MANUSIA BERKEPALA MAWAR BERTANGKAI ULAR

Dari sari ia menatap, memandang langit, suram awan petang tiba-tiba terang, ada naga terbang memegang mahkota, menyemburkan api menakutkan. Mawar, bertahan mekar, hujan tak kunjung datang. Padahal merah semakin pudar.

Dari tangkai ia masih melilit kecil, seekor ular, berlindung pada kepala, Mawar, yang sombongnya bukan main, menantang cakrawala, menantang api-api. Ular, bertapa sepi, tanpa makan, padahal Mawar cukup mungkin untuk dilahap hilang.

Mawar menengadah, sikap tegak padahal tidak, itu bukan hanya kecongkaan, adalah do’a-do’a dalam diam bentuk yang penuh gejolak pengharapan. Sampai ular gagah melawan naga diraja, merebut mahkota. Mengembalikannya pada surga.

Manusia berkepala mawar bertangkai ular, kesatuan dimensi penciptaan, diterpa runyamnya gelagat misteri kehidupan. Pantang menyuarakan kekalahan, pantang mengibarkan bendera putih menjulangkan kelemahan. Hidup belum selesai.

22 Agustus 2015

No comments:

Post a Comment