CERITA IBU TENTANG SEBUAH KELAHIRAN

Berawal dari kesalahan akademis
Guru pendataan siswa asal tempel angka
Tak apa, sebut saja untuk kekayaan cerita
14 Desember petanda ijasah tentang kelahiran
Ku-ia-kan saja sampai beranjak dewasa
Cerita kecerita
Aku mulai ragu tentang angka
Pun mulai penasaran tentang kisah lahirnya raga
Sebab sebelum lahir, katanya aku sudah ada
Maka kusebut saja lahirnya raga

Ceritanya begini
Ibu terkasih yang menceritakan
Tanpa sengaja forum nostalgia dibuka
Mengisahkan banyak kelahiran
Hingga sampai anak-nya yang diceritakan
Begini, dibait selanjutnya ini

"Ketika malam, sehabis isya'
Kamu dilahirkan
Ke-esokan-nya ada Upacara kemerdekaan"
Begitu Ibu memberi petunjuk waktu
Tanpa tahu isi ijasahku
Seketika itu berubah teks sejarahku
Seperti aku ingin ikut pasukan paskibraka
Mengibarkan bendera Indonesia
Mengibarkan sukur-ku ke-esokan harinya
Ahmad Taufiq telah lahir

Selepas lahir menangisi dunia
Kemudian beberapa hari aku dititipkan
Pada seorang Ibu susu-an
Sebab sebuah adat pedalaman
Dua saudara-ku telah meninggalkan kehidupan
Sehingga beberapa saat
Sebuah keyakinan adat yang do'a tersiratkan
Aku menyusu pada Ibu susu-an
Anaknya banyak, pun-hidup semua
Karenanya aku disusukan padanya
Do'a dalam tingkah
Begitu sekarang kusebut adat termaksud

Lalu aku kembali pada pangkuan Ibu
Ibu ayah ingin aku lama hidup bersama mereka
Berangkat pada seorang kyai
Dan namaku turut berdo'a
"Ahmad",umat yang mengharap syafaat Nabi Muhammad
Hingga tersanding di do'a awal
"Taufiq", pertolongan, ditolong sang Esa
Panjangkan umur dan barokah-kanlah
Sebab dua saudara yang lalu telah tiada
Ibu ayah ingin aku lebih lama dari yang sebelumnya
Dan selalu dalam pertolongan yang Kuasa
Sungguh terima kasih-ku dengan nama
Maknanya kini judul yang harus kuisi kesesuaian
Tiap ada panggilan
Tiap itu pula aku didoakan
Tiap itu pula seharusnya aku mencerminkan harapan
Harapan dari do'a-do'a yang Ibu ayah sematkan

Cerita Ibu tentang sebuah kelahiran
Yang terlahir kini sudah bisa menulis kenangan
Ibu ayah yang memperjuangkan
Saban aku pulang
Maka disanalah Rumah
Hanya berubah hiasan
Tempat lahir-ku hingga aku sekarang

Terima kasih Ibu Ayah
Anakmu kini telah besar
Akan kuceritakan, setegas langit membentang
Ibu Ayah adalah pejuang
Ibu Ayah adalah pahlawan
Ibu Ayah adalah karunia besar
Ibu Ayah adalah kasih
Ibu Ayah adalah bagaimana aku harus membalaskan
Meski tak meminta balas
Tak cukup baktiku yang masih secuil kilat
Apalagi terbanding dosa-dosa ketak-patuhan
Sungguh, sungguh, sungguh
Sungguh tak cukup bakti
Sungguh tak sebanding balas

Terima kasih Tuhan
Do'a nama-ku kini terus kau kabulkan
Do'a nama-ku mohon kabulkan pula
Untuk Ibu-Ayahku

Jambesari, Tanah Lahirku, 16 Agustus 2015

No comments:

Post a Comment