalimat tersebut. Kadang sampai mati langkah, kadang saya juga berusaha mencari jalan lewat pertanyaan-pertanyaan yang kemudian membuat geli untuk segera dibuktikan.

Sebuah contoh adalah tentang kesenangan jalan-jalan, baik malam minggu ataupun pada waktu-waktu senggang. Ketika saya menceritakan atau mungkin tak sengaja memberitahukan, si yang terhormat para orang tua, dengan nada sedikit mempecundangi mengatakan “Biasa, belum berkeluarga”. Hingga ada nalar-nalar nakal yang terjadi, apakah maksud mereka, apakah seberat itukah berkeluarga?, sehingga tak akan sering lagi atau bahkan tak akan ada jalan-jalan lagi ketika sudah menjalaninya. Atau, se-begitu indah-kah sebuah ikatan tersebut sehingga akan menjadikan lupa tentang indahnya jalan-jalan.

Dan ada contoh lagi yang agaknya lebih geli lagi. Contoh ini sedikit menyinggung garis ekonomi yang memang akan menjadi titik potong paling menyeramkan ketika dipertemukan dengan apapun “objeknya”, termasuk tentang berkeluarga, bahkan objek yang satu ini merupakan puncak dari keseraman tersebut. Contoh ini terjadi ketika saya berusaha menyongsong prinsip “anti-kapitalis mencari makna substantif”. Dan mula-mula ketika saya ada di salah satu lembaga pendidikan, saya berucap “aku tak memikirkan itu Pak, saya disini hanya mencari pengalaman dan pengabdian.”, secepat kilat kalimat sakral yang ada pada judul menyambar telinga. Hingga berkecamuklah batin ini untuk yang kesekian kalinya. Apakah maksudnya?, apakah saya akan menanggalkan prinsip saya yang mereka (sebagian) sebut “sok idealis” tersebut?, apakah akan begitu?, apakah berkeluarga akan merubah segala tatanan awal yang dikonstruksi penuh perjuangan?. Entahlah. Tanya ke tanya, saya belum membuktikannya.

Belum ada kesimpulan “konkrit” yang patut saya gambarkan pada catatan ini. Semuanya masih berjalan, semuanya masih pada jalur kebiasaan. Dan bukan menantang semua ke-geli-an yang sudah disebutkan. Catatan ini adalah bentuk penanda pada buku hidup yang selanjutnya akan berlanjut pada halaman lanjutan. Bagaimana kedepannya, saya akan membuka lagi catatan ini dan menjawabnya sendiri.

Dan pada intinya, saat ini, hanya usaha dan do’a. Yaa Allah, Ihdinas Siratal Mustaqim. Hanya pada Engkau kami memohon petunjuk, mohon tunjukkan jalan yang Engkau ridha’i. Bagaimana-pun nanti, semoga kalimat “Biasa, Belum Berkeluarga” ini mampu menjadikan hamba tetap pada jalan yang Engkau ridha’i. Amin.


Jambesari, Selasa, 01 September 2015

PERTANDA TULANG RUSUK

Jangan menuding
Wahai binar mata tenggelam
Wahai mekar senyum melayang
Wahai hati belum sembuh derita
Bermunajat

Lima tambah satu baris saja

31 Agustus 2015

AKIK SOSIALIS


Kabarnya, di beberapa pojok Indonesia, terdengar dari sang pewarta berita televisi bahwa tren batu akik sudah mulai menurun. Harga semakin anjlok, hal ini disebabkan oleh semakin mudahnya semua jenis batu akik untuk didapatkan. Selain itu ada mainstrem anyar menyebutkan, ternyata pada kenyataannya batu akik memang bukan merupakan barang investasi yang bagus karena bukan termasuk pada jajaran batu mulia. Selesai. Tentang berita kekanak-kanakan. Selanjutnya, mari berfikir pada jalur yang lebih nakal. Beri judul yang lebih menarik. “Akik Sosialis”.

Betapa sangat luas sekali ketika kata Akik kita sandingkan dengan kata Sosialis. Sebuah tren yang dilarikan dari kepentingan nominal, sebuah tren yang dikaburkan dari penjara komersial “belaka”. Anggap saja kita punya bola tapi sebenarnya kita tak bisa main sepak bola. Kita hanya membawanya kemana-mana, dan ketika ada gerombolan penggila bola yang tak punya bola dan atau tertarik pada bola kita, kita memberikan bola kita. Maka disanalah teori Sosialis Defenitif bisa kita manfaatkan pada batu akik yang sengaja dijadikan tema utama.

Selanjutnya, kita adalah awam (bukan bodoh) dalam dunia per-akik-an – analogi sebelumnya kita tak bisa main sepak bola –. Jangan takut, jangan sungkan, sebab dengan ke-awam-an inilah kita akan merasa nyaman dan pada hakikatnya kitalah pemenang dalam pentas sosialis definitif ini. Kenapa demikian, karena kita telah dianggap murid oleh si guru akik. Kita tak butuh berbasa-basi lagi, cukup satu kayuhan maka puluhan pulau terlampaui.

Waktunya melebarkan sayap. Satu tema yang dikeruk dari tren kekinian telah berhasil kita kuasai. Maka inilah waktu yang tepat untuk melebarkan sayap. Buka mata, buka telinga, peka, cari objek yang paling dekat dengan “lawan”. Jika sudah ketemu maka hantam dengan bias rapi dari Akik yang sebelumnya telah menjadi tema pembahasan dalam interaksi sosial tersebut. Harus lihai, buat lawan kita nyaman. Selanjutnya, pasti secangkir kopi akan keluar dari dapur sang Guru Akik. Atau minimal akan ada senyum manis, pertanda kita sudah diterima menjadi lawan main yang ideal. Dan kita menang.

Tapi jangan sampai berfikir kepentingan. Ini tentang membangun silaturrohim, “Allah akan memutus rahmatnya jika kita memutus tali silaturrohim, dan Allah akan “menyambung” rahmatnya jika kita tetap menjaga silaturrohim.”. Menarik bukan?, Batu Akin kita larikan dari general purpose yang kebanyakan hanya sebagai hobi atau penghasilan saja. Transformasi angka menuju makna. Memetik nilai dari yang hanya sebagai “bangkai”. Akik Sosialis.


Jambesari, Minggu-Senin, 31 Agustus 2015

SEPTEMBER YANG PULANG

Kaki adalah perantau
Telah sudi peluh berceceran
Menyuburkan aspal-aspal
Menghidupkan redup bintang-bintang
September yang pulang
Pada pertengahan

Ibu mempersilahkan kopi
Sebelumnya dari warung-warung pinggir jalan
Sudah berpulang
Anak membawa uban
Setelah september-september
Kembalilah nafas pada rahim
Bersemedi pelukan
Sebelum pergi lagi
Entah kemana

Banyak yang bertanya
Banyak yang memaksa
Sekitar tak paham
Adalah september kehangatan
Yang pulang
September akan pergi lagi
Maka jangan usik
Hati sedang butuh dekapan

Tak usah beritahu
Anak ini bukan kumbang dungu
Dimana bermadu
Dimana sari diseduh
Hanya masalah waktu
Semedi belum tuntas
Rahim masih nikmat untuk ber-pulas
Pada september yang pulang
Senang pun tenang

Jambesari pagi, Selasa, 01 September 2015

SUA ALGHORIZM

Kru LPM Alghorizm, 2014.
*(Istimewa untuk LPM Alghorizm STT Nurul Jadid, tempat aku belajar banyak hal, utamanya tentang Jurnalis.)

Sebentar wahai aku
Jangan ada bisik konspirasi hati
Tenang

Sebentar wahai aku
Jangan ada drama nista tentang kerinduan
Jujur

Sebentar wahai aku
Jangan ada distorsi histori pada rangkai kata
Adanya

Sudah, nafas normal mendayu-dayu
Sekarang silahkan mulai wahai aku

Sepetikan tentang Alghorizm
Dan aku yang dididik silam

Alghorizm adalah meriam luncur
Aku dihentakkan
Menuju
Langit itu luas
Hingar bingar kesombongan
Alam menantang
Kegaduhan berkoar-koar
Bising sekali kebodohan

Sudahlah
Melayang
Dibunuh musim hujan
Dibunuh musim kemarau
Hingga tak ada musim
Aku duduk pada sebuah ruang
Bias nama
Bias judul sebuah kumpulan kertas
Diberi tinta
Aku tak paham

Lalu
Mata kupandangkan pada sekitar
Semakin luas
Semakin tak sampai dimata
Alghorizm buatku tak berkedip
Sampai-sampai
Kering
Cekung si kelopak
Pedih si kornea
Indah sekali

Aksara-aksara mulai gila
Memaki objek-objek semula kerdil
Cepat
Lekas
Dihantam semua geng bajingan
Mereka bertangan setan
Berkepala malas
Dengan punggung tanpa beban
Kurang ajar
Alghorizm mengajakku tauran

Lagi
Gencatan tak bisa dinafikan
Aku rindu

Selepas hujan
Disinilah aku
Diundang
Celoteh buah pena saudara
Alghorizm berkabar duka
Mauku mengajak dansa
Tapi bagaimana
Kaki telah sejengkal langkah
Bagaimana
Aku berhutang banyak
Kopi tak bayar
Berbatang-batang rokok-pun demikian
Apalagi gerimisnya
Kini ladangku mulai subur
Bibitnya
Disini telah menunjukkan keindahan
Bagaimana
Lalu
Apa cukup do’a

Tidak
Tak cukup
Kuhadiahkan saja
Berpita merah
Berkotak emas
Di dalamnya adalah bukti
Alghorizm tak pernah ingkar janji
Didikannya adalah ajaran sakti
Bisa terbang
Bisa berkelahi
Bisa meremukkan perisai mimpi
Bisakah
Hidup tak perlu tanya ini
“Tuhan tak sedang berjudi”
Ingatku di Alghorizm kalimat ber-kutip terperi

Jambesari, 23.02 WIB, 29-08-2015
Rindu pada manusia-manusia dalam foto, khususnya "semua" yang ada dibarisan depan :)

PEMUDA PINGGIRAN CERITANYA

Dua sahabat se-permain-an
Diam-diam aku iri - aku terkesima, aku salut, aku bangga - kepada dua sahabat se-permain-an ini. Merekalah sang penantang impian yang sebenarnya. Merekalah manusia-manusia yang tercipta dari getir-getir bencana alam, bencana sosial, bencana ekonomi berbasis kepentingan. Mereka semangat, mereka lepas dari bumi ke langit (Bondan).

Baju putih bernama Labibul Wildan, dengan tas slempang yang selalu dibawa kemana-mana. Isinya adalah batu-batu akik dan "embanan"-nya. Saban malam ia kesana-kemari di usia mudanya, menagih uang piutang dari setiap pelanggannya. Mari lihat dari sudut pandang berbeda. Berfikir. Dia adalah rahasia aliran sungai yang menuju pada ketinggian (Bondan).

Baju biru bernama Abdullah, sang hamba Allah, manusia paling kreatif dari pinggiran Jambesari (desa gue Bung). Pekerjaan yang paling inti adalah sebagai pencuci motor dan mobil. Tapi jangan heran, dia juga pengusaha Play Station, pembangkit usaha keluarga yang kini juga menghampar setiap hari sebuah lapak Sosis dan Jendol. Dan belakangan, kreatifnya kumat lagi, adalah neon-neon rusak menjadi mangsanya. Di-repair, di-mainkan, hingga menjadilah ia uang-uang yang berserakan. Mari lihat dari sudut pandang berbeda. Dia juga adalah rahasia aliran sungai yang menuju pada ketinggian (Bondan lagi).

Pengambil foto bernama Ahmad Taufiq, diam-diam ia menegaskan, peluh mereka adalah peluh yang lepas dari bumi menuju langit. Kemudian dibawa hujan, menjadilah rahasia aliran sungai yang menuju pada ketinggian.

29 Agustus 2015

JAGUNG REBUS JUDULNYA

Jagung muda belia
Jagung sawah subur sejahtera
Jagung karya tercinta
Yang menanam Bapak
Yang memanen Bapak
Yang merebus Ibu
Yang menghaturkan Ibu
Yang menikmati si anak

Kurang ajar sekali kau anak
Tertawa sembari mengheningkan cipta

;diiringi lagu

Gung.. jagung rebus
Jagung rebus nikmat di mulut
Digigit-gigit lalu dikunyah
Dikunyah-kunyah
Hingga tongkolnya gundul

;reff

Digundul gundul
Jagung rebus jadi judul

Digundul gundul
Jagung rebus ambil untung

Digundul gundul
Bapak-Ibu ayo diagung

Digundul gundul
Jadi anak jangan pura-pura pikun

Digundul gundul
Biar tak direbus seperti jagung

28 Agustus 2015
Sehabis dihaturkan jagung rebus oleh Ibu tercinta. Adalah ayah yang membawa dari sawah subur Indonesia. :)

SANGKAR

Puji Sang Wahid
Dalam sangkar malam diam-diam
Jatuh lamunan
Bersama jatuh air pada kolam
Bersemedi tanpa mantra
Siapa hamba

Tikus kecil tak muncul lagi
Biasanya bermain itu dan ini
Tiada cicak mengintip
Tiada katak lompat bantal
Tiada nyamuk betina menjerit kelaparan

Puji Sang Wahid
Dalam sangkar malam diam-diam
Terbang menjemput tanya
Pada langit tak kelihatan
Pada bintang bulan ditabiri bangunan
Siapa hamba

Lekas bersujud dzikir
Diam-diam apa beda rasa dan fikir
Do'a hamba dipertemukan Sang Wahid
Meski dalam sangkar
Ingin bersua bermesra
Bak nabi, sufi, para wali dan terkasih

Puji Sang Wahid
Tiada Tuhan selain-NYA
Siapa hamba
Khusnul Khotimah harap jalurnya
Pada Sangkar
Malam mohon saksikan
Sang Wahid mohon kabulkan

Jambesari, Kamis, 23.27 wib, 27-08-2015

MANTRA JUM'AT

Kopi putih malam jum'at
Lengsir wengi beradu kereto jowo
Astaghfirullah

Hampar sajadah

Al fatihah ila para nabi
Al fatihah ila para wali
Al fatihah ila para guru
Al fatihah ila para sesepuh
Al fatihah ila para pembabat
Al fatihah ila para pahlawan
Al fatihah ila para muslimin-muslimat
Al fatihah ila para mukminin-mukminat
Al fatihah ila diri sendiri

Afdholud dzikri...
Laailaahaillallah...

Amin

27 08 2015

SALAM UNTUK; UJUNG JARI TUHAN KATA CAK NUN

Selamat pagi tak bertepi
Cak Nun menyebut ujung jari Tuhan

Selamat pagi sudut universal
Melayang gapai gagasan-gagasan besar

Selamat pagi karunia akal
Simak pementasan hari sampai mengerti

Selamat pagi mata rantai kesimpulan
Kantongi kode-kode buka menuju peti

Selamat pagi dimensi non-biologis
Penjara hierarki semesta satu per-satu

Selamat pagi elemen abstrak dinamis
Masih tak kelar menyusun pasang gambar

Selamat pagi kebingungan-kebingungan
Apa cukup tak bingung lalu usai

Selamat pagi kegelisahan-kegelishan
Apa cukup tak gelisah lalu main santai

Selamat pagi terjangan geografis-sosialis-bahkan-kapitalis
Apa cukup kecurangan lalu diam

Selamat pagi kunang-kunang tanpa pakan
Hanya butuh dirangsang biar tetap terang

Selamat pagi menjelang sepenggalah matahari
Mari berdiskusi tentang runyamnya hati

27 Agustus 2015

JOGJA ISTIMEWA; RINDU

Jogja...Jogja...Tetap Istimewa
Jogja Istimewa untuk Indonesia
Hip-hop berdendang
Pada pagi memikat jemari berkata

Datang Hamengkubuwono IX memandang tajam
Ingat getir-getir perjuangan seorang Jogja
Sang Sultan bernasionalisme tanpa keraguan
Padahal tanahnya sendiri berkekuatan

Jogja...Jogja...Tetap Istimewa
Jogja Istimewa untuk Indonesia
Hip-hop berdendang
Pada pagi memikat jemari berkata

Serasa berjalan di trotoar Malioboro
Pak polisi bersepeda
Turis-turis menyeduh kopi serasa nikmatnya
Ontel veteran berkumpul di 0 Kilometer

Jogja...Jogja...Tetap Istimewa
Jogja Istimewa untuk Indonesia
Hip-hop berdendang
Pada pagi memikat jemari berkata

Kental budaya diseduh lekat
Arus intelektualitas berkelas
Religius tanpa melaknat
Pantas dipuji-puji dengan khas

Jogja...Jogja...Tetap Istimewa
Jogja Istimewa untuk Indonesia
Hip-hop berdendang

;Bernyanyi
Holopis kuntul baris
Holopis kuntul baris
Holopis kuntul baris
Menyerang tanpa pasukan
Menang tanpa merendahkan
Kesaktian tanpa ajian
Kekayaan tanpa kemewahan

Jogja...Jogja...Tetap Istimewa
Jogja Istimewa untuk Indonesia

Rindu meminang kembali Si Jogja
Berfoto dibawah tugu legendaris
Tidur di pojok Kampus Gadjah Mada
Megahnya Universitas Islam Indonesia
Ada Masjid menyapa awal jumpa
Menikmati kopi di rumah sahabat lama
Menghabiskan malam di depan Kraton Istimewa
Di depan bekas gedung Istana
Tempat Bung Karno dilantik sebagai Presiden Indonesia
Sebelahnya Vredeburg
Sempat di halaman tak sempat ke dalam
Kenangan

;Bernyanyi lagi
Jogja...Jogja...Tetap Istimewa
Jogja Istimewa untuk Indonesia

Akh, Jogja
Aku jatuh cinta

26 Agustus 2015

ZIG-ZAG HATI

Zig-zag
Kanan-kiri kiri-kanan
Depan-belakang belakang-depan
Atas-bawah bawah-atas
Acak-acak acak-acak

Padahal semalam hati keluyuran
Ingin membuang naskah pada tong sampah
Mula-mula pagi hadir zig-zag menyerah

Padahal semalam ke hutan dengan tangisan
Ditemani macan dikerubuti ular
Mula-mula terdampar di pinggir pantai

Mudah sekali zig-zag menjadi
Tak ketemu simpul kunci berubah
Sebab pada itu hati mulai dirumuskan gerah

Zig-zag
Kanan-kiri kiri-kanan
Depan-belakang belakang-depan
Atas-bawah bawah-atas
Acak-acak acak-acak

Dipahami tak mudah
Zig-zag bertubi-tubi tanpa aturan sistem
Sepertinya tanpa algoritma para gamer

Dipahami tak cepat
Zig-zag punya interval waktu tak dipaham
Mula-mula ia telah beralih sumbu tanpa disadar

Dipahami adalah tujuan rasa
Jika sampai rumus zig-zag dipaham integral
Maka bersiaplah mengungkap keagungan nilai

Zig-zag
Kanan-kiri kiri-kanan
Depan-belakang belakang-depan
Atas-bawah bawah-atas
Acak-acak acak-acak

Tulis ini pun zig-zag
Dipaham lalu kabur sekabur-kaburnya
Ingin ditangkap tapi dimana membuat perangkap

Belum kelar turunan formula
Zig-zag bervariabel bukan konstanta
Sudah soal lain bukan?

Zig-zag hati harus dicari
Dibalik misterinya ada simbol-simbol berserakan
Amat sia-sia jika dibiarkan tanpa pemaknaan

Zig-zag
Kanan-kiri kiri-kanan
Depan-belakang belakang-depan
Atas-bawah bawah-atas
Acak-acak acak-acak

Di-zig-zag zig-zag me-zig-zag
Zig-zag di-zig-zag me-zig-zag
Me-zig-zag zig-zag di-zig-zag
Pusing, zig-zag memang dibuat pusing

Kamar Zig-Zag, 25 Agustus 2015

SELAMAT ULANG TAHUN KAISAR AIR MATA & DEWI AIRLANGGA

Dewi Airlangga (79)

Selamat ulang tahun wahai penantian tak jelas
Selamat ulang tahun wahai perasaan nahas
Selamat ulang tahun wahai pagelaran melankolis
Selamat ulang tahun wahai persemedian nelangsa
Selamat ulang tahun Kaisar Air Mata dan Dewi Airlangga

Selamat ulang tahun saja terucap rupa-rupa
Selamat ulang tahun kedua kalinya
Selamat ulang tahun tanpa polesan gatra
Selamat ulang tahun wahai air mata

13.36 WIB, 24 Agustus 2015

SEHARI MENUJU DUA TAHUN

Dewi Airlangga (78)

Esok kita akan berjumpa di Banyuangga
Dibawah terik langit sengit yang manis
Kita akan saling lontar basa-basi
Anggap pernah bersua berkali-kali

Esok kita akan saling beradu tema
Kau dengan keramahan tanya-tanya
Sedang aku menunjukkan tiket Bromo sebelumnya
Dengan sedikit gugup yang disembunyikan

Esok kita akan berjumpa dengan awal kisah
Dua tahun silam esok itu digambarkan
Bentang waktu yang amat panjang bukan
Meski kadang terasa kilat menyambar

Esok kita akan tiba di kecamatan Lumbang
Memainkan peran sebagai nasib yang ditetapkan
Kau yang kupasrahkan dari ketakutan
Lalu aku meluncur sendirian

Esok kita akan melangkahi pegunungan eksotis
Panoraman berhawa dingin dihinggapi milyaran kabut
Bersama kelakar jiwa-jiwa persaudaraan
Yang dengan mereka kita dinisbahkan

Esok kita akan meminang matahari terbit
Diatas puncak Bromo ia terbangun riang
Yang tanpa sadar cinta-ku turut terbangun gemetar
Lalu meminang harapan ke waktu berpulang

Esok kita akan menjumpai Gadjah Mada
Menengok goa tapanya di balik air terjun Madakaripura
Kita akan mengguyur raga dengan air bening dari ketinggian
Sembari diam-diam aku mencuri senyum keanggunan

Esok kita akan berpisah Dewi Airlangga
Pada pertigaan paling drama seantero hidup Kaisar Air Mata
Diam-diam aku bersedih lirih tanpa suara
Secepat itukah bahagia merajai kerajaan Mata-hati

Esok setelah esok hingga sekarang
Kini menancap seperti batu karang
Ombak tak mampu menggusurnya hingga pelaminan
Sebab kau ternyata tak sama merasakan yang kurasakan

Esok setelah esok setelah sekarang
Ada bukti-bukti terlantar pada jutaan persaksian
Dewi Airlangga telah menjadi keabsolutan makna
Dimana Kaisar Air Mata telah gagah mengusai aksara

Esok setelah esok setelah sekarang
Jangan tanyakan perihal penyesalan
Sebab penyesalan telah dibunuh dengan keikhlasan takdir
Sebab Tuhan tak sedang main-main

Setelah sekarang kita akan sadar wahai Dewi Airlangga
Ada hamparan hikmah yang kerap kali kita buta
Memandang cerita hanya sebagai nuansa
Padahal hakikatnya jauh dari tampaknya

Setelah sekarang kita akan bertemu lagi
Atau tidak sama sekali
Kita akan tetap begini
Atau akan berubah menjadi

Sudah bukan soal yang demikian terlontar
Takdir bukan permainan Tuhan
Mari kita anggap wajar sebagai kelas sekolahan
Pahami pelajaran lalu jadikan sandaran menuju masa depan

Bumi Kaisar Air Mata, 23 Agustus 2015

SURAT PENIPU UNTUK SISWA-SISWA-KU

Hari ini aku mengajari mereka bermimpi, aku ingin mereka juga merasakan, betapa kehidupan ini sangatlah indah dengan panorama "landscape" yang menawan. Bintang yang melayang-layang, menggoda untuk digapai. Mahkota yang berkilauan, merayu untuk digenggam. Serta surga yang penuh kemulyaan, mengajak untuk menuju kebahagian sejati yakni "melihat Tuhan".
   22 Agustus 2015

Pelajaran mimpi mulai kalian kunyah, selanjutnya, nikmatilah terbang yang indah. Jika kalian jatuh, jangan khawatir, sebab kalian akan jatuh antara bintang-bintang. Sukur-sukur jika kalian sampai bertengger gagah di kahyangan. Aku akan menyaksikan, kelak ketika aku berumur tua, meminum kopi di ampera, menyaksikan anak muda betahta, dengan hidup yang penuh pesona. Harapanku. Amin.
   23 Agustus 2015


Sang Penipu

MANUSIA BERKEPALA MAWAR BERTANGKAI ULAR

Dari sari ia menatap, memandang langit, suram awan petang tiba-tiba terang, ada naga terbang memegang mahkota, menyemburkan api menakutkan. Mawar, bertahan mekar, hujan tak kunjung datang. Padahal merah semakin pudar.

Dari tangkai ia masih melilit kecil, seekor ular, berlindung pada kepala, Mawar, yang sombongnya bukan main, menantang cakrawala, menantang api-api. Ular, bertapa sepi, tanpa makan, padahal Mawar cukup mungkin untuk dilahap hilang.

Mawar menengadah, sikap tegak padahal tidak, itu bukan hanya kecongkaan, adalah do’a-do’a dalam diam bentuk yang penuh gejolak pengharapan. Sampai ular gagah melawan naga diraja, merebut mahkota. Mengembalikannya pada surga.

Manusia berkepala mawar bertangkai ular, kesatuan dimensi penciptaan, diterpa runyamnya gelagat misteri kehidupan. Pantang menyuarakan kekalahan, pantang mengibarkan bendera putih menjulangkan kelemahan. Hidup belum selesai.

22 Agustus 2015

GOOD MORNING SURVIVOR

Good morning Survior
Look to the light
Find the eye to fight
See it perfectly

Survivor
There was many secret
Find the way to stay at
Live there perfectly

Good morning Survivor
Sun going to rise
Let you do the best
Survive calmly

Survivor
Everything going be stale
Finish it by your style
Enjoy, Survivor

21 Agustus 2015

SINOPSIS KAISAR AIR MATA & DEWI AIRLANGA

Bagaimana mungkin Kaisar Air Mata menanggalkan harapan, saban waktu, saban kejadian, saban diam, telah menghanyutkan kenyataan pada hidupnya bayang-bayang. Dewi Airlangga datang, pada pelupuk mata terdalam, pada gejolak hati yang semakin hari semakin tak cukup diakal, pada otak yang mula-mula spontan membiaskan kegaduhan rasa, hingga lahirlah jutaan huruf-huruf berbaris dengan kepedihannya, dengan senyumannya, dengan segala mungkinnya perasaan dalam sukma.

Bagaimana mungkin Dewi Airlangga turut serta bergejolak sama, ada misteri yang tertutup jarak tanpa satuan, senyumnya adalah tanya, balasnya adalah tanya, tatapannya adalah tanya. Hingga tak cukup sederhana semua kejadian di sangsikan sama dengan umumnya. Roman ini jauh lebih pelik, jauh lebih tergesa-gesa jika disimpulkan sebagai drama, apalagi hanya sekadar konspirasi Kaisar Air Mata untuk menggoda Dewi Airlangga.

Semua kegelisahan, prilaku kegilaan, otak yang berjalan tak wajar, hati yang diduga melebih-lebihkan, kurang ajar sekali yang mengatakan hanya rongsokan kisah dari seorang manusia yang mengada-ada, berbohong pada kejujuran, berbohong pada aksara yang bertubi-tubi menandakan pengharapan. Kaisar Air Mata adalah kenyataan dalam dimensi yang berbeda. Dewi Airlangga adalah kenyataan yang dilarikan dari nyatanya dunia ke nyata yang “hakikat”, roman yang subsantif.

20-08-2015

KOPI BERTABUR JAGUNG

Sungguh kurang ajar
Ini penipuan

Kukira serbuk tak halus
Seperti kopi mbah-ku dulu

Ternyata eh ternyata
Ini penipuan

Digigit dikunyah dirasa
Eh, ini jagung

Pantas tak hitam menakutkan
Ia malah mirip senja

Racikan kopi durhaka
Ternyata ada yang berperan mata-mata

Jagung pura-pura terapung
Ingin cepat-cepat masuk lambung

Jagung.. Jagung
Sudah ketahuan

Kubuang sembarangan
Sebab penipu layaknya disingkirkan

Selamat tinggal jagung
Tumbuhlah dulu kesekian-kalinya

Baiklah pada tumbuh selanjutnya
Jangan menjadi penipu lagi

Jambesari, 20 Agustus 2015

HEI PEMIMPIN!

Hei mental-mental pemberani
Hei mental-mental pejuang
Hei mental-mental tak kenal badai menghadang
Hei mental-mental tak hiraukan hunusan pedang
Heeeeeeeiiii...
Hei kalian yang berat tanggung jawab diemban
Hei kalian yang berat amanah diselesaikan
Hei kalian yang penuh pengorbanan
Hei kalian yang penuh timpa batu cobaan menghantam
Hei...
Hei pemimpin
Hei...

Jangan gelesih
Jangan risau
Jangan putus asa
Jangan bosan meretakkan pintu kebodohan
Buat mereka menuju pemahaman
Jangan bosan menghancurkan marmer kemalasan
Buat mereka menyambut impian
Jangan bosan mengajak kebajikan
Buat mereka berguru pada kebijakan
Jangan bosan mengkerdilkan masalah
Buat mereka terbiasa berjuang tanpa lelah
Jangan bosan
Kau pemimpin
Kau cermin mereka yang masih kehausan

Hei...
Hei pemimpin

Ada ganjaran-ganjaran tak terlihat
Ada hikmah-hikmah ditabiri penat
Ada kemulyaan yang mungkin tak kalian bekap
Ada pangkat hakikat yang jauh lebih nikmat
Ada kesan-kesan moral yang kalian bersemayam untuk masa depan
Ada surga
Maka ikhlaskanlah untuk mengalirkan peluh perjuangan
Maka ikhlaskanlah untuk ber-berat fikir menyelesaikan kegaduhan
Maka ikhlaskanlah untuk menidurkan kemalasan
Maka ikhlaskanlah untuk mengucurkan air mata tantangan

Hei...
Hei pemimpin

Kalian adalah tiang-tiang kokoh
Jika rapuh maka runtuh
Kalian adalah kepala-kepala tangguh
Jika pecah maka goyah
Kalian adalah jiwa-jiwa pengkayuh
Jika diam maka tenggelam sungguh
Mati semua harapan
Mati semua impian
Mereka yang bersandar pada kalian
Mereka dibunuh oleh tangan kalian
Mereka yang menagih bimbing kalian
Mereka dibunuh oleh ketak-bertanggung-jawaban kalian

Heeeeeeiiiiii Pemimpin...... !
Dengarkan suara lantang dari mulut-mulut harapan
Dengarkan jeritan pertolongan dari jiwa-jiwa ber-kelemahan
Kalian adalah kekuatan
Kalian adalah inti gerak yang menggerakkan gerakan
Kalian adalah watak yang mampu menghentakkan semangat bawahan
Kalian adalah nahkoda-nahkoda kapal penantang samudera impian

Maka jangan sampai... heeeeeiii pemimpin
Maka jangan sampai... heeeeeiii pemimpin
Maka jangan sampai... heeeeeiii pemimpin

Jangan sampai terlihat keluhan
Jangan sampai terlihat keputus-asaan
Jangan sampai terlihat mata yang menampakkan kelemahan
Takut-takut mereka hilang harapan
Takut-takut mereka turut serta berputus-asa
Takut-takut mereka ikut disandera kelemahan
Sebab mereka masih mengekor pada kalian yang jauh lebih istimewa

Hei Pemimpin...
Nyanyikan kecerian
Nyanyikan lagu yang kalian anggap pecut kobaran jiwa
Nyanyikan lagu yang membawa kalian bersemangat laju cahaya
Bawa mereka berpetualang menuju indahnya cita-cita
Bawa mereka menindas ketidak-manfaat hidup yang sia-sia

Hei Pemimpin...
Jangan tegang
Jangan gemetar
Ini hanya ajakan perang
Biar kalian tak lupa peran
Biar kalian tak lupa bagaimana seharusnya menjadi patokan
Biar kalian tak lupa bahwa kalian adalah manusia-manusia pilihan

Hei Pemimpin...
Selamat berjuang
Selamat mengukir nama kalian di buku para pahlawan
Selamat menikmati karunia Tuhan

Hei Pemimpin...
Begitu saja mampu tersampaikan
Esok para hati binaan kalian akan bertepuk tangan
Berterima kasih karena kalian telah sudi berkorban
Di ujung jalan
Kala semua dipertemukan
Pun Tuhan, pasti Dia memabalas kebajikan dengan kebaikan

Jambesari, 19 Agustus 2015
(Sajak mimbar ini ditulis untuk dibacakan oleh Guru saya pada LDK OSIS di salah satu sekolah di Probolinggo)

AKU SEDANG "DEA"

Dewi Airlangga (77)

Apakah ini yang namanya bahagia?

Kehabisan amunisi kata untuk dirangkai
KBBI online seakan sudah hatam
Tiada lagi diksi-diksi pilihan
Metafora mati diantara seringai hati

Apakah ini yang namanya bahagia?

Sederhana yang Dewi Airlangga tak merasa
Bukan seperti puisi-puisi-ku
Ia sebuah baris kalimat asal paham
Ia sebuah bahasa dialektik pasar
Tapi entahlah, ia lepas dari kaidah benda
Seakan setiap huruf telah berpulang
Pada hakikat dasar sebuah penciptaan

Apakah ini yang namanya bahagia?

Tak sampai dugaku tentang apa
Mati duga semati-matinya
Entah bagaimana Dewi Airlangga mengarangnya
Entah apa tersemat dibelakangnya
Tak cukup duga, duga telah mati

Apakah "ini" yang sedang terjadi?

Apakah "bahagia" bukan kata yang cukup
Apakah perlu ada kajian Hermeneutika
Takut-takut bahagia telah memberontak
Menjadi perusak karena dilotre alam
Jika begitu, maka baiknya kubuat sendiri sebuah kata
Biar tak lari dari interpretasi sebenarnya
Kusebut, kukenalkan sebuah kata
"Dea"

Aku sedang dea, Dewi Airlangga!

18 Agustus 2015

SELAMAT MENAMBAH USIA; DEWI AIRLANGGA

Dewi Airlangga (76)

Ada salam dari Kaisar Air Mata
Dari ufuk timur yang mataharinya belum sepenggalah
Dari bumi hijau yang kabutnya belum dijemput cerah
Dari dekap dingin yang cengkramannya belum lelah

Ada salam dari Kaisar Air Mata
Sebaris do’a tentang bertambahnya usia
Dibingkis dengan pertikaian kata-kata
Bersabung rerentuhan makna dan asa

Hingga jangan lupa tersampaikan
Ada salam dari Kaisar Air Mata

Senyum, ramah, ceria adalah kesan pertemuan
Diurai menuju pengharapan dalam salam
Semoga Dewi Airlangga selalu bahagia di kejauhan
Setelah serangkaian kejadian
Kini usia menambahkan angka pada urutan

Ada salam dari Kaisar Air Mata
Semoga berkah usia menyertai Dewi Airlangga
Mata berbinar kecerian semoga tak dicuri nelangsa
Senyum berbunga keteduhan semoga tak dikemaraukan nyata

Ada salam dari Kaisar Air Mata
Salam ini bukan pengharapan apa-apa
Hanya terundang kejujuran
Hanya diajak oleh perasaan
Bukan kemanusiaan, bukan persaudaraan
Bukan godaan, bukan penghargaan
Bukan persahabatan, bukan semuanya tertuliskan
Ini gerak bias tanpa alasan

Ada salam dari Kaisar Air Mata
Terulang kembali do’-do’a
Barokallah fii umrik
Barokallah fii umrik
Barokallah fii umrik

Hamparan langit mulai terang
Decak anggun pagi mulai berbinar-binar
Angin-angin kecil terbang lihai
Matahari segera terbit berdandan kekuningan
Dewi Airlangga tersenyumlah dengan riang
Kaisar Air Mata memelukmu dari jarak tanpa satuan alam

Bumi Kaisar Air Mata, 18-08-2015

NO CELEBRATION, JUST CAPTION

Dewi Airlangga (75)

I have many caption
Everything happen no celebration

There was many regard
On my mind, you got a legend

Till the end, when
No thinking is be over

Will not compel
You and me are really simple

Just keeping caption
For better illution

Just keeping caption
For beautiful history that's has gotten

No celebration
'cause it's not about winner or loser

You are a winner for honestly
I am a winner for fight hardly

Just caption
And keeping caption

Jambesari tanah eropa, 17-08-2015
nb: mencoba kebarat-baratan  :)

CERITA IBU TENTANG SEBUAH KELAHIRAN

Berawal dari kesalahan akademis
Guru pendataan siswa asal tempel angka
Tak apa, sebut saja untuk kekayaan cerita
14 Desember petanda ijasah tentang kelahiran
Ku-ia-kan saja sampai beranjak dewasa
Cerita kecerita
Aku mulai ragu tentang angka
Pun mulai penasaran tentang kisah lahirnya raga
Sebab sebelum lahir, katanya aku sudah ada
Maka kusebut saja lahirnya raga

Ceritanya begini
Ibu terkasih yang menceritakan
Tanpa sengaja forum nostalgia dibuka
Mengisahkan banyak kelahiran
Hingga sampai anak-nya yang diceritakan
Begini, dibait selanjutnya ini

"Ketika malam, sehabis isya'
Kamu dilahirkan
Ke-esokan-nya ada Upacara kemerdekaan"
Begitu Ibu memberi petunjuk waktu
Tanpa tahu isi ijasahku
Seketika itu berubah teks sejarahku
Seperti aku ingin ikut pasukan paskibraka
Mengibarkan bendera Indonesia
Mengibarkan sukur-ku ke-esokan harinya
Ahmad Taufiq telah lahir

Selepas lahir menangisi dunia
Kemudian beberapa hari aku dititipkan
Pada seorang Ibu susu-an
Sebab sebuah adat pedalaman
Dua saudara-ku telah meninggalkan kehidupan
Sehingga beberapa saat
Sebuah keyakinan adat yang do'a tersiratkan
Aku menyusu pada Ibu susu-an
Anaknya banyak, pun-hidup semua
Karenanya aku disusukan padanya
Do'a dalam tingkah
Begitu sekarang kusebut adat termaksud

Lalu aku kembali pada pangkuan Ibu
Ibu ayah ingin aku lama hidup bersama mereka
Berangkat pada seorang kyai
Dan namaku turut berdo'a
"Ahmad",umat yang mengharap syafaat Nabi Muhammad
Hingga tersanding di do'a awal
"Taufiq", pertolongan, ditolong sang Esa
Panjangkan umur dan barokah-kanlah
Sebab dua saudara yang lalu telah tiada
Ibu ayah ingin aku lebih lama dari yang sebelumnya
Dan selalu dalam pertolongan yang Kuasa
Sungguh terima kasih-ku dengan nama
Maknanya kini judul yang harus kuisi kesesuaian
Tiap ada panggilan
Tiap itu pula aku didoakan
Tiap itu pula seharusnya aku mencerminkan harapan
Harapan dari do'a-do'a yang Ibu ayah sematkan

Cerita Ibu tentang sebuah kelahiran
Yang terlahir kini sudah bisa menulis kenangan
Ibu ayah yang memperjuangkan
Saban aku pulang
Maka disanalah Rumah
Hanya berubah hiasan
Tempat lahir-ku hingga aku sekarang

Terima kasih Ibu Ayah
Anakmu kini telah besar
Akan kuceritakan, setegas langit membentang
Ibu Ayah adalah pejuang
Ibu Ayah adalah pahlawan
Ibu Ayah adalah karunia besar
Ibu Ayah adalah kasih
Ibu Ayah adalah bagaimana aku harus membalaskan
Meski tak meminta balas
Tak cukup baktiku yang masih secuil kilat
Apalagi terbanding dosa-dosa ketak-patuhan
Sungguh, sungguh, sungguh
Sungguh tak cukup bakti
Sungguh tak sebanding balas

Terima kasih Tuhan
Do'a nama-ku kini terus kau kabulkan
Do'a nama-ku mohon kabulkan pula
Untuk Ibu-Ayahku

Jambesari, Tanah Lahirku, 16 Agustus 2015

SELAMAT ULANG TAHUN AKU

Wahai kau, Aku
Selamat ulang tahun

Tambah tua kau, Aku
Elokmu tambah layu

Coba kau hitung usiamu, Aku
2015 dikurangi 1992 berapakah?
Sudah tak sama 2014 dikurangi 1992
Seperti cepat meski tak cepat
Sampai disini apa yang telah tercatat
Adakah manfaat, Aku

Kakimu apa yang telah diinjak
Tanganmu apa yang telah digenggam
Matahari yang mana telah tertaklukkan
Samudra yang mana telah terarungi
Langit yang mana telah terpetualangi
Tanah yang mana telah tertanami

Selamat ulang tahun, Aku
Kenapa mata-mu masih dimanja
Tak pernah digunakan perang
Kenapa telinga-mu masih dianak-kecilkan
Tak pernah diperdengarkan perjuangan
Ayolah Aku, sudah 2015 dikurangi 1992

Ini ucap selamat ulang tahun
Bukan perayaan dengan kata-kata
Refleksi jiwa karena bersaudara raga
Salam dari hati untuk tempat semedinya menuju Ilahi
Benar jika kau rasakan, Aku
“Aku lain” ada dibawah nafasmu
Maka “Aku lain” ucapkan peringatan yang semestinya
Bawa “Aku lain”  menuju hakikat kebenaran
Dengan amal gerakmu
Dengan masih sehat dan sempatmu
Jika kau mampu menghadang
Maka hadang “Aku lain” ketika menuju kesesatan

Lewat Aku “Aku lain” semoga bertauhid
Lewat Aku “Aku lain” semoga tak munafik
Sebelum berubah menjadi tanah
Entah dekat dengan 2015 dikurangi 1992
Entah masih jauh
Selamat ulang tahun Aku
Semakin berkurang saja waktu kita bersama
Akan ada perpisahan di kemudian hari

Sebelum itu
Mari kita berjuang mati-matian
Mari ingat-ingat sebuah sajak kita
Uraian nama kita di masa lalu
”Aku lain” dan Aku disebut Aku kala itu
Sebab kita menyublim bersatu
Cita-cita satu
Impian satu
Bernama judul satu

AHMAD TAUFIQ BIN ABDUL MUGHNI

A)ku adalah satu titik di bentangan jagat
H)idupku adalah pencarian yang tak kunjung usai
M)encari kebahagiaan atau eudaimonia dalam ilmu kefilsafatan
A)ku adalah kebenaran...
D)an aku masih tersesat dalam kebenaran itu

T)entang semua teka-teki
A)kupun seakan musnah ketika semuanya tak tertaklukkan
U)ntuk apa hidup?
F)atamorgana tak kunjung usai
I)tupun masih terus berkelanjutan
Q)uantum kehidupan yang sangat membingungkan

B)enar...
I)ndah...
N)ama yang selalu ku harapkan

A)ku masih dendam
B)ertengkar dengan alam yang sembunyikan jawaban
D)engan jutaan teks yang memenjarakan keindahan dan kebenaran
U)ntuk apa hidup?
L)alui puluhan tahun tanpa indah dan benar

M)encari dan mencari
U)ntuk cerita hidup yang lebih berarti
G)enggam semangat yang akan membuatku melayang
H)idup memang misteri
N)amun...
I)ndah dan benar adalah nilai hidup yang menjadi harga mati

Itu karya kita wahai Aku
Hari minggu jam dua siang
Tanggal 22 September dua tahun silam
Kala kita masih ada di tanah persemedian
Nurul Jadid yang menawan

Selamat ulang tahun, Aku
Sudah kemana-mana perayaan kita
Nostalgia, membahas tujuan, saling mengingatkan
Saling mendo’akan, mau saling bagaimana lagi
Pada sajak ini?
Jemarimu penurut sekali
Bisa kusuruh membendakan lewat layar

Aku, cukup dulu
Lagi terulang, “Aku lain” mengucapkan
Selamat ulang tahun, Aku
Semoga Indah dan Benar bisa kita gapai
Sebelum ajal

Dan, “aku lain” tak punya kado
Cukup pada bait-ke-bait ini hadiah keistimewaan
Sebab kita telah merangkainya bersama
Sebagai tanda sujud sukur kita kepada Tuhan

Allahumma tawwil ‘umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika
Waj’alna min ‘ibadikas salihina.
Allahumma tawwil ‘umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika
Waj’alna min ‘ibadikas salihina.
Allahumma tawwil ‘umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika
Waj’alna min ‘ibadikas salihina.
Amin.

Minggu, 16 Agustus 2015

JIWA MALAM

Seperti malaikat mengamuk setan
Seperti setan mengamuk malaikat
Panjang sama dibolak-balik
Panjang sama subjek-objek
Panjang sama kerjanya-sama
Panjang sama sepertinya-sama
Panjang sama akhir huruf berbeda
Seperti jiwa malam
Ulang-ulang kerjanya-sama
Ulang-ulang sepertinya-sama
Hanya pada titik akhir
Malam yang terlihat sama
Berekor beda-beda
Begitu jiwa dimangsa malam
Serangkaian partikel bergeser letak
Serangkaian suara gelombangnya acak
Maka disana peperangan otak
Mirip yang sama
Sama yang mirip
Kesimpulan perulangan dinamis
Jika sampai jiwa lelah
Pada malam tak ada tangis
Pada malam tak ada kelakar manis
Pada malam tak ada tulis puitis
Pada malam tak ada buah otak terbaptis
Jika sampai...
Maka apa ganti kesakralan jiwa malam
Melawan siang?
Musuh itu terlalu tangguh dengan kebisingan
Biarlah ulang-ulang
Biarlah bolak-balik
Tetap akan mirip yang sama
Atau akan sama yang mirip
Anggap saja dikejar setan
Atau mengikuti malaikat
Jiwa malam!

15 Agustus 2015

INDONESIA TANAH BASA-BASI

Mau kemana Nak?
Jalan-jalan Bu
Oooowh...
Ibu mau kemana?
Mengantarkan sesuap nasi untuk bapak Nak
Dimana Bu?
Di ladang Indonesia
;Basa-basi

Itu apa Mbak?
Ini batik tulis Dek
Oooowh...
Yang dipegang Adek apa?
Bendera merah putih Mbak
Ingin dibawa kemana Dek?
Ke langit Indonesia
;Basa-basi

Mampir dulu Pak!
Terima kasih Bu
Mau ke dermaga Pak?
Ia, mau cari ikan Bu
Cari dimana Pak?
Di samudra Indonesia
;Basa-basi

Mas, anda kok tambah ganteng?
Akh, anda basa-basi Mbak
Loh, saya Indonesia Mas
Ya, Mbak tambah cantik juga
Tersenyum bersama
;Basa-basi

Indonesia tanah basa-basi
Tak penting
Buat saja penting

Pak Presiden!
Kenapa rupiah semakin anjlok?
Itu Indonesia sedang basa-basi
Mengajak anda berdialog pertiwi
Apa anda tak khawatir?
Indonesia basa-basi tapi tak’kan basi

Pak DPR!
Kenapa jalan desa-ku tak kunjung mulus?
Itu Indonesia sedang basa-basi
Mengajak anda berfikir juga
Apa anda tak mempertegas bawahan?
Indonesia basa-basi yang tak kenal pemaksaan
Biar Indonesia sendiri yang buat mereka sadar

Bagaimana ini Mas Kominfo
Kenapa kecepatan Internet turut basa-basi?
Akh, biar anda gag candu media sosial
Mobil pemancar ke pedesaan bagaimana kabarnya?
Tenang, masih proses basa-basi pada atasan
Ini Indonesia tak’kan basi

Pak Pariwisata
Katanya ada program wisata desa?
Kata siapa?
Cuma basa-basi Pak Pariwisata
Kali saja berubah nyata
Jadikan desa-ku sampel proyeknya
Desa-ku juga Indonesia

Pak Pertahanan
Besok kita perang saudara
Di perbatasan utara atau timur tempatnya
Basa-basi Indonesia
Tak basi-basi

Loh, Bapak Pendidikan tolah-toleh saja
Tawarkan kopinya Pak
Korannya jangan lupa dibaca
Di pedalaman beritanya bagaimana?
Biasa saja, basa-basi Indonesia
Dengan sendirinya pendidikan terdidik
Tunggu saja, tak usah resah

Mau kemana Mas Penulis?
Tak mau kemana-mana Juragan
Hanya basa-basi menyapa Indonesia
Kenapa disapa?
Sebab Indonesia hampir 70 tahun merdeka
Ia hampir tak disapa
Bahkan takut-takut ia merana
Ya, basa-basi saja
Meski tahu tak’kan basi

Pra Dirgahayu Indonesia ke-70, 00.06-08.27 WIB, 15 Agustus 2015

JUS ALPUKAT RASA ALUN-ALUN

Cara resah dibuang
Cara bosan diusir tuan
Setiap itu melaju kegaduhan; dengan
Raga sendiri
Renung sendiri
Kesepian memuncak; karena
Senyum kawan dilenyapkan waktu
Melanjutkan peran
Diam-diam jiwa ketakutan
Setiap itu utara adalah pilihan
Membuang resah
Mengusir bosan; dengan
Jus alpukat kental
Rasa alun-alun kota
Susu diaduk diseduh; kemudian
Gugur lamun bertemu lamun
Begitu jiwa tanpa saudara
Begitu jiwa tanpa tukar canda
Kembali secepat; layaknya
Menantang angin selatan
Kutuang kemudian
Resah yang telah dicampur alpukat; pada
Sebuah gelas kamar
Kuseduh hingga bosan selesai
Benar kata rangkai kata
Dikenang malah menghancurkan
Dilupakan malah sebuah kesombongan
Jus alpukat; dengan
Alun-alun meratapi nikmat
Tentang semedi tanpa kemenyan
Adanya hanya aroma aspal
Yang sumbernya adalah masa silam
Bengis; dan
Aku terkapar di ruang persegi
Hanya dihajar hati sendiri

14 Agustus 2015

SURAT TERBUKA UNTUK PARA PAHLAWAN

Dari cucu kalian
Apa kabar para mendiang tanah harapan
Tenangkah melihat kibaran pusaka suci di jalan-jalan
Tenangkah kini ia terbang bersama mesin-mesin
Tenangkah melihat pelajar bergerak angkatan perang
Di jalan-jalan memeriahkan agustus-an
Tersenyumkah kini pawai di titik-titik kota
Tersenyumkan kini pagelaran bernuansa kenangan
Ada puisi-puisi menggema tengah malam
Ada pentas teater berperan kalian
Ada diskusi-diskusi mapan
Ada renungan-renungan
Ada nama kalian dielu-elukan sebagai pejuang

Dari cucu kalian
Ada bingkisan fatihah
Ada pemanjatan do'a sesuai agamanya
Senangkah kalian para darah yang rela mengucur tanpa ketakutan
Senangkah, kami harap kalian senang
Tenangkah, kami harap kalian tenang

Dari cucu kalian
Kami mengumbar kemerdekaan
Kami mengembirakan kesan
Kami bersenang-senang, tapi, tapi, tapi
Kami tak sanggup meneteskan air mata
Kami tak sanggup lekatkan kekhusuk-an
Kami mulai kehilangan maknanya
Kami hanya berteriak bagai pesta nostalgia

Dari cucu kalian
Kami ingin menangis juga
Tapi dari siapa kami belajar
Ayah-ayah kami masih sibuk kerja
Di ladang, di kantor, di jalanan, di kebun
Di laut bergelombang kematian
Di sungai, di mana-mana
Bahkan di trotor, bahkan di bawah jembatan
Kami ingin menangis juga
Tapi dari siapa kami belajar
Ibu-ibu kami masih sibuk kerja
Di depan kaca rias, di forum gosip tetangga
Di kantor karier, di dapur tanpa gas, tanpa minyak tanah
Di mana-mana, bahkan di pojok malam
Ayah Ibu Indonesia
Ajarkan kami menangis untuk Indonesia

Dari cucu kalian
Kami ingin menangis juga
Tapi kepada siapa kami belajar
Guru-guru kami sibuk semua
Menyusun silabus, dikekang batas waktu penerapan
Menyusun kurikulum coba-coba, tak sampai hatam disobek bersama
Mencari nafkah untuk keluarganya sendiri
Mengajar hanya segaris buku
Mengajar hanya segaris ancaman atasan
Mengajar hanya kisah bergedok pengabdian
Mengajarlah tentang tangisan Indonesia, guru
Kami juga ingin menangis
Merasakan hantaman bedil
Merasakan ledakan meriam di jantung terakhir
Kami juga ingin menangis
Tak ingin hanya bernostalgia
Seperti reuni anak sekolah dasar saja

Kepada siapa?
TNI atau Polri
Presiden atau Wakil Presiden
DPR atau MPR
Bupati atau Gubernur
Pak Camat atau Pak Kades
Pak RT atau Pak RW
Kepada siapa kami seharusnya belajar
Air mata kami mulai beku untuk Indonesia

Atau kepada anak Jalanan
Atau pada artis suara berlirik Indonesia jualan
Atau pada artis peran yang malah kadang membuat najis
Sejarah di bolak-balik
Prilaku berlagak baik
Hancur imajinasi cucu-cucu kalian
Nyatanya para lakon tak ber-nyata pejuang
Atau...
Kepada patung-patung kalian
Di pertigaan-perempatan Ibu Kota
Di kota-kota besar
Atau...
Kepada museum
Akh, semua kini semakin jenuh kami memandang
Tak ada yang sanggup mengajarkan kami menangisi Indonesia

Dari cucu kalian
Kami ingi menangis juga
Datanglah pada kami
Lewat jalan apapun adanya
Jika-pun hanya lewat mimpi silahkan kami sambut riang
Ajarkan kami menangis
Sebab yang ada kini hanya sumringah tuntutan libur panjang
Sebab yang ada kini turunan proyek yang harus dihabiskan
Sebab yang ada kini hanya hiburan berhijab hari kemerdekaan
Sebab yang ada kini sambutan-sambutan kepentingan
Datanglah pada kami, cucu-cucu kalian
Yang tak sempat mata melihat kalian berjuang mati-matian
Ajarkan kami menangis
Kepada Indonesia yang kini tinggal Bendera dan Nama

Pra Dirgahayu Indonesia ke 70, 14 Agustus 2015

VAN DER WIJCK TELAH TENGGELAM, LALU KAPAN DEWI AIRLANGGA TENGGELAM

Dewi Airlangga (74)

Buya Hamka
Saban aku melihat kembali film adopsi gubahanmu
Seperti aku ke baris waktu di hulu
Bukan alur yang menjadi soal
Tapi dua tahun lebih yang telah berlalu
Tertanda waktu gubahanku dimulai
Menulis satu persatu labuh rinduku pada seorang pujaan

Buya Hamka
Di tanah hujan kala itu tersandar
Hingga separuh-pun kini aku tak mampu mengulang
Sengaja atau berlebihan
Tenggelamnya jiwa kini serupa Zainuddin yang memilukan
Hayati-ku tak sekalipun memandang
Hayati-mu masih sempat menyanyang
Beda alur di romansa awal
Sisanya kini benar-benar menertawakanku berulang-ulang

Buya Hamka
Jika sampai kau tega menenggelamkan peran
Jadikan aku pelaku dalam karangan
Tenggelamkan hayati-ku dari ingatan
Tapi sayang...
Kau telah pergi meninggalkan harapan
Menyisakan air mata pada gerombolan pujangga siang

Buya Hamka
Nelangsa serupa iringan lagu ceritamu
Melankolis tabuh aksara dari Nidji terdengar lihai
Semakin garang saja karya-karya besar mengiringi dawai
Kini tepat pada senar di tempo paling mengenaskan
"Nelangsa...
Bunga tunggal di karang
Cantik tidak tergenggam"


13 Agustus 2015

DUDUK YANG ANGGUN

Dewi Airlangga (73)

Tuhan, aku yakin kau tak sedang bercanda
Roman ini semakin liar
Hingga di aspal maghrib
Duduk seorang anggun

Sekejap aku pura-pura tak lihat
Tapi bagaimana angin berbohong
Ia melaju kemana ia mau
Semakin jelas wajahnya
Kini aku duduk kosong berseringai senyum

Tuhan, aku yakin kau tak sedang bercanda
Kisah ini semakin drama
Hingga di depan dan samping istananya
Duduk Dewi menantang utara
Sekejap aku pura-pura tak senang
Tapi bagaimana petang berbohong
Ia berjuang menuju terang
Semakin jelas wajahnya
Meski malam diacuhkan rembulan

Tuhan, aku yakin kau tak sedang bercanda
Ada kejutan yang akan Kau berikan
Tapi apa yang hendak kukira
Drama ini semakin indah alurnya
Tapi juga semakin pelik dieja

Duduk yang anggun
Cukup aku yang terkagum-kagum
Entah apa yang kukagum
Jelasnya, duduknya memang anggun
Dengan binar mata yang sempat mematung

Tanjung, 11 Agustus 2015

MENGEJA PROKLAMASI

Saya memberi hormat setinggi-tingginya pada Indonesia dan para pejuangnya.

Hampir 70 tahun Bung Karno berdiri dengan kopiah nasional
Kedua tangannya gagah dengan selembar kertas kemerdekaan
Matanya tajam tertuju pada yang hendak terkatakan
Sebelah kirinya Bung Hatta tangan kebelakang
Sebelah kanannya Seorang Jendral entah siapa
Di belakangnya pasti petinggi-petinggi para pejuang
Di depannya tak terlihat
Sebab lensa kamera khusuk menciptakan jejak langkah bangsa Indonesia

Hingga terdengar dari rekam radio
Ritme suara yang acap kali di-iramai bising mic audio
Demikian gagahnya
Sang proklamator bersuara wibawa
Tanpa tongkat biasanya
Lantang mengubah jalan sejarah Indonesia

;
P R O K L A M A S I
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta.
;

Indonesia gemetar
Ada kecamuk pengorbanan yang belum terbalaskan
Indonesia berkobar
Ada api-api semangat yang tertitipkan juga semakin terlupakan
Indonesia berkibar
Ada mimpi tinggi bersama tingginya merah putih menyapa kemerdekaan
Indonesia berkoar-koar
Ada suara proklamator yang semakin ter-asingkan

“Kami Bangsa Indonesia”
Kami yang bagaimana
Kami yang kulit hitam campur kuning langsat ketimuran
Kami yang dekil kecil
Kami yang bermata sipit
Kami yang berambut hitam bergelombang
Kami yang gondrong
Kami yang diburu hingga negeri orang
Kami yang menjajah pribumi
Kami yang berdalang harga pasar
Kami yang bermain sumpah lantas membuang sampah
Kami yang bagaimana
Kami yang berjudi dengan kematian di kamar puskesmas
Kami yang bermain pendidikan untuk pakan
Kami yang menjual belikan tanda tangan
Kami yang menangisi kemelaratan
Kami yang berjuang demi “Surat Keterangan Tidak Mampu”
Kami yang acuh-acuh saja
Kami yang mengepulkan jerutu saja
Kami yang membajak sawah saja
Kami yang mengarungi lautan saja
Kami yang bagaimana
Kami yang berteori kritis
Kami yang menuliskan dan menduniakan budaya
Kami yang memperdagangkan ke-eksotisan Indonesia
Kami yang menghabiskan emas di tanah timur
Kami yang diam-diam meng-ekspor tambang
Kami yang diam-diam menyelundupkan ikan-ikan
Kami yang berdoa saban hari untuk Indonesia
Kami yang bagaimana
Kami yang bagaimana yang bangsa Indonesia
Kami yang berpuisi
Kami yang berteknologi
Kami yang menggarap undang-undang
Kami yang bersains diluar batas
Kami yang paham turun-naiknya kurs
Kami yang paham silsilah pejuang
Kami yang bagaimana
Proklamasi, “Kami Bangsa Indonesia”

“Menyatakan Kemerdekaan Indonesia”
Kemerdekaan yang bagaimana
Kemerdekaan yang bebas mengecam
Kemerdekaan yang bebas membegal
Kemerdekaan yang bebas memporak-porandakan angan
Kemerdekaan yang imajinatif tanpa batas etika
Kemerdekaan yang primitif tanpa belas aniaya
Kemerdekaan yang bagaimana
Kemerdekaan yang menjunjung tinggi keberagaman
Kemerdekaan yang mengutamakan persatuan
Kemerdekaan yang bhinneka tunggal ika
Kemerdekaan yang berprinsip pluralisme
Kemerdekaan yang penuh peng-kotak-kotak-an
Kemerdekaan yang bagaimana
Kemerdekaan yang bebas se-bebas-bebas-nya
Kemerdekaan yang bebas haluan tengah
Kemerdekaan yang hakikatnya terjajah
Kemerdekaan yang bagaimana
Kemerdekaan yang prosedural
Kemerdekaan yang birokratif
Kemerdekaan yang hanya candu
Kemerdekaan yang bagaimana
Kemerdekaan yang saling sikut
Kemerdekaan yang saling tanduk
Kemerdekaan yang saling bagaimana
Kemerdekaan ini kemerdekaan yang bagaimana
Kemerdekaan yang hanya dogma
Kemerdekaan yang hanya anak dari proses pemerkosaan kata
Kemerdekaan yang bagaimana
Proklamasi, “Menyatakan Kemerdekaan Indonesia”

“Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan”
Kekuasaan yang bagaimana
Kekuasaan yang melenyapkan tanah-tanah pinggiran
Kekuasaan yang meratakan kefakiran
Kekuasaan yang memainkan alur politik nasional
Kekuasaan yang mengalirkan anggaran negara
Kekuasaan yang bagaimana
Kekuasaan yang menentramkan masyarakat
Kekuasaan yang menyatukan bangsa
Kekuasaan yang mengajarkan kebijaksanaan
Kekuasaan yang tak henti mengumbar semangat para muda
Kekuasaan yang memberi tempat berkarya
Kekuasaan yang menyingkirkan preman-preman pasar
Kekuasaan yang menyingkirkan mafia-mafia pasar
Kekuasaan yang menukar rupiah dengan dolar
Kekuasaan yang bagaimana
Kekuasaan yang mampu mengesampingkan pasal
Kekuasaan yang mampu merubah isi koran
Kekuasaan yang mampu memanipulasi surat suara pemilihan
Kekuasaan yang bagaimana
Kekuasaan yang atas
Kekuasaan yang bawah
Kekuasaan yang tengah
Kekuasaan yang melaknat kejahatan
Kekuasaan yang bersandar pada yang jahat
Kekuasaan yang bagaimana
Kekuasaan yang menganut amerika
Kekuasaan yang menganut jerman
Kekuasaan yang menganut inggris
Kekuasaan yang bagaimana
Kekuasaan oh kekuasaan
Kekuasaan oh kekuasaan
Kekuasaan yang bagaimana yang termaksudkan
Proklamasi, “Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan”

“17 boelan 8 tahoen 05”
Kenapa kosong lima
Kenapa bukan empat lima
Sekedar bocoran dari petualang ke-Indonesia-an
Jepang ternyata masih bersemayam
Bukan pada tanggal
Bukan pada bulan
Tapi pada tahun yang berwaktu panjang
Proklamasi, “17 boelan 8 tahoen 05”

“Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta.”
Siapa Soekarno dan Hatta
Siapa mereka beraninya mengatas-namakan bangsa Indonesia
Siapa Soekarno
Siapa Hatta
Bangsa Indonesia-kah?
Jika ia, maka kita bangsa apa?
Kita masih tak ada miripnya dengan mereka
Kita masih tak pantas berkopiah hitam
Kita masih tak pantas menyuarakan kemerdekaan dan kekuasaan
Kita masih tak pantas mengaku bangsa Indonesia
Sebab kita masih tak ada mirip-mirip-nya dengan mereka
Proklamasi, “Atas nama bangsa Indonesia. Soekarno/Hatta.”

“Kepada Sang Saka Merah Putih, Hormat Gerak!”
Nusantara telah berkibar dengan satu Bendera sakral
Merah Putih...
Gagah menaiki pentas perlawanan
Menantang meriam-meriam
Menantang impian pejuang

Kemudian iringan Indonesia Raya menggema seantero bumi
Mari kita lanjutkan bernyanyi untuk Ibu Pertiwi

;
INDONESIA RAYA

Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu

Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta

Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya
;

Merdeka tanahku
Dirgahayu tanah lahirku

Pra Dirgahayu Indonesia ke-70,10 Agustus 2015









CATAT PUCAT

Dewi Airlangga (72)

Kisah hati yang terkapar, keronta, kosong, diacuhkan jiwa yang disayang. Terjebak, kisah yang berdimensi harapan, semakin hari semakin akut air mata menyublim bersama eja-ejaan melankolis substantif. Ya, mencoba tertawa dalam setiap kata, justru didalamnya kepedihan bersemayam ria.

Sekarang, tangan ingin menulis panjang, sepanjang sajak-sajak yang kini menjadi anak jalanan yang terbuang, tanpa ibu, tanpa bapak, mengais makna-maknanya sendiri untuk ke-berlangsungan bahagia dalam hidupnya. Sekarat, terkadang tak sampai hati mengusap peluh-peluh yang mengalir ber-iringan air mata.

Sekarang, tak ingin berhenti menetralisir rindu yang mencuat, biar pedih se-pedih-pedih-nya, biar burung hantu yang mengaung tengah malam turut serta menyaksikan; biar cicak-cicak memandang lusuh tubuh di pojok kegilaan; biar racun-racun nyamuk turut merasakan, darah ini semakin cepat mengalir kala kisah terfikir; biar dan biarkan, biar semuanya turut merasakan tentang kejahatan tanpa hukuman sosial.

Sekarang, mungkin diluar wajar, paceklik hati jatuh pada cinta yang sekian, sepertinya sulit di-idam-idam-kan. Bagaimana tidak, saban mata memperhatikan anggun-anggun yang berjalan, mati rasa; saban hati mencoba menangkap keistimewaan-keistimewaan lain di kerumunan perawan, mati tanpa ada kemauan; lagi-lagi kisah itu justru menyambar dalam ke-tak-sengajaan.

Ingin bagaimana, apa ada karma yang menghujam – fikirku – atau ini gelagat pelajaran yang tak kunjung selesai. Ingin bagaimana, langkah mana mungkin bisa melaju kencang, di jalan sebelumnya ada senyuman yang tak mungkin dilupakan. Ingin bagaimana, atau bagaimana caranya, atau bagaimana harusnya, atau bagaimana, bagaimana, bagaimana, bagaimana, bagaimana. Ada dendam, tak bisa diurai.

Bangkit dari kesedihan, memohon selesaikan kisah, sudah tak cukup menanggung arogansi prinsip jiwa yang kadung dimiliki lawan dalam per-kisah-an. Bukan belas kasih, bukan kecenderuangan simpati yang di agung-agungkan. Skenario ini berat, masih bukan lakon berkemampuan luar kebiasaan, tangis, tawa, dan bagaimana ekspresi seharusnya, aku tak bisa. Menyingkirlah! Menyingkirlah! Menyingkirlah! Aku ingin berhenti di alur ini!. Tapi Bagaimana (!) bukan (?).


09 Agustus 2015

BUNG MEMESAN MINUMAN

Kopinya habis Bung...
Adanya hanya mata yang mulai pahit memandang sekitar
Tehnya juga habis Bung...
Adanya hanya air seni yang membasahi hati tak tenang
Susunya pun habis Bung...
Adanya hanya susu basi dari beberapa tahun silam
Akh, Air putih juga habis Bung...
Adanya hanya air ladang kecoklatan
Minuman keras ada Bung...
Tapi efeknya otak membeku
Hati mati tanpa gerak
Mata mematung
Telinga bak dicor semen
Kaki mati sebelah
Tangan tak bisa menjadi sayap
Mulut melekat padat
Bagaimana Bung...
Mau pesan segelas? sebotol? sekolam?
Atau..

Si Bung diam dengan mulut menganga
Si Bung menatap penuh makna
Si Bung selesai memecah senja
Si Bung berhenti menulis
Si Bung sebaiknya berpuasa saja

Esok pasti ada kopi
Ada teh, ada susu, ada air putih
Dan akan ada pesta
Sekarang saatnya mengarang lagu
Sebab pada pesta
Si Bung akan bercerita lewat lirik-liriknya

Bagaimana Bung...
Si Bung menjawab didekat telinga
Sebentar dulu, aku tak memesan apa-apa
Masih ada rokok yang harus kuhisap mesra


09 Agustus 2015

KEPADA MANUSIA-MANUSIA JL. RAYA JAMBESARI

Manusia-manusia jalanan
Kumpulan ibu-ibu muda
Kumpulan bapak-bapak tanpa kumis
Kumpulan bapak-bapak pejuang
Kumpulan bapak-bapak kurang ajar
Kumpulan mertua-mertua apatis
Kumpulan mertua-mertua bengis
Kumpulan mertua-mertua manis
Kumpulan ibu-ibu berdandan pragawati Indonesia
Kumpulan perjaka-perjaka kebingungan
Kumpulan perjaka-perjaka pencari pakan
Kumpulan perjaka-perjaka penggoda gadis desa
Kumpulan perjaka-perjaka pelirik istri tetangga
Kumpulan perjaka-perjaka perusak rumah tangga
Kumpulan perawan-perawan anggun
Kumpulan perawan-perawan penggugah selera
Kumpulan perawan-perawan berias ala kadarnya
Kumpulan perawan-perawan berlensa-kontak tak wajar
Kumpulan perawan-perawan menundukkan keningnya
Kumpulan anak-anak sekolahan
Kumpulan anak-anak layangan
Kumpulan anak-anak permainan
Kumpulan anak-anak merintih
Kumpulan anak-anak bernyanyi
Kumpulan anak-anak mengecam sang Ibu
Kumpulan anak-anak mengeja Hijaiyah
Kumpulan campur-campur pengangguran
Kumpulan campur-campur pekerjaan
Kumpulan campur-campur pemeran kehidupan
Kumpulan campur-campur buah pemikiran

Kepada manusia-manusia Jl. Raya Jambesari
Ini baru satu jalan memergoki multi-dimensi sosial pertiwi
Ini baru satu jam (tak sampai) memperhatikan sistem interaksi
Ada ketetapan fundamental di penjuru-penjuru nilai
Kenapa selalu ada pengacau dan selalu ada pejuang
Sebab pengacau kadang beralih peran
Sebab pejuang kadang beralih pada main-stream nakal
Hingga diantaranya berkecamuk pemerhati kebijaksanaan
Diurai sedemikian rupa dengan teori kualitatif perspektif
Atau dengan pendekatan geografis
Atau dengan pendekatan filosofis
Atau dengan pendekatan ilmiah yang mengekang kebebasan personal
Jika sudah, maka muncullah teori etika yang dikaji kaum mapan
Jika sudah, maka muncullah teori-teori mereka yang dikomersialkan
Sama-sama kurang ajar bukan?
Meski kadang ada buah pikir tanpa balas nominal
Tapi yang demikian justru mati pasar
Sebab ukuran mapan kini telah berlebal best-seller nasional

Kepada manusia-manusia Jl. Raya Jambesari
Kini tak cukup nyali mendikte kesalahan yang dianggap wajar
Atau kesalahan yang disembunyikan senyuman
Atau hati kotor yang diludahi omong kosong
Kini tak cukup nyali mengadili ke-marginal-an yang dianggap kebiasan
Atau ............................

- Bersambung sekitar 3 atau 5 jam lagi
- Dan ternyata tak mampu disambung hingga kini


Jambesari, 9-11 Agustus 2015

SUMPAH PENYAIR

Perjuangan seorang penyair bukan pada diksi, tema, alur, rima dan apa semua tentang konsep prosedural yang "Jelimet". Perjuangan seorang penyair yang sesungguhnya adalah tentang kejujuran terhadap syair-syair-nya. Se-fiksi apapun jangan pernah berbohong tentang nilai-nilai yang disemedikan di dalamnya. Meski nilai itu kadang kesimpulan sementara yang acap kali berubah seiring berjalannya rotasi bumi, berbedanya titik geografis, berbedanya pola otak beroperasi, bahkan berbedanya keyakinan terhadap abstraksi; yang memang lebih sensitif terhadap perubahan. Maka lantang saya katakan, sebut saja saya "pecundang" jika sampai syair-syair yang tertuliskan merupakan buah konspirasi demi kemegahan atau kehormatan.

Bondowoso, 08 Agustus 2015
Penyair Kelas Teri



Ahmad Taufiq

*di-tanda-tangani, meski abstrak

MANUSIA-MANUSIA MALANG

Ini sajak yang terperangkap
Diperangkap Dewi Lestari*

Manusia-manusia malang
Dibekuk kala terdengar menjerit

Apakah manusia-manusia malang
Apa yang tercengang saban malam

Apakah manusia-manusia malang
Apa yang gagah menyuarakan kebisingan

Apakah manusia-manusia malang
Apa yang beku di lemari roman

Apakah manusia-manusia malang
Apa yang terpenjara fiksi dan non-fiksi

Apakah manusia-manusia malang
Apa yang pulas dengan asa berkepanjangan

Apakah manusia-manusia malang
Apa yang tertatih-tatih melangkah berjuang

Apakah manusia-manusia malang
Apa yang diam tanpa punya hierarki kehidupan

Apakah manusia-manusia malang
Apa yang tak punya satu-pun pertanyaan

Apakah manusia-manusia malang
Apa yang diguyur mata panah penasaran

Apakah manusia-manusia malang
Apa yang bermain-main ular tangga tak kunjung sampai

Apakah manusia-manusia malang
Apa yang dekil di pipi-pipi trotoar

Apakah manusia-manusia malang
Apa yang berpoles gincu sembari memberi kepuasan

Apakah manusia-manusia malang
Apa yang dikejar pangkat pada dimensi sosial

Apakah manusia-manusia malang
Apa yang berjuang tanpa balas nominal

Apakah manusia-manusia malang
Apa yang mengisap sabu di pojok sekolahan

Apakah manusia-manusia malang
Apa yang di balik jeruji pembalasan undang-undang

Apakah manusia-manusia malang
Apa yang kebetulan dihadiahi bapak-ibu mapan

Apakah manusia-manusia malang
Apa yang dianugerahi keturunan berkelas

Apakah manusia-manusia malang
Apa yang bersorban tanpa keinginan

Apakah manusia-manusia malang
Apa yang ambisius dengan lilitan sorban

Apakah manusia-manusia malang
Apa yang saban hari berjemur diri di pantai

Apakah manusia-manusia malang
Apa yang saban hari bertikai melawan matahari persawahan

Apakah manusia-manusia malang
Apa yang bergitar demi makan

Apakah manusia-manusia malang
Apa yang diam-diam menghanyutkan

Apakah manusia-manusia malang
Apa yang lantang mengusik ketentraman

Apakah manusia-manusia malang
Apa aku, apa kamu, apa dia, apa kalian, apa mereka

Apakah manusia-manusia malang
Apa Dewi Lestari hanya pandai memoles kata

Apakah manusia-manusia malang fiksi belaka
Apa Dewi Lestari yang malang

Apakah manusia-manusia malang sekadar teks
Apa Dewi Lestari menipu aku yang berengsek

Apakah manusia-manusia malang
Apa konotasi kosong dengan hegemoni bohong

Apakah manusia-manusia malang
Apa kita saja yang harus berparameter ke-kanak-kanak-an

Berlagak manja, berlagak nakal, berlagak tak tahu apa-apa
Lalu manusia-manusia malang benar-benar tak ada

Manusia-manusia malang
Dewi Lestari berhasil membuat sajak-ku berpetualang

Jambesari, 08 Agustus 2015

*Seorang Penulis, berikut beberapa karyanya; Supernova, Perahu Kertas, Madre, Filosofi Kopi, Rectoverso, dll.

MUKA-KU-KU-BUKA

Semakin banyak coretan di muka-ku
Garis-garis halus mulai gampang dipandang
Semakin banyak noda hitam di muka-ku
Bintik-bintik kecil mulai subur berkembang
Semakin banyak lubang tertutup di muka-ku
Pori-pori berpeluh mulai tersumbat karang
Semakin banyak pedang hitam di muka-ku
Bulu-bulu tipis mulai menampakkan garang

Muka-ku di peristirahantan lajang
Entah garis-garis itu akan sampai dalam yang sangat
Entah bintik-bintik itu akan sampai kentara yang sangat
Entah pori-pori itu akan sampai rapat yang sangat
Entah bulu-bulu itu akan sampai putih yang sangat
Aku tak tahu dan tak mau tahu dan memang tak’kan tahu

Maka sebab tahu yang keadaannya begitu
Harap-harap cemas bersama garis-garis
Takut-takut garis hidup berbalik ke arah nahas
Harap-harap cemas bersama bintik-bintik
Takut-takut bintik keji semakin ramai di kertas duniawi
Harap-harap cemas bersama pori-pori
Takut-takut pori hikmah tersumbat serakah
Harap-harap cemas bersama bulu-bulu
Takut-takut bulu bersaksi tentang dosa setelah raga menjadi abu

Muka-ku di peristirahatan lajang
Mohon kau saksikan aku berdo’a di tengah siang
Di Jum’at sebelum dan sesudah mendengar Khotbah
Harap-harap-ku cemas-cemas-ku
Semoga garis segaris kebenaran
Semoga bintik disertai ketaqwaan
Semoga pori bersumber kemapanan
Semoga bulu disertai kebijaksanaa
Muka-ku ku-buka di bait-bait penuh do’a

Dan saksikan pula pemungkas do’a
“Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah
wa fil aakhirati hasanah
wa qinaa azaaban naar”
Sapu Jagat semoga dikabul Sang Maha Pemberi Rahmat
Muka-ku ku-buka penanda hamba bersujud penuh dosa


Sebelum dan sesudah Khotbah, Jum'at, 07 Agustus 2015

SEBARIS KALIMAT YANG DATANG; LANGIT GUGUR

Dewi Airlangga (71)

Langit gugur
Permadani hati menggempur
Malaikat-malaikat turut tersenyum
Angin seakan berhenti
Awan hitam kabur gesit
Nyanyian alam hampir memecah waktu
Lucut luka-luka
Air mata bukan lagi arti sebenarnya
Bertahun-tahun apalah artinya
Sajak-sajak yang melankolis
Mula-mula tersenyum manis
Dewi Airlangga...
Aku melupakan takdir selanjutnya
Sampai disini jiwa telah bersukur sempurna
Aku melupakan harapan selanjutnya
Sampai disini jiwa telah bersukur sempurna

Sebaris kalimat yang kau perikan
Luapan kebahagian yang kugenggam

Ingin berpura-pura biasa
Tapi bagaimana getir cinta padam begitu saja
Ingin berpura-pura sederhana
Tapi bagaimana panorama eksotis dibiarkan saja
Ingin berpura-pura tak ada apa-apa
Tapi bagaimana bidadari harapan diacuhkan begitu saja

Sebaris pesan yang kau perikan
Luapan puisi yang membuatku tak sadar

Tak sudi tangan ini diam sedetik-pun
Kuabadikan lagi kisah roman berkepanjangan
Tak sudi hati ini berbohong sedikit-pun
Kuurai kalimatmu dalam sejagat keistimewaan
Tak sudi mata ini mengering tanpa perlawanan
Kubesarkan namamu dalam keanggunan

Dewi Airlangga
Seperti terkata sebelum langit gugur
“Bukan apa-apa, hanya mengikuti keinginan hati yang harus bagaimana. Setiap ketetapan adalah takdir, setiap langkah adalah harapan. Setiap harapan hanya ada seorang pecundang yang bisa-nya diam. Tak ingin harapan, karena harapan mula-mula tak terdefenisikan. Ini hanya cerita perjalanan. Entah sampai dimana, mungkin esok jalan sudah tiada, mustahil kembali, sebab jalan sebelumnya adalah milik para pencerita selanjutnya.”
Maka ada-ku adalah sama
Sampai Tuhan yang akan memutuskan
Kaisar Air Mata akan bagaimana
Dewi Airlangga akan bagaimana

Jangan ada yang menangis
Jangan ada yang ber-belas kasih
Jangan ada yang berdalih menolong air mata
Jangan ada yang mendefinisikan derita
Jangan ada yang mengurai sesederhana pecundang
Jangan ada yang mencibir harapan
Jangan ada yang mengacuhkan mimpi
Jangan ada yang menghitam-hitam-kan cinta
Sebab, Kaisar Air Mata telah melaluinya
Jika tak percaya maka jangan bertanya pada Dewi Airlangga
Tanyakan pada ritme sajak yang aku-pun tak percaya

Terima kasih Tuhan
Ada alur kebijaksanaan
Dimana teka-teki ini bukan perjudian
Selalu ada pemenang
Tak ada selendang kekalahan
Adanya adalah pecundang
Bisu dengan harapan
Bisu dengan kejujuran

Terima kasih Dewi Airlangga
Ada alur kebijaksanaan
Dimana cara-caramu bukan kekejaman
Selalu ada pemenang
Tak ada selendang kekalahan
Adanya adalah pecundang
Bisu dengan jawaban
Bisu dengan kejujuran


Jambesari Bahagia, 05 Agustus 2015